Tag: banjir sumatera

  • Banjir Sumatera: Masyarakat Sipil Layangkan Somasi kepada Presiden Karena Tak Kunjung Tetapkan Status Bencana Nasional

    Banjir Sumatera: Masyarakat Sipil Layangkan Somasi kepada Presiden Karena Tak Kunjung Tetapkan Status Bencana Nasional

    7cloud.asia – Sebanyak 114 organisasi masyarakat sipil melayangkan somasi kepada Presiden Prabowo Subianto karena tak kunjung menetapkan status bencana nasional untuk banjir Sumatera.

    Dalam pernyataan tertulis tertanggal 10 Desember 2025,  masyarakat sipil menyebut bahwa banjir Sumatera berdampak hebat pada kemanusiaan, kerusakan infrastruktur, kerugian sosial-ekonomi dan juga kerusakan lingkungan berskala luas. 

    ‘Berdasarkan perkembangan situasi di lapangan, kami mendesak agar Presiden Republik Indonesia segera menetapkan status bencana nasional. Selain itu kami juga meminta Pemerintah Republik Indonesia untuk menangani bencana ini dengan cepat dan terukur, agar para korban segera mendapatkan haknya,” demikian masyarakat sipil dalam pernyataannya.

    Hingga 9 Desember 2025, BNPB mencatat jumlah korban terus bertambah. Dengan detail, sekitar 974 orang meninggal, 298 hilang dan angka ini belum termasuk korban yang belum ditemukan.

    Selain itu, terdapat puluhan ribu orang dipaksa menjadi pengungsi. Kondisi saat ini sangat rentan, terutama bagi perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas dan orang dengan usia lanjut. 

    Potensi risiko mengalami kekerasan, tidak mendapatkan layanan kesehatan yang inklusif, dan pengabaian terhadap hak-hak kesehatan reproduksi karena sampai detik ini belum ada bantuan yang memadai memperburuk kesenjangan akses perempuan terhadap air bersih, sanitasi yang aman, pembalut, layanan kesehatan ibu, serta perlindungan di ruang pengungsian. 

    “Kami memperkirakan jumlah korban akan terus bertambah seiring terbatasnya akses evakuasi dan lambatnya mobilisasi bantuan,” imbuh pernyataan itu.

    Kerusakan infrastruktur yang masif mulai dari terputusnya akses jalan hingga lumpuhnya jaringan komunikasi menghambat evakuasi, layanan medis, dan distribusi logistik. Banyak wilayah terisolasi, sementara masyarakat yang bertahan di dalamnya berada dalam kondisi sangat rentan tanpa perbekalan memadai. 

    Situasi ini menegaskan urgensi intervensi cepat pemerintah pusat untuk mengutamakan keselamatan warga tanpa terhalang prosedur birokrasi. Setiap jam keterlambatan adalah bentuk kelalaian negara terhadap keselamatan warganya.

    Beban masyarakat semakin berat dengan kerugian sosial-ekonomi yang sangat besar, seperti ribuan rumah hancur, pertanian dan tempat usaha musnah, serta aktivitas ekonomi berhenti total.

    Banyak warga kehilangan mata pencaharian dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Pemulihan dalam skala ini mustahil ditangani pemerintah daerah sendiri dan membutuhkan intervensi penuh pemerintah pusat termasuk anggaran nasional, dukungan teknis, serta rekonstruksi terpadu.

    Masyarakat sipil menegaskan, warga sebagai korban terdampak memiliki hak konstitusional. Bukan hanya menuntut pada ganti kerugian kehilangan nyawa, kehilangan harta benda, gangguan akses kesehatan dan yang lainnya terhadap negara, tetapi terhadap pihak perusahaan swasta. 

    Masyarakat sipil melihat, faktor utama penyebab banjir Sumatera adalah eksploitasi oleh swasta yang berlebihan, yang tidak sesuai dengan administrasi negara, dan bahkan ada yang ilegal. Sehingga bukan negara saja yang bertanggung jawab, swasta juga bertanggung jawab dan dapat dituntut pemenuhan hak. 

    Dengan kondisi seperti ini maka dimensinya bukan hanya dimensi gugatan perdata biasa, melainkan pertanggungjawaban pidana karena sudah termasuk sebagai kategori Kejahatan Ekosida.

    Selain penyelamatan jiwa, penegakan hukum tidak boleh diabaikan. Penetapan status bencana nasional akan membuka jalan bagi investigasi menyeluruh lintas daerah untuk mengungkap penyebab struktural, memastikan para pelaku yang berkontribusi pada kerusakan lingkungan dan kelalaian tata kelola diproses secara hukum.

    Penetapan bencana nasional bukan hanya status administratif, tetapi langkah mendesak untuk menyelamatkan nyawa, mempercepat penanganan yang sensitif gender, dan memastikan negara hadir sepenuhnya melindungi rakyat.

    Tindak lanjut penetapan bencana nasional juga harus memastikan penerapan asas-asas umum pemerintahan yang baik, serta pelibatan dan pengawasan oleh berbagai pihak.

    Situasi di Aceh, Sumut, dan Sumbar telah memenuhi seluruh indikator. Kami mendesak Presiden segera mengambil keputusan demi kemanusiaan, keselamatan, dan masa depan masyarakat terdampak.

    Penyelesaian masalah ini tidak akan tercapai apabila hanya mengandalkan mekanisme evaluasi administrasi semata. Perlu dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui siapa pemilik perusahaan tersebut dan siapa penerima manfaatnya.

    Sehingga, dapat diketahui apakah mereka memberikan kontribusi pada saat pemilu/pemilihan presiden, serta apakah mereka merupakan pihak yang berada di belakang para Menteri yang bertanggung jawab.

     

  • Refleksi: Banjir Sumatera adalah Dampak Resentralisasi Kekuasaan

    Refleksi: Banjir Sumatera adalah Dampak Resentralisasi Kekuasaan

    7cloud.asia Akhir tahun 2025, catatan rapor merah pemerintah bertambah, bukan hanya dalam penanganan bencana, tetapi juga dalam perlindungan lingkungan. Semua ini terungkap akibat terjadinya banjir Sumatera

    Gelondongan kayu yang terbawa banjir Sumatera yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memperlihatkan kerusakan ekologis di hulu yang berkontribusi pada kehancuran di wilayah hilir.

    Bencana banjir Sumatera yang menelan hampir seribu korban jiwa ini bukan peristiwa alam semata, melainkan dampak dari ‘bersatunya’ kepentingan bisnis dan politik dalam penguasaan sumber daya alam.

    Jadi bukan hanya perubahan iklim dan siklon tropis, kita harus membahas persoalan pemburu rente, oligarki, dan resentralisasi (pemusatan kekuasaan) yang memicu terjadinya banjir bandang dan longsor ganas di Sumatera.

    Pemburu rente industri sawit

    Kerusakan hutan, perambahan ilegal, dan tata kelola lahan rentan terjadi akibat konflik kepentingan elite politik yang memiliki bisnis ekstraktif seperti perkebunan kelapa sawit, kebun akasia, hingga pertambangan.

    Benturan ini terjadi di banyak konsesi di Sumatera Utara hingga Aceh.

    Hubungan antara industri ekstraktif dan pemburu rente di Indonesia terjalin melalui pola patronase.

    Pola ini terjalin saat elite memanfaatkan lobi politik, atau kedekatan dengan penguasa, untuk mengamankan izin usaha, konsesi hutan, dan alih fungsi lahan bagi keuntungan pribadi atau segelintir elite.

    Baca Juga: Update Banjir Sumatera: 969 Orang Meninggal 262 Hilang

    Bila ditelisik lebih lanjut, Pemilu 2019 dan 2024 menunjukkan betapa banyaknya para pengusaha industri ekstraktif ikut terlibat di dalam tim pemenangan para calon presiden dan wakil presiden. Ini memperkuat dugaan simbiosis antara kepentingan bisnis dan politik.

    Celah regulasi yang tidak mewajibkan korporasi melaporkan ultimate beneficial owner (penerima manfaat utama) secara tegas membuat kepemilikan perusahaan sawit yang sebenarnya pun sering kali disamarkan.

    Hal ini memudahkan pemilik perusahaan menyembunyikan identitas lewat perusahaan lain atau praktik nominee (nama pinjaman).

    Tujuannya kemungkinan untuk menghindari akuntabilitas atas kerusakan lingkungan dan dampak sosial yang ditimbulkan industri ini.

    Oligarki dan elite lama

    Setelah Orde Baru jatuh, muncul harapan akan lahirnya gerakan sipil yang terorganisir dan kuat. Banyak pihak, terutama kelompok neoliberal, percaya reformasi institusional bisa mendorong demokrasi.

    Namun kenyataannya, Reformasi tidak serta–merta melepaskan Indonesia dari cengkeraman oligarki. Para elite Orde Baru masih tetap bertahan dan beradaptasi dengan kondisi pasca-Reformasi.

    Kontrol akan sumber daya ekonomi membuat mereka memiliki pengaruh besar dalam politik dan regulasi. Sementara itu, mahalnya biaya politik membuat peluang bagi aktor dari organisasi masyarakat sipil untuk masuk ke politik formal menjadi sangat kecil.

    Baca Juga: WALHI Desak Menhut Cabut Semua Izin Usaha Sektor Kehutanan di Aceh, Sumut dan Sumbar

    Kondisi ini menyebabkan ruang gerakan sipil untuk mengawasi kekuasaan semakin terbatas dan posisi tawar mereka melemah.

    Tengok saja berbagai aksi protes pembangunan pembangkit listrik tenaga air Batang Toru di Sumatera Utara oleh koalisi masyarakat sipil. Aksi ini tidak dihiraukan pemerintah yang tetap mengizinkan pembangunan pembangkit tersebut.

    Hingga akhirnya proyek ini dianggap menjadi salah satu penyebab parahnya dampak banjir di daerah setempat.

    Resentralisasi kekuasaan di tengah bencana

    Setelah 20 tahun reformasi, Indonesia justru mengalami resentralisasi kekuasaan yang tampak melalui UU Cipta Kerja, UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (UU HKPD), serta efisiensi anggaran. 

    Penarikan kewenangan izin analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dari daerah ke pusat misalnya, membuat kebijakan lingkungan makin sejalan dengan logika oligarki dan menjauhkannya dari konteks lokal. 

    Kembalinya pengendalian kekuasaan ke level pusat membuat pengawasan lokal lemah. Kita bisa melihat izin tambang dan pembangkit listrik yang diduga memperparah dampak banjir di Sumatera Utara.

    Izin kedua sektor tersebut saat ini menjadi kewenangan pemerintah pusat.

    Sayangnya, perizinan ini tidak dibarengi kontrol yang baik sehingga memperparah praktik eksploitasi oleh pemburu rente dan oligarki. Tak ayal, dampak lingkungan seperti banjir bandang dan longsor pun meningkat.

    Baca Juga: BNPB Perkirakan Dana yang Dibutuhkan untuk Pemulihan Banjir Sumatera Capai Rp 51,82 Triliun

    Sementara itu, pusat menerapkan kebijakan efisiensi anggaran yang semakin mempersempit ruang fiskal pemerintah daerah dan menyulitkan daerah dalam melakukan mitigasi dan penanganan bencana.

    Resentralisasi kekuasaan terjadi bersamaan dengan melemahnya demokrasi di tingkat daerah.

    Pemilihan kepala daerah yang diharapkan mendorong demokratisasi di tingkat lokal justru memperkuat aliansi antara elite lama dengan elite baru. Bahkan mekanisme pencalonan kepala daerah digodok dan diputuskan di tingkat pusat.

    Akibatnya, pemilihan tidak lagi menjadi sarana representasi aspirasi masyarakat, melainkan sarana reproduksi politik patronase yang mengonsolidasikan kedekatan elite lokal dengan kekuasaan pusat.

    Oleh karenanya, selain inisiatif rakyat bantu rakyat, masyarakat juga perlu bergerak mendorong depolitisasi, mengembalikan kesadaran politik.

    Tanpa gerakan sipil, kesadaran politik, dan tekanan dari masyarakat, bencana akan terus dipahami sebagai nasib alamiah.

    Padahal, ini adalah bencana ekologis yang merupakan cermin dari struktur kekuasaan oligarkis yang menguntungkan segelintir elite dan membawa penderitaan bagi masyarakat luas.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Puteri Atikah, Universitas Negeri Medan

     

  • Update Banjir Sumatera: 995 Orang Meninggal, Korban Hilang Bertambah

    Update Banjir Sumatera: 995 Orang Meninggal, Korban Hilang Bertambah

    7cloud.asiaBadan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban jiwa akibat banjir Sumatera hingga Jumat (12/11/2025) sore, mencapai 995 orang. Sementara korban hilang tercatat sebanyak 226 orang.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam konferensi pers daring menjelaskan jumlah korban banjir Sumatera terus bergerak seiring proses pencarian dan identifikasi jenazah di daerah terdampak. 

    “Saat ini total ada 995 korban meninggal dunia di tiga provinsi,” ujarnya.

    Muhari menyebut jumlah korban hilang, naik dari data sehari sebelumnya sebanyak 222 orang. Sementara itu, jumlah pengungsi tetap berada di angka 884.889 jiwa, tersebar di ratusan pos penampungan dengan kondisi yang sangat beragam. 

    Baca Juga: Pakar UGM Usulkan Dana MBG Dialihkan untuk Pemulihan Daerah Bencana

    BNPB, kata Muhari, terus mempercepat distribusi logistik dan pemenuhan kebutuhan dasar, terutama air bersih, makanan siap saji, obat-obatan, dan layanan kesehatan darurat.

    Muhari menambahkan, angka korban meninggal kemungkinan akan mengalami penyesuaian.

    Pemerintah tingkat kecamatan mulai melakukan proses verifikasi data berbasis catatan sipil (by name, by address) untuk memastikan seluruh nama yang tercatat benar-benar merupakan korban bencana.

    BNPB, ujar Muhari, menemukan adanya beberapa jenazah yang ternyata berasal dari area pemakaman luas yang ikut tergerus banjir.

    Baca Juga: Refleksi: Banjir Sumatera adalah Dampak Resentralisasi Kekuasaan

    “Setelah dicek dengan data kependudukan, sejumlah nama dalam daftar korban ternyata sudah meninggal sebelum bencana,” ungkapnya.

    BNPB memperkirakan proses verifikasi ini akan menghasilkan data yang lebih akurat dalam beberapa hari ke depan. 

    Mulai besok, ujarnya, beberapa kabupaten kemungkinan sudah mulai mengirimkan data terbaru berdasarkan catatan sipil.

    Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak 24 November 2025 dipicu hujan ekstrem yang dipicu badai Senyar’. 

    Kerusakan lingkungan yang mengakibatkan menurunnya kapasitas tampung wilayah memperburuk kondisi.

    Selain itu lambannya respon pemerintah juga dituding menjadi salah satu penyebab banyaknya korban jiwa. 

     

  • Jalur Terputus, Bener Meriah Masih Terisolasi

    Jalur Terputus, Bener Meriah Masih Terisolasi

    7cloud.asiaSudah hampir dua pekan pasca banjir Sumatera, warga di Kabupaten Bener Meriah, Nangroe Aceh Darussalam hidup terisolasi

    Hal ini karena akses darat, biasa disebut Jalan KKA, yang biasa mereka lintasi menuju Lhokseumawe, amblas sangat dalam di beberapa titik akibat diterjang longsor.

    Jembatan Teupin Mane yang menghubungkan Bener Meriah – Takengon ke Biereuen juga runtuh ditendang derasnya banjir bandang

    Dilansir BBC Indonesia, jaringan telekomunikasi, listrik, dan air bersih masih padam di banyak tempat. 

    Pusat Data dan Informasi Posko Penanganan Bencana Hidrometeorologi Bener Meriah mencatat per 9 Desember pukul 21.00 WIB, terdapat 39 korban meninggal dunia dan 8 orang masih dinyatakan hilang.

    Sementara itu, warga yang masih terisolasi yang tersebar di seluruh kecamatan mencapai 35.664 jiwa.

    Pusat data bencana Bener Meriah juga menyebut sebanyak 59 desa di 6 kecamatan masih sulit dijangkau lantaran akses yang terbatas. Aliran listrik juga masih terbatas, dan masih hidup mati

    Baca: Menhut didesak cabut semua izin usaha Sektor Kehutanan di Aceh, Sumut dan Sumbar

    Bahan pangan habis

    Meskipun pusat kota Bener Meriah masih tergolong baik alias tidak ada bangunan yang rusak. Namun, akses jalan masuk ke Bener Meriah putus, baik dari Lhokseumawe ke Bener Meriah atau Bireuen ke Takengon-Bener Meriah.

    Jalan KKA, yang melintasi Lhokseumawe ke Bener Meriah, amblas diterjang longsor di beberapa titik. Seorang warga yang mencoba keluar dari wilayah itu menyebutkan setidaknya ada lima titik jalan lintas yang hancur.

    Jalan lintas KKA yang amblas dihantam longsor. Kini warga yang ingin membeli kebutuhan pokok ke Lhokseumawe harus berjalan kaki puluhan kilometer melewati jalan berlumpur tersebut.

    Amblas terparah dan cukup dalam, yang dekat dengan wilayah Kem—sebutan warga setempat untuk kampung di Kecamatan Permata, Bener Meriah.

    Adapun Jembatan Teupin Mane yang menghubungkan Bener Meriah – Takengon ke Bireuen juga ambruk tak bersisa. Itu artinya, tak ada jalan yang bisa dilalui warga.

    Baca: Dana pemulihan Banjir Sumatera diperkirakan capai Rp51,82 Triliun

    Untungnya jalan yang menghubungkan Bener Meriah ke Takengon, Aceh Tengah, yang sempat tertutup material longsor, sudah dibersihkan dan bisa dilewati.

    Masalahnya, hanya dua hari setelah banjir surut, bahan-bahan pangan di Bener Meriah habis. Begitu pula di Takengon.

    “Per tanggal 27 November, beras, telur, mi, habis. Jadi stok [toko-toko di Bener Meriah] sekarang hanya menjual jajanan, minuman saja,” ungkap Ruhdi, warga setempat dilansir BBC.

    Untuk BBM, katanya, juga tak bertahan lama. Sebab pemilik SPBU hanya menghabiskan stok yang ada.

    “Jadi sekarang BBM tidak ada di Bener Meriah,” ujarnya.

    Nekat menyusuri jalan amblas nan curam

    Sejumlah warga, kata Ruhdi, akhirnya mau tak mau, mesti berjalan puluhan kilometer untuk mendapatkan bahan pangan dan BBM melewati jalan KKA yang amblas tersebut.

    Di media sosial, berseliweran video yang memperlihatkan bagaimana susahnya warga melewati area yang penuh batu dan lumpur itu. Sedangkan di kanan-kiri terbentang potongan aspal dan gundukan tanah bekas longsoran.

    Warga mesti berjalan sangat hati-hati karena lumpur yang masih basah setinggi lutut bisa saja membuat mereka terperosok atau sulit bergerak.

    Di video-video yang beredar, nampak bapak-bapak memakai sepatu boots memanggul tas besar atau karung berukuran jumbo yang terisi penuh dan menenteng jeriken.

    Baca: Tanpa bantuan asing, pemulihan dampak banjir Sumatera diperkirakan butuh waktu 20-30 tahun

     

  • Kunjungi Lokasi Banjir Sumatera di Sumbar, Komisi V DPR Desak Presiden Segera Turun Tangan

    Kunjungi Lokasi Banjir Sumatera di Sumbar, Komisi V DPR Desak Presiden Segera Turun Tangan

    7cloud.asia – Komisi V DPR melakukan Kunjungan Kerja Reses ke sejumlah daerah di Sumatera Barat untuk melihat langsung dampak bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November 2025 silam.

    Tim Komisi V didampingi Wakil Menteri Pekerjaan Umum meninjau tiga titik paling kritis di Sumatera Barat, yakni yakni Bantaran Sungai Batang Kuranji, Jalan Lintas Lembah Anai, serta Jembatan Andurian di Kayu Tanam.

    Ketiga lokasi ini diketahui mengalami kerusakan parah akibat banjir dan longsor yang melanda wilayah tersebut. Kondisi infrastruktur yang rusak menjadi perhatian utama karena berpotensi menghambat mobilitas masyarakat serta distribusi logistik.

    Melalui kunjungan ini, Komisi V menegaskan komitmennya untuk mendorong langkah-langkah penanganan dan pemulihan pasca bencana dengan lebih cepat dan terarah.

    Dilansir Parlementaraia, Komisi V DPR juga berharap agar operasional sementara Jalan Lintas Lembah Anai dapat dimulai pada 16 Desember 2025.

    Baca: Status Bencana Nasional penting untuk percepat pemulihan korban banjir Sumatera

    Pembukaan jalur tersebut dinilai sangat penting untuk mendukung kelancaran arus logistik dan distribusi pangan, khususnya untuk wilayah Sumatera Barat dan Riau yang sangat bergantung pada jalur tersebut.

    Dalam kesempatan itu, anggota Komisi V DPR, Boyman Harun menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan dan kenyamanan warga yang terdampak.

    Dalam penjelasannya, Boyman menyampaikan bahwa kunjungan tersebut tidak hanya menyoroti perbaikan infrastruktur, tetapi juga kepentingan kemanusiaan.

    Ia menilai bahwa penanganan terhadap masyarakat yang mengungsi harus dilakukan secara komprehensif, mulai dari kesehatan, kenyamanan, hingga ketersediaan makanan.

    ”Saya selalu menanyakan bagaimana kondisi para pengungsi, tentang kesehatannya, kenyamanannya, bahkan makanannya,” ujar Boyman kepada Parlementaria seperti dikutip Parlementaria.

    Ia menekankan bahwa tanggap darurat harus dijalankan secara jelas, dengan jadwal pelaksanaan dan penyelesaian yang terukur. Politisi PAN ini juga menyoroti pentingnya percepatan pemulihan fasilitas dasar seperti air bersih, kelistrikan, hingga lampu jalan.

    Baca: Dana yang dibutuhkan untuk pemulihan banjir Sumatera Capai Rp51,82 triliun

    Ia menyebut bahwa kebutuhan-kebutuhan tersebut merupakan faktor penting yang menentukan keamanan dan kenyamanan masyarakat di masa tanggap darurat.

    Selain itu, ia menekankan urgensi pembenahan akses jalan yang terputus dan mengganggu konektivitas antar kabupaten di Sumatera Barat. Ia menyebutkan bahwa akses yang terhambat akan memperlambat distribusi logistik serta pelayanan dasar bagi masyarakat.

    Menurut Boyman, kejadian luar biasa seperti bencana di Padang tidak boleh ditangani dengan pola biasa. Pemerintah pusat harus segera turun tangan dan tidak menunggu laporan dari daerah. Ia menegaskan pentingnya langkah cepat dan responsif dari semua pihak yang terkait.

    Ia juga meminta Presiden agar segera menandatangani Instruksi Presiden (Inpres) terkait bantuan keuangan untuk rehabilitasi pembangunan yang rusak akibat bencana. Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat proses pemulihan di Sumatera Barat.

    Dengan penguatan peran pemerintah pusat dan percepatan pelaksanaan tanggap darurat, Boyman berharap seluruh titik terdampak dapat segera dipulihkan agar masyarakat bisa kembali menjalankan aktivitas secara normal.

    Baca: Banjir Sumatera adalah dampak resentralisasi kekuasaan

  • Jumlah Korban Meninggal Akibat Banjir Sumatera Tembus 1000 Orang

    Jumlah Korban Meninggal Akibat Banjir Sumatera Tembus 1000 Orang

    7cloud.asia – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bahwa korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor di tiga provinsi, Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan (banjir Sumatera) sudah tembus lebih dari 1.000 jiwa.

    Dalam jumpa pers yang dipantau dari YouTube BNPB, Minggu (14/12/2025) pagi, tercatat 1.006 warga meninggal dunia akibat banjir Sumatera di tiga provinsi

    Adapun korban terbanyak tercatat di Aceh, yakni 415 orang atau bertambah 4 orang dibanding data sehari sebelumnya. Sementara di Sumatera Utara meningkat dari 343 menjadi 349 jiwa. Lalu, di Sumatera Barat bertambah dari 241 menjadi 242 jiwa.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam konferensi pers daring mengatakan ada dinamika atau perubahan data korban banjir Sumatera

    Baca: Pakar usulkan dana MBG dialihkan untuk pemulihan daerah bencana

    Dinamika itu terjadi karena pencocokan berbasis data kependudukan dan catatan sipil (Dukcapil) serta identifikasi ulang oleh tim di lapangan.

    “Beberapa nama sebelumnya tercatat sebagai korban bencana ternyata merupakan jenazah lama yang dimakamkan di area pemakaman yang terdampak banjir dan longsor, sehingga dikeluarkan dari daftar korban,” ujarnya.

    “Jadi untuk korban jiwa meninggal dunia, secara total tiga provinsi dari 995 jiwa per hari kemarin, saat ini 1.006 jiwa,” tambahnya.

    Dari jumlah korban meninggal dunia berdasarkan kabupaten/kota paling banyak tercatat di Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, mencapai 184 jiwa.

    Baca: Banjir Sumatera cermin kegagalan Negara kendalikan kerusakan lingkungan

    “Korban hilang masih mencapai 218 jiwa, dan korban yang luka-luka mencapai 5.400 jiwa,” tulis data Pusdatin BNPB.

    BNPB juga mengungkapkan bahwa bencana banjir Sumatera telah mengakibatkan setidaknya 1200 fasilitas umum rusak parah.

    Adapun rincian fasilitas umum yang rusak akibat banjir Sumatera adalah sebagai berikut:
    Fasilitas pendidikan 581 unit
    Rumah ibadah 434 unit,
    Fasilitas kesehatan 219 unit,
    Kantor 290 unit
    Jembatan 145 unit

  • Berita Terpopuler Pekan Ini: Dari Update Banjir Sumatera hingga Peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

    Berita Terpopuler Pekan Ini: Dari Update Banjir Sumatera hingga Peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan

    7cloud.asia – Artikel mengenai dua bibit badai siklon yang muncul di wilayah Indonesia menjadi berita yang paling banyak dibaca atau berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia.

    Artikel ini menjadi berita terpopuler bersama sejumlah artikel mengenai update dan penanganan banjir Sumatera yang terjadi pada akhir November lalu.

    Artikel mengenai peringatan Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau HKAtP juga masuk dalam daftar berita terpopuler pekan ini.

    Berikut lima berita terpopuler pekan ini di 7cloud.asia:

    1. Dua bibit badai siklon picu cuaca ekstrem
    Berdasarkan hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terdapat dua bibit siklon tropis yang dapat memicu hujan berintensitas sedang hingga lebat di sejumlah wilayah hingga Sabtu (13/12/2025).

    Dalam akun instagram resmi BMKG, bibit siklon tropis 91S terbentuk sejak 7 Desember 2025 di wilayah Samudera Hindia barat Lampung. Saat ini kecepatan angin maksimum sekitar sistem mencapai 35 knot (65 km/jam) dan tekanan udara minimum 1006 hPa.

    Dalam kurun waktu 24 hingga 72 jam bibit siklon tropis ini berpeluang tinggi menjadi siklon tropis yang memicu terjadinya hujan berintensitas sedang hingga lebat di wilayah Sumatera Barat, Bengkulu dan Lampung.

    Baca berita selengkapnya di sini

    2. Kemiskinan membuat perempuan dan anak rentan alami kekerasan
    Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024 menunjukkan satu dari empat perempuan berusia 15–64 tahun pernah mengalami kekerasan sepanjang hidup mereka.

    Sementara itu, pada tahun 2024 Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) melaporkan lebih dari 445.000 kasus kekerasan terhadap perempuan.

    Implementasi norma sosial yang diskriminatif, yang masih membedakan status gender seseorang dan rendahnya angka pelaporan kasus kekerasan terhadap perempuan menjadi hambatan kemajuan pencegahan kekerasan terhadap perempuan.

    Baca berita selengkapnya di sini

    3. Banjir Sumatera adalah buah kebijakan resentralisasi
    Setelah 20 tahun reformasi, Indonesia justru mengalami resentralisasi kekuasaan yang tampak melalui UU Cipta Kerja, UU Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah (UU HKPD), serta efisiensi anggaran.

    Penarikan kewenangan izin analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) dari daerah ke pusat misalnya, membuat kebijakan lingkungan makin sejalan dengan logika oligarki dan menjauhkannya dari konteks lokal.

    Kembalinya pengendalian kekuasaan ke level pusat membuat pengawasan lokal lemah. Kita bisa melihat izin tambang dan pembangkit listrik yang diduga memperparah dampak banjir di Sumatera Utara.

    Baca berita selengkapnya di sini

    4. Biaya pemulihan banjir Sumatera
    Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB memperkirakan total anggaran yang dibutuhkan untuk pemulihan segala kerusakan akibat banjir Sumatera mencapai Rp 51,82 triliun.

    Angka ini dilaporkan Kepala BNPB Letnan Jenderal Suharyanto kepada Presiden Prabowo Subianto saat rapat terbatas penanganan dan pemulihan bencana Banjir Sumatera di Pos Pendamping Nasional Penanganan Bencana Alam Aceh di Pangkalan TNI AU Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, pada Minggu (7/12/2025) malam.

    “Kami laporkan ini secara nasional Bapak Presiden, dari Kementerian PU (Pekerjaan Umum) dengan penjumlahan dari tiga provinsi, estimasi yang diperlukan dana adalah sekian Bapak Presiden, Rp 51,82 triliun,” kata Suharyanto seperti dikutip dari YouTube Sekretariat Presiden.

    Baca berita selengkapnya di sini

    5. Korban banjir Sumatera dapat menggugat pemerintah
    Warga terdampak banjir Sumatera punya dasar yang kuat untuk menggugat pemerintah ke pengadilan atas dasar perlindungan lingkungan hidup dan HAM.

    Pemberian izin yang tidak akuntabel telah mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup. Ruang resapan air berkurang, bahkan hilang. Akar pohon untuk mengikat tanah pun demikian.

    Padahal, lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan HAM yang jelas-jelas dijamin Pasal 28H ayat (1) UUD 1945, Pasal 9 ayat (3) UU Hak Asasi Manusia, dan Pasal 65 UU Lingkungan Hidup. Begitu juga dengan hak untuk terinformasi dan terlibat dalam konsultasi publik ketika suatu izin usaha akan diterbitkan.

    Ketika penerbitan izin usaha yang memicu deforestasi dilakukan tanpa mempertimbangkan dampak lingkungan dan tidak melibatkan konsultasi publik secara bermakna, maka pemerintah tidak hanya melanggar proses administratif, tetapi juga hak asasi warga.

    Baca berita selengkapnya di sini

  • Update Banjir Sumatera: Korban Meninggal Capai 1016 Orang, Jumlah Pengungsi Terus Berkurang

    Update Banjir Sumatera: Korban Meninggal Capai 1016 Orang, Jumlah Pengungsi Terus Berkurang

    7cloud.asia – Jumlah korban jiwa bencana banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar) atau banjir Sumatera terus bertambah.

    Data terbaru BNPB pada Minggu (14/12/2025) sore tercatat, jumlah korban jiwa akibat banjir Sumatera bertambah 10 orang dibanding sehari sebelumnya. Sementara korban hilang berkurang menjadi 212 orang.

    Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi BNPB, Abdul Muhari mengatakan pencarian Tim SAR gabungan menemukan 10 jenazah dengan perincian 9 jenazah ditemukan di Aceh dan 1 di Kabupaten Agam, Sumbar.

    “Sehingga total yang kemarin rekapitulasi jumlah di 3 provinsi itu 1.006 jiwa, hari ini bertambah 10 menjadi 1.016 jiwa,” katanya

    Baca: Dua pekan pasca banjir Sumatera kondisi di Aceh masih memprihatinkan

    Abdul Muhari memastikan data itu sesuai dengan hasil identifikasi by name by address sesuai data Dukcapil.

    Dia menjelaskan ketidaksinkronan data korban meninggaldengan jumlah korban hilang karena data korban hilang tidak mesti dari data yang ditemukan di lapangan tetapi juga data penambahan identifikasi.

    “Dari korban yang sebelumnya sudah ditemukan kemudian dikonfirmasi, misalkan ternyata bukan dari warga Kabupaten A pindah ke Kabupaten B,” paparnya.

    Dia menambahkan, dinamika data seperti ini masih terus ditemukan di lapangan. Hal ini dilakukan agar pencatatan benar-benar sesuai dengan identifikasi by name by address di tiap kabupaten/kota.

    Baca: Masyarakat sipil somasi Presiden karena tak kunjung tetapkan status Bencana Nasional

    Dalam kesempatan itu, Muhari juga menyebutkan jumlah pengungsi juga berkurang, dari semula 654 ribuan menjadi 624.670 jiwa

    Namun, BNPB masih terus melakukan konfirmasi apakah warga hanya pindah ke pengungsian lain atau benar-benar sudah kembali ke rumah.

    “Ini terus kita konfirmasi, apakah benar kembali ke rumah masing-masing atau pengurangan ini masih merupakan status pengungsi seperti kami sampaikan pindah dari pengungsian terpusat ke pengungsian mandiri, tapi tetap bergantung pada suplai makanan logistik yang disalurkan atau didapatkan dari dapur umum,” tuturnya.

    “Ini terus kita pastikan angkanya supaya kebutuhan pangan dari saudara-saudara kita yang saat ini di berada di daerah terdampak bencana itu bisa tetap terus dipenuhi,” pungkasnya.

    Baca: Dana yang dibutuhkan untuk pemulihan banjir Sumatera capai Rp51,82 triliun

  • Banjir Sumatera: Permintaan Maaf Presiden Harus Diikuti dengan Penegakan Hukum terhadap Perusahaan yang Bertanggungjawab

    Banjir Sumatera: Permintaan Maaf Presiden Harus Diikuti dengan Penegakan Hukum terhadap Perusahaan yang Bertanggungjawab

    7cloud.asia – Kepala Divisi Kampanye Eksekutif Nasional WALHI, Uli Arta Siagian menyebut langkah Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, dan Kepolisian dalam melakukan penegakan hukum terhadap pihak yang bertanggung jawab atas banjir Sumatera masih bersifat parsial.

    Dalam pernyataan tertulis yang diterima 7cloud.asia pada Minggu (14/12/2025), Uli menilai langkah pemerintah measih belum menyasar secara utuh indikasi pelanggaran dan tindak pidana yang dilakukan oleh berbagai perusahaan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

    Sejauh ini terdapat beberapa persetujuan lingkungan yang dibekukan, penyegelan, dan penyidikan kepada beberapa perusahaan, subjek hukum Pemegang Hak Atas Tanah (PHAT), dan aktivitas ilegal.

    Namun, penegakan hukum tersebut baru terdengar di Sumatera Utara. Langkah serupa belum terdengar di Aceh dan Sumatera Barat.

    “Presiden harus lebih serius dan tegas meminta Menteri Kehutanan, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri ESDM, Menteri ATR/BPN, dan Kepolisian melakukan tindakan hukum tegas. Proses penegakan hukum tidak boleh sekedar menjadi gimmick,“ ujar Uli.

    Evaluasi perizinan secara menyeluruh dan terbuka harus segera dilakukan. Seluruh perizinan yang jelas merusak lingkungan hidup dan mengakibatkan dampak buruk kepada masyarakat harus segera dicabut.

    ”Penjatuhan sanksi administrasi dengan menyasar pencabutan perizinan berusaha merupakan kunci untuk lepas dari kondisi krisis,” tambah Uli.

    Baca: PKomisi V DPR desak Presiden segera teken Keppres penanganan banjir Sumatera

    Saat mengunjungi Aceh Tamiang (12/12/2025), Presiden Prabowo meminta maaf kepada masyarakat karena jaringan listrik belum menyala.

    Namun, menurut Uli, permintaan maaf itu akan jauh lebih bermakna bagi masyarakat Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat jika Presiden segera memimpin penegakan hukum terhadap korporasi yang berkontribusi pada banjir besar dua minggu lalu.

    Pesan Presiden soal menjaga lingkungan dan larangan menebang pohon sembarangan kepada masyarakat juga semestinya diarahkan kepada para menterinya.

    Menteri Kehutanan, Menteri ESDM, Menteri Lingkungan Hidup, dan Menteri ATR/BPN, menurut Uli, selama ini melanggengkan laju deforestasi dan kerusakan lingkungan melalui penerbitan izin.

    Pesan ini juga relevan ditujukan Presiden kepada kepada beberapa Menteri kabinet Merah Putih yang mempunyai keterkaitan dengan bisnis ekstraktif.

    Lebih jauh, WALHI juga meminta agar Presiden memastikan dengan cepat agar menteri-menterinya memaksimalkan pertanggungjawaban korporasi untuk pemulihan lingkungan dan memastikan kebijakan moratorium perizinan ditingkatkan menjadi kebijakan penghentian permanen penerbitan izin-izin baru.

    Selain itu, Presiden juga harus meminta Kapolri untuk mengevaluasi seluruh Kapolda dan Kapolres di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang membiarkan aktivitas ilegal di kawasan hutan dan DAS.

     

    Baca: Dana yang dibutuhkan untuk pemulihan banjir Sumatera capai Rp51,82 triliun

    Penegakan hukum terhadap aktivitas ilegal ini juga tidak boleh sekedar menyasar pelaku lapangan, penegakan hukum harus menyasar kejahatan ekonomi dalam bentuk penerapan ketentuan tindak pidana pencucian uang.

    Mereka yang memperoleh keuntungan utama dalam rantai bisnis ilegal harus turut diminta pertanggungjawabannya.

    Uli juga menyebut urgensi peran presiden untuk memimpin proses evaluasi dan penegakan hukum sangat penting dan relevan.

    Jika ada Menteri yang tidak serius melakukan evaluasi dan penegakan hukum, bahkan ada Menteri yang sama sekali belum melakukan tindakan apapun, artinya ada indikasi tidak serius untuk memastikan peristiwa serupa tidak berulang.

    Hingga saat ini tidak terdengar upaya penegakan hukum maupun aksi korektif yang dilakukan Menteri ESDM dan Menteri ATR/BPN.

    Hal ini sangat aneh karena temuan WALHI menunjukkan beberapa perizinan sektor perkebunan kelapa sawit dan pertambangan yang di kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan yang berkontribusi besar pada penurunan daya tampung lingkungan hidup.

    Permintaan maaf presiden merupakan hal baik yang harus diikuti dengan dengan memimpin proses evaluasi dan penegakan hukum terhadap aktivitas perizinan dan ilegal yang merusak lingkungan.

    ”Jika tidak, bencana yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dapat terulang kembali, serta membuka peluang terjadinya kembali di wilayah Indonesia lainnya,” pungkas Uli.

  • Pemulihan Infrastruktur Jalan Pasca Banjir Sumatera: Di Aceh Baru 51 Persen yang Tertangani

    Pemulihan Infrastruktur Jalan Pasca Banjir Sumatera: Di Aceh Baru 51 Persen yang Tertangani

    7cloud.asia – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus menggeber penanganan infrastruktur jalan dan jembatan yang rusak akibat terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara atau banjir Sumatera

    Melansir data PU, hingga 9 Desember 2025 pukul 20.00 WIB, tercatat sebanyak 72 ruas jalan nasional dan 30 jembatan nasional mengalami kerusakan dengan progres penanganan di Provinsi Aceh mencapai 51,14 persen, Sumatera Utara 78,69 persen, dan Sumatera Barat sebesar 76,14 persen.

    Menteri PU Dody Hanggodo menyampaikan konektivitas merupakan urat nadi pemulihan wilayah pasca bencana banjir Sumatera

    “Akses jalan dan jembatan adalah kunci utama pergerakan logistik, pelayanan darurat, dan pemulihan ekonomi masyarakat. Karena itu, kami bekerja tanpa jeda sejak awal untuk memastikan keterisolasian wilayah bisa ditangani secepat mungkin. Keselamatan masyarakat dan kelancaran mobilitas menjadi prioritas kami,” katanya.

    Di Provinsi Aceh, penanganan yang tengah dikerjakan antara lain Jembatan Krueng Meureudu di ruas Meureudu–Batas Pidie Jaya/Bireuen, Jembatan Krueng Tingkeum di Kota Bireuen–Batas Aceh Utara, serta Jembatan Teupin Mane di ruas Bireuen–Bener Meriah.

    Baca: Wilayah Bener Meriah masih terisolasi

    Pada jalur Bireuen–Aceh Tengah, beberapa jembatan seperti Jamur Ujung, Weihni Lampahan, Timang Gajah, Weihni Rongka, Enang-Enang, dan Alue Kulus juga tengah ditangani melalui mobilisasi jembatan bailey dengan target secara bertahap dapat fungsional hingga akhir Desember 2025.

    Kementerian PU melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Ditjen Bina Marga juga telah menyelesaikan penanganan sejumlah ruas strategis yang sebelumnya terputus akibat banjir dan longsor antara lain ruas Banda Aceh–Meureudu yang kini kembali terhubung.

    Ruas Batas Kota Lhokseumawe–Kota Langsa juga sudah dapat dilalui, dengan pembersihan sedimen yang terus dilakukan di lapangan. Selanjutnya, ruas Kota Langsa–Kota Kuala Simpang telah tertangani dari endapan material banjir.

    Ruas Kota Kuala Simpang–Batas Provinsi Sumatera Utara sudah dapat dilalui oleh seluruh jenis kendaraan. Kemudian ruas Kota Kutacane–Batas Provinsi Sumatera Utara kini juga telah kembali dapat dilalui.

    Untuk Provinsi Sumatera Utara, tercatat sebanyak 12 ruas jalan nasional dan 4 jembatan nasional terdampak bencana. Penanganan darurat diprioritaskan pada sejumlah koridor utama yang masih terputus, di antaranya Tarutung–Sibolga, Tarutung–Sipirok, Sibolga–Batangtoru, dan Batangtoru–Singkuang.

    Baca: Dua pekan pasca banjir Sumatera, kondisi Aceh masih memprihatinkan

    Pada seluruh koridor tersebut telah dilakukan pembersihan material longsor, penimbunan badan jalan, dan rekayasa lalu lintas dari dua arah.

    Akses sementara juga dibuka melalui jalur alternatif seperti Sidikalang–Barus–Sibolga serta ruas jalan provinsi Siborong-borong–Pangaribuan–Sipirok, sehingga mobilitas masyarakat tetap terjaga selama proses pemulihan berlangsung.

    Ruas vital yang juga telah kembali dapat dilalui lainnya adalah koridor Sidikalang–Singkil–Barus–Sorkam–Sibolga, Padang Sidempuan–Panyabungan–batas Sumbar, Padang Sidempuan–Batangtoru.

    Selanjutnya koridor pesisir Singkuang–Natal–Simpang Gambir–Batas Sumbar. Ruas Lintas Barat, Lintas Tengah, dan Lintas Timur Sumatera, termasuk Jalan Tol Medan–Pangkalan Brandan, Medan–Sinaksak, dan Tebing Tinggi–Kisaran.

    Selain membuka akses, BPJN Sumatera Utara juga melakukan penanganan longsor besar di Angin Nauli, Kota Sibolga, serta pembersihan material pada Jalur Sibolga–Garoga untuk memastikan keselamatan pengguna jalan.

    Baca: Status Bencana Nasional penting untuk pemulihan pasca Banjir Sumatera

    Total sebanyak 40 titik ruas dan jembatan terdampak di Sumatera Utara telah tertangani dengan dukungan ratusan alat berat

    Di Provinsi Sumatera Barat, tercatat infrastruktur konektivitas terdampak berjumlah 30 ruas jalan nasional dan 12 jembatan nasional. Pemulihan difokuskan pada ruas Jalan Nasional di Padang-Bukittinggi di kawasan Lembah Anai, tepatnya di KM 63+500.

    Selain itu, terdapat 12 titik longsor tambahan yang menggerus bahu jalan dan satu lajur sehingga penanganan harus dilakukan secara bertahap.

    Saat ini sejumlah akses utama antar kota dan kabupaten di Sumatera Barat telah berhasil dibuka kembali seperti Padang–Pariaman–Lubuk Basung–Pasaman Barat–batas Sumut, Padang Panjang–Bukittinggi–Lubuk Sikaping–Batas Sumut,

    Juga jalur Bukittinggi–Payakumbuh–Batas Riau. Konektivitas ruas pesisir dan lintas provinsi seperti ruas Padang–Painan–Indrapura–Batas Bengkulu juga telah kembali pulih.

    Selanjutnya jaringan jalan lintas selatan seperti Padang–Solok–Sawahlunto–Dharmasraya–Batas Jambi dan Padang–Lubuk Selasih–Surian–Padang Aro–Batas Jambi juga dapat dilalui.

    Baca: Dana yang dibutuhkan untuk pemulihan banjir Sumatera capai Rp51,82 triliun