7cloud.asia – Minat konsumen terhadap kenyamanan dan layanan cepat mendorong perkembangan layanan pesan antar makanan daring seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood, dalam beberapa tahun terakhir.
Di Indonesia, platform pesan-antar daring kini melayani jutaan pelanggan setiap tahunnya, dengan nilai transaksi mencapai 4,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp71,6 triliun pada 2023.
Naiknya layanan pesan-antar daring turut meningkatkan lalu lintas kendaraan pengantaran sehingga menambah kemacetan perkotaan dan emisi gas rumah kaca.
Sebuah penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa penggunaan layanan pesan-antar daring dapat meningkatkan emisi hingga dua kali lipat dan meningkatkan kemacetan hingga 40 persen.
Riset yang yang dilakukan Budhi Sholeh Wibowo, Dosen dan Peneliti dari Universitas Gadjah Mada berupaya memberikan dua langkah solusi agar layanan ini bisa meredam perburukan polusi dan kemacetan.
Solusi ini membutuhkan itikad dari pengelola platform dan juga kesadaran lingkungan konsumen.
Baca: Dampak maraknya belanja online pada lingkungan
Solusi pertama yakni pengantaran gabungan, telah dibahas di tulisan sebelumnya. Sedangkan solusi kedua adalah dengan mengedukasi konsumen.
Eksperimen yang dilakukan Budhi bersama tim kepada 215 e-konsumen di wilayah Jakarta menunjukkan potensi “informasi hijau” dalam mendorong pilihan pengantaran yang ramah lingkungan.
Artinya, konsumen mungkin bersedia menerima penundaan ini jika mereka diberi tahu tentang manfaat lingkungan yang dihasilkan.
Ini membuka peluang besar bagi platform untuk terlibat dengan pelanggan yang peduli lingkungan dan mempromosikan praktik berkelanjutan.
Dalam eksperimen ini, tim membuat aplikasi yang mensimulasikan proses pemilihan layanan pesan-antar kepada e-konsumen di wilayah Jakarta.
Dalam simulasi tersebut, peneliti memberikan mereka opsi beserta informasi mengenai jejak karbon dari setiap opsi pengantaran, bersama dengan informasi harga dan waktu.
Baca: Pesan-antar makanan picu polusi udara
Opsi pertama, pengantaran cepat dalam 35 menit, tetapi dengan emisi karbon tinggi. Sementara itu, ada opsi kedua dengan pengantaran yang lebih lambat (sekitar 60 menit), tapi dengan emisi karbon yang lebih rendah.
Dalam aplikasi, terdapat informasi bahwa memilih pengantaran yang lebih lambat dapat mengurangi jejak karbon pesanan tersebut hingga 300 gram CO2.
Menariknya, informasi hijau tersebut direspons positif oleh konsumen. Sekitar 84 persen pelanggan lebih memilih metode pengantaran yang lebih lambat tapi lebih ramah lingkungan.
Hasil eksperimen juga menunjukkan bahwa, tanpa iming-iming diskon, 55 persen pelanggan tetap cenderung memilih opsi yang berkelanjutan.
Temuan ini penting bagi platform yang ingin mengurangi ketergantungan pada insentif harga, yang sering kali mengurangi margin keuntungan.
Berbeda dengan diskon yang berfungsi sebagai insentif finansial, informasi hijau mengandalkan motivasi intrinsik yaitu dorongan untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai pribadi mereka.
Baca: Belanja sambil berbagi untuk sesama perempuan
Banyak konsumen terdorong untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab secara sosial. Ketika mereka menyadari bahwa pilihan pengantaran mereka dapat membantu mengurangi dampak lingkungan, mereka akan lebih mungkin memilih opsi tersebut tanpa memerlukan insentif tambahan.
Hal ini menjadikan informasi hijau sebagai strategi yang efektif dalam membentuk perilaku konsumen jangka panjang. Sebab, keputusan tersebut sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anggap penting.
Keuntungan praktik hijau
Menawarkan informasi hijau bersama dengan pengantaran gabungan dapat meningkatkan reputasi platform sebagai perusahaan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Citra tersebut memberikan nilai tambah di mata pelanggan yang menghargai praktik berkelanjutan.
Selain itu, manfaat penghematan biaya dari praktik konsolidasi sangat signifikan. Dengan pengantaran gabungan, pengemudi yang biasanya mengantarkan 20 pesanan secara langsung kini hanya perlu melakukan 15 perjalanan gabungan.
Hal ini tentu mengurangi biaya bahan bakar, waktu tempuh mereka, keausan kendaraan, dan bahkan kelelahan pengemudi. Semuanya berpotensi meningkatkan produktivitas pengemudi secara keseluruhan.
Baca: Maraknya belanja online berdampak pada produksi sampah plastik
Efisiensi operasional ini dapat diterjemahkan menjadi margin keuntungan yang lebih baik bagi platform pesan-antar daring.
Penyedia teknologi layanan yang mengadopsi praktik hijau juga mungkin lebih siap untuk mematuhi regulasi di masa depan yang bertujuan mengurangi emisi perkotaan.
Dengan secara proaktif mengadopsi praktik pengantaran yang berkelanjutan, perusahaan dapat berada di depan perubahan kebijakan yang mungkin mewajibkan operasi yang lebih ramah lingkungan di kota-kota besar.
Tantangan bagi platform pesan-antar daring bukanlah apakah mereka harus menjadi lebih ramah lingkungan, melainkan seberapa cepat mereka dapat mengintegrasikan praktik-praktik ini ke dalam operasi mereka.
Perusahaan-perusahaan yang memimpin perubahan ini tidak hanya akan membantu mengurangi dampak lingkungan industri, tetapi juga memosisikan diri sebagai pelopor gerakan konsumsi yang lebih bertanggung jawab.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Budhi Sholeh Wibowo, Dosen dan Peneliti dari Universitas Gadjah Mada

Leave a Reply