Tag: cuaca ekstrem

  • BNPB Sebut Pulau Jawa Waspada Bencana Alam Hingga April 2025

    BNPB Sebut Pulau Jawa Waspada Bencana Alam Hingga April 2025

    7cloud.asia – Bencana alam akibat cuaca ekstrem masih terus terjadi di sejumlah wilayah. Kondisi ini berpotensi berlanjut di Pulau Jawa hingga Maret atau April 2025. Masyarakat diimbau waspada.

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari menjelaskan bencana alam berpotensi terjadi seiring dengan meningkatnya intensitas hujan di Pulau Jawa.

    “Ini baru awal ya, tapi kita masih harus waspada sampai awal 2025 bahkan sampai medio Maret sampai April,” kata Muhari dalam konferensi pers bertajuk “Disaster Briefing”  pada Senin (09/12/2024).

    Baca: Jakarta berpotensi banjir besar seperti tahun 2020

    Karena itu, pihaknya mengajak masyarakat dan pemerintah daerah memperhatikan peringatan tersebut agar dapat meminimalisasi dampak buruk yang akan ditimbulkan.

    Dia mencontohkan salah satunya mengintensifkan pengecekan pada kawasan aliran sungai, perbukitan, tebing curam, mempersiapkan peralatan, anggaran dan termasuk menetapkan status tanggap darurat bencana.

    “Kalau daerah sudah langganan bencana segeralah menetapkan status tanggap darurat sehingga pemerintah pusat dalam hal ini BNPB bisa memberi pendampingan kepada daerah,” jelasnya.

    Berdasarkan data BNPB, sepanjang tahun 2024 tercatat sebanyak 1999 kasus bencana di Indonesia yang didominasi oleh bencana banjir dan cuaca ekstrem.

    Selanjutnya Muhari memaparkan saat ini musim hujan mulai merata di seluruh Indonesia. Namun, bagian tengah pesisir barat Sumatera dan bagian barat Jawa mendominasi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang.

    Baca: Waspada cuaca ekstrem beberapa pekan kedepan

    “Ini yang memicu tingginya intensitas bencana hidrometeorologi basah di Banten dan Jawa Barat,” ujarnya.

    Hasil analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Pulau Jawa, dan 60 persen zona musim di Indonesia lainnya saat ini sudah berada pada musim penghujan dan puncaknya berlangsung sampai kuartal pertama 2025.

    Peningkatan intensitas hujan sebesar 20 persen dibandingkan kondisi normal. Hal ini disebabkan oleh sejumlah fenomena atmosfer seperti Madden Julian Osciliation (MJO), gelombang ekuatorial Rossby, gelombang Kelvin, La Nina lemah dan dapat diperkuat dengan adanya siklon tropis atau bibit siklon tropis.

     

  • Cuaca Hari Ini: Waspada, Hujan Sangat Lebat Disertai Angin Kencang di Sejumlah Wilayah Hingga Seminggu Kedepan

    Cuaca Hari Ini: Waspada, Hujan Sangat Lebat Disertai Angin Kencang di Sejumlah Wilayah Hingga Seminggu Kedepan

    7cloud.asia – Hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat disertai angin kencang berpotensi melanda sejumlah wilayah di Indonesia hingga seminggu kedepan.

    Dalam laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) hujan lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur wilayah Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Maluku Bagian Selatan,Tenggara, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

    Sementara hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung.

    Baca: Waspada cuaca ekstrem hingga beberapa pekan kedepan

    Selain itu wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara juga berpotensi hujan sedang hingga lebat.

    Kondisi cuaca serupa juga berpotensi terjadi di wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan.

    Sedangkan potensi angin kencang diperkirakan terjadi di wilayah Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Pesisir Barat Sumatera Barat hingga Lampung, Banten, Jawa Barat.

    Angin kencang juga berpeluang melanda wilayah Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.

    Baca: Pulau Jawa waspada bencana alam hingga Maret 2024

    Dengan kondisi seperti ini, maka berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, genangan air, tanah longsor, dan angin kencang, terutama di wilayah rawan.

    BMKG menjelaskan kondisi cuaca seperti ini dipicu oleh Madden-Julian Oscillation (MJO) saat ini berada di fase 5 dan aktif bergerak melintasi wilayah Indonesia.

    Fenomena ini mendukung pembentukan awan hujan secara intensif di beberapa wilayah utama, termasuk Sumatra bagian utara, Jawa, Kalimantan, Bali-Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

    Aktivitas MJO berperan penting dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut.

    Selain itu, fenomena atmosfer lainnya, seperti Gelombang Rossby, Kelvin, dan Low Frequency, juga turut meningkatkan peluang pembentukan awan hujan.

    Baca: BMKG sebut potensi cuaca ekstrem saat libur Nataru

    Dampaknya meluas di wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia, mencakup beberapa daerah strategis yang rawan hujan lebat dan bencana hidrometeorologi.

    Kombinasi dari fenomena-fenomena ini menciptakan kondisi atmosfer yang sangat mendukung peningkatan intensitas curah hujan di sejumlah wilayah.

    Dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air, terutama di wilayah rawan.

    Selain itu membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar untuk mengurangi risiko banjir serta menghindari aktivitas di wilayah rawan bencana serta mempersiapkan perlengkapan darurat.

  • Curah Hujan Meningkat, BMKG Perpanjang Peringatan Cuaca Ekstrem di Jabodetabek Hingga 15 Desember

    Curah Hujan Meningkat, BMKG Perpanjang Peringatan Cuaca Ekstrem di Jabodetabek Hingga 15 Desember

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperpanjang peringatan cuaca ekstrem di wilayah Jabodetabek hingga 15 Desember mendatang. Masyarakat diimbau waspada.

    Hal ini diungkapkan oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati di Jakarta beberapa hari yang lalu. Menurutnya curah hujan menjelang 15 Desember justru akan meningkat.

    “Ini akan berlanjut tanggal 15 (Desember). Terutama yang perlu diwaspadai menjelang tanggal 15 itu akan meningkat secara bertahap. Nah kemudian puncaknya itu sekitar 15  bisa mencapai 100 milimeter per hari hujannya. Sehingga perlu diwaspadai,” jelasnya.

    Baca: Waspada, cuaca ekstrem saat libur Nataru

    Selanjutnya Dwikorita menerangkan, ada beberapa hal yang menyebabkan peningkatan curah hujan di wilayah Jabodetabek pada pertengahan Desember nanti.

    Salah satu penyebabnya adalah adanya adanya siklon tropis atau bibit siklon tropis. Selain itu juga adanya Madden Julian Osciliation (MJO) atau gerombolan awan-awan hujan dari Samudera Hindia Barat.

    Apalagi wilayah Jabodetabek saat ini tengah dalam kondisi cuaca menjelang puncak musim hujan, pada Januari 2025.

    Baca: BMKG sebut La Nina hingga April 2025 berpotensi bencana hidrometeorologi

    Saat ini, lanjut Dwikorita, pihaknya bersama Bada Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga terus melakukan modifikasi cuaca untuk meminimalisir intensitas hujan.

    Meski demikian pihaknya mengajak masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana hidrometeorologi yang akan terjadi sebagai dampak curah hujan yang tinggi.

    Selain itu, pihaknya mengajak pemerintah daerah untuk melakukan mitigasi bencana hidrometeorologi.

    Salah satunya mengintensifkan pengecekan pada kawasan aliran sungai, perbukitan, tebing curam, mempersiapkan peralatan, anggaran dan termasuk menetapkan status tanggap darurat bencana.

     

     

  • Antisipasi Cuaca Ekstrem: Pemprov Daerah Khusus Jakarta Keluarkan Surat Edaran WFH

    Antisipasi Cuaca Ekstrem: Pemprov Daerah Khusus Jakarta Keluarkan Surat Edaran WFH

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mengeluarkan surat edaran berisi imbauan agar pegawai dapat bekerja dari rumah (work from home/WFH) bila memang terjadi banjir di hari kerja.

    Surat Edaran berisi imbauan WFH ini untuk mengantisipasi cuaca ekstrem yang berpotensi terjadi di Jakarta dan sekitarnya pada bulan Desember 2024 ini.

    “Kalau memang banjir, nanti dari kami akan keluarkan surat edaran seperti waktu pandemi Covid-19. Kami buat surat edaran ke kantor-kantor supaya nanti dari sisi pengusaha dan pekerja clear,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Energi (Nakertransgi) DKI Jakarta, Hari Nugroho di Jakarta, Rabu (11/12/2024)

    Pernyataan ini guna menanggapi keputusan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperpanjang status peringatan dini cuaca ekstrem hingga 15 Desember 2024.

    Baca: BMKG perpanjang peringatan cuaca ekstrem di Jabodetabek

    Dalam pernyataannya BMKG menyebutkan bahwa curah hujan di wilayah Jabodetabek terus meningkat dan akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan.

    Menurut BMKG, pada puncak cuaca ekstrem yakni 15 Desember mendatang, curah hujan bisa mencapai 100 milimeter sehingga ini perlu diwaspadai.

    Sebelumnya, BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi cuaca ekstrem pada 7-8 Desember 2024. Peringatan ini diperpanjang hingga 15 Desember mengingat curah hujan di Jabodetabek masih tinggi.

    Guna mengantisipasi banjir, Pemerintah Provinsi DKI melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta melakukan operasi modifikasi cuaca hingga akhir Desember nanti.

    Baca: Modifikasi cuaca sukses kurangi potensi bencana hidrometeorologi

    Operasi modifikasi cuaca ini kemudian dinyatakan mampu mengurangi curah hujan khususnya di Jakarta secara signifikan.

    Pemprov DKI lalu kembali akan melakukan operasi modifikasi cuaca pada 12-14 Desember 2024 untuk mengurangi intensitas hujan dan memitigasi banjir di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

    Dalam kesempatan berbeda, Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Teguh Setyabudi mengatakan kemungkinan memberlakukan kebijakan WFH untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem yang berpotensi menyebabkan banjir, terutama jika banjir terjadi pada hari kerja.

    Adapun pertimbangan WFH akan diberlakukan bagi siswa sekolah hingga aparatur sipil negara (ASN). Namun tidak menutup kemungkinan bagi kementerian atau lembaga lainnya.

  • Bencana Hidrometeorologi Akibat Cuaca Ekstrem di Banten Tewaskan 9 Orang

    Bencana Hidrometeorologi Akibat Cuaca Ekstrem di Banten Tewaskan 9 Orang

    7cloud.asia – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten mencatat bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem di sejumlah tempat di Banten menelan sembilan korban meninggal.

    Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Banten Nana Suryana di Serang, Kamis (12/12/2024) menyatakan korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi tersebut terdapat di tiga wilayah kabupaten yakni Serang, Pandeglang, dan Lebak.

    “Informasi yang saya dapatkan sampai kemarin itu sekitar sembilan orang,” ujar Nana.

    Nana mengatakan korban jiwa tersebut akibat terseret arus banjir akibat curah hujan tinggi, tertimpa reruntuhan rumah, dan tertimpa pohon akibat puting beliung.

    Ia menyebutkan pada kasus terakhir di Kabupaten Serang, meski hujan pada Senin (9/12/2024) hanya sebentar, namun membuat tiga orang terseret arus Sungai Irigasi Baros.

    Selain itu Nana mengatakan di Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang, masih membutuhkan bantuan peralatan evakuasi akibat volume air yang meningkat. Sementara di Kecamatan Patia, Kabupaten Pandeglang, banjir dinyatakan surut.

    Baca: Pulau Jawa waspada bencana hidrometeorologi hingga April 2025

    Nana mengatakan perlu ada normalisasi sungai untuk mencegah luapan air ke pemukiman warga, mengingat intensitas curah hujan tinggi beberapa waktu lalu menyebabkan 30 persen air lebih tinggi dari biasanya.

    Banjir dari Kabupaten Lebak dari luapan hilir sungai Ciberang, Ciliman, dan Cilemer, hingga sampai ke Kecamatan Patia dan Pagelaran, Kabupaten Pandeglang.

    Kemudian banjir di Kecamatan Labuan dari luapan Sungai Cipunten Agung dimana aliran air turun dari Gunung Akarsari, Gunung Pulosari, Gunung Karang.

    Sementara di Kecamatan Mandalawangi, Pulosari, Cisata, termasuk Cisata kemarin (11/12/2024) juga terdampak aliran air gunung akibat hujan lebat.

    Nana mengatakan potensi bencana hidrometeorologi basah di Banten masih ada hingga akhir tahun 2024.

    Oleh karena itu dengan unsur Pentaheliks pihaknya akan melakukan teknologi modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan ke laut sebelum mencapai ke darat.

    Baca: BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem di bulan Desember

    “Jadi jangan khawatir, misalnya supaya Jakarta tidak hujan, tidak kebanjiran, di Banten diturunkan hujan. Tapi di laut,” kata Nana.

    Warga Lebak, Banten diingatkan agar tetap mewaspadai fenomena pergerakan tanah yang sudah terjadi dalam sepekan terakhir akibat cuaca ekstrem.

    Fenomena pergerakan tanah ini terjadi di tiga lokasi akibat cuaca ekstrem yang menerjang di daerah itu,

    “Kita minta warga tetap waspada dan siaga bencana, karena cuaca buruk masih berpotensi dalam satu pekan ke depan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Febby Rizky Pratama di Lebak, Kamis (12/12/2024)

    Ketiga lokasi bencana pergerakan tanah di Kabupaten Lebak antara lain di Desa Cidikit Kecamatan Bayah, Desa Penyaungan Kecamatan Cihara dan Desa Neglasari Kecamatan Cibeber.

    Masyarakat yang terdampak bencana pergerakan tanah itu masih tinggal di sejumlah tempat pengungsian.

  • Cuaca Ekstrem Picu Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Daerah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

    Cuaca Ekstrem Picu Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Daerah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem yang terjadi sepanjang bulan Desember 2024 ini telah memicu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah di tanah air.

    Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat misalnya sempat lumpuh akibat banjir, longsor, dan pergeseran tanah. Akibat kejadian ini, sejumlah rumah warga dan fasilitas umum mengalami kerusakan.

    Beberapa hari terakhir, Bali juga dilanda badai Puting Beliung. Bahkan akibat puting beliung, 2 Warga Negara Asing (WNA) yang tengah mengunjungi kawasan objek wisata Monkey Forest di kawasan Ubud meninggal dunia karena tertimpa pohon yang tumbang.

    Rumah-rumah warga di sejumlah wilayah di Bali lainnya juga dilaporkan rusak akibat cuaca ekstrem ini

    Tidak hanya Bali, berbagai daerah lain di Indonesia juga menghadapi bencana hidrometeorologi yang berdampak pada keselamatan masyarakat dan kerusakan infrastruktur. Iwan berharap, upaya siaga bencana dilakukan secara efektif.

    Baca: Banjir dan tanah longsor di Sukabumi terparah dalam 10 tahun terakhir

    Menyoroti kondisi ini, Wakil Ketua Komisi V DPR Andi Iwan Darmawan Aras meminta pemerintah untuk meningkatkan infrastruktur mitigasi kebencanaan demi menjaga keselamatan masyarakat.

    “Melihat banyaknya ancaman bencana alam yang semakin meningkat, diperlukan respons yang lebih cepat serta koordinasi yang lebih baik dari setiap instansi terkait,” ujar Andi Iwan Darmawan Aras dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/12/2024).

    Legislator dari dapil Sulawesi Selatan II tersebut juga menilai pemantauan dan sistem peringatan dini bencana perlu lebih ditingkatkan.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai lembaga yang bertugas untuk mengawasi dan memantau kondisi cuaca dan iklim disebut memiliki peran krusial dalam memberikan informasi yang akurat dan tepat waktu kepada masyarakat dan pihak berwenang.

    “BMKG harus dapat memberikan peringatan dini dengan lebih efektif agar masyarakat dapat mempersiapkan diri dan mengurangi dampak kerusakan. Optimalkan media sosial dan akses digital yang dapat dilakukan agar informasi tersebar dengan cepat,” ungkapnya.

    Dengan kondisi alam yang semakin tidak menentu akibat pemanasan global, Negara dituntut lebih responsif dan tanggap dalam menghadapi potensi bencana alam yang dapat terjadi kapan saja.

    Baca: Cuaca ekstrem picu bencana hidrometeorologi di Jawa Barat

    Selain upaya mitigasi, diharapkan ada antisipasi dari sisi infrastruktur kebencanaan, seperti bangunan vital, fasilitas umum, sistem angkutan umum, telekomunikasi, dan sistem tenaga listrik yang dirancang untuk menahan dampak bencana alam.

    Iwan mengatakan pemerintah harus memprioritaskan kebutuhan dan keamanan masyarakat saat terjadi bencana agar mereka merasa aman dan nyaman.

    “Perlu adanya koordinasi antara BMKG, BNPB, TNI/Polri, Basarnas dan semua stakeholder guna meningkatkan kapasitas operasionalnya agar penanganan bencana dapat lebih efisien,” sebutnya.

    “Koordinasi yang baik dapat mengurangi risiko, dan memastikan keselamatan masyarakat Indonesia,” imbuh Iwan Aras.

    Pimpinan Komisi yang membidangi urusan infrastruktur dan transportasi itu pun mendukung upaya Pemerintah yang terus melakukan langkah-langkah mitigasi bencana.

    Iwan juga mengimbau kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam berkegiatan selama Indonesia masih menghadapi cuaca ekstrem. Tak lupa dia mengingatkan warga untuk bersama-sama mengurangi emisi karbon dari kegiatan sehari-hari mereka.

    “Saatnya untuk meningkatkan upaya bersama demi Indonesia yang lebih aman dan siap menghadapi tantangan cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi,” tuturnya.

  • BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah pada 16-23 Desember 2024

    BMKG Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem di Jawa Tengah pada 16-23 Desember 2024

    bmkg

    7cloud.asia – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi terjadinya cuaca ekstrem di sejumlah daerah di Jawa Tengah atau Jateng pada 16-23 Desember mendatang.

    “Kami sengaja ke Jateng karena eskalasinya (cuaca ekstrem, red) menguat. Ini berarti tanggul-tanggul yang ada itu harus diperkuat,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, di Semarang, Jumat (13/12/2024).

    Hal tersebut disampaikannya saat berkoordinasi dengan Penjabat Gubernur Jateng Nana Sudjana di Kantornya Gubernur Jateng, Semarang.

    Menurut Dwikorita, sejumlah daerah di Jateng yang diperkirakan mengalami cuaca ekstrem, di antaranya Jepara, Pemalang, Pekalongan, Tegal, hingga Brebes.

    Baca: Cuaca ekstrem picu bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah

    Ia mengatakan bahwa sejumlah tanggul di Jateng memang sudah diperkuat konstruksinya, namun koordinasi dengan sejumlah balai wilayah sungai harus tetap dilakukan sebagai upaya pencegahan banjir.

    Meskipun berbagai upaya mitigasi telah dilakukan oleh pemerintah, Dwikorita meminta masyarakat diminta tetap waspada dan mematuhi apa yang disampaikan oleh pemerintah.

    Sementara itu, Pj Gubernur Jateng Nana Sudjana menyampaikan terimakasih kepada BMKG yang telah memberi peringatan atas situasi yang dialami wilayah tersebut dalam sepekan ke depan.

    “Kami banyak berterima kasih kepada BMKG dengan adanya ‘warning’ saat ini. Kami telah mempersiapkan antisipasi berbagai hal yang akan terjadi,” katanya.

    Baca: Pemanasan Bumi hingga 2°C picu cuaca ekstrem makin sering terjadi

    Beberapa langkah yang telah dilakukan, antara lain memastikan kesiapan relawan melalui apel siaga yang digelar oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng beberapa waktu lalu.

    Selain itu, kata dia, memastikan kondisi peralatan yang digunakan ketika menghadapi bencana melalui langkah koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

    “Kami sudah minta bantuan untuk TMC (teknologi modifikasi cuaca) dengan BMKG dan BNPB guna melakukan modifikasi cuaca. Sekarang sudah hari ketiga,” katanya.

    Dengan modifikasi cuaca, ia berharap dapat memecah potensi cuaca ekstrem yang diprediksi terjadi di sejumlah wilayah karena tak ingin kejadian banjir, seperti di Demak dan Grobogan tahun lalu tak terulang.

  • Cuaca Hari Ini: Waspada, Cuaca Ekstrem Dapat Memicu Bencana di Jawa Timur Hingga Januari 2025

    Cuaca Hari Ini: Waspada, Cuaca Ekstrem Dapat Memicu Bencana di Jawa Timur Hingga Januari 2025

    7cloud.asia – Sejumlah wilayah di Jawa Timur berpotensi mengalami cuaca ekstrem yang dapat memicu terjadinya bencana pada Desember 2024 hingga Januari 2025. Masyarakat diimbau waspada.

    Dalam keterangan resminya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menjelaskan cuaca ekstrem tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor.

    Fenomena La Nina, yang ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, memicu peningkatan pembentukan awan hujan.

    Kondisi ini berkontribusi pada tingginya intensitas curah hujan di berbagai wilayah di Jawa Timur.

    Baca: BMKG ingatkan cuaca ekstrem di Jawa Tengah

    Selain itu, adanya pengaruh Monsoon Asia, gelombang Madden-Julian Oscillation (MJO), serta gelombang Kelvin dan Rossby ekuator.

    Fenomena-fenomena ini meningkatkan intensitas curah hujan di kawasan Laut Natuna, Jabodetabek, Jawa Barat, hingga Jawa Timur.

    “Intensitas hujan diprediksi akan meningkat signifikan pada 21 Desember, kemudian sedikit menurun di 22-23 Desember sebelum kembali meningkat pada 24 Desember,” jelas Dwikorita.

    BMKG memperkirakan cuaca ekstrem mencapai puncaknya pada Desember 2024 hingga Januari 2025, dengan intensitas hujan yang terus meningkat menjelang libur Natal dan Tahun Baru terutama di wilayah Jawa Timur.

    Baca: Banjir besar di Jakarta tahun 2020 berpotensi terulang kembali

    Dalam tujuh hari kedepan sejumlah wilayah di Jawa Timur yang berpotensi hujan deras disertai angin kencang terjadi di Kabupaten di Jawa Timur dalam tujuh hari ke depan, yakni di Bangkalan, Bondowoso, Gresik, dan Banyuwangi

    Selain itu lebih dari 70 persen wilayah Jawa Timur berpotensi terjadi curah hujan sedang (51-150 mm) dan lebih dari 60 persen untuk curah hujan lebat (151-300 mm).

    Kondisi ini dapat mengakibatkan banjir. Berikut wilayah rawan banjir menurut BMKG:

    – Blitar: Kecamatan Gandusari, Nglegok

    – Gresik: Kecamatan Sangkapura, Tambak

    – Jember: Kecamatan Bangsalsari, Panti, Sumberbaru, Tanggul

    – Malang: Kecamatan Ngantang

    – Pacitan: Kecamatan Kebonagung, Pacitan, Pringkuku

    – Probolinggo: Kecamatan Krucil, Tiris

    Baca: Waspada, cuaca ekstrem saat libur Nataru

    Tak hanya banjir, gelombang tinggi di perairan selatan Jawa Timur juga diperkirakan mengalami gelombang tinggi dengan ketinggian mencapai 1,25-2,5 meter.

    Kawasan yang berpotensi terdampak meliputi Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, hingga Banyuwangi.

     

  • BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cold Surge Jelang Natal, Apa Itu?

    BMKG Imbau Masyarakat Waspada Cold Surge Jelang Natal, Apa Itu?

    7cloud.asia – Menjelang perayaan Natal tahun ini, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat mewaspadai Cold Surge atau seruak dingin yang dapat memicu hujan lebat dan sangat lebat di sejumlah wilayah.

    Data BMKG mencatat ada peningkatan signifikan indeks Cold Surge. Dalam laman resmi BMKG, Cold Surge merupakan jalaran udara dingin yang mengalir dari daratan Asia menuju wilayah Indonesia bagian barat.

    Adanya cold surge dapat ditandai dengan penguatan angin permukaan, penurunan suhu permukaan yang tajam, dan kenaikan tekanan permukaan di Laut Cina Selatan.

    Baca: BMKG ingatkan potensi cuaca ekstrem saat libur Nataru

    Pada saat monsun dingin Asia berlangsung, seringkali terjadi penjalaran massa udara dingin dari pusat tekanan tinggi di daratan Asia menuju ke arah Selatan dan ke arah Timur. Penjalaran massa udara dingin ini kemudian dikenal dengan istilah Cold surge.

    Meskipun masa aktifnya hanya dalam beberapa hari namun Cold Surge memiliki dampak cuaca yang merusak bagian Timur Asia dan juga berpengaruh terhadap hujan diwilayah Asia Tenggara.

    Selain Cold Surge, faktor lainnya yang memicu terjadinya hujan lebat adalah adanya fenomena gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial dan Kelvin di sejumlah daerah seperti Sumatera bagian utara, Jawa hingga Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi.

    BMKG juga memantau potensi terbentuknya bibit siklon tropis di perairan timur Filipina bagian selatan.

    Baca: Banjir besar seperti tahun 2020 berpotensi melanda Jakarta

    Faktor-faktor tersebut menciptakan kondisi atmosfer yang mendukung terjadinya hujan lebat, angin kencang serta berpotensi banjir di sejumlah wilayah.

    Diantaranya wilayah Sumatera bagian utara, Jawa, Bali, Nusa tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.

    Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan genangan air, terutama di wilayah rawan.

    BMKG juga mengajak masyarakat untuk membersihkan saluran air dan lingkungan sekitar untuk mengurangi risiko banjir.
    Selain itu, jika beraktivitas di luar ruangan hindari wilayah rawan bencana serta mempersiapkan perlengkapan darurat.

  • Cuaca Hari Ini: Jakarta dan Beberapa Kota di Indonesia Bakal Hujan Disertai Petir

    Cuaca Hari Ini: Jakarta dan Beberapa Kota di Indonesia Bakal Hujan Disertai Petir

    7cloud.asia – Cuaca ekstrem berupa hujan disertai petir atau angin kencang masih melanda beberapa kota di Indonesia pada Senin (23/12/2024), salah satunya Jakarta.

    Berdasarkan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan disertai petir berpotensi melanda wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur pada pagi hari.

    Di waktu yang sama, wilayah Jakarta Pusat dan Jakarta Barat berpotensi hujan dengan intensitas sedang.

    Kemudian pada siang hari hujan berintensitas sedang berpeluang mengguyur wilayah Jakarta Pusat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.

    Wilayah Kepulauan Seribu berpotensi terjadi hujan disertai petir pada siang hingga malam hari. Sementara wilayah lainnya diperkirakan berawan.

    Baca: Curah hujan yang tinggi dapat memicu banjir besar di Jakarta seperti tahun 2020

    Selain wilayah Jakarta, hujan disertai petir berpotensi pula melanda Kota Jambi, Palembang, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Kupang dan Merauke.

    Selanjutnya hujan dengan intensitas sedang berpeluang mengguyur Kota Padang, Bengkulu, Bandar Lampung, Serang, Palu, Makassar, Sorong dan Jayawijaya.

    Sedangkan hujan berintensitas ringan berpotensi terjadi di Kota Banda Aceh, Medan, Tanjung Pinang, Pekanbaru, Pangkal Pinang, Denpasar, Mataram, Tanjung Selor, Samarinda, Pontianak, Palangkaraya, Banjarmasin, Manado, Mamuju, Kendari, Ternate, Nabire dan Jayapura.

    Suhu udara berkisar antara 16 hingga 33 derajat celsius dengan tingkat kelembaban udara antara 53 hingga 99 persen.

    Baca: Jelang Natal, BMKG imbau masyarakat waspada Cold Surge

    Suhu terendah diprediksi akan dirasakan warga yang berada di Kota Jayawijaya. Sementara warga yang berada di Kota Semarang, Surabaya dan Gorontalo diprediksi akan merasakan suhu tertinggi.

    Tinggi gelombang laut berkisar antara 0,5 hingga 2,5 meter. Namun BMKG mengimbau masyarakat waspada dengan gelombang dalam kategori tinggi antara 2,5 hingga 4 meter di perairan Pulau Enggano, perairan barat Aceh hingga Lampung.

    Selain itu, gelombang tinggi diprediksi terjadi di Samudera Hindia barat Aceh hingga Lampung, perairan selatan Banten hingga Jawa Timur, Samudera Hindia selatan Banten hingga Pulau Sumba, Selat Sunda bagian barat dan selatan serta Laut Natuna Utara.