Tag: gencatan senjata

  • Sambut Positif Kesepakatan Gencatan Senjata, RI Tekankan Pentingnya Pemulihan Segera di Gaza

    Sambut Positif Kesepakatan Gencatan Senjata, RI Tekankan Pentingnya Pemulihan Segera di Gaza

    7cloud.asia – Pemerintah Republik Indonesia menyambut baik kesepakatan gencatan senjata di Gaza, seperti selama ini didorong Indonesia serta masyarakat internasional.

    Dalam pernyataan yang dirilis di akun resmi X @Kemlu_RI, Kementerian Luar Negeri RI menyatakan, implementasi kesepakatan gencatan senjata tersebut harus dilaksanakan segera dan secara menyeluruh demi terhentinya korban jiwa di Gaza.

    Indonesia menekankan pentingnya pemulihan kehidupan masyarakat di Gaza melalui akses penuh penyaluran bantuan kemanusiaan, termasuk pemulihan peran UNRWA, serta rekonstruksi Gaza.

    Perdamaian di Palestina tidak dapat dicapai tanpa penghentian penjajahan Israel, serta berdirinya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat, sesuai solusi dua negara berdasarkan parameter internasional yang telah disepakati.

    Kesepakatan gencatan senjata di Gaza, diumumkan Presiden AS Joe Biden pada Rabu (15/1/2025) waktu setempat di Gedung Putih, Washington DC.

    “Ini adalah sore yang sangat baik karena akhirnya, saya dapat mengumumkan gencatan senjata,” kata Biden saat mengumumkan kabar baik ini, seperti dilansir VOA Indonesia.

     

    Baca: Jalan panjang menuju kesepakatan gencatan senjata di Gaza 

    Ia menambahkan bahwa “kesepakatan soal sandera telah dicapai antara Israel dan Hamas.”

    Biden berbicara beberapa saat setelah Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, berbicara di Doha, mengatakan gencatan senjata akan mulai berlaku Minggu (19/1/2025).

    Kesepakatan tersebut, yang muncul setelah berminggu-minggu negosiasi yang melelahkan di ibu kota Qatar, menjanjikan pembebasan secara bertahap puluhan sandera yang ditahan Hamas.

    Serta pembebasan ratusan tahanan Palestina di Israel dan akan memungkinkan ratusan ribu orang terlantar di Gaza untuk kembali ke puing-puing rumah mereka.

    Biden mengatakan sandera Amerika akan menjadi bagian dari pembebasan sandera tersebut pada tahap pertama kesepakatan.

    Biden mengatakan kesepakatan gencatan senjata di Gaza ini disusun dalam tiga fase. Fase pertama akan berlangsung selama enam minggu.

    Baca: Serangan Israel lumpuhkan rumah sakit terakhir di Gaza 

    Ini mencakup gencatan senjata penuh dan menyeluruh pasukan Israel dari seluruh wilayah berpenduduk di Gaza, serta pembebasan sebagian sandera yang ditahan oleh Hamas, termasuk perempuan, orang tua, dan mereka yang luka-luka.

    ”Saya dengan bangga mengatakan Amerika akan menjadi bagian dari pembebasan sandera ini dan tahap pertama juga. Saya dan Wakil Presiden Kamala Harris tidak sabar untuk menyambut mereka,” kata Biden.

    Kesepakatan yang dicapai setelah perundingan yang melelahkan selama berminggu-minggu di ibu kota Qatar ini menjanjikan pembebasan puluhan sandera yang ditahan oleh Hamas secara bertahap.

    Juga pembebasan ratusan tahanan Palestina di Israel, serta memungkinkan ratusan ribu orang yang mengungsi di Gaza untuk kembali ke tempat tinggal mereka yang tersisa.

    Kesepakatan ini juga akan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh warga Gaza.

  • Israel Belum Sepenuhnya Terima Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza, Pakar Pesimis Bakal Terwujud Penuh

    Israel Belum Sepenuhnya Terima Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza, Pakar Pesimis Bakal Terwujud Penuh

    7cloud.asia – Meski telah secara resmi diumumkan, kabinet Israel masih belum sepenuhnya menerima kesepakatan gencatan senjata yang dicapai di Doha, Qatar pada Rabu (15/1/2025).

    Juru bicara pemerintah Israel David Mencer, Kamis (16/1/2025) mengatakan kepada Sky News bahwa Hamas telah “mundur” dari kesepakatan gencatan senjata yang telah dicapai sebelumnya.

    “Telah terjadi pengunduran diri dari aspek-aspek tertentu, (yaitu) aspek-aspek dari kesepakatan untuk membebaskan para sandera, yang telah disepakati sebelumnya. Namun kini ditinggalkan (tidak disepakati) Hamas,” kata Mencer dikutip VOA Indonesia.

    “Kesepakatan ini tidak dapat dibawa ke kabinet Israel untuk dilakukan pemungutan suara hingga benar-benar disepakati,” tambahnya.

    Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Kamis mengatakan kabinetnya tidak akan menggelar pertemuan untuk menyetujui kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza dan pembebasan puluhan sandera. 

    Baca: RI sambut positif tercapainya kesepakatan gencatan senjata di Gaza

    Israel baru akan menerima kesepakatan gencatan senjata hingga Hamas mundur dari apa yang disebutnya sebagai “krisis di saat-saat terakhir.”

    Kantor Netanyahu menuduh Hamas mengingkari bagian-bagian dari perjanjian itu dalam upaya “memeras konsesi di menit-menit terakhir.” Ia tidak menjelaskan lebih lanjut.

    Kabinet Israel sedianya akan meratifikasi kesepakatan tersebut pada hari Kamis.

    Sementara itu serangan Israel di seluruh Jalur Gaza tetap berlangsung hingga Rabu (15/1/2025). Akibatnya, 48 orang tewas dan beberapa orang lainnya luka-luka.

    Dalam konflik selama 15 bulan terakhir ini kedua pihak telah meningkatkan operasi militer mereka pada saat-saat terakhir sebelum berlakunya gencatan senjata, sebagai cara untuk unjuk kekuatan.

    Baca: Jalan panjang menuju kesepakatan gencatan senjata di Gaza

    Pakar pesimis gencatan senjata terwujud penuh
    Hasbi Aswar, pengamat hubungan internasional dari Universitas Islam Indonesia mengatakan gencatan senjata di Jalur Gaza itu merupakan sebuah pencapaian yang bagus.

    Gencatan senjata, menurutnya, akan memungkinkan masuknya bantuan kemanusiaan, proses rekonstruksi Gaza akan bisa dilaksanakan, dan menghentikan jatuhnya korban.

    Meski demikian Hasbi mengatakan tetap pesimis Israel akan mematuhi kesepakatan gencatan senjata ini karena Israel pada dasarnya memang tetap tidak ingin keluar dari Gaza, sementara Hamas sudah berkuasa di sana dan Israel menilai keberadaan organisasi ini sebagai ancaman.

    Israel, tambah Hasbi, ingin menciptakan pemerintahan sipil di Gaza yang tidak Islamis, yang sejalan dengan kepentingan Israel.

    Yang menjadi masalah, Israel mengajak Fatah untuk memerintah di Gaza padahal Fatah sudah sepakat dengan Hamas untuk membentuk pemerintahan persatuan nasional tersendiri.

    “Apalagi kondisi di dalam Israel khan terbelah. Ada yang ingin gencatan senjata, tapi banyak pula – terutama pendukung Netanyahu – ingin perang tetap dilanjutkan karena mereka belum betul-betul yakin Hamas itidak akan mengancam mereka,” ujarnya.

    Menurut Hasbi, ada sejumlah faktor yang bisa membuat gencatan senjata di Gaza permanen, antara lain jika ada tekanan yang kuat dari Amerika; dan tentunya tekanan di dalam negeri.

  • Gencatan Senjata Dimulai, Ribuan Aparat Keamanan Gaza Dikerahkan

    Gencatan Senjata Dimulai, Ribuan Aparat Keamanan Gaza Dikerahkan

    7cloud.asia – Ribuan aparat keamanan Gaza mulai dikerahkan di beberapa area di wilayah kantong tersebut pada Minggu (19/01/2025) menyusul berlakunya gencatan senjata dengan Israel, demikian ungkap otoritas setempat.

    Kantor media pemerintah Gaza mengatakan pengerahan tersebut berdasarkan rencana untuk menjaga keamanan dan menegakkan aturan di seluruh wilayah.

    “Kota-kota mulai kembali beroperasi dan merehabilitasi jalan-jalan, tak lama setelah gencatan senjata dimulai,” tambahnya dalam sebuah pernyataan.

    Baca: Israel belum sepenuhnya terima kesepakatan gencatan senjata

    Selain itu, kementerian dan institusi pemerintah “sudah siap sepenuhnya untuk bekerja di bawah rencana pemerintah untuk memastikan kehidupan kembali normal secepatnya.

    Namun, otoritas tetap memberi peringatan kepada warga untuk tetap waspada selama melakukan perjalanan antar wilayah di Gaza.

    Sementara itu, pemulangan para pengungsi akan dilakukan tujuh hari setelah gencatan senjata berlaku.

    Baca: RI sambut positif gencatan senjata Israel-Hamas

    Perjanjian gencatan senjata Hamas-Israel mulai berlaku pada pukul 11.15 waktu setempat (16.15 WIB) pada Minggu setelah tertunda beberapa jam karena Israel menuduh Hamas menunda merilis daftar tawanan yang akan dibebaskan.

    Awalnya, perjanjian ini dijadwalkan mulai berlaku pada pukul 8.30 waktu setempat (13.30 WIB).

    Hamas kemudian mengatakan bahwa pihaknya telah menyerahkan daftar tiga tawanan perempuan Israel yang akan dibebaskan pada Minggu.

    Sumber: Anadolu

     

  • Donald Trump Ragu Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza Dapat Bertahan

    Donald Trump Ragu Kesepakatan Gencatan Senjata di Gaza Dapat Bertahan

    7cloud.asia – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan keraguannya kesepakatan gencatan senjata di Gaza dapat bertahan.

    Namun, sebelumnya ia membanggakan upaya diplomasinya dalam mewujudkan kesepakatan gencatan senjata di Gaza menjelang pelantikannya.

    Saat ditanya oleh seorang reporter setibanya di Gedung Putih apakah kedua pihak akan menjaga gencatan senjata dan melanjutkan perjanjian tersebut di Gaza, Trump menjawab, “Saya tidak yakin.”

    “Itu bukan perang kita; itu perang mereka. Namun, saya tidak yakin,” kata Trump pada Senin (20/1/2025) waktu setempat atau Selasa waktu Indonesia.

    Namun, Trump menyatakan bahwa ia percaya Hamas telah berhasil “dilemahkan” dalam perang yang dimulai dengan serangan besar-besaran di Gaza pada 7 Oktober 2023 terhadap Israel.

    Dilansir VOA Indonesia, gencatan senjata antara Israel dan Hamas masih bertahan pada Senin (20/1/2025). Kedua pihak berada pada tahap awal jeda pertempuran selama enam pekan yang dapat mengakhiri perang yang dimulai pada Oktober 2023.

    Baca: RI tolak relokasi warga Gaza

    Sejauh ini, tiga dari 99 sandera yang ditahan militan Hamas di Gaza telah dibebaskan, dengan 30 lainnya akan dibebaskan pada tahap pertama perjanjian.

    Israel juga telah membebaskan 90 warga Palestina yang dipenjarakan dan ditahan, semuanya perempuan dan remaja, menurut Hamas. Ratusan lainnya akan menyusul dibebaskan.

    Hamas pada Senin mengatakan bahwa mereka akan membebaskan sandera yang ditahan di Gaza pada hari Sabtu (25/1) sebagai dengan imbalan pembebasan orang-orang Palestina yang dipenjarakan dan ditahan oleh Israel.

    PBB telah meningkatkan bantuan pangan yang sangat dibutuhkan ke Gaza dan mengatakan bahwa mereka berencana untuk membawa masuk 150 truk makanan setiap hari untuk membantu warga sipil Palestina yang kehidupannya porak-poranda oleh pertempuran.

    Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan mengatakan 915 truk bantuan memasuki Gaza pada hari Senin.

    Lebih dari 1,8 juta orang membutuhkan tempat penampungan darurat di Gaza, menurut PBB, yang juga memperkirakan dalam sebuah laporan tahun lalu bahwa pembangunan kembali perumahan yang hancur di wilayah tersebut dapat memakan waktu hingga tahun 2040.

    Baca: Gencatan senjata mulai diberlakukan, Israel dan Hamas Bertukar Tahanan

    Gencatan senjata dimulai sekitar Minggu tengah hari. Beberapa jam kemudian, sebuah iring-iringan Palang Merah membawa sandera Romi Gonen, Emily Damari dan Doron Steinbrecher dengan selamat kembali ke Israel.

    Pada Senin pagi, Israel membebaskan 90 orang Palestina yang dipenjarakan dan ditahannya, dengan bus-bus besar membawa mereka dari penjara Ofer Israel di luar kota Ramallah, Tepi Barat.

    Warga Palestina memadati bus-bus, bernyanyi dan bersorak-sorai, sementara kembang api untuk merayakan pembebasan itu dinyalakan.

    Gencatan senjata tersebut tercapai setelah negosiasi berbulan-bulan yang dipimpin oleh AS, Mesir, dan Qatar. Pembicaraan semakin intensif selama beberapa pekan terakhir.

    Tim dari pemerintahan Presiden AS Joe Biden yang akan segera mengakhiri masa jabatannya dan tim presiden terpilih Donald Trump mendorong tercapainya kesepakatan sebelum pelantikan Trump pada hari Senin.

    Menurut laporan media, para mediator bersiap untuk mengatasi masalah apa pun yang mungkin timbul selama gencatan senjata.

    “Kesepakatan semacam ini tidak pernah mudah dipertahankan,” kata Majed al-Ansari, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar.

  • Gencatan Senjata Berlaku di Gaza, Israel Halangi Truk Pembawa Bantuan Kemanusiaan

    Gencatan Senjata Berlaku di Gaza, Israel Halangi Truk Pembawa Bantuan Kemanusiaan

    7cloud.asia – Jumlah truk bantuan yang memasuki Jalur Gaza bagian utara sejak kesepakatan gencatan senjata baru mencapai 861 dari total 1.200 truk yang awalnya direncanakan.

    Dilansir Anadolu pada Kamis (23/1/2025), otoritas Gaza menyatakan, perbatasan Beit Hanoun (Erez) di Gaza Utara tetap ditutup dengan alasan jalanan rusak akibat pengeboman Israel.

    Sumber tersebut menyatakan, kondisi ini memerlukan intervensi untuk membuka kembali jalur tersebut sehingga semua truk pembawa bantuan bisa masuk Gaza.

    Sumber tersebut menekankan bahwa situasi kemanusiaan di Gaza Utara masih membutuhkan dukungan yang segera dan menyeluruh, termasuk pasokan bahan bakar dan kebutuhan dasar untuk membantu warga yang terdampak serangan Israel.

    Baca: Trump ragu gencatan senjata di Gaza berlaku sepenuhnya

    Ia juga menyoroti pentingnya percepatan pengiriman sisa truk bantuan guna memenuhi kebutuhan mendesak penduduk Gaza.

    Kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel menetapkan masuknya 300 truk bantuan setiap hari ke wilayah utara.

    Namun, hambatan dari pihak Israel telah menghalangi implementasi penuh dari kesepakatan tersebut, sehingga menyebabkan kekurangan pasokan bantuan.

    Kantor Media Pemerintah di Gaza sebelumnya mengumumkan langkah-langkah untuk mengantisipasi kembalinya warga Palestina yang mengungsi dari wilayah selatan dan tengah ke Gaza City serta wilayah utara mulai Minggu mendatang.

    Baca: Tukar menukar tawanan saat gencatan senjata di Gaza

    Fase pertama gencatan senjata selama enam pekan mulai berlaku pada 19 Januari, menghentikan genosida Israel di Gaza yang telah menewaskan hampir 47.200 warga Palestina, yang sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

    Serangan Israel juga telah melukai lebih dari 111.160 orang dan menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza sejak 7 Oktober 2023.

    Kesepakatan gencatan senjata tiga tahap ini mencakup pertukaran tahanan dan stabililtas berkelanjutan, dengan tujuan mencapai gencatan senjata permanen serta penarikan pasukan Israel dari Gaza.

    Serangan Israel juga menyebabkan lebih dari 11.000 orang hilang, dengan kehancuran luas dan krisis kemanusiaan yang merenggut nyawa banyak orang tua dan anak-anak, menjadikannya salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia.

    Baca: Indonesia tolak relokasi warga dari Gaza

    Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan pada November tahun lalu untuk pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan otoritas pertahanan Yoav Gallant atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

    Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional atas perang yang dilancarkan di wilayah tersebut.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu

  • Sempat Dihambat, Akhirnya Ribuan Warga Palestina Kembali ke Gaza

    Sempat Dihambat, Akhirnya Ribuan Warga Palestina Kembali ke Gaza

    7cloud.asia – Warga Palestina mulai berdatangan kembali ke Kota Gaza pada Senin (27/1/2025) pagi, setelah berbulan-bulan tinggal di pengungsian.

    Dilaporkan VOA Indonesia, pasukan Israel membuka pos-pos pemeriksaan dan mengijinkan mereka kembali ke wilayah utara yang ditutup sejak awal perang Israel melawan Hamas.

    Puluhan ribu warga Gaza yang sebagian besar berjalan kaki, berada di jalan menuju kota Gaza yang mengalami kerusakan besar selama serangan darat dan udara Israel.

    Kota Gaza adalah salah satu dari banyak daerah yang berada di bawah perintah evakuasi Israel, sehingga mendorong warga Gaza mencari tempat yang aman di tengah perang.

    Ribuan warga Gaza terpaksa mengungsi beberapa kali dan bermukim di tenda-tenda pengungsian yang minim fasilitas.

    Baca: Hamas sebut Israel halangi pemulangan pengungsi Palestina

    Kembalinya warga Palestina ke kota Gaza berlangsung di tengah gencatan senjata antara Israel dan Hamas.

    Israel dan Hamas sepakat membebaskan beberapa sandera yang ditahan di Gaza, pembebasan tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel, dan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Perselisihan pada menit-menit terakhir mengenai lambatnya pembebasan seorang sandera Israel, menunda akses masuk tersebut

    Namun pada Senin (27/1/2025) pagi Qatar mengumumkan sebuah perjanjian telah tercapai, di mana Hamas akan membebaskan Arbel Yehoud dan dua sandera lainnya sebelum Jumat.

    Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memastikan adanya perjanjian itu dan mengatakan, tiga sandera tambahan juga akan dibebaskan hari Sabtu pekan ini.

    Baca: Israel halangi truk pembawa bantuan kemanusiaan ke Gaza

    Hamas telah memberi daftar status semua sandera yang akan dibebaskan pada tahap pertama gencatan senjata itu.

    Kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku Minggu (19/1/2025). esepakatan tersebut, yang muncul setelah berminggu-minggu negosiasi yang melelahkan di ibu kota Qatar.

    Dalam perundingan Kelompok Hamas menjanjikan pembebasan secara bertahap puluhan sandera yang mereka tahan.

    Sebaliknya, Isarel membebaskan ratusan tahanan Palestina di Israel dan akan memungkinkan ratusan ribu orang terlantar di Gaza untuk kembali ke puing-puing rumah mereka.

    Kesepakatan gencatan senjata di Gaza ini disusun dalam tiga fase. Fase pertama akan berlangsung selama enam minggu.

  • Israel Tarik Mundur Tentaranya dari Koridor Nektarim: Warga Palestina Leluasa Kembali ke Gaza Utara

    Israel Tarik Mundur Tentaranya dari Koridor Nektarim: Warga Palestina Leluasa Kembali ke Gaza Utara

    7cloud.asia – Pasukan Israel, Minggu (9/2/2025) menarik diri dari koridor Netzarim, sebidang tanah sempit yang memisahkan wilayah Gaza Utara dan Gaza Selatan.

    Penarikan pasukan Israel dari Netzarim ini dinilai sebagai sebuah terobosan baru dalam gencatan senjata Israel-Hamas yang rapuh di Gaza, dan memungkinkan lebih banyak warga Palestina untuk kembali ke Gaza utara tempat mereka pernah tinggal.

    Meski demikian, sebagian besar wilayah di Gaza utara telah hancur oleh pertempuran selama 15 bulan agresi Israel.

    Mobil-mobil yang penuh dengan barang-barang, termasuk tangki air dan koper, terlihat menuju ke utara melalui jalan yang melintasi jalur Netzarim sepanjang enam kilometer.

    Di bawah gencatan senjata itu, Israel diharuskan membiarkan mobil-mobil itu melintas tanpa pemeriksaan, dan tidak ada pasukan di sekitar jalan tersebut.

    Baca: Butuh lebih banyak jalur evakuasi dari daerah kantong Gaza

    Juru bicara Hamas Abdel Latif Al-Qanoua mengatakan bahwa penarikan tersebut menunjukkan bahwa Hamas telah “memaksa musuh untuk tunduk pada tuntutan” dan bahwa hal tersebut menggagalkan ilusi Perdana Menteri Israel Benjamin “Netanyahu untuk mencapai kemenangan total.”

    Para pejabat Israel tidak mengungkapkan berapa banyak tentara yang mundur atau ke mana.

    Tentara saat ini masih berada di sepanjang perbatasan Gaza dengan Israel dan Mesir dan penarikan penuh diperkirakan akan dirundingkan pada tahap selanjutnya dari gencatan senjata semula selama 42 hari yang akan diperpanjang hingga awal Maret 2025

    Namun hampir tidak ada kemajuan yang dicapai dalam menegosiasikan perpanjangan gencatan senjata, yang seharusnya mengarah pada pembebasan lebih banyak sandera yang ditahan oleh Hamas dan para tahanan Palestina yang dipenjara di Israel.

    Baca: Konsekuensi pelarangan operasional UNRWA di Gaza

    Netanyahu mengirimkan sebuah delegasi ke Qatar, mediator utama dalam pembicaraan antara kedua belah pihak, namun misi tersebut juga mencakup para pejabat tingkat rendah.

    Pemimpin Israel tersebut juga diperkirakan akan mengadakan pertemuan dengan para menteri utama Kabinet minggu ini untuk membahas gencatan senjata tahap kedua, yang perpanjangannya tidak dijamin.

    Secara terpisah pada hari Minggu, kementerian kesehatan Palestina mengatakan bahwa dua perempuan berusia 20-an, termasuk seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, tewas oleh tembakan Israel di Tepi Barat yang diduduki Israel.

    Dalam beberapa waktu terakhir, saat dijalankan gencatan senjata di Gaza, pasukan Israel telah melakukan operasi besar-besaran di Tepi Barat.

  • Menakar Kemungkinan Perpanjangan Gencatan Senjata di Gaza

    Menakar Kemungkinan Perpanjangan Gencatan Senjata di Gaza

    7cloud.asia – Sejak 19 Januari 2025 lalu Kelompok Hamas dan Israel sepakat menjalankan gencatan senjata di Gaza. Dan, saat ini sedang berlangsung perundingan kesepakatan gencatan senjata selanjutnya.

    Selama fase enam minggu pertama gencatan senjata, Hamas secara bertahap membebaskan 33 sandera Israel yang ditangkap dalam serangan 7 Oktober 2023 kepada Israel.

    Sebagai imbalan jeda pertempuran, Israel membebaskan ratusan tahanan Palestina, dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Kesepakatan tersebut juga menetapkan bahwa pasukan Israel akan mundur dari daerah berpenduduk di Gaza serta koridor Netzarim.

    Pada tahap kedua, semua sandera yang masih hidup akan dibebaskan sebagai imbalan atas penarikan mundur Israel sepenuhnya dari Gaza dan sebuah “ketenangan yang berkesinambungan.”

    Baca: Saat gencatan senjata, Israel intensifkan operasi militer ke Tepi Barat

    Namun rincian perjanjian gencatan senjata tahap kedua antara Israel-Hamas ini masih belum jelas dan belum dinegosiasikan.

    Perjanjian gencatan senjata tersebut makin kacau pekan lalu, saat Presiden AS Donald Trump, kembali menyerukan pengambilalihan Gaza oleh AS di akhir perang.

    Trump yang berdiri di samping Netanyahu dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih, kemudian menyatakan bahwa Israel akan menyerahkan wilayah di sepanjang Laut Tengah itu.

    Hamas, negara-negara Arab, mengecam proposal tersebut, meskipun Netanyahu memuji proposal tersebut sebagai sebuah terobosan potensial yang dapat mengubah keadaan, mengarah pada perdamaian Timur Tengah.

    Baca: Rencana Donald Trump ambil alih Gaza tuai penolakan

    Namun Netanyahu berada di bawah tekanan besar dari sekutu politik sayap kanannya untuk melanjutkan perang setelah tahap pertama, sehingga Hamas, yang melakukan serangan paling mematikan terhadap warga Israel dalam sejarah mereka, dapat dikalahkan.

    Dia juga menghadapi tekanan dari warga Israel yang sangat ingin melihat lebih banyak sandera kembali ke rumah dan ingin gencatan senjata terus berlanjut.

    Desakan ini menguat, terutama setelah warga Israel menyaksikan kondisi tiga tawanan laki-laki yang dibebaskan pada hari Sabtu (9/2/2025) yang sangat mengejutkan negara itu.

    Perang di Gaza dipicu oleh serangan Hamas pada Oktober 2023 terhadap Israel yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan penangkapan 250 sandera.

    Baca: Butuh lebih banyak jalur evakuasi dari daerah kantong Gaza

    Serangan balasan Israel menewaskan lebih dari 48.000 warga Palestina, lebih dari separuhnya adalah perempuan dan anak-anak, menurut otoritas kesehatan setempat.

    Israel mengatakan bahwa jumlah korban tewas termasuk 17.000 militan yang telah mereka bunuh.

    Hamas, yang oleh pemerintah AS ditetapkan sebagai kelompok teror membebaskan tiga sandera Israel lagi pada hari Sabtu (9/2/2025).

    Sementara Israel menanggapi dengan membebaskan 183 tahanan Palestina dalam pertukaran sandera kelima sejak gencatan senjata berlaku bulan lalu.

  • Israel Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata, Hamas Tunda Pembebasan Sandera

    Israel Langgar Kesepakatan Gencatan Senjata, Hamas Tunda Pembebasan Sandera

    7cloud.asia – Kelompok Hamas, Senin (10/2/2025) mengumumkan pihaknya akan menangguhkan pertukaran sandera dan tahanan berikutnya hingga waktu yang belum ditentukan.

    Langkah Hamas ini dilakukan setelah Israel dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan kelompok tersebut.

    Pembebasan para sandera Israel oleh Hamas dijadwalkan akan dilakukan pada Sabtu mendatang, 15 Februari 2025 pekan ini

    “Akan ditunda hingga pemberitahuan lebih lanjut, sambil menunggu kepatuhan (otoritas) pendudukan dan pemenuhan kewajiban minggu-minggu sebelumnya secara retroaktif,” ungkap Abu Ubaida, juru bicara Brigade Ezzedine al-Qassam, melalui pernyataan tertulis.

    “Kami menegaskan kembali komitmen kami terhadap ketentuan perjanjian selama (otoritas) pendudukan mematuhinya,” tambahnya, merujuk pada Israel.

    Baca: Menakar kemungkinan perpanjangan gencatan senjata di Gaza

    Menteri pertahanan Israel, Israel Katz, Senin (10/2/2025) menyebut pengumuman Hamas sebagai “pelanggaran penuh” kesepakatan gencatan senjata.

    Pengumuman Hamas untuk menghentikan pembebasan sandera Israel merupakan pelanggaran penuh kesepakatan gencatan senjata dan kesepakatan pembebasan sandera.

    “Saya telah memerintahkan (militer) IDF untuk bersiap pada tingkat kewaspadaan tertinggi untuk segala kemungkinan skenario di Gaza,” urai Katz melalui pernyataan tertulis.

    Berdasarkan ketentuan kesepakatan gencatan senjata antara Hamas dan Israel, di mana fase pertama dimulai sejak 19 Januari 2025, sebanyak 33 sandera Israel akan dibebaskan.

    Sebagai gantinya Israel akan membebaskan sekitar 1.900 tahanan, yang sebagian besarnya merupakan warga Palestina, yang ditahan di penjara-penjara Israel.

     

    Baca: Di tengah gencatan senjata, Israel justru intensifkan serangan ke Tepi Barat

    Pada Sabtu (8/2/2025), mereka menyelesaikan pertukaran sandera-tahanan kelima, yang mempertukarkan tiga sandera Israel dengan 183 tahanan Palestina.

    Dengan kembalinya mereka, 73 dari 251 sandera yang ditawan Hamas dalam serangan 7 Oktober 2023 kini masih berada di Gaza, termasuk 34 orang yang menurut militer Israel telah tewas.

    Melalui pernyataannya, Hamas mengatakan bahwa mereka telah “memantau dengan saksama pelanggaran dan kegagalan Israel untuk mematuhi ketentuan kesepakatan selama tiga minggu terakhir.”

    (Pelanggaran) ini termasuk menunda kembalinya para pengungsi ke Gaza utara, menyasar mereka dengan serangan artileri dan tembakan di berbagai daerah di Jalur Gaza.

    ”Israel juga tidak mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam segala bentuk seperti yang telah disepakati,” tambahnya, sambil menegaskan bahwa Hamas telah “memenuhi kewajibannya”.

    Baca: Ratusan ribu warga Palestina kembali ke Gaza Utara

    Pro dan Kontra Relokasi Warga Gaza
    Di Washington pada Senin (10/2/2025) Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan mengusulkan pembatalan perjanjian gencatan senjata jika semua sandera yang tersisa yang ditahan di Gaza tidak dibebaskan sampai Sabtu siang.

    Dan ia mungkin menahan bantuan ke Yordania dan Mesir jika mereka tidak menerima pengungsi Palestina yang dipindahkan dari Gaza.

    Sejak gencatan senjata berlaku bulan lalu, Hamas telah membebaskan 21 sandera sedangkan Israel telah membebaskan lebih dari 730 tahanan.

    Trump telah mengusulkan untuk memindahkan warga Palestina di Gaza ke lokasi yang tidak ditentukan di luar wilayah itu. Berdasarkan rencananya untuk daerah kantong itu, mereka tidak akan memiliki hak untuk kembali.

    Dalam wawancara dengan Fox News yang dirilis Senin, ia menyebut rencananya untuk wilayah sempit di pesisir Laut Tengah itu sebagai “pembangunan real estat untuk masa depan.”

  • PBB: Gencatan Senjata di Gaza Harus Tetap Ditegakkan

    PBB: Gencatan Senjata di Gaza Harus Tetap Ditegakkan

    7cloud.asia – Wakil Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Farhan Haq dalam konferensi pers pada Selasa (11/2/2025) menekankan bahwa gencatan senjata antara Israel dan Hamas harus ditegakkan.

    Pernyataan Haq muncul setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengancam akan mundur dari gencatan senjata di Gaza yang mulai diterapkan pada 19 Januari lalu.

    Ia memerintahkan pasukan untuk bersiap melanjutkan pertempuran dengan Hamas jika kelompok militan itu tidak membebaskan sandera lagi pada Sabtu.

    Sebelumnya, pada Senin (10/2/2025), kelompok Hamas menyatakan — dan menegaskannya kembali pada Selasa — bahwa mereka berencana menunda pembebasan tiga sandera lagi.

    Hal ini, menurut Hamas, karena Israel gagal memenuhi persyaratan gencatan senjata, antara lain dengan tidak mengizinkan sejumlah tenda dan bantuan lain yang disepakati, masuk ke Gaza.

    Baca: Kelompok Hamas umumkan akan tunda pembebasan sandera

    Di tengah meningkatnya ketegangan, Presiden AS Donald Trump membuat Israel berani untuk menuntut pembebasan lebih banyak sandera yang tersisa pada Sabtu (15/2/2025), lebih cepat daripada jadwal yang ditetapkan dalam perjanjian gencatan senjata.

    Pembicaraan tentang apa yang harus dilakukan dengan populasi pengungsi Gaza muncul sementara Raja Yordania Abdullah II mengunjungi Gedung Putih pada Selasa (11/2/2025)

    Dalam pertemuannya dengan Raja Abdullah, Trump kembali melontarkan gagasan agar negara-negara Arab menerima pengungsi Palestina.

    Berulang kali ditanya tentang rencana Trump membersihkan Gaza dan mengubahnya menjadi resor di Laut Tengah, Abdullah tidak memberikan komentar substantif.

    Dia juga tidak berkomitmen pada gagasan bahwa negaranya akan menerima sejumlah besar pengungsi baru dari Gaza.

    Baca: Menakar kemungkinan perpanjangan gencatan senjata di Gaza

    Selain kekhawatiran akan membahayakan tujuan lama solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina, Mesir dan Yordania secara pribadi telah menyuarakan keprihatinan akan keamanan jika menerima sejumlah besar tambahan pengungsi ke negara mereka meskipun untuk sementara.

    Sejak 19 Januari 2025 lalu Kelompok Hamas dan Israel sepakat menjalankan gencatan senjata di Gaza. Dan, saat ini sedang berlangsung perundingan kesepakatan gencatan senjata selanjutnya.

    Selama fase enam minggu pertama gencatan senjata, Hamas secara bertahap membebaskan 33 sandera Israel yang ditangkap dalam serangan 7 Oktober 2023 kepada Israel.

    Sebagai imbalan jeda pertempuran, Israel membebaskan ratusan tahanan Palestina, dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.

    Kesepakatan tersebut juga menetapkan bahwa pasukan Israel akan mundur dari daerah berpenduduk di Gaza serta koridor Netzarim.