7cloud.asia – Sejak 19 Januari 2025 lalu Kelompok Hamas dan Israel sepakat menjalankan gencatan senjata di Gaza. Dan, saat ini sedang berlangsung perundingan kesepakatan gencatan senjata selanjutnya.
Selama fase enam minggu pertama gencatan senjata, Hamas secara bertahap membebaskan 33 sandera Israel yang ditangkap dalam serangan 7 Oktober 2023 kepada Israel.
Sebagai imbalan jeda pertempuran, Israel membebaskan ratusan tahanan Palestina, dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Kesepakatan tersebut juga menetapkan bahwa pasukan Israel akan mundur dari daerah berpenduduk di Gaza serta koridor Netzarim.
Pada tahap kedua, semua sandera yang masih hidup akan dibebaskan sebagai imbalan atas penarikan mundur Israel sepenuhnya dari Gaza dan sebuah “ketenangan yang berkesinambungan.”
Baca: Saat gencatan senjata, Israel intensifkan operasi militer ke Tepi Barat
Namun rincian perjanjian gencatan senjata tahap kedua antara Israel-Hamas ini masih belum jelas dan belum dinegosiasikan.
Perjanjian gencatan senjata tersebut makin kacau pekan lalu, saat Presiden AS Donald Trump, kembali menyerukan pengambilalihan Gaza oleh AS di akhir perang.
Trump yang berdiri di samping Netanyahu dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih, kemudian menyatakan bahwa Israel akan menyerahkan wilayah di sepanjang Laut Tengah itu.
Hamas, negara-negara Arab, mengecam proposal tersebut, meskipun Netanyahu memuji proposal tersebut sebagai sebuah terobosan potensial yang dapat mengubah keadaan, mengarah pada perdamaian Timur Tengah.
Baca: Rencana Donald Trump ambil alih Gaza tuai penolakan
Namun Netanyahu berada di bawah tekanan besar dari sekutu politik sayap kanannya untuk melanjutkan perang setelah tahap pertama, sehingga Hamas, yang melakukan serangan paling mematikan terhadap warga Israel dalam sejarah mereka, dapat dikalahkan.
Dia juga menghadapi tekanan dari warga Israel yang sangat ingin melihat lebih banyak sandera kembali ke rumah dan ingin gencatan senjata terus berlanjut.
Desakan ini menguat, terutama setelah warga Israel menyaksikan kondisi tiga tawanan laki-laki yang dibebaskan pada hari Sabtu (9/2/2025) yang sangat mengejutkan negara itu.
Perang di Gaza dipicu oleh serangan Hamas pada Oktober 2023 terhadap Israel yang menewaskan 1.200 orang dan menyebabkan penangkapan 250 sandera.
Baca: Butuh lebih banyak jalur evakuasi dari daerah kantong Gaza
Serangan balasan Israel menewaskan lebih dari 48.000 warga Palestina, lebih dari separuhnya adalah perempuan dan anak-anak, menurut otoritas kesehatan setempat.
Israel mengatakan bahwa jumlah korban tewas termasuk 17.000 militan yang telah mereka bunuh.
Hamas, yang oleh pemerintah AS ditetapkan sebagai kelompok teror membebaskan tiga sandera Israel lagi pada hari Sabtu (9/2/2025).
Sementara Israel menanggapi dengan membebaskan 183 tahanan Palestina dalam pertukaran sandera kelima sejak gencatan senjata berlaku bulan lalu.

Leave a Reply