Tag: plastik

  • Kenali 4 Jenis Plastik yang Dapat Didaur Ulang

    Kenali 4 Jenis Plastik yang Dapat Didaur Ulang

    7cloud.asia – Meski tergolong sebagai bahan yang sangat praktis, efisien, dan murah, plastik juga merupakan salah satu masalah terbesar bagi kelestarian lingkungan hidup kita.

    Dalam beberapa dekade terakhir, produksi plastik meroket di mana masyarakat dunia menggunakan plastik 20 kali lebih banyak daripada 50 tahun yang lalu.

    Masalahnya, lebih dari 90 persen sampah plastik berakhir di tempat pembuangan sampah dan masuk ke perairan laut, yang memicu sejumlah besar masalah bagi lingkungan.

    Belakangan, masyarakat dunia didorong untuk mendaur ulang plastik sebagai upaya untuk mengurangi sampah, seperti halnya mencari alternatif yang ramah lingkungan.

    Untuk menumbuhkan kesadaran cara menangani dan membuang plastik setelah digunakan sangat penting dalam mengurangi masalah plastik, kini para produsen menyertakan simbol daur ulang yang dicetak pada produk dan bahan plastik.

    Ada tujuh angka untuk menggolongkan plastik, tetapi yang menarik, angka-angka tersebut tidak sesuai dengan kemampuan plastik untuk didaur ulang. Dan, tak semua jenis plastik dapat didaur ulang.

    Baca: Cara mengurai sampah plastik dengan manfaatkan katalis dan kelembapan udara

    Lantas, plastik apa saja yang dapat didaur ulang? Berikut daftarnya seperti dikutip dari earth.org.

    Polyethylene terephthalate (PET)
    Plastik yang paling umum digunakan untuk kemasan sekali pakai untuk makanan dan minuman adalah PET () – lihat simbol daur ulang #1. Plastik ini kuat, ringan, dan murah untuk diproduksi oleh produsen.

    Dan dapat didaur ulang sepenuhnya. PET adalah plastik yang paling banyak didaur ulang di seluruh dunia dengan lebih dari 1,5 miliar pon plastik PET dikumpulkan dan didaur ulang di AS setiap tahun.

    PET dapat didaur ulang melalui pencucian dan peleburan ulang, dan berisiko rendah terhadap produk yang terurai. Saat ini, tingkat daur ulang PET di Eropa sekitar 52 persen sementara di AS sebesar 31 persen.

    PET daur ulang sering ditemukan dalam botol baru, pakaian seperti bulu polar, karpet, dan kantong tidur.

    High density polietilena (HDPE)
    Kependekan dari polietilena densitas tinggi, HPDE adalah plastik yang lebih kuat dan lebih berat yang tahan terhadap bahan kimia korosif.

    Baca: Indonesia jadi pioner pengolahan sampah plastik dengan teknologi radiasi

    Ini adalah plastik yang populer untuk pembotolan susu, deterjen, pemutih, dan sampo. Plastik ini juga sering ditemukan dalam kantong plastik. HPDE dapat didaur ulang, tetapi selalu tanyakan kepada otoritas setempat.

    Sekitar 12% dari semua kantong plastik dan 28% botol air dan susu didaur ulang di Inggris. HDPE daur ulang sering ditemukan dalam pipa, ubin lantai, lembaran dan plastik film, dan bahkan peti.

    Low Density polietilena (LDPE)
    Sama seperti HDPE, polietilena dengan kepadatan lebih rendah, atau LDPE tidak diterima secara luas dalam sebagian besar program tetapi dapat didaur ulang tergantung pada otoritas setempat.

    Ini adalah plastik keras fleksibel yang ditemukan dalam botol pencet seperti pasta gigi dan kantong roti. LDPE sering menerima kehidupan kedua sebagai pelapis tempat sampah.

    Polipropilena (PP)
    Polipropilena adalah plastik yang dapat didaur ulang dan telah diterima secara luas dalam program daur ulang.

    Karena titik lelehnya yang tinggi, PP sering digunakan sebagai wadah untuk cairan yang lebih hangat dan kemasan yang populer untuk yoghurt dan obat-obatan.

    Pastikan untuk membuang sisa makanan dan cairan sebelum didaur ulang. Anda akan menemukan PP daur ulang berakhir di sapu, sikat, dan baki plastik.

    Baca: Perkembangan pengolahan sampah plastik dengan teknologi radiasi

     

  • Mengenal PVC dan Polistirena: Jenis Plastik yang Tak Dapat Didaur Ulang

    Mengenal PVC dan Polistirena: Jenis Plastik yang Tak Dapat Didaur Ulang

    7cloud.asia – Plastik yang merupakan produk turunan dari minyak bumi tergolong sebagai bahan yang serba guna, sangat praktis, efisien, dan murah.

    Namun, sampah plastik juga merupakan salah satu sumber masalah terbesar bagi kelestarian lingkungan hidup.

    Dalam beberapa dekade terakhir, produksi plastik meroket di mana masyarakat dunia menggunakan plastik 20 kali lebih banyak daripada 50 tahun yang lalu.

    Masalahnya, lebih dari 90 persen sampah plastik berakhir di tempat pembuangan sampah dan masuk ke perairan laut, yang memicu sederet masalah bagi lingkungan.

    Belakangan, masyarakat dunia didorong untuk mendaur ulang plastik sebagai upaya untuk mengurangi sampah, seperti halnya mencari alternatif yang ramah lingkungan.

    Baca: Empat jenis plastik yang dapat didaur ulang

    Sebelum didaur ulang, plastik disortir berdasarkan jenis polimer, baik oleh konsumen maupun oleh pabrik daur ulang untuk memastikan semua kontaminan telah dihilangkan.

    Setelah disortir dan dibersihkan, plastik dapat dicacah atau dicairkan menjadi pelet sebelum akhirnya dicetak menjadi produk baru.

    Ada tujuh angka untuk menggolongkan plastik, tetapi yang menarik, angka-angka tersebut tidak sesuai dengan kemampuan plastik untuk didaur ulang.

    Yang pasti, kemasan atau bahan plastik apa pun yang memiliki simbol #7 dan “Lainnya” tidak termasuk dalam kategori plastik dapat didaur ulang.

    Ini sering kali termasuk polikarbonat (yang mengandung BPA) dan PLA (asam polilaktat). Lantas, plastik apa saja yang tidak dapat didaur ulang? Berikut daftarnya seperti dikutip dari earth.org.

    Baca: Mengurai sampah plastik dengan memanfaatkan katalis dan kelembapan udara

    Polivinil klorida (PVC)
    Polivinil klorida dan vinil tidak dapat didaur ulang karena klorin melepaskan bahan beracun dan larut dalam proses daur ulang.

    Karena merupakan plastik yang lebih kuat dan tahan lama, PVC biasanya digunakan dalam plastik pembungkus, selang, dan sebagian besar botol sampo dan minyak goreng.

    Polistirena (PS)
    Yang paling dikenal sebagai Styrofoam, plastik polistirena adalah salah satu pencemar plastik terburuk.

    Meskipun banyak perusahaan telah beralih ke plastik yang dapat terurai secara hayati, sebagian besar wadah dan kemasan makanan masih menggunakan polistirena, yang tidak dapat didaur ulang.

    PS juga digunakan untuk insulasi, kacang pengemas, dan bahan berbusa apa pun. Jadi, sebaiknya hindari penggunaan produk apa pun yang terbuat dari polietilena.

    Baca: Indonesia jadi pioner pengolahan sampah plastik dengan teknologi radiasi

  • UNEP Ingatkan INC5.2 Harus Lahirkan Perjanjian Pembatasan Plastik Global

    UNEP Ingatkan INC5.2 Harus Lahirkan Perjanjian Pembatasan Plastik Global

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (UNEP) Inger Andersen mengingatkan, perundingan antar negara dalam Intergovernmental Negotiating Committee (INC) 5.2 yang akan diselenggarakan tahun ini menjadi peluang untuk memperkuat komitmen global dalam mencari solusi terkait polusi plastik.

    Berbicara di pertemuan tingkat menteri Intergovernmental Negotiating Committee (INC) on Plastic Pollution Ministerial pada Kamis (1/5/2025) di Genewa, Inger mengingatkan masyarakat dunia untuk segera mewujudkan instrumen yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik.

    Inger mengingatkan kepada para menteri yang hadir, bahwa undangan UNEP untuk datang ke INC 5.2 guna membantu menyelesaikan pokok-pokok negosiasi yang rumit.

    Perjanjian tersebut harus mengarah pada penghapusan polusi plastik, termasuk di lingkungan laut, dan memicu transisi yang adil bagi semua, termasuk para pemulung.

    “Karena ini adalah proses yang dipimpin oleh anggota, dan kita di sini hari ini untuk mendengarkan sudut pandang nasional tentang perbedaan dan kemungkinan konvergensi, saya tidak akan membahas secara rinci tiga pasal yang memerlukan kerja lebih lanjut,“ ujar Inger seperti dilansir di lamanvresmi UNEP.

    Inger menyebut adanya tiga isu yang memerlukan kerja keras untuk tercapainya ksepekatan, yaitu zat aditif dalam produk plastik, produksi dan konsumsi berkelanjutan serta pembiayaan, termasuk mekanisme keuangan dan penyelarasan arus keuangan.

    Lebih lanjut Inger memaparkan apa yang harus dilakukan perjanjian yang diharapkan dihasilkan dari INC 5.2 mendatang.

    “Dengan mempertimbangkan sains, tugas perjanjian ini adalah untuk memicu perubahan besar dalam menghentikan polusi plastik, ujarnya.

    Dunia, lanjutnya, perlu memikirkan kembali, menolak, mengurangi, menggunakan kembali, mendaur ulang, dan mengisi ulang – dengan fokus nyata pada plastik yang berakhir di lingkungan, khususnya plastik sekali pakai dan berumur pendek.
    Dia menegaskan penggunaan kembali atau guna ulang dapat menghindari pemborosan dan menghemat sumber daya yang berharga.

    Inger menekankan pentingnya kebijakan tentang Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas dan target daur ulang.

    “Kita memerlukan peningkatan transparansi, keterlacakan, dan pengungkapan (terkait produksi plastik, red),“ tandasnya.

    Masyarakat dunia perlu berinvestasi dalam pengelolaan limbah yang ramah lingkungan dan pembersihan sampah plastik masa lalu dan perlu menyediakan pendanaan untukitu.

    Di sini kita memerlukan pendanaan, transfer teknologi, dan pengembangan kapasitas – semua sarana pendukung implementasi.

    “Dan, yang relevan dengan pertemuan Konferensi Para Pihak dari Konvensi Basel, Rotterdam, dan Stockholm ini, kita perlu berpikir inovatif tentang bahan tambahan kimia dalam produk plastik, yang memiliki risiko kesehatan – yang sangat penting bagi desain produk plastik,“ ujarnya.

    Masyarakat global, menurut Inger, sudah semakin dekat pada lahirnya perjanjian terkait polusi plastik. Namun, dorongan besar tetap dibutuhkan agar perjanjian tersebut dapat diwujudkan.

    Selama tiga bulan ke depan, ujarnya, masyarakat global perlu membangun momentum di tingkat politik tertinggi dan bersatu di bawah payung besar dan menyelesaikan perbedaan dalam tiga area yang luar biasa.

    Dan, di INC-5.2, UNEP berharap dunia dapat mewujudkan visi resolusi UNEA, dan menyetujui instrumen yang menandai berakhirnya produksi plastik

  • Plastik Biodegradable: Solusi atau Ilusi Ramah Lingkungan?

    Plastik Biodegradable: Solusi atau Ilusi Ramah Lingkungan?

    7cloud.asia – Pernah berbelanja dan mendapati kantong plastik bertuliskan ‘bioplastik’, plastik ‘biodegradable’, ‘ramah lingkungan’, atau ‘pasti terurai’?

    Memakai kantong plastik dengan label-label biodegradable dan lain-lain itu mungkin selintas membuat kamu berpikir sudah membuat pilihan yang lebih baik bagi Bumi. Namun, pernahkah kamu berpikir apakah klaim tersebut benar adanya?

    Riset membuktikan, plastik dengan label biodegradable sekalipun ternyata tidak bisa hancur secara keseluruhan dengan sendirinya di lingkungan terbuka.

    Apa itu plastik biodegradable? Plastik biodegradable umumnya didefinsikan sebagai jenis plastik yang bisa diurai oleh mikroorganisme menjadi air, karbon dioksida, dan biomassa. Plastik biodegradable terbagi menjadi dua kelompok, yakni:

    Plastik yang terbuat dari bahan polimer alami atau bioplastik, seperti plastik olahan pati singkong, polylactic acid (PLA) dari pati jagung, dan polyhydroxyalkanoates (PHA) yang diproduksi oleh mikroba.

    Plastik sintetis seperti oxo-biodegradable, yang diberi tambahan zat pro-oksidan agar lebih mudah terurai saat terkena panas atau terpapar sinar matahari.

    Baca: Apakah bioplastik benar-benar ramah lingkungan?

    Kemampuan kedua jenis plastik ini untuk terurai sangat bergantung pada jenis bahan dan lingkungan tempat plastik itu dibuang.

    Contohnya, plastik berbahan PLA yang sering digunakan untuk alat makan sekali pakai, hanya bisa terurai secara optimal di fasilitas industri, dengan suhu tinggi di atas 58°C dan juga butuh mikroorganisme khusus untuk mengurainya.

    Dengan kata lain, jika plastik tersebut masuk tempat pembuangan biasa, maka nasibnya akan sama saja dengan sampah plastik biasa yang sulit terurai.

    Sementara untuk jenis bioplastik berbasis pati singkong, penelitian kami yang dipublikasikan pada 2022 silam menunjukkan bahwa plastik tersebut bisa menyusut hingga 74 persen saat dikubur di tanah kompos selama 120 hari.

    Namun, butuh penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah jenis bioplastik ini memang bisa terurai sepenuhnya dalam jangka waktu tertentu, dan apakah ada potensi dampak lingkungan lebih lanjut.

    Baca: Lakukan hal ini saat membeli bioplastik

    Plastik sintetis seperti oxo-biodegradable lebih sulit lagi. Studi lain yang terbit di jurnal American Chemical Society menunjukkan, sebuah kantong plastik yang dilabel oxo-biodegradable masih tampak utuh setelah tiga tahun dikubur di tanah.

    Plastik biodegradable tetap menjadi limbah
    Pada akhirnya, plastik biodegradabel, baik bioplastik maupun oxo-biodegradable tetap dapat menghasilkan limbah, sama dengan plastik konvensional.

    Limbah ini bisa berbentuk nanoplastik, dan bahkan dalam beberapa kasus menghasilkan mikroplastik lebih banyak dibandingkan dengan plastik biasa.

    Sebuah studi yang terbit pada 2024 lalu membandingkan pembentukan mikroplastik dari plastik konvensional dan bioplastik pada saat penguraian dalam air.

    Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata mikroplastik justru lebih banyak terbentuk dari bioplastik, sebab kemampuannya untuk terurai dalam air sangat rendah. Di perairan, bioplastik akan mengapung atau mengendap di badan air menjadi sedimen.

    Baca: Bioplastik berbahan bonggol jagung

    Sama seperti sampah plastik biasa, plastik biodegradabel juga mengandung berbagai zat aditif atau bahan tambahan untuk meningkatkan kualitas produknya.

    Bahan kimia itu seperti plasticizer (pelembut), flame retardant (penahan api), antioksidan, agen hidrofobik atau zat anti-air dan senyawa kimia berbahaya lainnya.

    Pada saat plastik tersebut terurai, zat aditif tersebut ikut terlepas ke lingkungan dan berpotensi membahayakan kesehatan.

    Penelitian terbaru pada tikus menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap bioplastik berbahan dasar pati misalnya, bisa menyebabkan gangguan metabolisme, seperti resistensi insulin dan gangguan dalam pengolahan lemak tubuh.

    Jadi, bisa dikatakan mengurangi plastik adalah opsi terbaik ketimbang menggunakan plastik biodegradabel.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Watumesa A. Tan
    (Associate Professor in Biotechnology, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya) dan Dian Burhani (Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)

  • Ketimbang Beralih ke Plastik Biodegradable Lebih Baik Kurangi Produksi Plastik

    Ketimbang Beralih ke Plastik Biodegradable Lebih Baik Kurangi Produksi Plastik

    7cloud.asia – Meski diklaim ramah lingkungan, plastik biodegradabel, baik bioplastik maupun oxo-biodegradable tetap dapat menghasilkan limbah, sama dengan plastik konvensional.

    Limbah ini bisa berbentuk nanoplastik, dan bahkan dalam beberapa kasus menghasilkan mikroplastik lebih banyak dibandingkan dengan plastik biasa.

    Sebuah studi yang terbit pada 2024 lalu membandingkan pembentukan mikroplastik dari plastik konvensional dan bioplastik pada saat penguraian dalam air.

    Hasilnya cukup mengejutkan, karena ternyata mikroplastik justru lebih banyak terbentuk dari bioplastik, sebab kemampuannya untuk terurai dalam air sangat rendah.

    Di perairan, bioplastik akan mengapung atau mengendap di badan air menjadi sedimen.

    Sama seperti sampah plastik biasa, plastik biodegradable juga mengandung berbagai zat aditif atau bahan tambahan untuk meningkatkan kualitas produknya.

    Baca: Apakah bioplastik benar-benar ramah lingkungan

    Bahan-bahan itu seperti plasticizer (pelembut), flame retardant (penahan api), antioksidan, agen hidrofobik atau zat anti-air dan senyawa kimia berbahaya lainnya.

    Pada saat plastik tersebut terurai, zat aditif tersebut ikut terlepas ke lingkungan dan berpotensi membahayakan kesehatan.

    Penelitian terbaru pada tikus menunjukkan bahwa paparan jangka panjang terhadap bioplastik berbahan dasar pati misalnya, bisa menyebabkan gangguan metabolisme, seperti resistensi insulin dan gangguan dalam pengolahan lemak tubuh.

    Jadi, bisa dikatakan mengurangi plastik adalah opsi terbaik ketimbang menggunakan plastik biodegradabel.

    Jika melihat fakta-fakta di atas, maka kantong plastik biodegradabel, baik bioplastik maupun oxo-biodegradable, tidak bisa disebut sebagai alternatif solusi mengatasi polusi plastik.

    Akar masalah plastik harus dilihat dari seluruh aspek—mulai dari bahan baku sampai limbah akhirnya.

    Baca: Plastik biodegradable disebut ilusi ramah lingkungan

    Bioplastik, meski bebas dari bahan baku petrokimia seperti minyak bumi atau gas alam misalnya, bahan bakunya tetap berasal dari bahan alami seperti pati jagung atau singkong yang berpotensi menyebabkan persaingan dengan pangan serta membuka lahan.

    Plastik biodegradabel, baik bioplastik maupun oxo-biodegradable, juga masih bisa menghasilkan limbah, dengan sejumlah senyawa yang bisa mencemari lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan.

    Jadi, selama belum ada sistem pengolahan limbah plastik biodegradable yang tepat, langkah paling ramah lingkungan adalah mengurangi penggunaan plastik, terutama plastik sekali pakai.

    Dalam hal ini, bukan hanya kesadaran konsumen akan sampah plastik yang dibutuhkan. Lebih penting lagi, sejak dari hilir, pemerintah harus segera membatasi produksi dan menetapkan kuota maksimum per tahun untuk plastik murni.

    Kuota maksimum produksi plastik murni ini ditetapkan dengan melakukan kajian yang mempertimbangkan kebutuhan plastik nasional, material footprint, dan kesiapan teknologi pengolahan limbah plastik.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis: Watumesa A. Tan
    (Associate Professor in Biotechnology, Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya) dan Dian Burhani (Researcher, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)

     

  • Menunggu Kabar Baik dari Perundingan Plastik di Jenewa: Akankah Ada Pembatasan Produksi Plastik Global?

    Menunggu Kabar Baik dari Perundingan Plastik di Jenewa: Akankah Ada Pembatasan Produksi Plastik Global?

    7cloud.asia – Program Lingkungan PBB (UNEP) mengingatkan, jika tak ada perjanjian internasional yang disepakati bersama, sampah plastik diproyeksikan akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2060.

    Ledakan sampah plastik ini akan menyebabkan kerusakan yang signifikan, baik pada lingkungan maupun terhadap kesehatan manusia.

    UNEP telah memfasilitasi perundingan internasional terkait penanganan sampah plastik, yang dihelat di Jenewa, Swiss pada 5 hingga 14 Agustus 2025. Perundingan ini merupakan lanjutan dari serangkaian perundingan yang dimulai pada tahun 2022.

    Saat itu, negara-negara anggota sepakat untuk mengembangkan instrumen internasional yang mengikat guna mengakhiri krisis polusi plastik, dalam waktu tiga tahun atau harus terealisasi tahun 2025

    “Mendaur ulang bukanlah jalan keluar dari krisis polusi plastik: Dunia membutuhkan transformasi sistemik untuk mencapai transisi menuju ekonomi sirkular,” tegas Direktur Eksekutif UNEP, Inger Andersen saat membuka perundingan plastik tersebut.

    Menurut draft yang digunakan untuk memandu perundingan Komite Negosiasi Antarpemerintah (INC) Jenewa tersebut, tujuan kesepakatan ini mencakup pengaturan seluruh siklus hidup plastik, mulai dari desain hingga produksi dan pembuangan.

    Baca: INC Jenewa diharapkan mampu mengerem produksi plastik global

    “Untuk mendorong sirkularitas plastik dan mencegah kebocoran plastik ke lingkungan,” demikian dikutip un.org.

    Draft setebal 22 halaman ini berisi 32 draf pasal yang membahas secara rinci pengelolaan siklus plastik global. Teks ini dirancang untuk membentuk instrumen masa depan dan akan berfungsi sebagai titik awal negosiasi.

    Delegasi dari 179 negara akan mempelajari teks tersebut bersama lebih dari 1.900 peserta lain dari 618 organisasi pengamat termasuk ilmuwan, pemerhati lingkungan, dan perwakilan industri.

    Tujuan utama pertemuan ini adalah untuk mencapai kesepakatan akhir mengenai pembatasan produksi plastik dunia. Tujuan yang lebih luas adalah untuk memperkuat cara-cara yang telah teruji dan terbukti untuk mengurangi polusi plastik di seluruh dunia.

    Menjelang perundingan di Jenewa, jurnal medis ternama The Lancet menerbitkan peringatan bahwa bahan-bahan yang digunakan dalam plastik menyebabkan penyakit yang luas “di setiap tahap siklus hidup plastik dan di setiap tahap kehidupan manusia”.

    Mengutip puluhan pakar kesehatan dari seluruh dunia, laporan itu menyebut bayi dan anak-anak sangat rentanvterhadap polusi plastik.

    Baca: Perjalanan panjang menuju lahirnya perjanjian plastik global

    “Plastik merupakan bahaya yang serius, terus berkembang, dan kurang disadari bagi kesehatan manusia dan planet ini” dan bertanggung jawab atas kerugian ekonomi terkait kesehatan yang melebihi 1,5 triliun dolar per tahun,” catat jurnal tersebut.

    Perundingan plastik di Jenewa ini dipimpin adalah Jyoti Mathur-Filipp, Sekretaris Eksekutif Komite Negosiasi Antarpemerintah (atau INC) tentang Polusi Plastik, dan Kepala Sekretariat INC.

    “Pada tahun 2024 saja, umat manusia diproyeksikan akan mengonsumsi lebih dari 500 juta ton plastik. Dari jumlah tersebut, 399 juta ton akan menjadi sampah,” ujarnya.

    Prakiraan terbaru menunjukkan bahwa kebocoran plastik ke lingkungan akan meningkat 50 persen pada tahun 2040.

    “Biaya kerusakan akibat polusi plastik dapat meningkat hingga mencapai 281 triliun dolar kumulatif antara tahun 2016 dan 2040,” ujarnya.

    Baca: Daur ulang tak akan mampu mengatasi ledakan polusi plastik global

  • Gagal Capai Kesepakatan, Perundingan Plastik Jenewa Diperpanjang Satu Hari

    Gagal Capai Kesepakatan, Perundingan Plastik Jenewa Diperpanjang Satu Hari

    7cloud.asia – Perundingan untuk memerangi polusi plastik global yang berlangsung di Jenewa, Swiss sejak 5 Agustus lalu diperpanjang satu hari, karena hingga hari terakhir belum dicapai kesepakatan.

    Dilansir Al Jazeera, perundingan plastik Jenewa masih berlanjut setelah negosiasi sengit di menit-menit terakhir karena puluhan negara menolak draf terbaru perjanjian plastik global.

    “Karena konsultasi atas draf teks revisi saya masih berlangsung, sidang pleno ini ditunda, yang akan diselenggarakan pada 15 Agustus 2025, pada waktu yang akan diumumkan kemudian,” ujar ketua perundingan Luis Vayas Valdivieso dalam pertemuan 185 negara di Jenewa, Kamis (14/8/2025).

    Dengan waktu yang semakin menipis untuk mencapai kesepakatan di antara 184 negara yang berkumpul di Jenewa, Valdivieso menyusun draf teks berdasarkan beberapa area konvergensi, dalam upaya untuk menemukan titik temu.

    Namun draf tersebut hanya berhasil membuat marah hampir semua pihak, dan teks tersebut langsung dicabik-cabik oleh delegasi yang hadir.

    Baca: 80 Negara dukung proposal Swiss dan Meksiko dalam mengatasi polusi plastik

    Bagi negara-negara yang menginginkan pembatasan produksi plastik secara ambisius, kesepakatan pembatasan plastik global ini hanyalah dokumen kosong tanpa tindakan berani seperti mengekang produksi dan menghapus bahan-bahan beracun.

    Pasalnya, draft tersebut hanya sebatas kesepakatan dalam pengelolaan limbah plastik.

    Sementara, bagi negara produsen minyak/plastik yang dipimpin negara-negara Teluk, kesepakatan ini telah melewati terlalu banyak batasan dan tidak berbuat cukup banyak untuk mempersempit cakupan kesepakatan yang mungkin mereka setujui.

    Perundingan menuju instrumen yang mengikat secara hukum untuk mengatasi polusi plastik dibuka pada 5 Agustus dan semula dijadwalkan ditutup pada hari Kamis (14/8/2025).

    Perundingan plastik Jenewa ini upaya terbaru setelah lima putaran perundingan selama dua setengah tahun sebelumnya gagal mencapai kesepakatan.

    Baca: Posisi negara-negara di dunia dalam mengatasi polusi plastik

    Draf kesepakatan plastik yang dibuat Valdivieso tidak membatasi produksi plastik atau membahas bahan kimia yang digunakan dalam produk plastik, yang telah menjadi isu kontroversial dalam perundingan plastik Jenewa ini.

    Sekitar 100 negara ingin membatasi produksi serta menangani pembersihan dan daur ulang limbah plastik. Banyak yang mengatakan bahwa penting untuk mengatasi bahan kimia beracun.

    Blok negara-negara yang lebih besar yang menginginkan tindakan yang lebih ambisius mengecam apa yang mereka anggap sebagai kurangnya tindakan yang mengikat secara hukum.

    Sementara negara-negara penghasil minyak hanya ingin menghilangkan limbah plastik dan mengatakan bahwa draft tersebut terlalu berlebihan bagi mereka.

    Baca: Tiga isu yang menghambat Perjanjian Plastik Global

  • Pakar: Galon Guna Ulang Lebih Ramah Lingkungan

    Pakar: Galon Guna Ulang Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Galon guna ulang dinilai lebih ramah lingkungan dibanding galon sekali pakai. Dari aspek lingkungan, kemasan galon Polikarbonat (PC) lebih unggul dibandingkan galon Polyethylene Terephtalate (PET).

    “Kemasan galon PC memiliki guna ulang yang lebih panjang dibandingkan galon dari PET,” kata Dosen dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Nugraha Edhi Suyatma dalam keterangan resminya di Jakarta, Kamis (28/8/2025).

    Nugraha mengatakan galon guna ulang dari Polikarbonat tersebut tidak menghasilkan sampah karena kemasan bisa dipakai kembali sehingga mengurangi energi yang digunakan untuk mendaur ulang.

    Pernyataannya tersebut didukung oleh Kepala Klaster Kajian Pembangunan Berkelanjutan Daya Makara Universitas Indonesia (DMUI) Bisuk Abraham Sisungkunon.

    Baca: Memilih galon air minum yang aman untuk kesehatan dan lingkungan

    Bisuk mengatakan pemakaian galon guna ulang sejalan dengan misi pemerintah mengurangi jumlah sampah dengan prinsip 5R yaitu, reduce, reuse, recycle, replace dan replant.

    Hal ini perlu dilakukan mengingat timbulan sampah di Indonesia berdasarkan data SIPSN KLHK pada 2024 mencapai 34,63 juga ton/tahun dengan jumlah sampah plastik diperkirakan mencapai 9,9 juta ton.

    “Galon guna ulang bisa mengurangi sampah kemasan sekali pakai hingga 316 ton setiap tahun,” katanya.

    Bisuk mengatakan kini seluruh dunia sedang berupaya menekan volume sampah plastik yang kian menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan mencemari ekosistem.

    Pemerintah Indonesia juga telah menetapkan target pengurangan sampah hingga 30 persen dan penanganan sampah mencapai 70 persen pada 2025.

    Baca: Menerapkan ekonomi sirkular dalam industri air minum

    “Memakai galon guna ulang membantu mengurangi timbunan sampah plastik yang saat ini masih banyak tidak tertangani secara berkelanjutan. Sampah kerap dibakar, dikubur, dibuang ke air ataupun dibuang langsung ke tanah,” ucap Bisuk.

    Pemanfaatan galon guna ulang juga membuat Indonesia mengurangi penggunaan plastik virgin untuk membuat kemasan galon baru yang berdampak negatif terhadap lingkungan.

    Semakin banyak produsen memproduksi galon sekali pakai, kata dia, maka akan semakin besar juga plastik virgin (resin plastik murni yang diproduksi langsung dari bahan baku baru) yang digunakan.

    Menurutnya, ada sekitar 4.152 ton plastik virgin yang bisa dihindarkan setiap tahunnya karena adanya galon guna ulang.

  • UNEP: Kegigihan dan Kesabaran Jadi Kunci Lahirnya Perjanjian Plastik Global

    UNEP: Kegigihan dan Kesabaran Jadi Kunci Lahirnya Perjanjian Plastik Global

    7cloud.asia – Direktur Eksekutif Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP) meminta negara-negara Anggota untuk menunjukkan kegigihan, kesabaran, dan dialog berkelanjutan untuk menemukan jalan terwujudnya perjanjian plastik global.

    Dilansir di laman resminya, UNEP siap mendukung negara-negara anggotanya menjalani langkah-langkah menuju niat mereka untuk bertemu kembali pada sesi negosiasi perjanjian plastik global.

    ”Dan saat Anda memikirkan langkah selanjutnya, yakinlah bahwa upaya UNEP dalam mengatasi polusi plastik akan terus berlanjut,” ujar Inger saat menyampaikan pidatonya di Sidang Umum PBB ke-80 di New York AS, beberapa waktu lalu.

    Dalam kesempatan itu, Inger menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Kenya dan Norwegia atas komitmen mereka dalam memajukan upaya menyepakati instrumen yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik.

    Pada INC-5.2, taruhannya tinggi dan harapan untuk mencapai teks perjanjian semakin tinggi. Namun, ujarnya, dunia tidak mendapatkan hasil yang diharapkan.

    Kompleksitas geopolitik, tantangan ekonomi, dan ketegangan multilateral menciptakan lingkungan negosiasi yang sulit.

    Baca: Perundingan Perjanjian Plastik Global berakhir tanpa kesepakatan

    Namun, Inger menegaskan bahwa kebuntuan ini bukanlah akhir yang definitif, melainkan hanya akhir dari sesi tersebut. Dan kemajuan penting telah dicapai setelah sepuluh hari diplomasi yang penuh perjuangan.

    ”Delegasi-delegasi membahas lebih mendalam semua aspek teks perjanjian. Kami melihat proposal-proposal yang konstruktif. Posisi-posisi yang semakin jelas. Konvergensi yang semakin meningkat pada elemen-elemen kunci perjanjian,” ujarnya.

    Dia melanjutkan, negara-negara sepakat untuk bersidang kembali pada tanggal yang akan diumumkan. Yang terpenting, setiap negara menunjukkan keinginan mereka untuk mengakhiri dampak lingkungan, ekonomi, dan kesehatan dari polusi plastik.

    Dunia, ujarnya, jauh lebih dekat untuk mewujudkan mandat yang diberikan oleh Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

    Mencapai kesepakatan tidak akan mudah. Perpecahan masih terjadi dalam lingkup, produksi, produk plastik, keuangan, dan pengambilan keputusan. Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menyeimbangkan antara aturan yang mengikat secara global dan langkah-langkah nasional.

    Masyarakat dunia membutuhkan waktu. Perlu diingat bahwa negosiasi serupa membutuhkan waktu yang jauh lebih lama daripada tiga tahun yang telah dilalui dalam mewujudkan perjanjian plastik global.

    Baca: 80 Negara dukung proposal Swiss dan Meksiko dalam mengatasi polusi plastik

    Forum di New York ini, menurut Inger, merupakan kesempatan untuk mendengarkan dan membahas langkah selanjutnya.

    Sesi ke-7 Majelis Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi momen refleksi penting lainnya. Periode antar-sesi ini harus dimanfaatkan untuk mempersempit kesenjangan.

    Yang terpenting, kita sekarang membutuhkan jalur yang jelas yang memastikan terciptanya kondisi untuk hasil yang bermakna. Ini harus mencakup dialog lebih lanjut antar Negara Anggota untuk mengeksplorasi zona pendaratan yang layak.

    ”Oleh karena itu, saya mendorong negara-negara untuk terus berinteraksi satu sama lain. Tidak hanya dengan kelompok yang mereka setujui. Tetapi juga dengan kelompok yang tidak mereka setujui. Dengan cara inilah garis merah dan kompromi negosiasi dapat ditemukan,” tandansya.

    Keterlibatan pengamat yang berkelanjutan juga penting untuk memastikan legitimasi, transparansi proses, dan efektivitas instrumen.

    Inger mengingatkan, polusi plastik ada di alam, di lautan, dan bahkan telah menyusup ke dalam tubuh manusia. Tantangan lingkungan, ekonomi, dan kesehatan akan terus meningkat. Karena itu masyarakat dunia harus bersama-sama mengatasi polusi plastik.

    Baca: Posisi negara-negara di dunia dalam menangani sampah plastik

  • Hujan yang Mengandung Mikroplastik Juga Terjadi di Negara Lain, Bukan Berarti Kita Bisa Mengabaikannya

    Hujan yang Mengandung Mikroplastik Juga Terjadi di Negara Lain, Bukan Berarti Kita Bisa Mengabaikannya

    7cloud.asia – Fenomena hujan yang mengandung partikel mikroplastik dan menjadi perhatian publik ternyata tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di negara lain.

    Profesor Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova mengungkapkan bahwa keberadaan mikroplastik di udara telah ditemukan secara global, termasuk di Jerman, Jepang, dan Korea.

    “Hampir semua penelitian menunjukkan adanya mikroplastik di udara. Di luar negeri saja ada, apalagi di Indonesia yang dipengaruhi angin muson,” tukasnya, saat media briefing terkait isu mikroplastik dan fenomena cuaca ekstrem di Balai Kota Jakarta, Jumat (24/10/2025).

    Reza menjelaskan, sumber utama mikroplastik berasal dari penggunaan plastik sekali pakai hingga limbah rumah tangga.

    Baca: BRIN temukan mikroplastik dalam air hujan di Jakarta

    Fenomena hujan yang mengandung mikroplastik ini harus menjadi alarm peringatan agar masyarakat dan pemerintah lebih bijak menggunakan plastik sekali pakai.

    Reza menambahkan, langkah paling efektif untuk mengatasi fenomena hujan mikroplastik ini adalah dengan menghentikan pencemaran dari sumbernya.

    “Solusi tercepatnya adalah mengurangi produksi dan konsumsi plastik sekali pakai. Sementara untuk perlindungan pribadi, masyarakat bisa menggunakan masker sebagai langkah pencegahan awal,” ungkapnya.

    Reza menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mengatasi paparan mikroplastik ini.

    “Masalah mikroplastik bukan hanya tanggung jawab satu pihak. Semua harus bergerak bersama agar dampaknya tidak semakin meluas,” terangnya.

    Baca: Ekosistem guna ulang untuk kurangi sampah plastik

    Pemerintah bisa mengambil peran dengan kebijakan yang membatasi produksi dan penggunaan plastik sekali pakai, pelaku usaha harus bertanggung jawab dengan sampah plastik yang diproduksinya.

    Sementara masyarakat diajak untuk lebih bijak dalam mengonsumsi dan mulai menerapkan konsep guna ulang.

    Sementara itu, Fungsional Madya Pengamat Meteorologi dan Geofisika BMKG, Dwi Atmoko menerangkan, fenomena mikroplastik tidak hanya terdeteksi di wilayah Jabodetabek, tetapi juga berpotensi tersebar di seluruh Indonesia, tergantung arah dan kekuatan angin.

    “Setiap proses pembakaran yang melibatkan bahan mengandung plastik dapat menghasilkan partikel debu yang mengandung mikroplastik. Selama proses itu ada dan terjadi angin atau cuaca, partikel tersebut bisa terbawa ke mana saja sesuai arah angin dominan pada saat itu,” pungkasnya.