7cloud.asia – Fenomena urban heat island (UHI) semakin terasa di kota-kota besar Indonesia, yakni kondisi di mana suhu udara di daerah perkotaan terasa jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah pinggiran sekitarnya
Pulau panas perkotaan disebabkan oleh modifikasi permukaan kota, dominasi beton dan aspal, minimnya ruang hijau, serta pola konsumsi energi dan transportasi yang boros emisi karbon.
Pulau panas perkotaan tidak hanya berdampak pada kenyamanan dan kesehatan warga kota, tetapi juga memperburuk kualitas udara. Karena itulah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) mendorong aksi nyata masyarakat dalam upaya menekan fenomena ini
Melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “Net Zero from Home” FEB UI mendukung pencapaian emisi nol bersih (zero net emission) di Tanah Air.
Program pengabdian masyarakat tersebut digelar September lalu dengan dipimpin oleh Dr. Irfani Fithria Ummul Muzayanah, dengan anggota tim yaitu Putu Angga Widyastaman, dan Ikrar Genidal Riadil.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber ahli, Wisnu Budi Waluyo, yang dikenal memiliki kepakaran di bidang environment health serta development and sustainability.
Baca: Mengenal efek pulau panas perkotaan
Dalam sesi edukasi, tim dari FEB UI menggarisbawahi bahwa masyarakat bisa berkontribusi tanpa harus menunggu kebijakan besar pemerintah, dan memulainya dari keputusan sehari-hari.
Dari sisi transportasi, kata Irfani Fithria, langkah kecil, seperti menggunakan KRL, MRT, Transjakarta, atau bus kota, berjalan kaki untuk jarak dekat, memanfaatkan carpooling, hingga merencanakan perjalanan dengan lebih efisien, diyakini mampu menekan emisi, mengurangi polusi udara, sekaligus meredam efek UHI.
“Pilihan sederhana ini bila dilakukan bersama-sama bisa memberi dampak sistemik pada penurunan emisi dan perbaikan kualitas udara,” kata Ikrar Genidal.
Upaya masyarakat bisa menjadi lebih efektif dan berkelanjutan apabila pemerintah turut memperkuat infrastruktur publik, khususnya di bidang transportasi umum dan konektivitas.
Sementara dari sisi energi rumah tangga, konsumsi listrik berlebih terbukti memberi kontribusi besar terhadap peningkatan suhu kota. Peralatan elektronik, seperti air conditioner (AC), kulkas, dan televisi, menghasilkan waste heat yang memperburuk panas udara, sementara sebagian besar listrik di Indonesia masih berbasis batu bara.
“Sekitar 40 persen konsumsi energi tersedot untuk bangunan dan sistem pendingin. Jadi, semakin boros kita memakai listrik, semakin besar pula emisi karbon dan panas buangan ke lingkungan,” kata Wisnu Budi Waluyo.
Baca: Menanam pohon efektif turunkan efek pulau panas perkotaan
Dengan demikian, gaya hidup masyarakat yang hemat energi menjadi kunci. Masyarakat dapat melakukan hal sederhana, seperti mematikan perangkat elektronik saat tidak digunakan
Juga menggunakan lampu LED, memilih peralatan berlabel hemat energi, mengatur suhu AC di 25 derajat Celcius, memaksimalkan ventilasi alami, serta menanam tanaman di dalam rumah.
Selain manfaat lingkungan, perubahan gaya hidup tersebut juga membawa keuntungan ekonomi.
Dengan menurunnya konsumsi energi, beban biaya rumah tangga ikut berkurang, sementara pemerintah dapat mengurangi subsidi energi dan mengalihkannya untuk pembangunan ruang terbuka hijau.
Mekanisme pasar pun akan bergerak: saat permintaan meningkat terhadap produk hemat energi, produsen akan termotivasi memproduksi lebih banyak perangkat ramah lingkungan,” ungkap Wisnu.
Melalui aksi nyata dari rumah, masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan kota yang lebih sejuk, udara yang lebih bersih, serta masa depan yang lebih berkelanjutan.
“Net Zero from Home bukan sekadar slogan, tetapi aksi nyata yang bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Semakin kita sadar, semakin besar dampak positif yang bisa kita ciptakan bersama,” ujar Ikrar.
Baca: Alam menawarkan cara alami untuk menurunkan suhu panas perkotaan

Leave a Reply