Tag: emisi karbon

  • ‘Jatah’ Emisi Karbon Dunia Tinggal 3 Tahun, Ini yang Harus Dilakukan

    ‘Jatah’ Emisi Karbon Dunia Tinggal 3 Tahun, Ini yang Harus Dilakukan

    7cloud.asia – Para ilmuwan iklim, dan salah satu dari kami, Piers Forster, memimpin tim ilmuwan global yang menerbitkan laporan tahunan Indikator Perubahan Iklim Global. Laporan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang kondisi sistem iklim dunia.

    Laporan ini dibuat berdasarkan data perhitungan emisi bersih gas rumah kaca global, konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, kenaikan suhu di permukaan Bumi, serta seberapa besar pemanasan yang disebabkan oleh manusia.

    Selain itu, laporan ini juga melihat bagaimana intensitas suhu ekstrem dan curah hujan semakin meningkat, seberapa besar kenaikan permukaan air laut, serta berapa banyak emisi karbon yang masih bisa diteolerir sebelum suhu planet ini melampaui ambang 1,5°C dibanding masa praindustri.

    Hal ini penting karena membatasi pemanasan di bawah 1,5°C sangat krusial untuk menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim.

    Laporan ini menunjukkan bahwa pemanasan global akibat aktivitas manusia sudah mencapai 1,36°C pada 2024. Hal ini mendorong suhu rata-rata global (hasil kombinasi pemanasan alami dan buatan) menjadi 1,52°C.

    Dengan kata lain, dunia telah memasuki fase di mana dampak besar dari perubahan iklim tak lagi bisa dihindari. Kita sudah berada di situasi yang berbahaya.

    Planet Bumi semakin panas
    Meskipun suhu global tahun lalu sangat tinggi, sayangnya hanya dianggap “normal baru” yang tidak begitu mengkhawatirkan.

    Data menunjukkan tingkat emisi gas rumah kaca terus mencatat rekor tertinggi dan menyebabkan peningkatan konsentrasi karbon dioksida, metana dan nitrogen oksida yang mempercepat laju pemanasan.

    Akibatnya, suhu Bumi terus naik dan dengan cepat menghabiskan carbon budget atau jumlah emisi karbon yang masih bisa dikeluarkan sebelum melewati ambang batas.

    Pada tingkat emisi karbon saat ini, jatah karbon global akan habis dalam waktu kurang dari tiga tahun.

    Masyarakat dunia harus menerima kenyataan bahwa kesempatan untuk menjaga suhu tetap di bawah 1,5°C nyaris tertutup. Bahkan jika nantinya suhu bisa diturunkan kembali, prosesnya akan panjang dan sulit.

    Pada saat yang sama, cuaca ekstrem terus meningkat, membawa risiko jangka panjang dan beban ekonomi global, serta berdampak pada kehidupan masyarakat. Benua Afrika misalnya, kini menghadapi krisis iklim paling mematikan dalam lebih dari satu dekade terakhir.

    Bayangkan jika situasi ini terjadi pada dunia bisnis. Saat harga saham anjlok atau pertumbuhan ekonomi mandek, para pemimpin negara dan pebisnis akan segera bertindak. Mereka bakal selalu update dan enggan memakai data lama untuk mengambil keputusan.

    Namun, dalam hal masalah iklim, perubahan yang terjadi sering kali lebih cepat daripada data yang kita punya. Akibatnya, keputusan penting jadi terlambat diambil.

    Seandainya data iklim dianggap sepenting laporan keuangan, mungkin setiap laporan baru akan membuat panik. Namun kenyataannya, pemerintah sering kali lamban merespons peringatan dari indikator iklim, tanda-tanda bahaya dari kondisi Bumi.

    Apa yang perlu dilakukan selanjutnya?
    Seiring dengan semakin banyaknya negara yang mengembangkan rencana iklim mereka, inilah saatnya bagi para pemimpin di seluruh dunia untuk menghadapi kenyataan pahit dari fakta iklim.

    Pemerintah harus bisa dengan cepat mengakses data iklim yang terpercaya agar mereka bisa menyusun rencana nasional yang sesuai dengan kondisi terbaru.

    Rencana ini juga harus mencerminkan situasi global, bukan hanya fokus pada negara masing-masing.

    Hal ini penting demi keadilan. Misalnya, negara-negara maju harus mengakui bahwa merekalah yang paling banyak menyebabkan polusi.

    Oleh karenanya, mereka harus menjadi yang terdepan dalam mengurangi emisi dan membantu negara lain dalam hal pendanaan agar mereka bisa beralih ke energi bersih dan menyesuaikan diri dengan perubahan iklim.

    Di Afrika, PBB akan menyelenggarakan Pekan iklim UNFCCC di Addis Ababa pada September 2025 ini

    Selain mempersiapkan COP30, agenda ini mencakup diskusi soal pembiayaan iklim dan memastikan transisi menuju nol emisi karbon pada 2050 berlangsung adil dan setara.

    Konferensi ini juga bertujuan untuk membantu negara-negara yang masih menyusun rencana aksi iklim nasional mereka.

    Jika NDC benar-benar diimplementasikan, laju perubahan iklim bisa diperlambat. Ini penting bukan hanya untuk negara-negara yang berada di garis depan yang terdampak perubahan iklim, tetapi juga bagi kelangsungan masyarakat global secara keseluruhan.

    Hingga kini, baru lima negara anggota G20 yang menyerahkan rencana iklim mereka untuk 2035, yakni: Kanada, Brasil, Jepang, Amerika Serikat, dan Inggris. Padahal, G20 bertanggung jawab atas sekitar 80 persen dari total emisi karbon secara global.

    Artinya, kepemimpinan Afrika Selatan sebagai presiden G20 saat ini berperan penting dalam mendorong dunia untuk memprioritaskan bantuan bagi negara-negara berkembang agar bisa melakukan transisi menuju ekonomi rendah karbon.

    Fakta lain yang mengkhawatirkan lainnya adalah, dari seluruh NDC yang telah diperbarui, hanya 10 negara yang secara tegas menegaskan kembali atau memperkuat komitmen untuk meninggalkan bahan bakar fosil.

    Hal ini membuat rencana iklim dari Uni Eropa, Cina, dan India menjadi sangat penting sebagai ujian atas kepemimpinan mereka dalam isu iklim, sekaligus menjadi penentu apakah target suhu 1,5°C dalam Perjanjian Paris masih bisa dipertahankan.

    Negara-negara lain akan mencermati dengan seksama komitmen mereka sebelum menyerahkan rencana iklim nasional masing-masing.

    Data dalam laporan kami membantu dunia memahami bukan hanya apa yang telah terjadi dalam beberapa tahun terakhir, tetapi juga apa yang mungkin terjadi di masa depan.

    Harapan kami, negara-negara ini— dan negara lainnya—bisa menyerahkan rencana iklim yang ambisius dan kredibel jauh sebelum COP30.

    Jika itu terjadi, hal ini bisa mengatasi kesenjangan antara kesadaran akan krisis iklim dan aksi nyata untuk menanganinya. Kita harus ingat, bahwa setiap ton emisi gas rumah kaca saat ini amat berarti.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Piers Forster (Professor of Physical Climate Change; Director of the Priestley International Centre for Climate, University of Leeds) dan Debbie Rosen (Research and Innovation Development Manager for the Priestley Centre for Climate Futures, University of Leeds)

  • Retrofit Jadi Cara Terbaik untuk Menurunkan Emisi Karbon pada Bangunan Lama

    Retrofit Jadi Cara Terbaik untuk Menurunkan Emisi Karbon pada Bangunan Lama

    7cloud.asia – Ketika membahas emisi karbon, rumah tempat kita tinggal, tempat berbelanja, makan, dan ruang untuk bersosialisasi seringkali tidak terlintas dalam pikiran.

    Padahal menurut World Green Building Council, sektor bangunan atau lingkungan binaan punya andil besar dalam emisi karbon yakni bertanggung jawab atas 39 persen emisi gas rumah kaca terkait energi global.

    Lingkungan binaan mengacu pada semua bangunan atau infrastruktur apa pun yang mendukung kehidupan manusia modern.

    Konstruksi ini seringkali bocor dan tidak mampu menahan panas secara efektif di musim dingin dan mendingin secara alami di musim panas, sehingga memaksa bangunan mengonsumsi lebih banyak energi untuk melakukannya.

    Untuk mengatasi kondisi ini, sejumlah pakar merekomendasikan prinsip retrofit pada bangunan tua. Hal ini ditulis di Earth.org.

    Baca: Peta jalan penyelenggaraan bangunan gedung hijau di Indonesia

    Mungkin Anda bertanya-tanya, apa itu retrofit? Retrofit mengacu pada peningkatan apa pun pada bangunan yang sudah ada untuk meningkatkan konservasi energi dan efisiensi energinya.

    Pertanyaan selanjutnya mengapa retrofit jadi pilihan? Jawabannya, karena emisi karbon yang dihasilkan lebih rendah. Jika Anda penasaran, 7cloud.asia akan mengulas tentang retrofit ini dalam beberapa tulisan.

    Menurut Forum Ekonomi Dunia, 80 persen dari seluruh perumahan yang akan kita tinggali pada tahun 2050 telah dibangun.

    Alih-alih merobohkan dan mengganti rumah, retrofit atau renovasi dinilai sebagai cara paling berkelanjutan untuk mengurangi emisi karbon dari sektor bangunan.

    Merobohkan sebuah bangunan menghasilkan rata-rata 4,67 kilogram setara karbon dioksida (CO2e) per meter persegi luas bangunan.

    Baca: Bangunan hijau jadi solusi kota yang berkelanjutan

    Jumlah karbon yang dilepaskan untuk setiap 100 meter persegi yang dihancurkan sama dengan perjalanan pulang pergi dari London Heathrow ke Nice

    Ini menjadi bukti bahwa mengadaptasi apa yang kita miliki lebih berkelanjutan daripada merobohkan dan membangun kembali.

    Peta jalan menuju retrofit bukannya tanpa hambatan. Namun, minat global telah meningkat selama lima tahun terakhir. Emisi gas rumah kaca dari lingkungan binaan menjadikannya sektor yang perlu segera ditangani.

    Seiring bertambahnya populasi global, kita perlu membangun lebih banyak rumah dan bangunan untuk mendukung kehidupan kita.

    Retrofit akan membantu negara-negara mengurangi emisi dan meningkatkan standar hidup warganya. Ini lebih dari sekadar solusi energi, melainkan keharusan bagi iklim, ekonomi, dan kesehatan masyarakat.

    Adapun manfaat retrofit atau renovasi dapat dibedakan menjadi tiga tahap yakni konservasi energi, efisiensi energi serta manajemen energi dan sumber energi. Seperti apa penjelasannya akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

    Baca: Emisi karbon dari sektor konstruksi berhasil ditekan

  • Tiga Tingkatan Penerapan Retrofit untuk Turunkan Emisi Karbon dari Bangunan Lama

    Tiga Tingkatan Penerapan Retrofit untuk Turunkan Emisi Karbon dari Bangunan Lama

      

    7cloud.asia – Emisi karbon yang dihasilkan rumah tempat kita tinggal, tempat kita berbelanja atau makan, serta ruang untuk bersosialisasi harus mulai dimasukkan dalam pembahasan penurunan emisi

    Pasalnya, menurut World Green Building Council, sektor bangunan punya andil besar dalam emisi karbon yakni bertanggung jawab atas 39 persen emisi gas rumah kaca terkait energi global.

    Menurut Forum Ekonomi Dunia, 80 persen dari seluruh perumahan yang akan kita tinggali pada tahun 2050 saat ini telah terbangun. 

    Dilansir earth.org, alih-alih merobohkan dan mengganti rumah, retrofit atau renovasi dinilai sebagai cara paling berkelanjutan untuk mengurangi emisi karbon dari sektor bangunan.

    Retrofit akan membantu negara-negara mengurangi emisi dan meningkatkan standar hidup warganya. Ini lebih dari sekadar solusi energi, melainkan keharusan yang harus dilakukan untuk melindungi ekonomi dan kesehatan masyarakat dari dampak krisis iklim.

    Langkah-langkah retrofit dapat dibagi menjadi tiga tingkatan.

    Tingkatan 1: Konservasi Energi
    Tingkatan pertama berfokus pada pengurangan jumlah energi yang dibutuhkan dalam bangunan.

    Langkah-langkah tersebut meliputi pemasangan lampu LED dan peredam angin, pemeliharaan sistem suhu yang tepat, dan penggunaan meter pintar untuk memeriksa konsumsi energi.

    Sebagai langkah pertama retrofit, tindakan-tindakan ini dapat membantu menghemat uang dan mengurangi konsumsi energi. Tahap 1 ini melibatkan intervensi yang lebih kecil.

    Baca: Retrofit jadi cara terbaik untuk turunkan emisi karbon pada bangunan lama

    Tingkatan 2: Efisiensi Energi
    Tahapan ini memerlukan peningkatan struktural pada struktur bangunan. Ini bertujuan untuk mengurangi kehilangan panas, meningkatkan insulasi, dan kemampuan bangunan untuk mendinginkan.

    Peningkatan ini biasanya membutuhkan investasi di muka tetapi menawarkan penghematan energi dan finansial jangka panjang. Langkah-langkah tersebut meliputi insulasi loteng, insulasi dinding rongga, pemasangan pompa panas, dan kaca sekunder.

    Tingkat 3: Sumber dan Manajemen Energi
    Tingkat ketiga berfokus pada sumber energi dan manajemen energi yang lebih luas. Ini dapat mencakup penyediaan daya untuk gedung dengan sumber karbon yang lebih rendah.

    Juga penerapan sistem pemanas dan pendingin distrik, dan penggunaan perangkat lunak untuk mengelola permintaan energi gedung.

    Perangkat lunak manajemen gedung dapat mengurangi permintaan energi gedung. Perangkat lunak ini melakukannya dengan mengatur pencahayaan, ventilasi, pemanas, dan pendingin udara.

    ‘Kebutuhan Ekonomi’
    Kebutuhan akan retrofit menghadirkan tantangan yang signifikan, terutama di negara-negara maju. Eropa memiliki stok perumahan tertua di dunia.

    Sebuah laporan oleh BRE menemukan bahwa seperlima (22,3 persen) dari stok perumahan Eropa dibangun sebelum tahun 1946 – angka ini meningkat menjadi 37,8 persen di Inggris.

    Baca: Peta jalan penyelenggaraan bangunan gedung hijau di Indonesia

    Namun, sebagaimana dinyatakan oleh Forum Ekonomi Dunia, retrofit bukan hanya langkah keberlanjutan; ini adalah kebutuhan ekonomi. Retrofit berpotensi mengurangi permintaan energi global sebesar 12 persen.

    Selain itu, retrofit menciptakan 3,2 juta lapangan kerja baru per tahun dan meningkatkan produktivitas karyawan hingga 7.500 dolar per orang per tahun.

    Retrofit juga dapat memberikan manfaat kesehatan seperti penurunan angka kematian akibat polutan, kematian akibat panas, dan penyakit peredaran darah.

    Namun, implementasi retrofit juga menghadapai hambatan substansial. Di tingkat negara, hambatan ini berupa kebijakan yang tidak memadai dan ambisi yang selaras dengan retrofit.

    Hambatan bagi pemilik rumah dan penyewa individu meliputi biaya awal yang tinggi, mekanisme pengembalian jangka panjang, dan kurangnya pilihan yang terjangkau.

    Ada juga masalah yang lebih luas, yaitu kurangnya tenaga kerja terampil. Material konstruksi rendah karbon, misalnya, tidak mudah diakses maupun murah. Terakhir, banyak yang tidak menyadari manfaat retrofit bagi keuangan dan kesehatan mereka.

    Bagaimana negara-negara di dunia mendorong penerapan retrofit dan mengatasi hambatan yang dihadapi, akan diulas dalam tulisan selanjutnya.

  • Bagaimana Negara-negara di Dunia Mendorong Praktik Retrofit untuk Menurunkan Emisi dari Sektor Bangunan

    Bagaimana Negara-negara di Dunia Mendorong Praktik Retrofit untuk Menurunkan Emisi dari Sektor Bangunan

    7cloud.asia – Retrofit disebut-sebut sebagai cara efektif untuk menurukan emisi karbon dari sektor bangunan Bahkan, Forum Ekonomi Dunia menyebut, retrofit bukan hanya langkah keberlanjutan; ini adalah kebutuhan ekonomi. Retrofit berpotensi mengurangi permintaan energi global sebesar 12 persen.

    Selain itu, retrofit menciptakan 3,2 juta lapangan kerja baru per tahun dan meningkatkan produktivitas karyawan hingga 7.500 dolar per orang per tahun.

    Retrofit juga dapat memberikan manfaat kesehatan seperti penurunan angka kematian akibat polutan, kematian akibat panas, dan penyakit peredaran darah.

    Namun, implementasi retrofit juga menghadapai hambatan substansial. Di tingkat negara, hambatan ini berupa kebijakan yang tidak memadai dan ambisi yang selaras dengan retrofit.

    Hambatan bagi pemilik rumah dan penyewa individu meliputi biaya awal yang tinggi, mekanisme pengembalian jangka panjang, dan kurangnya pilihan yang terjangkau.

    Ada juga masalah yang lebih luas, yaitu kurangnya tenaga kerja terampil. Material konstruksi rendah karbon, misalnya, tidak mudah diakses maupun murah. Terakhir, banyak yang tidak menyadari manfaat retrofit bagi keuangan dan kesehatan mereka.

    Lantas, bagaimana negara-negara di dunia mendorong penerapan retrofit dan mengatasi hambatan yang dihadapi?

    Di Asia, tantangan retrofit bangunan telah diakui dalam beberapa inisiatif, seperti Peta Jalan Transisi Energi Nasional Malaysia (2023) dan Skema Insentif Green Mark Singapura untuk Bangunan yang Ada 2.0 (2022).

    Baca: Retrofit, cara efektif menurunkan emisi karbon pada bangunan lama

    Sementara itu, China menerapkan Dana Insentif untuk Pembangunan Bangunan Hijau pada tahun 2023, yang berupaya meningkatkan konservasi energi, baik bangunan publik maupun swasta.

    Sebanyak 75 persen bangunan di Uni Eropa memiliki kinerja energi yang buruk. Arahan Kinerja Energi Bangunan yang Direvisi Uni Eropa (2024) bertujuan untuk mengubah hal ini melalui peningkatan renovasi bangunan-bangunan dengan kinerja terburuk di setiap negara.

    Implementasi arahan ini menjadi undang-undang nasional pada tahun 2026 diperkirakan akan mengurangi konsumsi energi sebesar 11,7 persen di seluruh blok, sekaligus menurunkan tagihan energi dan memungkinkan kondisi hidup yang lebih sehat.

    Kanada mengumumkan investasi sebesar 2 miliar dolar Kanada untuk renovasi bangunan skala besar pada tahun 2020. Investasi ini didukung oleh Inisiatif Renovasi Bangunan yang didanai oleh Bank Infrastruktur Kanada.

    Pada tahun 2023, Kolombia menerbitkan Peta Jalan Nasional untuk Bangunan Nol Karbon Bersih. Ini mencakup tujuan untuk penggunaan audit energi secara luas pada tahun 2040 untuk memimpin proses renovasi.

    Inisiatif global ini menunjukkan bagaimana negara-negara dapat menyesuaikan strategi renovasi dengan konteks mereka sendiri.

    Saat ini, tidak ada satu negara pun di dunia yang memenuhi tingkat renovasi atau retrofit bangunan sebesar 2,5 persen setiap tahun untuk mencapai nol emisi bersih pada tahun 2030.

    Pada tahun 2022, skema Superbonus 110 persen yang dipromosikan oleh pemerintah Italia menawarkan kredit pajak hingga 110 persen untuk biaya renovasi dan perlindungan gempa rumah, sehingga proyek renovasi layak secara finansial bagi banyak orang.

    Baca: Tiga tingkatan retrofit untuk menurunkan emisi karbon

    Skema ini telah menyetujui lebih dari 122.000 aplikasi dan menghabiskan 21 miliar euro serta menciptakan 410.000 lapangan kerja baru di industri konstruksi.

    Pada tahun 2025, Tampines di Singapura menjadi pusat kota pertama yang direnovasi dengan sistem pendingin distrik terdistribusi yang berkelanjutan.

    Di sini, sistem tertutup memungkinkan air dingin didistribusikan ke masing-masing bangunan dari instalasi pusat melalui jaringan pipa. Setelah air digunakan, air tersebut dikembalikan dan didinginkan, sebelum didistribusikan kembali.

    Sistem ini seringkali lebih hemat energi daripada sistem pemanas dan pendingin bangunan individual, lebih hemat biaya, dan memiliki manfaat lain seperti peningkatan kualitas udara.

    Emisi karbon di Tampines diperkirakan akan berkurang 1.000 ton sebagai hasilnya – setara dengan menghilangkan 910 mobil dari jalan raya. Penghematan energi ini diperkirakan setara dengan pasokan listrik yang cukup untuk 710 apartemen per tahun.

    Peta jalan untuk retrofit bukannya tanpa hambatan. Namun, minat global telah meningkat selama lima tahun terakhir. Emisi gas rumah kaca dari lingkungan binaan menjadikannya sektor yang sangat perlu ditangani.

    Seiring bertambahnya populasi global, kita perlu membangun lebih banyak rumah dan bangunan untuk mendukung kehidupan kita. Retrofit akan membantu negara-negara mengurangi emisi dan meningkatkan standar hidup warga negara.

    Retrofit lebih dari sekadar solusi energi, ini adalah keharusan bagi iklim, ekonomi, dan kesehatan masyarakat.

    Baca: Peta jalan penyelenggaraan bangunan gedung hijau di Indonesia

  • Pengmas FEB UI: Masyarakat Bisa Berkontribusi Kurangi Panas Perkotaan dengan Langkah Kecil dari Rumah

    Pengmas FEB UI: Masyarakat Bisa Berkontribusi Kurangi Panas Perkotaan dengan Langkah Kecil dari Rumah

    7cloud.asia – Fenomena urban heat island (UHI) semakin terasa di kota-kota besar Indonesia, yakni kondisi di mana suhu udara di daerah perkotaan terasa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pinggiran sekitarnya

    Pulau panas perkotaan disebabkan oleh modifikasi permukaan kota, dominasi beton dan aspal, minimnya ruang hijau, serta pola konsumsi energi dan transportasi yang boros emisi karbon.

    Pulau panas perkotaan tidak hanya berdampak pada kenyamanan dan kesehatan warga kota, tetapi juga memperburuk kualitas udara. Karena itulah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) mendorong aksi nyata masyarakat dalam upaya menekan fenomena ini

    Melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Net Zero from Home” FEB UI mendukung pencapaian emisi nol bersih (zero net emission) di Tanah Air.

    Program pengabdian masyarakat tersebut digelar September lalu dengan dipimpin oleh Dr. Irfani Fithria Ummul Muzayanah, dengan anggota tim yaitu Putu Angga Widyastaman, dan Ikrar Genidal Riadil.

    Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber ahli, Wisnu Budi Waluyo, yang dikenal memiliki kepakaran di bidang environment health serta development and sustainability.

    Baca: Mengenal efek pulau panas perkotaan

    Dalam sesi edukasi, tim dari FEB UI menggarisbawahi bahwa masyarakat bisa berkontribusi tanpa harus menunggu kebijakan besar pemerintah, dan memulainya dari keputusan sehari-hari.

    Dari sisi transportasi, kata Irfani Fithria, langkah kecil, seperti menggunakan KRL, MRT, Transjakarta, atau bus kota, berjalan kaki untuk jarak dekat, memanfaatkan carpooling, hingga merencanakan perjalanan dengan lebih efisien, diyakini mampu menekan emisi, mengurangi polusi udara, sekaligus meredam efek UHI.

    “Pilihan sederhana ini bila dilakukan bersama-sama bisa memberi dampak sistemik pada penurunan emisi dan perbaikan kualitas udara,” kata Ikrar Genidal.

    Upaya masyarakat bisa menjadi lebih efektif dan berkelanjutan apabila pemerintah turut memperkuat infrastruktur publik, khususnya di bidang transportasi umum dan konektivitas.

    Sementara dari sisi energi rumah tangga, konsumsi listrik berlebih terbukti memberi kontribusi besar terhadap peningkatan suhu kota. Peralatan elektronik, seperti air conditioner (AC), kulkas, dan televisi, menghasilkan waste heat yang memperburuk panas udara, sementara sebagian besar listrik di Indonesia masih berbasis batu bara.

    “Sekitar 40 persen konsumsi energi tersedot untuk bangunan dan sistem pendingin. Jadi, semakin boros kita memakai listrik, semakin besar pula emisi karbon dan panas buangan ke lingkungan,” kata Wisnu Budi Waluyo.

    Baca: Menanam pohon efektif turunkan efek pulau panas perkotaan

    Dengan demikian, gaya hidup masyarakat yang hemat energi menjadi kunci. Masyarakat dapat melakukan hal sederhana, seperti mematikan perangkat elektronik saat tidak digunakan

    Juga menggunakan lampu LED, memilih peralatan berlabel hemat energi, mengatur suhu AC di 25 derajat Celcius, memaksimalkan ventilasi alami, serta menanam tanaman di dalam rumah.

    Selain manfaat lingkungan, perubahan gaya hidup tersebut juga membawa keuntungan ekonomi.

    Dengan menurunnya konsumsi energi, beban biaya rumah tangga ikut berkurang, sementara pemerintah dapat mengurangi subsidi energi dan mengalihkannya untuk pembangunan ruang terbuka hijau.

    Mekanisme pasar pun akan bergerak: saat permintaan meningkat terhadap produk hemat energi, produsen akan termotivasi memproduksi lebih banyak perangkat ramah lingkungan,” ungkap Wisnu.

    Melalui aksi nyata dari rumah, masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan kota yang lebih sejuk, udara yang lebih bersih, serta masa depan yang lebih berkelanjutan.

    Net Zero from Home bukan sekadar slogan, tetapi aksi nyata yang bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Semakin kita sadar, semakin besar dampak positif yang bisa kita ciptakan bersama,” ujar Ikrar.

    Baca: Alam menawarkan cara alami untuk menurunkan suhu panas perkotaan

  • JustCOP: Indonesia Sulit Capai Target Penurunan Emisi Karbon

    JustCOP: Indonesia Sulit Capai Target Penurunan Emisi Karbon

    7cloud.asia – Koalisi masyarakat sipil yang tergabung dalam koalisi adil untuk Bumi (Just Coalition for Our Planet/JustCOP) menagih komitmen pemerintah Indonesia dalam penurunan emisi setara karbondioksida secara global yang memanaskan bumi.

    Dengan kebijakan energi saat ini, puncak tertinggi emisi karbon Indonesia yang seharusnya dicapai pada tahun 2030, justru diprediksi mundur hingga tahun 2037.

    Semestinya setiap negara memetakan puncak tertinggi emisi karbon sebelum turun melandai demi mencegah pemanasan bumi yang berakibat fatal bagi peradaban manusia. Namun komitmen Indonesia saat ini justru sebaliknya.

    “Puncak tertinggi emisi sektor energi Indonesia ditargetkan mundur tujuh tahun dari proyeksi dalam strategi jangka panjang rendah karbon dan ketahanan iklim sampai 2050 (Long Term Strategy -Low Carbon and Climate Resilience – LTS -LCCR),” ujar Syaharani, Kepala Divisi Iklim dan Dekarbonisasi, Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), dalam diskusi daring di Jakarta (14/10/25).

    Turut hadir dalam diskusi tersebut Tri Purnajaya, Direktur Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri dan Torry Kuswardono, Koordinator Sekretariat Aliansi Rakyat untuk Keadilan Iklim.

    Kemunduran target yang Syaharani sampaikan merujuk pada Rencana Ketenagalistrikan Indonesia terbaru (RUKN 2024-2060) yang menyebutkan bahwa produksi listrik dari PLTU diperkirakan melonjak dan mencapai puncaknya pada 2037.

    Ia juga merujuk Kebijakan Energi Nasional (KEN) yang menyebutkan bahwa 79% bauran energi pada 2030 masih berasal dari energi fosil.

    “Saat ini, target penurunan emisi karbon Indonesia dengan proyeksi Business as Usual (BAU) pada 2030 masih merefleksikan kenaikan emisi 148% bila dibandingkan dengan emisi karbon pada 2010,” kata Syaharani.

    Selain itu, dokumen ENDC yang berlaku saat ini belum secara spesifik menyebut target pensiun dini pembangkit listrik batubara, yang mendominasi penyedia listrik di berbagai sektor industri di Indonesia.

    Dengan mundurnya target ini, Syaharani melanjutkan, sektor energi yang menjadi penyumbang emisi terbesar masih akan membuang emisi lebih besar lagi. Ini sudah pasti melampaui tolak ukur batas kenaikan suhu sebesar 1.5 derajat celcius dari masa pra industri.

    “Artinya, jika target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) Indonesia yang dibuat pada 2022 terpenuhi, Indonesia sebenarnya masih menghasilkan emisi cukup signifikan,” kata Syaharani.

    Kenaikan emisi mengakibatkan bumi memanas dan krisis iklim akan semakin parah. Karena itu, JustCOP mendorong agar pemerintah segera meningkatkan target komitmen penurunan emisi Indonesia melalui Second Nationally Determined Contribution (SNDC).

    Indonesia lewati tenggat penyerahan Dokumen SNDC
    Menjelang konferensi para pihak untuk perubahan iklim (COP 30) yang akan berlangsung pertengahan November 2025 kelak, sampai pertengahan Oktober saat ini Indonesia belum juga menyerahkan dokumen SNDC.

    Tenggat penyerahan telah terlewati, yakni bulan September 2025 yang lalu. Namun, Tri Purnajaya, Direktur Pembangunan Ekonomi dan Lingkungan Hidup, Kementerian Luar Negeri optimis Indonesia akan segera menyerahkan dokumen tersebut.

    Namun ia mengingatkan agar publik harus realistis karena Indonesia masih terus menggenjot pertumbuhan ekonomi.

    “Komitmen Indonesia harus diselaraskan dengan target pembangunan 8%. Kita bukan satu-satunya yang belum menyerahkan dokumen SNDC, baru setengah (dari negara-negara yang menyepakati Perjanjian Paris) yang menyerahkan,” katanya.

    Dalam diskusi itu, Torry Kuswardono menekankan kebijakan iklim wajib berpihak pada masyarakat. Mitigasi yang dilakukan pemerintah tidak seharusnya menyebabkan pelemahan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.

    Pemerintah semestinya melindungi hak atas tanah melalui pengakuan tanah adat dan reforma agraria sebagai fondasi ketahanan iklim komunitas. Juga perlindungan sosial adaptif bagi subjek rentan seperti warga disabilitas, buruh, dan pekerja informal.

    “Sepuluh tahun terakhir pada tingkatan akar rumput terjadi pelemahan dalam adaptasi masyarakat menghadapi perubahan iklim,” kata Torry yang juga Direktur Eksekutif Yayasan PIKUL.

    Ia mencontohkan hilirisasi nikel di Maluku Utara dan Sulawesi Tengah justru menjadi perebutan tanah, memicu konflik agraria, dan berdampak pencemaran pada masyarakat sekitar.

    “Perlindungan terhadap kelompok rentan tidak terlihat dalam kebijakan perubahan iklim di Indonesia,” katanya.

    Torry juga menyoroti persoalan kurangnya partisipasi publik dalam pengambilan kebijakan Indonesia.

    “Ada mekanisme-mekanisme yang tidak cukup transparan. Kalau pun ada partisipasi, itu tokenisme, alias partisipasi semu. Prosesnya kita tidak tahu. Hari ini diumumkan akan ada partisipasi publik, besoknya sudah ketok palu kebijakan disahkan,” katanya.

    Torry juga mengimbau pemerintah lebih fokus pada kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim untuk proyek-proyek yang lebih kecil tetapi masif dan inklusif, bukan proyek-proyek besar terpusat.

    “Komunitas lokal lebih tahu apa yang menjadi kebutuhan mereka. Bukan pelepasan lahan untuk proyek ketahanan pangan dengan membabat hutan, yang seharusnya dijaga karena kekayaan biodiversitasnya,” kata Torry.

  • Ambisi Pemerintah Jadi Pemain Utama Perdagangan Karbon Global Tuai Kritik

    Ambisi Pemerintah Jadi Pemain Utama Perdagangan Karbon Global Tuai Kritik

    7cloud.asia – Pemerintah Indonesia berambisi menjadi pemain utama dalam perdagangan karbon global. Di arena Konferensi Iklim COP 30 di Belem, Brasil pemerintah tampil percaya diri.

    Pada hari pembukaan COP 30, Paviliun Indonesia menggelar forum Sellers Meet Buyers yang mempertemukan calon penjual dan pembeli kredit karbon internasional.

    Dalam forum tersebut, delegasi Indonesia memperkenalkan 44 proyek karbon dengan potensi total sekitar 90 juta ton setara karbondioksida (CO₂e).

    “COP 30 adalah momentum pembuktian bahwa kredit karbon berintegritas menghadirkan nilai ganda—menurunkan emisi dan mendorong ekonomi,” ujar Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq saat itu.

    Dia menambahkan, dengan dukungan sektor perbankan dan dunia usaha, Indonesia siap memimpin pasar dengan standar tinggi serta manfaat yang inklusif.

    Di tengah sorotan dunia pada COP 30 di Belem, Brasil, kalangan masyarakat sipil yang tergabung dalam JustCOP mengingatkan pemerintah untuk meninjau ulang ambisi itu. JustCOP menilai Indonesia belum layak menjual karbon di bawah Article 6 Perjanjian Paris.

    Baca: Pemerintah diminta tak jadikan COP 30 untuk kampanye perdagangan karbon

    Direktur Eksekutif Madani Berkelanjutan, Nadia Hadad, menegaskan bahwa sebelum menjual kredit karbon ke luar negeri, pemerintah harus memastikan pencapaian target penurunan emisi nasional (NDC) terlebih dahulu.

    “Kalau target nasional belum tercapai, menjual kredit karbon ke luar negeri justru bisa membuat kita kehilangan kesempatan untuk menurunkan emisi sendiri,” ujarnya (13/11/2025) dalam keterangan tertulis yang diterima 7cloud.asia, Jumat (14/11/2025).

    Nadia mengutip Indonesia First Biennial Transparency Report (2024) yang diterbitkan pada 6 Mei 2025. Laporan itu menunjukkan bahwa capaian penurunan emisi Indonesia pada 2019 masih berada di atas target penurunan emisi yang seharusnya (Countermeasure 1).

    Emisi karbon Indonesia sempat sejajar dengan target (Countermeasure 2) pada tahun 2020 saat pandemi Covid-19, namun kembali meningkat setelahnya.

    “Artinya, kita bahkan belum sepenuhnya berada di jalur yang tepat dalam penurunan emisi,” kata Nadia.

    Nadia mengingatkan, perdagangan karbon tidak boleh dijadikan jalan pintas. Article 6.1 Perjanjian Paris dengan jelas menyatakan bahwa mekanisme kerja sama internasional ini seharusnya digunakan untuk meningkatkan ambisi iklim, bukan sekadar mencari efisiensi biaya atau melonggarkan target nasional.

    Baca: Misi delegasi Indonesia di COP 30 dinilai tak mewakili kelompok rentan

    Prinsip ini sejalan dengan Oxford Principles for Responsible Engagement with Article 6, yang menegaskan bahwa negara hanya layak terlibat jika telah berada di jalur net-zero berbasis sains.

    Jika kondisi NDC Indonesia masih jauh dari sains iklim, penjualan kredit karbon justru berisiko menjadi bentuk greenwashing internasional, di mana negara maju membeli karbon murah tanpa benar-benar meningkatkan ambisi globalnya.

    Penilaian serupa juga datang dari Climate Action Tracker (CAT) yang menilai komitmen iklim Indonesia masih dalam kategori critically insufficient untuk menjaga pemanasan global di bawah 1,5°C.

    Dengan target saat ini, kontribusi Indonesia bahkan mengarah pada skenario pemanasan global hingga 4°C.

    Iqbal Damanik dari Greenpeace Indonesia juga menekankan perlunya pemerintah memperkuat target iklim nasional agar sejalan dengan jalur 1,5°C sebelum aktif promosikan perdagangan karbon

    Pemerintah juga harus mempercepat transisi energi bersih, menghentikan deforestasi, serta memastikan hak masyarakat adat dan lokal diakui dan dilindungi.

    Menjual karbon sebelum mencapai ambisi iklim nasional bukan hanya langkah prematur, tetapi juga berisiko melemahkan komitmen global menuju keadilan iklim.

    Baca: Kritik terhadap promosi perdagangan karbon yang diusung delegasi Indonesia di COP 30

  • Yuk, Berkontribusi pada Lingkungan dengan Mengurangi Emisi Karbon

    Yuk, Berkontribusi pada Lingkungan dengan Mengurangi Emisi Karbon

    7cloud.asia – Mungkin kamu sudah sering mendengar tentang perubahan iklim. Dampak perubahan iklim juga sudah nyata di depan mata yang ditandai dengan semakin seringnya terjadi cuaca ekstrem.

    Tetapi masih di antara kita yang abai dengan penyebab perubahan iklim yakni pemanasan global yang dipicu emisi gas rumah kaca (baca: emisi karbon)

    Ya, tanpa kita sadari, aktivitas kita sehari-hari berkontribusi pada emisi karbon global. Lebih buruk, gaya hidup konsumtif dan boros energi berkontribusi lebih besar lagi pada emisi karbon yang memerangkap panas.

    Meninggalkan lampu menyala di kamar kosong, boros air, boros memproduksi sampah plastik sampai enggan naik transportasi publik adalah beberapa contoh kebiasaan yang menyumbang emisi karbon.

    Emisi karbon inilah yang membuat suhu bumi lebih hangat atau yang biasa disebut dengan pemanasan global. Selanjutnya pemanasan global menyebabkan perubahan iklim yang  dapat memicu bencana dan mengancam keselamatan lingkungan dan makhluk yang tinggal di planet Bumi.

    Hasil kajian IESR yang dirilis pada Juli lalu menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca warga yang tinggal di perkotaan lebih tinggi dibanding di pedesaan.

    Kajian itu menyebut, emisi individu di wilayah perkotaan mencapai 3,39 ton setara karbon dioksida per kapita per tahun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan wilayah semi perkotaan sebesar 2,81 ton, dan perdesaan 2,33 ton setara karbon dioksida per kapita per tahun.

    Dan, untuk menyerap jumlah emisi karbon sebanyak 3,39 ton per tahun tersebut membutuhkan sekitar 25 pohon yang dipelihara selama 20 tahun.

    Jadi buat kamu yang masih berpikir, emisi yang saya hasilkan tidak banyak wajib hukumnya mengubah pola pikir ini.

    Karena bisa dibayangkan jika berjuta orang berpikiran sama, maka berapa juta ton emisi yang dihasilkan setiap hari? Berapa juta ton jika dikumpulkan setiap minggu, bulan dan kemudian setahun?

    Jadi mulai sekarang, tak ada salahnya kamu mulai mengurangi emisi karbon dari aktivitas sehari-hari dengan menghemat listrik dan mengonsumsi secara bijak. Sekecil apapun pengurangan emisi yang kamu lakukan akan berkontribusi bagi Bumi yang lebih sehat.

    Untuk mengurangi emisi karbon, kita bisa melakukan beberapa cara berikut ini:

    1. Efisiensi energi:
    – Matikan lampu saat tidak digunakan.
    – Jangan meninggalkan peralatan elektronik dalam posisi stand by. Usahakan mencabut alat dari sumber listrik.
    – Matikan kran ketika tidak digunakan
    – Manfaatkanlah sinar matahari untuk penerangan dan juga untuk mengeringkan cucian

    2. Kurangi penggunaan kendaraan bermotor
    – Untuk jarak kurang dari 500 m biasakan berjalan kaki, selain itu lebih sehat kan.
    – Gunakan sepeda untuk transportasi yang tidak memiliki gas buang.
    – Untuk jarak lebih dari 3 kilometer, gunakan car pooling.

    3. Kurangi penggunaan air minum dalam botol kemasan dan sedotan
    – Biasakan membawa tempat minum Anda sendiri.
    – Bila memungkinkan, hindari pemakaian sedotan plastik karena dapat menghasilkan emisi karbon cukup besar.

    4. Kurangi dan kelola sampah organik
    Meski dapat diurai oleh alam, sampah organik ternyata tidak kalah bahayanya dengan sampah lainnya. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik dapat menghasilkan gas metana yang jauh mengikat panas dibanding karbondioksida.

    Karena itu kurangi sampah organik. Pengurangan emisi sampah dapat dilakukan dengan lebih baik apabila disertai dengan pemisahan sampah organik dari non-organik. Olah sampah organik Anda menjadi kompos.

    5. Kurangi penggunaan kertas
    Lakukan pencetakan bolak-balik (duplex) untuk mengehemat penggunaan kertas.
    Untuk dokumen berupa draft dan tidak memerlukan kertas bersih, gunakan kertas bekas untuk cetak.

    6. Hindari sampah makanan
    Limbah makanan memang menjadi masalah serius bagi lingkungan. Gas metana yang dilepas limbah makanan disebut lebih besar dampaknya pada pemanasan global ketimbang emisi karbon dari bahan bakar fosil.

    Cara sederhana untuk mengurangi sampah makanan di rumah adalah dengan menata makanan kita. Anda dapat menata lemari es agar barang-barang dengan tanggal kedaluwarsa terdekat berada di depan dan di tengah.

    Mencatat inventaris makanan dan tanggal kedaluwarsanya secara berkala juga dapat membantu mencegah pembelian berlebihan dan makanan yang terlupakan.

    Meskipun ini mungkin tampak memakan waktu, sebuah studi tahun 2020 menunjukkan bahwa kebiasaan kecil ini dapat menghasilkan penghematan yang signifikan, baik dari segi makanan maupun uang.

     

  • Menguji Skenario Pengurangan Emisi Karbon Lewat “Kalkulator Net Zero Emission“

    Menguji Skenario Pengurangan Emisi Karbon Lewat “Kalkulator Net Zero Emission“

     

    7cloud.asia – Di tengah perubahan iklim yang semakin parah, tidak ada jalan lain selain mengurangi emisi karbon besar-besaran.

    Indonesia sendiri berkomitmen untuk mencapai target nol emisi (Net Zero Emission) pada 2060 atau lebih cepat sebagai bagian dari upaya global menangani perubahan iklim.

    Dalam usaha mencapai target ini, kita membutuhkan beberapa peralatan untuk membantu menghitung dan merumuskan rencana pengurangan emisi dengan akurat. Kalkulator NZE adalah salah satunya.

    Alat ini memungkinkan siapa saja, tak hanya pemerintah, tapi juga organisasi masyarakat sipil, akademisi, jurnalis, dan warga sipil—untuk bisa turut mengeksplorasi dan mengevaluasi berbagai opsi dan skenario pengurangan emisi karbon yang paling optimal, terutama di sektor energi.

    Kalkulator karbon: Dari Inggris ke Indonesia

    Kalkulator karbon pertama kali diperkenalkan Departemen Bisnis, Energi, dan Strategi Industri Inggris pada 2020 dengan nama UK Carbon Calculator dan kemudian berkembang menjadi MacKay Carbon Calculator, yang dinamai dari fisikawan energi Sir David MacKay.

    Versi lokal Indonesia dikembangkan pada 2023 dengan nama Kalkulator NZE Indonesia. Inisiatif ini dilakukan melalui program kemitraan UK-MENTARI (Menuju Transisi Energi Rendah Karbon Indonesia). Ini adalah program kemitraan antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Inggris untuk mempercepat transisi energi.

    Kalkulator ini terbuka untuk publik dan bisa diakses gratis melalui situs resmi NZE Calculator. Dengan tampilan yang interaktif, pengguna bisa memodelkan dan menguji berbagai skenario kebijakan serta laju transisi energi menuju pengurangan emisi karbon paling optimal dengan panduan yang telah tersedia.

    Simulasi berbagai skenario transisi energi

    Kalkulator NZE mengandalkan data dari peta jalan NZE oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN).

    Kalkulator ini memiliki empat level skenario dengan tingkat ambisi yang berbeda, mulai dari dari level 1 (rendah), level 2 (cukup), level 3 (baik), hingga level 4 (terbaik atau transformasi total).

    1. Skenario rendah

    Dalam skenario ini, penggunaan teknologi energi masih sangat sedikit. Pembangkit listrik dari batu bara masih bertahan cukup lama.

    Transportasi masih didominasi truk diesel dan kendaraan bensin, dengan adopsi kendaraan listrik yang lambat. Sektor industri dan pertambangan masih boros energi.

    Skenario ini menggambarkan emisi karbon yang masih sangat tinggi: sekitar 813 juta ton CO₂ pada 2060, hanya sedikit turun dari level saat ini.

    2. Skenario cukup

    Dalam skenario ini, teknologi carbon capture atau penangkapan karbon mulai dipakai di pembangkit batu bara pada 2040. Listrik bertenaga surya makin dominan (150 GW pada 2060).

    Ada dorongan untuk efisiensi energi di sektor industri, dan kendaraan listrik mulai mengambil alih ruang jalan, meski moda transportasi massal seperti kereta masih stagnan.

    Emisi karbon pada skenario ini turun cukup signifikan, yakni menjadi 435 juta ton CO₂ pada 2060. Ini adalah skenario sesuai dengan Peta Jalan NZE 2060 versi pemerintah.

    3. Skenario baik

    Di level ini, pembangkit listrik batu bara dihentikan lebih awal, dan energi terbarukan mendominasi.

    Transportasi dirombak secara masif dengan bus listrik beroperasi di 90% provinsi. Selain itu, truk berbasis hidrogen mulai masuk pasar, dan penumpang transportasi umum meningkat pesat. Industri juga beralih ke teknologi efisien, dan penggunaan bioenergi signifikan.

    Dalam skenario ini, emisi turun hingga 129 juta ton CO₂ pada 2060.

    4. Skenario terbaik

    Emisi turun drastis menjadi 42 juta ton CO₂ pada 2060. Teknologi canggih seperti pembangkit listrik berbasis hidrogen dan amonia digunakan secara luas. Semua kendaraan baru yang dijual adalah kendaraan listrik sejak 2045.

    Sistem energi Indonesia akan hampir sepenuhnya bersih. Bahkan intensitas energi di sektor industri dan pertambangan ditekan seminimal mungkin. Hutan terjaga, dan lahan dimanfaatkan secara cermat untuk bioenergi.

    Setiap skenario di Kalkulator NZE menunjukkan, semakin tinggi ambisi, semakin besar peluang Indonesia untuk memenuhi target iklim global.

    Sementara itu, jika menggunakan peta jalan pemerintah saat ini, maka kita masih berada di level cukup. Apabila ingin mendekati target nol emisi, maka skenario yang kita gunakan harus lebih ambisius lagi.

    Pengguna kalkulator bisa menguji sendiri berbagai skenario dengan mengubah dan menyesuaikan setiap teknologi, baik di sisi pasokan (seperti pembangkit energi terbarukan) maupun sisi permintaan energi (konsumsi) sesuai yang diinginkan.

    Dengan hanya menyesuaikan level, pengguna bisa langsung melihat dampak setiap kebijakan energi terhadap emisi, biaya, dan proyeksi penggunaan energi.

    Keterbukaan ini tidak hanya meningkatkan literasi energi dan iklim bagi publik, tapi juga mendorong diskusi publik berbasis bukti mengenai jalan terbaik menuju nol emisi.

    Meski demikian, kalkulator ini juga punya keterbatasan. Beberapa parameter tidak dapat diubah secara bebas. Skenarionya juga hanya bisa disimpan secara manual. Oleh karena itu, pengguna perlu mencatat/merekam setiap skenario yang dibuat dengan kalkulator ini.

    Menuju nol emisi

    Untuk mencapai target NZE pada 2060, Indonesia memerlukan transformasi sistem energi nasional secara menyeluruh.

    Seluruh sektor memerlukan perencanaan matang berbasis data. Pemerintah semestinya bisa memanfaatkan kalkulator NZE untuk membantu memodelkan skenario terbaik: sektor apa yang butuh pengembangan, teknologi apa yang diperlukan, dan kapan teknologi tersebut diperlukan.

    Dengan begitu, sektor swasta dan lembaga keuangan bisa mengarahkan dana mereka ke proyek-proyek rendah karbon yang paling berdampak.

    Publik juga bisa memantau proses kebijakan, apakah sudah sejalan atau justru bertentangan dengan target pengurangan emisi global.

    Lebih dari sekadar alat teknis, Kalkulator NZE Indonesia adalah alat demokratisasi pengetahuan yang bisa mengajak publik untuk ikut serta dalam merancang masa depan energi Indonesia.


    Dwi Novitasari, Doctor candidate, Universitas Gadjah Mada

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Bisnis EO Nasional Kesulitan Memenuhi Standar ‘Hijau’ Internasional

    Bisnis EO Nasional Kesulitan Memenuhi Standar ‘Hijau’ Internasional

     

    <p>7cloud.asia – Indonesia merupakan negara dengan pasar yang sangat potensial. Tak terkecuali untuk bisnis sektor MICE (<em>meetings</em>, <em>incentives</em>, <em>conferences</em>, and <em>exhibitions</em>).</p>

    <p>Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat sektor ini memicu perputaran uang triliunan rupiah. <a href=”https://investor.id/business/420129/industri-mice-terus-menunjukkan-peran-strategis-sepanjang-2025″>Dari 134 perhelatan yang didukung pemerintah sepanjang Januari – September 2025</a> misalnya, MICE menghasilkan omzet Rp11,82 triliun dengan dihadiri lebih dari 10 juta pengunjung. </p>

    <p>Tak terhitung berapa banyak event MICE yang digelar di Indonesia setiap tahunnya. Selain pemerintah, pihak swasta, institusi pendidikan, hingga lembaga nirlaba gemar menggelar pertemuannya sendiri-sendiri. Bisnis inilah yang sebenarnya menopang <a href=”https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20210128163704-92-599633/pengusaha-hotel-meringis-karena-meeting-virtual”>perhotelan nasional</a>. </p>

    <p></p>

    <p>Namum, omzet yang besar itu juga menyisakan persoalan lingkungan tak sedikit. Bayangkan sebuah konferensi internasional di Bali atau Jakarta yang dihadiri ribuan peserta. Di balik kemegahannya, ada limbah yang menumpuk, konsumsi energi tinggi, dan jejak karbon yang signifikan di setiap pargelarannya.</p> 

    <p>Ironisnya, <a href=”https://www.emerald.com/ijefm/article-abstract/doi/10.1108/IJEFM-07-2025-0102/1341767/Adopting-business-process-automation-for?redirectedFrom=fulltext”>riset saya</a> justru menemukan banyak acara yang mengklaim “ramah lingkungan” tetapi kenyataannya bertolak belakang.</p>

    <h2>Terhalang metode pelaporan dasar</h2>

    <p>Menggelar sebuah acara yang “hijau” mungkin terdengar mudah dan sepele bagi penyelenggara (<em>event organizer</em>/EO). Tapi dalam praktiknya, banyak penyelenggara kesulitan membuktikan bahwa acaranya benar-benar ramah lingkungan, terutama karena data limbah, energi, dan emisi karbon tidak tercatat dengan baik.</p>

    <p>Banyak pelaku industri MICE masih mengandalkan proses manual yang rumit dan rawan kekeliruan.</p>

    <p><a href=”https://www.emerald.com/ijefm/article-abstract/doi/10.1108/IJEFM-07-2025-0102/1341767/Adopting-business-process-automation-for?redirectedFrom=fulltext”>Studi saya</a> terhadap 50 profesional MICE di Asia Tenggara menunjukkan bahwa pelaporan masih jadi momok utama sulitnya menggelar acara “hijau”.</p> 

    <p><a href=”https://www.emerald.com/ijefm/article-abstract/doi/10.1108/IJEFM-07-2025-0102/1341767/Adopting-business-process-automation-for?redirectedFrom=fulltext”>Mayoritas responden yang saya wawancarai</a> mengaku tak memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang metode pencatatan yang benar. </p>

    <p>Mayoritas EO masih menggunakan pola lama, seperti input data peserta satu per satu, koordinasi ratusan vendor via <em>chat</em> yang berantakan, hingga pelaporan keuangan yang memakan waktu berminggu-minggu seusai acara.</p>

    <p>Temuan utamanya sederhana: tanpa otomatisasi, pelaporan keberlanjutan akan sulit akurat, sulit diverifikasi. Ujung-ujungnya, kapasitas pelaporan yang tanggung ini tak mendapat kepercayaan publik dan otortias. Adopsi teknologi tersebut tidak semata-mata didorong oleh keinginan untuk berinovasi.</p> 

    <p>Di sinilah otomatisasi proses bisnis (<em>Business Process Automation</em>/BPA) menjadi penting. Sistem otomatis memungkinkan pengumpulan dan pemrosesan data secara <em>real-time</em>, sehingga mengurangi kesalahan manusia dan meningkatkan kredibilitas laporan.</p>

    <h2>Sudah menjadi tuntutan global</h2>

    <p>Banyak klien terutama dari klien internasional menuntut standar keberlanjutan. Untuk memenuhi itu, penyelenggara harus memakai teknologi otomatisasi proses bisnis.</p>

    <p><a href=”https://www.emerald.com/ijefm/article-abstract/doi/10.1108/IJEFM-07-2025-0102/1341767/Adopting-business-process-automation-for?redirectedFrom=fulltext”>Sebagian besar responden dalam riset saya tersebut</a> menilai tekanan dari klien internasional sebagai pendorong utama adopsi otomatisasi, melampaui sekadar dorongan dari asosiasi profesi. Jika tidak bisa memenuhi tuntutan tersebut, klien asing bakal berpaling hati begitu saja.</p>

    <p></p>

    <p>Artinya, adopsi teknologi tidak lagi bersifat sukarela, melainkan semakin menjadi prasyarat untuk tetap kompetitif di pasar global. Sayangnya, banyak penyelenggara event nasional merasa teknologi itu mahal dan butuh keahlian tinggi sehingga malah dianggap menambah biaya.</p>

    <p>Padahal andaikan gap adaptasi teknologi ini bisa dibenahi, mereka bisa berfokus pada <a href=”https://www.emerald.com/ijefm/article-abstract/doi/10.1108/IJEFM-07-2025-0102/1341767/Adopting-business-process-automation-for?redirectedFrom=fulltext”>konsep kreatif dan pelayanan prima</a> karena mendapat sokongan otomasi alur kerja dan analisis berbasis data yang menangkap data <em>real-time</em> perilaku peserta.</p> 

    <p>Adaptasi BPA juga menjadi jembatan penting bagi EO untuk melangkah ke tingkatan keberlanjutan berikutnya yang menyentuh aspek pengelolaan limbah. </p>

    <p>Contohnya di Inggris, setiap pameran bisa menghasilkan lebih dari 2 ribu ton limbah yang membutuhkan <a href=”https://www.medcom.id/gaya/wisata/0kpPWmnk-kemenparekraf-beberkan-5-elemen-untuk-penerapan-sustainable-mice-events”>biaya pengelolaan</a> hingga Rp10,9 triliun.</p>

    <p>Tanpa data yang akurat, praktik EO ramah lingkungan (<em>green MICE</em>) hanya akan menjadi slogan. Dengan otomatisasi, ia bisa menjadi standar baru industri.</p>

    <h2>Butuh penggerak yang akan diikuti</h2>

    <p><em>Green MICE</em> kini bukan lagi sekadar strategi pemasaran, tetapi standar yang diharapkan oleh pasar global. Industri ini bukan hanya soal penyelenggaraan acara, tetapi juga berkontribusi pada citra pariwisata Indonesia di mata dunia.</p> 

    <p>Namun perlu diakui, tidak semua organisasi siap atau mau. Alhasil, tantangan terbesar justru datang dari dalam, seperti kesiapan sumber daya manusia dan kemampuan beradaptasi dengan cara kerja baru. </p>

    <p><a href=”https://www.medcom.id/gaya/wisata/0kpPWmnk-kemenparekraf-beberkan-5-elemen-untuk-penerapan-sustainable-mice-events”>Pemerintah</a> juga perlu mendorongnya melalui aturan dan insentif yang mendukung.</p>

    <p>Pemerintah dapat mempercepat transisi ini dengan mendorong standar pelaporan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang lebih seragam, mengaitkan insentif dengan kesiapan digital, serta memperluas pelatihan bagi pelaku industri, khususnya skala kecil dan menengah.</p>

    <p>Pada akhirnya, masa depan industri MICE tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar dan megah sebuah acara, tetapi oleh seberapa transparan dan dapat dipercaya datanya.</p>

    <p>Semakin berkembang sektor MICE tentunya juga memberikan efek domino yang positif. Industri pariwisata dan perhotelan bakal turut makin melesat sehingga terus <a href=”https://investor.id/business/420129/industri-mice-terus-menunjukkan-peran-strategis-sepanjang-2025″>membuka lapangan pekerjaan dan akses pasar kepada usaha mikro, kecil, dan menengah</a>. <!– Di bawah ini adalah tag penghitung halaman The Conversation. Tolong JANGAN HAPUS. –><img src=”https://counter.theconversation.com/content/282033/count.gif?distributor=republish-lightbox-basic” alt=”The Conversation” width=”1″ height=”1″ style=”border: none !important; box-shadow: none !important; margin: 0 !important; max-height: 1px !important; max-width: 1px !important; min-height: 1px !important; min-width: 1px !important; opacity: 0 !important; outline: none !important; padding: 0 !important” referrerpolicy=”no-referrer-when-downgrade” /><!– Akhir kode. Jika Anda tidak melihat kode apa pun di atas, silakan dapatkan kode baru dari tab Lanjutan setelah Anda mengklik tombol publikasikan ulang. Penghitung halaman tidak mengumpulkan data pribadi apa pun. Info lebih lanjut: https://theconversation.com/republishing-guidelines –></p> 

    <hr>

    <iframe src=”https://tally.so/embed/rjKpOl?alignLeft=1&amp;hideTitle=1&amp;transparentBackground=1&amp;dynamicHeight=1″ width=”100%” height=”321″ frameborder=”0″ marginheight=”0″ marginwidth=”0″ title=”Survey Form”>
    </iframe>

    <p><span><a href=”https://theconversation.com/profiles/syahril-ramadhan-2631921″>Syahril Ramadhan</a>, Kandidat PhD, <em><a href=”https://theconversation.com/institutions/universitas-pancasila-4105″>Universitas Pancasila</a></em></span></p>

    <p>Artikel ini terbit pertama kali di <a href=”https://theconversation.com”>The Conversation</a>. Baca <a href=”https://theconversation.com/bisnis-eo-nasional-sangat-cuan-tapi-kesulitan-memenuhi-standar-hijau-internasional-282033″>artikel sumber</a>.</p>
    </div>