Tag: lingkungan

  • Mendorong Agar Isu Lingkungan Menjadi Bahasan di Pilkada 2024

    Mendorong Agar Isu Lingkungan Menjadi Bahasan di Pilkada 2024

    7cloud.asia – Research Centre for Politics and Government (PolGov) UGM dan Yayasan Indonesia Cerah melakukan survei persepsi 147 pemuka opini kunci atau key opinion leader (KOL/influencer) lokal di level provinsi dan 4 kabupaten/kota (Palu, Sigi, Morowali dan Morowali Utara).

    Penelitian ini mengulik persepsi influencer lokal terhadap isu transisi energi, energi terbarukan, krisis iklim, dan mineral kritis dalam Pilkada Sulawesi Tengah.

    Hasilnya, sebanyak 98persen responden mengaku sudah terekspos dengan isu krisis iklim dan diikuti oleh isu transisi energi, energi terbarukan, dan mineral kritis. Media sosial menjadi sarana utama mereka mengakses informasi.

    Hasil survei menunjukkan bahwa aktivitas keseharian masyarakat, lembaga pemerintah, partai politik, organisasi masyarakat sipil, dan sektor bisnis di Provinsi Sulawesi Tengah juga telah bersentuhan dengan empat isu ini.

    Banyak responden memandang bahwa Sulawesi Tengah telah siap untuk melaksanakan agenda transisi energi, penggunaan energi terbarukan, dan pengelolaan sumber daya mineral kritis.

    Namun, kesiapan ini sangat bergantung pada tata kelola yang memperhatikan dampak sosial dan lingkungan.

    Sayangnya, praktik tata kelola yang ada di Sulawesi Tengah justru berkebalikan.

    Penggunaan energi fosil, menurut mayoritas responden, telah menghasilkan emisi karbon yang tinggi (96,53% responden) dan ekstraksi mineral kritis mempercepat krisis iklim (97,24% responden) di Sulawesi Tengah.

    Baca: Greenpeace dorong isu lingkungan dibahas di Debat Pilkada Jakarta

    Lebih jauh, para influencer menempatkan krisis iklim sebagai isu yang paling penting untuk dibicarakan dalam Pilkada Provinsi Sulawesi Tengah 2024 (95,83% responden), dibandingkan dengan tiga isu lainnya.

    Meski krisis iklim menjadi isu paling mendesak, para influencer cenderung tertarik pada kandidat pemimpin daerah yang membawa isu mineral kritis.

    Responden cenderung menyukai kandidat yang mengusung isu mineral kritis (79,31% responden) dan disusul oleh isu energi terbarukan (77,78% responden), krisis iklim (73,10% responden) dan isu transisi energi (72,22% responden).

    Mereka meyakini bahwa kandidat yang memerhatikan isu mineral kritis akan mendorong ekstraksi yang bertanggungjawab, bermanfaat bagi masyarakat, mencegah kerusakan lingkungan.

    Sorotan para pemimpin juga dapat mengarahkan perhatian mereka kepada masyarakat lokal dan masyarakat adat di sekitar tambang, serta menarik investasi dan membuka lapangan kerja baru.

    Ini menunjukkan bahwa meskipun kesadaran akan krisis iklim cukup tinggi, isu ekonomi terkait ekstraksi sumber daya mineral berkelanjutan tetap memiliki daya tawar politik yang signifikan.

    Isu paling menantang
    Menurut para influencer, ada dua tantangan besar yang menghambat pengarusutamaan isu mineral kritis berkelanjutan dalam Pilkada.

    Pertama, kebijakan yang masih sentralistik sehingga membatasi ruang gerak daerah dalam mengelola mineral kritis secara berkelanjutan (70,16% responden).

    Baca: Dampak krisis iklim mengancam warga miskin

    Persepsi mereka ini sesuai dengan kenyataan tata kelola sektor mineral dan batu bara yang kembali terpusat setelah undang-undang baru.

    Kedua, terdapat potensi konflik kepentingan yang tinggi jika isu ini diangkat dalam Pilkada (67,37% responden). Pasalnya, kandidat terkait langsung atau maupun tidak langsung dengan aktivitas ekstraksi di daerah tersebut.

    Persepsi influencer lokal tersebut selaras dengan kenyataan bahwa pasangan calon yang ada merupakan pengusaha tambang atau pernah mengeluarkan konsesi tambang yang dianggap problematik saat menduduki jabatan bupati atau gubernur.

    Pada saat yang bersamaan, para influencer menganggap isu krisis iklim potensial menjadi topik utama yang dapat diusung para kandidat dalam Pilkada Sulawesi Tengah. Ada dua alasan di balik anggapan ini.

    Pertama, isu krisis iklim memiliki basis regulasi, anggaran, kerjasama multi pihak, modal sosial, dan kapasitas organisasi sosial.

    Kedua, banyak dukungan pendanaan internasional yang mendukung upaya penanggulangan krisis iklim.

    Misalnya, dukungan untuk proyek pelestarian hutan seperti REDD+ dan pertanian ramah iklim melalui Agriculture Climate Risk Financing (AgriCRF).

    Perlu adanya upaya sistematis dari pihak penyelenggara pemilu untuk menjadikan isu transisi energi, energi terbarukan, krisis iklim, dan mineral kritis sebagai agenda wajib dalam kampanye politik dan debat resmi pasangan calon.

    Baca: Warga miskin sedikit emisi tapi paling rasakan dampak krisis iklim

    Menurut kami, debat juga memberi kesempatan para kandidat untuk menunjukkan komitmen dalam menghadapi tantangan lingkungan dan energi yang dihadapi daerah.

    Partai pengusung kandidat semestinya menguatkan pengetahuan kandidat dengan materi-materi transisi energi, energi terbarukan, krisis iklim, dan mineral kritis.

    Para kandidat juga semestinya memasukkan keempat isu tersebut dalam visi dan misi dan materi kampanye. Hal ini penting bukan hanya agar 4 isu tersebut menjadi subtansi kebijakan utama yang didiskusikan dalam proses Pilkada.

    Visi dan misi kandidat terpilih nantinya akan diintegrasikan secara terpadu sebagai visi pembangunan daerah dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

    Partai pengusung dan para kandidat seyogyanya memaksimalkan penggunaan media sosial, yang menurut temuan survei, sebagai sarana sosialisasi dan komunikasi interaktif dengan calon pemilih yang paling efektif.

    Mengkomunikasikan secara intens dan interaktif gagasan kandidat terkait 4 isu krusial tersebut melalui media sosial merupakan modal penting untuk menarik perhatian lebih jauh dari para pemilih.

    Selain itu, organisasi masyarakat sipil dan organisasi kemasyarakatan yang ada bisa memanfaatkan forum-forum multi-pihak untuk mendorong isu transisi energi, energi terbarukan, krisis iklim, dan mineral kritis sebagai agenda publik dan isu substantif dalam Pilkada.

    Dengan demikian, pesan para influencer lokal yang terekam dalam hasil survei kami ini sangat jelas: para kandidat tidak bisa lagi menempatkan isu krisis iklim, transisi energi, energi terbarukan, dan mineral kritis sebagai isu sambilan sebagaimana terjadi pada Pilkada-Pilkada sebelumnya.

    Publik tidak hanya sudah terpapar dengan isu-isu krusial tersebut dalam aktivitas keseharian dan lembaga mereka, sehingga mereka menginginkan isu-isu tersebut menjadi isu utama yang diusung dan diperdebatkan oleh para kandidat.

    Isu lingkungan juga perlu dikomunikasikan secara intens dan interaktif kepada pemilih melalui media yang efektif.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis:
    Hasrul Hanif (Assistant Professor, Dept. of Politics & Government, UGM)
    Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia (Lecturer at the Department of Politics and Government, UGM)
    Ardiman Kelihu dan Fitria Yuniarti (Peneliti dari UGM)

  • Pilkada 2024: Isu Iklim Disorot Influencer Lokal Tapi Kandidat Banyak yang Tidak Peduli

    Pilkada 2024: Isu Iklim Disorot Influencer Lokal Tapi Kandidat Banyak yang Tidak Peduli

    7cloud.asia – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 merupakan momen penting bagi pengarustamaan isu lingkungan seperti krisis iklim, transisi energi, energi terbarukan dan mineral kritis.

    Sayangnya, empat isu tersebut belum menjadi perhatian dan komitmen politisi. Riset Monash Climate Change Communication (MCCCRH) Indonesia mencatat bahwa belum semua politisi menjadikan isu krisis iklim sebagai bahan kampanye di media sosial mereka.

    Para kandidat kepala daerah semestinya memberi perhatian serius terhadap isu krisis iklim, transisi energi, energi terbarukan dan mineral kritis.

    Sebab, saat terpilih nanti, mereka harus menavigasi pemerintah daerah yang berperan semakin kuat dalam tata kelola energi dan perubahan iklim, seperti menyusun peta jalan energi daerah, merumuskan dan melaksanakan Rencana Aksi Mitigasi Iklim Provinsi.

    Pemerintah daerah juga melaksanakan tugas lainnya, seperti pengelolaan energi terbarukan maupun pembinaan dan pengawasan konservasi energi.

    Segmen pemilih terbesar di Indonesia, yaitu usia 17-35 tahun, juga memiliki ketertarikan yang sangat kuat terhadap isu krisis iklim.

    Karena itu, Research Centre for Politics and Government (PolGov) UGM dan Yayasan Indonesia Cerah melakukan survei persepsi 147 pemuka opini kunci atau key opinion leader (KOL/influencer) lokal di level provinsi dan 4 kabupaten/kota (Palu, Sigi, Morowali dan Morowali Utara).

    Penelitian ini mengulik persepsi influencer lokal terhadap isu transisi energi, energi terbarukan, krisis iklim, dan mineral kritis dalam Pilkada Sulawesi Tengah.

    Peran influencer krusial dalam Pilkada karena memiliki jaringan sosial yang luas sehingga dapat mengendalikan suatu isu di masyarakat. Mereka juga menjadi aktor pemberi informasi kepada orang lain yang dapat memengaruhi pengambilan keputusan, perilaku, dan sikap orang lain.

    Kami memilih Sulawesi Tengah karena (1) terjadi paradoks kemiskinan yang meningkat di tengah bertumbuhnya perekonomian, (2) merasakan dampak krisis iklim dan bencana alam yang semakin kuat, dan (3) memiliki Peraturan Daerah No. 10 tahun 2019 tentang Rencana Umum Energi Daerah (RUED) tahun 2019-2050 sebagai batu pijakan aksi iklim mereka.

    Temuan utama dari survei ini menunjukkan bahwa, responden menganggap, krisis iklim, transisi energi, energi terbarukan dan mineral kritis sebagai isu penting untuk dibicarakan dalam Pilkada.

    Krisis iklim menjadi yang paling berpeluang sedangkan isu mineral kritis menjadi isu yang paling menantang untuk didorong dalam Pilkada.

    Isu iklim krusial dalam Pilkada
    Sebanyak 98% responden dalam survei kami mengaku sudah terekspos dengan isu krisis iklim dan diikuti oleh isu transisi energi, energi terbarukan, dan mineral kritis. Media sosial menjadi sarana utama mereka mengakses informasi.

    Hasil survei menunjukkan bahwa aktivitas keseharian masyarakat, lembaga pemerintah, partai politik, organisasi masyarakat sipil, dan sektor bisnis di Provinsi Sulawesi Tengah juga telah bersentuhan dengan empat isu ini.

    Banyak responden memandang bahwa Sulawesi Tengah telah siap untuk melaksanakan agenda transisi energi, penggunaan energi terbarukan, dan pengelolaan sumber daya mineral kritis.

    Namun, kesiapan ini sangat bergantung pada tata kelola yang memperhatikan dampak sosial dan lingkungan.

    Sayangnya, praktik tata kelola yang ada di Sulawesi Tengah justru berkebalikan. Penggunaan energi fosil, menurut mayoritas responden, telah menghasilkan emisi karbon yang tinggi (96,53% responden) dan ekstraksi mineral kritis mempercepat krisis iklim (97,24% responden) di Sulawesi Tengah.

    Lebih jauh, para influencer menempatkan krisis iklim sebagai isu yang paling penting untuk dibicarakan dalam Pilkada Provinsi Sulawesi Tengah 2024 (95,83% responden), dibandingkan dengan tiga isu lainnya.

    Meski krisis iklim menjadi isu paling mendesak, para influencer cenderung tertarik pada kandidat pemimpin daerah yang membawa isu mineral kritis.
    Responden cenderung menyukai kandidat yang mengusung isu mineral kritis (79,31% responden) dan disusul oleh isu energi terbarukan (77,78% responden), krisis iklim (73,10% responden) dan isu transisi energi (72,22% responden).

    Mereka meyakini bahwa kandidat yang memerhatikan isu mineral kritis akan mendorong ekstraksi yang bertanggungjawab, bermanfaat bagi masyarakat, mencegah kerusakan lingkungan.

    Sorotan para pemimpin juga dapat mengarahkan perhatian mereka kepada masyarakat lokal dan masyarakat adat di sekitar tambang, serta menarik investasi dan membuka lapangan kerja baru.

    Ini menunjukkan bahwa meskipun kesadaran akan krisis iklim cukup tinggi, isu ekonomi terkait ekstraksi sumber daya mineral berkelanjutan tetap memiliki daya tawar politik yang signifikan.

    Isu paling menantang
    Menurut para influencer, ada dua tantangan besar yang menghambat pengarusutamaan isu mineral kritis berkelanjutan dalam Pilkada. Pertama, kebijakan yang masih sentralistik sehingga membatasi ruang gerak daerah dalam mengelola mineral kritis secara berkelanjutan (70,16% responden).

    Persepsi mereka ini sesuai dengan kenyataan tata kelola sektor mineral dan batu bara yang kembali terpusat setelah undang-undang baru.

    Kedua, terdapat potensi konflik kepentingan yang tinggi jika isu ini diangkat dalam Pilkada (67,37% responden). Pasalnya, kandidat terkait langsung atau maupun tidak langsung dengan aktivitas ekstraksi di daerah tersebut.

    Persepsi influencer lokal tersebut selaras dengan kenyataan bahwa pasangan calon yang ada merupakan pengusaha tambang atau pernah mengeluarkan konsesi tambang yang dianggap problematik saat menduduki jabatan bupati atau gubernur.

    Isu krisis iklim krusial
    Pada saat yang bersamaan, para influencer menganggap isu krisis iklim potensial menjadi topik utama yang dapat diusung para kandidat dalam Pilkada Sulawesi Tengah. Ada dua alasan di balik anggapan ini.

    Pertama, isu krisis iklim memiliki basis regulasi, anggaran, kerjasama multi pihak, modal sosial, dan kapasitas organisasi sosial.

    Kedua, banyak dukungan pendanaan internasional yang mendukung upaya penanggulangan krisis iklim.

    Misalnya, dukungan untuk proyek pelestarian hutan seperti REDD+ dan pertanian ramah iklim melalui Agriculture Climate Risk Financing (AgriCRF).

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis:
    Hasrul Hanif (Assistant Professor, Dept. of Politics & Government, UGM)
    Alfath Bagus Panuntun El Nur Indonesia (Lecturer at the Department of Politics and Government, UGM)
    Ardiman Kelihu dan Fitria Yuniarti (Peneliti dari UGM)

  • Mengintip Cara Kota-kota di Kolombia Merestorasi Lingkungannya

    Mengintip Cara Kota-kota di Kolombia Merestorasi Lingkungannya

    7cloud.asia – Daerah perkotaan memiliki dampak yang tidak proporsional terhadap hilangnya alam dan keanekaragaman hayati, dan juga perubahan iklim.

    Dicatat dalam laporan tahun 2021 dari UNEP, Daerah perkotaan menyumbang setidaknya 60 persen emisi karbon dioksida yang menyebabkan pemanasan global.

    Daerah perkotaan juga mencatat 75 persen penggunaan sumber daya, serta menghasilkan sekitar 60 persen limbah yang mencemari lingkungan global.

    Mengingat dampaknya yang sangat besar, wilayah perkotaan merupakan kunci dalam memecahkan banyak permasalahan lingkungan hidup dan menahan laju perubahan iklim, kata para pengamat.

    “Kota merupakan kontributor sekaligus korban degradasi lingkungan, namun juga merupakan pusat inovasi dan kepemimpinan,” kata Mirey Atallah, Kepala Cabang Adaptasi dan Ketahanan UNEP.

    Mirey menegaskan, iklim global sedang berubah banyak kota yang akan menghadapi masa depan suram yang ditandai dengan kejadian cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi.

    Baca: Barranquilla, kisah sukses sebuah kota merestorasi lingkungannya yang tercemar

    Karena itu tak ada pilihan lain, agar kota-kota di dunia beradaptasi dan mencegah agar kerusakan itu tidak semakin parah.

    Ia menambahkan, “Saat kita mendekati COP16, penting bagi kita untuk menyadari peran penting kota dalam membentuk masa depan berkelanjutan bagi semua orang.”

    Terkait upaya adaptasi ini, kota-kota di Kolombia layak menjadi contoh. Salah satunya adalah kota Barranquilla telah meluncurkan upaya ambisius untuk memulihkan rawa, saluran air, dan ruang hijau di sekitar kota.

    Para pejabat setempat berharap upaya ini, yang sebagian didukung oleh Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), akan menciptakan perlindungan terhadap angin kencang dan gelombang besar laut.

    Barranquilla, dalam beberapa tahun terakhir, telah memasukkan kembali alam ke dalam tatanan perkotaannya.Proses yang dikenal sebagai restorasi ekosistem ini dipandang sebagai kunci untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim.

    Program ini juga efektif membantu warga kota menghadapi ancaman lingkungan lainnya seiring rusaknya alam.

    Baca: Menata Ulang kota-kota di dunia untuk atasi pemanasan global

    Lain lagi yang dilakukan Medellín, kota terbesar kedua di Kolombia. Otoritas Medellin menanam ribuan pohon dari 215 spesies asli di sepanjang jalan dan saluran air kota.

    Penanamanan pohon ini sukses mengubah jalanan di Medellin menjadi koridor hijau yang menghubungkan ruang alami di kota dan berkontribusi terhadap ketahanan ekosistem.

    Studi kasus menemukan bahwa penanaman pohon di perkotaan membantu meningkatkan kualitas udara dan mengurangi suhu hingga 4°C di beberapa daerah.

    Hal ini dianggap penting karena perkotaan mengalami apa yang dikenal sebagai efek pulau panas (heat island effect), yang menjadikan wilayah tersebut lebih hangat dibandingkan wilayah pedesaan di sekitarnya.

    Cerita sukses lainnya dilakukan kota Cali, yang saat ini menjadi tuan rumah konferensi keanekaragaman hayati dunia, COP16.

    Baca: Solusi kota-kota dalam mengatasi pemanasan global

    Cali yang berlokasi di wilayah Valle del Cauca yang memiliki keanekaragaman hayati, juga menerapkan solusi berbasis alam.

    Dilintasi oleh 10 sungai, Cali memiliki 12 taman dengan keanekaragaman hayati dan 61 lahan basah, rumah bagi hampir 600 spesies burung.

    Salah satu inisiatif utama Cali adalah Pakta Satwa Liar yang bertujuan untuk membatasi perdagangan satwa liar ilegal dan mencegah kepemilikan spesies eksotik.

    Proyek lain yang dilakukan Kota Cali adalah Wildlife Monitoring Platform, sebuah sistem akses terbuka berbasis sains untuk membantu pihak berwenang mengendalikan spesies invasif.

  • Lebih 25.000 Bibit Pohon Trembesi di Lima Ruas Tol Trans Jawa

    Lebih 25.000 Bibit Pohon Trembesi di Lima Ruas Tol Trans Jawa

    7cloud.asia – Sebanyak 25.194 bibit pohon trembesi (Samanea saman) telah ditanam di lima ruas tol Trans Jawa di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.

    Puluhan ribu bibit pohon trembesi ini akan ditanam di sepanjang 267 kilometer Tol Trans Jawa. Pohon trembesi dipilih karena bisa berfungsi positif untuk kurangi emisi gas rumah kaca.

    Penyelesaian program penanaman puluhan ribu pohon trembesi yang diinisiasi Bakti Lingkungan Djarum Foundation tersebut diserahkan kepada perwakilan pengelola lima ruas tol tersebut di Surabaya, Rabu (23/10/2024).

    Dilansir Antaranews.com, lima pengelola tol yang di sekitar ruas jalannya ditanami pohon trembesi tersebut antara lain adalah PT Trans-Jawa Paspro Jalan Tol yang mengelola ruas Pasuruan-Probolinggo.

    Juga Astra Infra Toll Road yang mengelola ruas Jombang-Mojokerto, PT Jasamarga Solo Ngawi, PT Pemalang Batang Tol Road, serta PT Pejagan Pemalang Tol Road.

    Baca: Pebalap MotoGP Indonesia menanam pohon di Sirkuit Mandalika

    Direktur Program Bakti Lingkungan Djarum Foundation Jemmy Chayadi mengatakan program penanaman trembesi di sekitar jalan tol sudah dilakukan sejak 2019.

    Menurut dia, pohon trembesi memiliki kemampuan tinggi untuk menyerap emisi CO2 atau karbon khususnya dari kendaraan angkutan darat.

    Ia berharap sinergi dengan pengelola jalan tol dapat bertumbuh lebih besar lagi dan memberi dampak signifikan.

    “Yang terpenting bukan jumlah, tetapi bisa memberi dampak bagi lingkungan,” ujarnya.

    Sementara Kepala Balai Perkerasan Lingkungan dan Jalan Kementerian Pekerjaan Umum Neni Kusnianti mengatakan, pohon trembesi bisa meneduhkan dan mampu menyerapkan CO2.

    Baca: Menanam pohon menjadi salah satu langkah mitigasi pemenasan kawasan perkotaan 

    Oleh karena itu, menurut dia, dalam penanaman pohon di sekitar ruas tol harus memerhatikan keselamatan pengguna jalan.

    Pelaksanaan penanaman pohon, lanjut dia, dilakukan sesuai dengan pedoman penanaman pohon dalam sistem jaringan jalan.

    Anggota Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Sonny Sulaksono menambahkan bahwa total panjang ruas tol di Pulau Jawa mencapai 1.800 kilometer.

    Oleh karena itu, menurut dia, program penanaman pohon trembesi masih bisa berlanjut karena masih banyak kawasan ruas tol yang bisa ditanami.

    Selain di sekitar ruas rol, lanjut dia, penanaman pohon trembesi juga bisa dilakukan di sekitar kawasan tempat istirahat.

    “Ada tempat istirahat di jalan tol yang juga harus diberi penghijauan karena akan sangat berdampak ke pengemudi,” katanya. (Sumber: Antaranews.com)

  • Deretan Bahan Alami untuk Usir Tikus dari Kediaman Secara Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Tikus menjadi momok bagi banyak orang. Hewan pengerat yang dianggap menganggu ini juga senang tinggal berdekatan dengan manusia.

    Selain dianggap menjijikkan, tikus juga merupakan salah satu vektor alias hewan perantara penyakit.

    Namun, mengusir tikus agar menjauh dari kediaman bukan perkara mudah. Pasalnya, tikus termasuk hewan yang mudah dan cepat berkembang biak.

    Banyak orang menggunakan racun untuk mengusir tikus dari sekitar tempat tinggalnya. Namun, cara ini justru berbahaya karena dapat menyebabkan efek samping berlebihan.

    Bangkai tikus yang dimakan satwa lain akan menjadi racun berkelanjutan sehingga justru berdampak negatif pada kelestarian lingkungan.

    Alih-alih memberantas dengan racun sintetis, mengusir tikus dapat dilakukan dengan cara alami. Salah satunya menggunakan bahan-bahan aromatik dari alam. Hal ini karena tikus tidak menyukai aroma menyengat.

    Selain itu tikus juga memiliki indra penciuman yang sangat tajam untuk menunjang aktivitasnya.

    Baca: Mengusir nyamuk dengan cara ramah lingkungan

    Berikut sederet bahan alami yang aromanya tidak disukai tikus dan bisa dimanfaatkan untuk zat penolak atau repelen:

    1. Cengkeh
    Tikus membenci tanaman aromatik seperti cengkeh, kulit jeruk nipis, dam temulawak.

    Berdasarkan penelitian bertajuk Efektifitas Cengkeh (Syzygium aromaticum), Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantiifolia) dan Temulawak (urcuma xanthorrhiza Roxb) sebagai Repelen Tikus Got (Rattus norvegicus) yang dipublikasikan Jurnal Kesehatan Lingkungan Indonesia, ketiga tanaman tersebut berpotensi sebagai repelen tikus.

    Hasil penilaian disimpulkan bahwa pakan tikus yang dicampur dengan tanaman cengkeh yang diblender memberikan repelensi yang paling tinggi terhadap tikus dibandingkan kulit jeruk nipis dan temulawak.

    Dengan tingkat keefektivitasan repelen tinggi hingga 100 persen yang menyebabkan pengurangan berat badan tikus 31 persen.

    Baca: Perubahan iklim memicu pertumbuhan nyamuk

    Repelen Kulit jeruk nipis dan temulawak masih dapat digunakan sebagai penolak atau pengusir tikus walaupun tingkat efektifitasnya masih jauh di bawah cengkeh.

    Dengan kata lain berdasarkan hasil penelitian tersebut cengkeh sangat direkomendasikan sebagai bahan dasar untuk dijadikan produk penolak hama tikus.

    2. Cuka
    Cuka adalah bahan dapur yang memiliki bau asam yang cukup kuat ternyata dan tidak disukai tikus. Untuk menggunakan cuka sebagai penghalau, campurkan dengan air dalam perbandingan 1:1.

    Lalu semprotkan larutan ini ke area yang sering dilalui tikus. Anda juga bisa merendam bola kapas dalam cuka dan meletakkannya di sarang tikus.

    3. Cabai bubuk
    Bubuk cabai memiliki aroma menyengat dan rasa pedas yang membuat tikus merasa tidak nyaman.

    Taburkan di area yang sering dikunjungi tikus atau di sekitar lubang dan celah tempat mereka mungkin masuk ke rumah. Hati-hati agar bubuk cabai tidak terkena mata atau kulit Anda saat mengaplikasikannya.

    Baca: Peran kupu-kupu dan burung bagi lingkungan

    4. Kapur barus
    Kapur barus dikenal efektif untuk mengusir tikus karena baunya yang tajam. Letakkan beberapa bola kapur barus di tempat-tempat yang sering dijangkau tikus, seperti lemari, gudang, atau di bawah wastafel.

    Bau kapur barus yang menyengat akan membuat tikus merasa tidak nyaman dan menjauh.

    5. Kayu manis
    Kayu manis memiliki aroma yang kuat yang tidak disukai oleh tikus. Taburkan bubuk kayu manis di sekitar tempat-tempat yang mungkin menjadi sarang tikus.

    Anda juga bisa mencampurkan bubuk kayu manis dengan air dan semprotkan larutannya di area yang sering dikunjungi tikus.

    6. Daun sirsak
    Daun sirsak dikenal memiliki aroma yang khas dan cukup kuat. Bau dari daun sirsak ini ternyata tidak disukai oleh tikus karena bisa mengganggu indra penciuman.

    Untuk memanfaatkan daun sirsak sebagai penghalau tikus,ambil beberapa lembar daun segar, hancurkan, dan letakkan di tempat-tempat yang sering dikunjungi tikus.

    7. Kulit durian
    Durian merupakan buah dengan bau yang sangat kuat dan khas, dan kulitnya tidak terkecuali. Bau kulit durian dianggap sangat mengganggu bagi tikus karena intensitas dan keunikannya.

    Baca: Upaya memetakan kupu-kupu di Indonesia

    Cukup letakkan kulit durian yang sudah dikeringkan di sekitar area yang ingin Anda lindungi dari tikus.

    8. Minyak Peppermint
    Minyak peppermint merupakan salah satu bahan alami yang paling dikenal untuk mengusir tikus. Tikus tidak suka bau mentol yang kuat dari peppermint, sehingga minyak ini sering digunakan sebagai penghalau.

    Teteskan minyak peppermint ke bola kapas atau kain kecil dan letakkan di area yang sering dikunjungi tikus, seperti sudut ruangan, dapur, atau gudang.

    9. Bawang Putih
    Bawang putih memiliki aroma tajam yang tidak disukai oleh tikus. Anda bisa menggunakan bawang putih segar atau bubuk bawang putih untuk mengusir tikus.

    Letakkan potongan bawang putih di sekitar area yang berpotensi menjadi sarang tikus atau campurkan bubuk bawang putih dengan air dan semprotkan larutannya di tempat-tempat yang sering didatangi tikus.

  • KTT Keanekaragaman Hayati: Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia Serukan Setop Ekspansi Pertambangan Nikel

    KTT Keanekaragaman Hayati: Organisasi Masyarakat Sipil Indonesia Serukan Setop Ekspansi Pertambangan Nikel

    7cloud.asia – Di tengah berlangsungnya KTT Keanekaragaman Hayati ke-16 (COP16) di Cali, Kolombia, organisasi masyarakat sipil Indonesia menyerukan perlindungan segera terhadap alam dan keanekaragaman hayati yang semakin terancam oleh ekspansi tambang nikel.

    Isu mengenai tambang mineral penting menjadi diskursus hangat dalam pertemuan COP16 CBD mengingat potensi ancamannya yang tinggi terhadap integritas ekosistem, keanekaragaman hayati.

    Dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia pada Jumat (1/11/2024), masyarakat sipil menyebut bahwa penambangan nikel yang masif juga mengancam hak-hak masyarakat adat dan komunitas lokal.

    Saat ini, terdapat hampir 1 juta hektare konsesi tambang nikel di Indonesia, yang 66 persennya atau sekitar 0,64 juta hektare merupakan tutupan hutan alam.

    Besarnya luasan konsesi tambang nikel di Indonesia yang terus bertambah ini didorong oleh agenda transisi energi global untuk memasok komponen baterai kendaraan listrik, dengan tujuan ekspor utama ke China.

    Baca: Tambang nikel Indonesia dikaitkan dengan kerja paksa dan kerusakan lingkungan

    Direktur Eksekutif Auriga Nusantara, Timer Manurung mendesak Pemerintah Indonesia untuk membatasi produksi nikel karena dampak negatifnya terhadap keanekaragaman hayati.

    Dia menyebut deposit nikel di Indonesia yang mencapai luasan 3,1 juta hektare terkonsentrasi di wilayah Sulawesi, Maluku, dan Papua.

    Hampir 80 persen atau 2,5 juta hektare wilayah deposit nikel di Indonesia terkonsentrasi di wilayah Indonesia Timur merupakan wilayah yang kaya akan hutan dan keanekaragaman hayati, serta berada di dalam wilayah adat.

    Wilayah tersebut juga merupakan rumah bagi setidaknya 18 spesies ikonik, yang keberadaannya terancam akibat ekspansi tambang nikel.

    ”Untuk itu, penting bagi pemerintah Indonesia untuk menetapkan ‘No Go Zone’ di area-area yang memiliki peran penting pada keanekaragaman hayati dan penanggulangan perubahan iklim,” ujar Timer.

    Baca: Tambang nikel berdampak buruk pada lingkungan

    Timer menekankan pentingnya Pemerintah Indonesia untuk menetapkan kuota bagi ekspansi tambang nikel yang bisa dilakukan di luar No Go Zone untuk mencegah kerusakan ekosistem yang lebih buruk.

    “Untuk daerah di luar ‘No Go Zone’ atau daerah yang tidak bisa” ditambang lagi,“ tandasnya.

    Dia menambahkan, perlunya perhitungan berdasarkan ketersediaan nikel di Indonesia, kebutuhan nikel yang masuk akal, lama waktu yang dibutuhkan bagi Indonesia untuk melakukan ekspansi tambang nikel.

    Selain itu pemerintah juga diminta menghitung kembali potensi ancaman terhadap ekosistem dan biodiversitas yang akan terjadi dari ekspansi tambang nikel.

    Baca: Tambang nikel membuat rating pengurangan emisi terpuruk

  • Informasi Hijau Jadi Solusi Dampak Pesan-antar Makanan pada Lingkungan

    Informasi Hijau Jadi Solusi Dampak Pesan-antar Makanan pada Lingkungan

    7cloud.asia – Minat konsumen terhadap kenyamanan dan layanan cepat mendorong perkembangan layanan pesan antar makanan daring seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood, dalam beberapa tahun terakhir.

    Di Indonesia, platform pesan-antar daring kini melayani jutaan pelanggan setiap tahunnya, dengan nilai transaksi mencapai 4,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp71,6 triliun pada 2023.

    Naiknya layanan pesan-antar daring turut meningkatkan lalu lintas kendaraan pengantaran sehingga menambah kemacetan perkotaan dan emisi gas rumah kaca.

    Sebuah penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa penggunaan layanan pesan-antar daring dapat meningkatkan emisi hingga dua kali lipat dan meningkatkan kemacetan hingga 40 persen.

    Riset yang yang dilakukan Budhi Sholeh Wibowo, Dosen dan Peneliti dari Universitas Gadjah Mada berupaya memberikan dua langkah solusi agar layanan ini bisa meredam perburukan polusi dan kemacetan.

    Solusi ini membutuhkan itikad dari pengelola platform dan juga kesadaran lingkungan konsumen.

    Baca: Dampak maraknya belanja online pada lingkungan

    Solusi pertama yakni pengantaran gabungan, telah dibahas di tulisan sebelumnya. Sedangkan solusi kedua adalah dengan mengedukasi konsumen.

    Eksperimen yang dilakukan Budhi bersama tim kepada 215 e-konsumen di wilayah Jakarta menunjukkan potensi “informasi hijau” dalam mendorong pilihan pengantaran yang ramah lingkungan.

    Artinya, konsumen mungkin bersedia menerima penundaan ini jika mereka diberi tahu tentang manfaat lingkungan yang dihasilkan.

    Ini membuka peluang besar bagi platform untuk terlibat dengan pelanggan yang peduli lingkungan dan mempromosikan praktik berkelanjutan.

    Dalam eksperimen ini, tim membuat aplikasi yang mensimulasikan proses pemilihan layanan pesan-antar kepada e-konsumen di wilayah Jakarta.

    Dalam simulasi tersebut, peneliti memberikan mereka opsi beserta informasi mengenai jejak karbon dari setiap opsi pengantaran, bersama dengan informasi harga dan waktu.

    Baca: Pesan-antar makanan picu polusi udara

    Opsi pertama, pengantaran cepat dalam 35 menit, tetapi dengan emisi karbon tinggi. Sementara itu, ada opsi kedua dengan pengantaran yang lebih lambat (sekitar 60 menit), tapi dengan emisi karbon yang lebih rendah.

    Dalam aplikasi, terdapat informasi bahwa memilih pengantaran yang lebih lambat dapat mengurangi jejak karbon pesanan tersebut hingga 300 gram CO2.

    Menariknya, informasi hijau tersebut direspons positif oleh konsumen. Sekitar 84 persen pelanggan lebih memilih metode pengantaran yang lebih lambat tapi lebih ramah lingkungan.

    Hasil eksperimen juga menunjukkan bahwa, tanpa iming-iming diskon, 55 persen pelanggan tetap cenderung memilih opsi yang berkelanjutan.

    Temuan ini penting bagi platform yang ingin mengurangi ketergantungan pada insentif harga, yang sering kali mengurangi margin keuntungan.

    Berbeda dengan diskon yang berfungsi sebagai insentif finansial, informasi hijau mengandalkan motivasi intrinsik yaitu dorongan untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai pribadi mereka.

    Baca: Belanja sambil berbagi untuk sesama perempuan

    Banyak konsumen terdorong untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab secara sosial. Ketika mereka menyadari bahwa pilihan pengantaran mereka dapat membantu mengurangi dampak lingkungan, mereka akan lebih mungkin memilih opsi tersebut tanpa memerlukan insentif tambahan.

    Hal ini menjadikan informasi hijau sebagai strategi yang efektif dalam membentuk perilaku konsumen jangka panjang. Sebab, keputusan tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anggap penting.

    Keuntungan praktik hijau
    Menawarkan informasi hijau bersama dengan pengantaran gabungan dapat meningkatkan reputasi platform sebagai perusahaan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

    Citra tersebut memberikan nilai tambah di mata pelanggan yang menghargai praktik berkelanjutan.

    Selain itu, manfaat penghematan biaya dari praktik konsolidasi sangat signifikan. Dengan pengantaran gabungan, pengemudi yang biasanya mengantarkan 20 pesanan secara langsung kini hanya perlu melakukan 15 perjalanan gabungan.

    Hal ini tentu mengurangi biaya bahan bakar, waktu tempuh mereka, keausan kendaraan, dan bahkan kelelahan pengemudi. Semuanya berpotensi meningkatkan produktivitas pengemudi secara keseluruhan.

    Baca: Maraknya belanja online berdampak pada produksi sampah plastik

    Efisiensi operasional ini dapat diterjemahkan menjadi margin keuntungan yang lebih baik bagi platform pesan-antar daring.

    Penyedia teknologi layanan yang mengadopsi praktik hijau juga mungkin lebih siap untuk mematuhi regulasi di masa depan yang bertujuan mengurangi emisi perkotaan.

    Dengan secara proaktif mengadopsi praktik pengantaran yang berkelanjutan, perusahaan dapat berada di depan perubahan kebijakan yang mungkin mewajibkan operasi yang lebih ramah lingkungan di kota-kota besar.

    Tantangan bagi platform pesan-antar daring bukanlah apakah mereka harus menjadi lebih ramah lingkungan, melainkan seberapa cepat mereka dapat mengintegrasikan praktik-praktik ini ke dalam operasi mereka.

    Perusahaan-perusahaan yang memimpin perubahan ini tidak hanya akan membantu mengurangi dampak lingkungan industri, tetapi juga memosisikan diri sebagai pelopor gerakan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Budhi Sholeh Wibowo, Dosen dan Peneliti dari Universitas Gadjah Mada

  • Keputusan MA Bebaskan Daniel Frits Bisa Jadi Yurisprudensi bagi Aktivisme Lingkungan

    Keputusan MA Bebaskan Daniel Frits Bisa Jadi Yurisprudensi bagi Aktivisme Lingkungan

    7cloud.asia – Mahkamah Agung (MA) pada Rabu, (30/10/2024) menolak permohonan kasasi yang diajukan jaksa penuntut umum dalam kasus ujaran kebencian yang menjerat aktivis lingkungan, Karimunjawa, Daniel Frits Maurits Tangkilisan

    Sebelumnya Daniel Frits mengalami kriminalisasi setelah bersama nelayan Kepulauan Karimunjawa menolak tambak udang di wilayah itu .

    Putusan MA ini memperkuat vonis Pengadilan Tinggi Jawa Tengah yang membebaskan Daniel Frits dari jerat hukum. Sebelumnya. Daniel divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 7 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri (PN) Jepara.

    Dilansir Tempo.co, Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) mengapresiasi putusan Mahkamah Agung tersebut.

    SAFEnet menilai, putusan terhadap Daniel Frits ini dapat menjadi yurisprudensi bagi kasus-kasus kriminalisasi yang menjerat aktivis lingkungan hidup lainnya, khususnya yang menggunakan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

    Baca: Vonis bersalah pada Daniel Frits Tangkilisan menuai kritik

    SAFEnet menilai putusan hakim Dwiarso Budi Santiarto dan anggota majelis hakim lainnya telah memutus perkara ini dengan seadil-adilnya.

    ”Putusan MA ini harus menjadi yurisprudensi bagi hakim-hakim lain yang sedang mengadili kasus kriminalisasi aktivis lingkungan hidup,” ujar Kepala Divisi Kebebasan Berekspresi SAFEnet, Hafizh Nabiyyin.

    Hafizh menambahkan, saat ini UU ITE acap kali digunakan untuk mengkriminalisasi aktivis dan membungkam kelompok kritis.

    Hal itu, menurut dia, merupakan bentuk Strategic Litigation Against Public Participation (SLAPP) yang dilancarkan oleh korporasi atau proksi-proksinya untuk membungkam siapapun yang dianggap sebagai ancaman bagi operasi bisnis mereka.

    Direktur Eksekutif SAFEnet, Nenden Sekar Arum, menilai putusan ini dapat menjadi landasan kuat bagi masyarakat sipil untuk mendorong pemerintah dan parlemen agar membuat peraturan anti-SLAPP yang lebih kuat dan komprehensif.

    Baca: Kasus Daniel Frits Tangkilisan jadi pertaruhan bagi aktivisme lingkungan

    “Ketentuan anti-SLAPP dapat menyelamatkan orang-orang yang dikriminalisasi. Kita perlu mendorong ketentuan anti-SLAPP yang lebih komprehensif, yang dapat melindungi siapapun yang berekspresi untuk mempertahankan hak-haknya di hadapan kerakusan korporasi dan abainya negara” katanya.

    Saat ini, lanjutnya, baru aktivis lingkungan yang dilindungi oleh klausul anti-SLAPP. Klausul ini terdapat dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UU PPLH).

    “Padahal, aktivis-aktivis maupun warga yang memperjuangkan hak-haknya di sektor lain juga memerlukan perlindungan serupa” katanya.

    SAFEnet menekankan, meskipun mungkin memerlukan waktu yang tidak sebentar, regulasi anti-SLAPP yang lebih kuat dan komprehensif tetap diperlukan untuk melindungi kebebasan berekspresi dan partisipasi publik.

    “Kita tidak akan pernah memiliki ketentuan anti-SLAPP yang komprehensif jika kita tidak memulainya dari sekarang. Apalagi, kebebasan berekspresi yang kita perjuangkan akan segera berhadapan dengan dua peraturan predatorik: UU ITE dan KUHP baru yang akan efektif di tahun 2026,” ucapnya.

    Baca: KLHK terbitkan Permen untuk lindungi pejuang lingkungan hidup

    Kilas balik kasus Daniel Frits
    Perkara ini bermula ketika Daniel Tangkilisan mengunggah video berdurasi 6:03 menit di akun Facebook-nya pada 12 November 2022 lalu.

    Video tersebut memperlihatkan kondisi pesisir Karimunjawa yang diduga terdampak limbah tambak udang.

    Sejumlah akun kemudian mengomentari unggahan itu. Daniel membalas salah satu komentar dengan kalimat,

    “Masyarakat otak udang menikmati makan udang gratis sambil dimakan petambak. Intine sih masyarakat otak udang itu kaya ternak udang itu sendiri. Dipakani enak, banyak & teratur untuk dipangan.”

    Komentar tersebut kemudian dilaporkan ke Polres Jepara bernomor LP/B/17/II/SPKT/POLRES JEPARA/POLDA JATENG tertanggal 8 Februari 2023. Dia dilaporkan memakai Pasal 28 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE.

    Pada Kamis, 7 Desember 2023, Daniel ditahan oleh Polres Jepara. Dia dibebaskan keesokan harinya setelah permohonan penangguhan penahanannya dikabulkan. Daniel kembali ditahan pada 23 Januari 2024.

    Dalam sidang putusan di Pengadilan Negeri Jepara 4 April 2024, hakim PN Jepara menjatuhkan vonis tujuh bulan penjara dan denda Rp 5 juta kepada Daniel Tangkilisan

    Vonis tersebut dibatalkan Pengadilan Tinggi Semerang. Jaksa lalu mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. (Sumber: Tempo.co)

  • Dampak PLTU di Indramayu: Mata Pencaharian Hilang dan Kesehatan Terancam

    Dampak PLTU di Indramayu: Mata Pencaharian Hilang dan Kesehatan Terancam

    7cloud.asia – Pada Kamis, 24 Oktober 2024 GreenFaith Jepang dan para pemimpin agama Jepang melakukan kunjungan ke Jatayu Community serta Pembangkit Listrik Tenaga Uap atau PLTU batu bara Indramayu.

    Kunjungan ini dilakukan usai berdialog tentang transisi energi dan kesehatan masyarakat dengan warga setempat.

    Dalam dialog tersebut, Siti Hannah Alaydrus, Manajer Kampanye dan Advokasi WALHI Jawa Barat, memaparkan dampak serius yang dirasakan masyarakat Indramayu akibat keberadaan PLTU.

    Pembangunan PLTU batu bara, ujar Siti, telah mengalihfungsikan sekitar 380.000 hektare lahan pertanian, merusak hasil pertanian, dan menurunkan tangkapan ikan nelayan di desa-desa seperti Mekarsari, Patrol, dan Sumuradem.

    “”Warga kehilangan mata pencaharian mereka. Abu PLTU mencemari lingkungan, merusak pertanian, dan mengurangi hasil tangkapan ikan,” jelas Hannah dilansir dari keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia. 

    Sejak rencana pembangunan PLTU II pada 2015, warga dari tiga desa ini mulai bergerak dan meminta pendampingan dari WALHI.

    Baca: Masyarakat minta JBIC tangguhkan pembangunan PLTU Cirebon 2

    Mereka berhasil memenangkan gugatan di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Bandung pada 2017, yang menyatakan izin pembangunan PLTU tidak sah. Namun, perjuangan belum selesai karena pemerintah kabupaten terus mengajukan kasasi.

    Tantangan semakin berat dengan adanya upaya kriminalisasi pada 2018, ketika tiga warga dituduh membalikkan bendera merah putih dan empat warga lainnya ditangkap saat berdemonstrasi.

    Meski demikian, warga Jatayu, didukung oleh WALHI dan jaringan internasional seperti Friends of the Earth Jepang, terus berjuang.

    Pada 2020, mereka menggelar aksi di depan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, menuntut pemerintah Jepang menghentikan pendanaan PLTU II Indramayu.

    Perjuangan warga membuahkan hasil ketika pada Juni 2022, pemerintah Jepang mengumumkan niat untuk membatalkan pendanaan PLTU di Indonesia, termasuk di Indramayu.

    Namun, perlawanan belum usai karena PLTU I masih beroperasi dan warga terus berjuang mendesak PLTU ditutup demi kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

    Baca: Investor asing enggan investasi karena RI masih gunakan PLTU batu bara

    “Perjuangan panjang warga Jatayu adalah contoh nyata dari perlawanan masyarakat terhadap ketidakadilan lingkungan,” ujar Siti.

    Meskipun perhatian internasional mulai mengarah ke kasus ini, perjuangan belum selesai hingga semua PLTU di daerah tersebut benar-benar ditutup.

    Sebagai penutup, Direktur GreenFaith Indonesia Hening Parlan menyatakan, dialog transisi energi yang diadakan di Indramayu ini menegaskan pentingnya pendekatan yang berkelanjutan dan adil dalam memenuhi kebutuhan energi.

    “Dampak negatif PLTU terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian serius pemerintah dalam merumuskan kebijakan energi yang lebih ramah lingkungan,” kata Hening.

    Hozue Hatae dari Friends of the Earth Japan (FoE Japan) turut mengapresiasi perjuangan warga Jatayu yang gigih menuntut hak mereka untuk lingkungan yang lebih sehat.

    “Warga Jatayu memiliki alasan kuat dalam menuntut penutupan PLTU Indramayu. Gerakan protes mereka sudah menjangkau tingkat lokal, nasional, hingga internasional,” ungkap Hozue.

    Baca: Indonesia urutan terbawah dalam urusan transisi energi

    Hozue juga mengungkapkan bahwa meskipun pada 2021 Pemerintah Jepang berkomitmen untuk menghentikan pembangunan PLTU baru, beberapa perusahaan Jepang tetap mempromosikan teknologi co-firing.

    Teknologi ini menggabungkan batu bara dengan bahan bakar lain sebagai solusi sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

    Namun, menurut Hozue, solusi ini hanyalah ilusi karena tetap menyumbang pada perubahan iklim melalui penggunaan amonia sebagai bahan bakar.

    Adapun dialog ini diselenggarakan GreenFaith Indonesia bekerja sama dengan GreenFaith Jepang serta WALHI Jawa Barat untuk meningkatkan kesadaran mengenai transisi energi dan dampak kesehatan masyarakat.

    Dalam acara tersebut, Ricka Ayu dari Kebumi (Kesehatan untuk Bumi) menyoroti meningkatnya kebutuhan listrik di Indonesia yang mendorong pemerintah untuk terus membangun PLTU baru.

    Baca: PLTN diminta segera akhiri PLTU batu bara

    Meski ada upaya pemerintah mengurangi penggunaan batu bara, seperti melalui co-firing, tantangan besar terkait dampak lingkungan dan kesehatan masih menghantui.

    Ricka mengatakan, polusi udara dari PLTU berbahan bakar fosil tidak hanya merusak lingkungan, tapi juga mengancam kesehatan masyarakat.

    “Paparan polusi tingkat tinggi dapat menyebabkan penyakit pernapasan, jantung, stroke, hingga kanker paru-paru. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat miskin paling terdampak,” ujar Ricka.

    Ricka juga menekankan bahaya partikel kecil PM 2.5 yang dihasilkan dari PLTU batu bara.

    Partikel ini bisa masuk ke paru-paru dan darah, menyebabkan berbagai masalah kesehatan, termasuk kelahiran prematur dan penyakit kardiovaskular.

  • Inggris Cetak Sejarah: Tunjuk Aktivis Lingkungan menjadi Duta Besar Khusus untuk Alam

    Inggris Cetak Sejarah: Tunjuk Aktivis Lingkungan menjadi Duta Besar Khusus untuk Alam

    7cloud.asia – Pemerintah Inggris pada Oktober lalu mengangkat seorang aktivis lingkungan terkemuka, Ruth Davis menjadi duta besar khusus untuk alam.

    Penunjukan Ruth Davis ini merupakan yang pertama dalam sejarah, ada duta besar khusus untuk lingkungan.

    Ruth Davis sangat dihormati atas karyanya, termasuk perannya yang sangat penting dalam merancang janji global bersejarah untuk mengatasi deforestasi selama KTT iklim COP26 PBB di Glasgow pada tahun 2021.

    Selanjutnya, dia akan melapor langsung kepada Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy dan Menteri Lingkungan Steve Reed.

    Baca: Kemenangan Donald Trump dinilai akan berdampak buruk pada aksi iklim global

    “Kita tidak dapat mengatasi krisis alam dan iklim tanpa tindakan global yang terkoordinasi. Itulah sebabnya kami mengangkat Ruth sebagai duta besar khusus untuk alam kami,” kata Menteri Lingkungan Inggris, Steve Reed dalam pernyataan terpisah. 

    Menurut Reed, ini sebuah langkah pertama yang bersejarah – yang akan memperjuangkan ambisi kami untuk menempatkan iklim dan alam di jantung kebijakan luar negeri Inggris

    Dikenal sebagai “aktivis bagi para aktivis lingkungan,” Ruth Davis akan memimpin upaya internasional untuk menghentikan penurunan keanekaragaman hayati yang mengkhawatirkan, sebuah isu global penting yang telah mencapai titik kritis.

    “Pemerintah telah mengakui bahwa krisis alam memiliki tingkat keparahan yang sama dengan krisis iklim; dan kita tidak dapat menangani satu bagian tanpa mengatasi bagian yang lain,” kata Davis dalam sebuah pernyataan.

    Baca: Dunia menunggu pengembangan skema baru pendanaan iklim dari COP 29

    Dia melanjutkan, ekosistem dan spesies yang didukung lingkungan sangat penting guna menjaga ketahanan pangan, mengurangi risiko kesehatan, dan mengelola dampak peningkatan suhu global.

    Tugas besar pertama Ruth Davis sebagai duta besar alam adalah keterlibatannya di KTT Keanekaragaman Hayati yang berlangsung hingga awal November lalu di Cali Kolombia.

    Konferensi ini diharapkan dapat membentuk respons global terhadap krisis keanekaragaman hayati.

    Dan, pemerintah Inggris bertujuan untuk menempatkan dirinya di garis terdepan dalam perjuangan melawan keruntuhan lingkungan global

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu