Tag: polusi udara

  • Polusi Udara Terburuk Terkonsentrasi di Enam Negara, Termasuk Indonesia

    Polusi Udara Terburuk Terkonsentrasi di Enam Negara, Termasuk Indonesia

    7cloud.asia – Polusi udara di seluruh dunia terus menimbulkan risiko eksternal terbesar terhadap kesehatan manusia.

    Menurut Institut Kebijakan Energi Universitas Chicago, EPIC, dalam laporan tahunannya tentang Indeks Kehidupan Kualitas Udara, AQLI negara-negara di Asia dan Afrika paling merasakan dampak polusi udara ini.  

    Laporan yang dirilis Selasa (29/8/2023) itu menyebut, polusi udara telah memperpendek harapan hidup di negara-negara Asia Selatan hingga lima tahun.

    Jika partikel berbahaya di udara yang dikenal sebagai PM2.5 diturunkan ke tingkat yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia WHO, rata-rata harapan hidup akan meningkat sebesar 2,3 tahun di seluruh dunia, perkiraan laporan tersebut.

    Baca: PBB sebut polusi udara sebabkan 7 juta kematian dini setiap tahun

    Laporan itu menyebut, sekitar tiga perempat dampak buruk polusi udara terhadap kesehatan terkonsentrasi hanya di enam negara – Bangladesh, India, Pakistan, Cina, Nigeria, dan Indonesia.

    Dilansir Deutchewelle, Jakarta disebut sebagai kota dengan kondisi polusi udara  terburuk sedunia.

    Perusahaan teknologi kualitas udara asal Swiss, IQAir, sebelumnya juga sudah menobatkan Jakarta sebagai kota paling tercemar di dunia.

    Kota Jakarta disebut secara konsisten masuk dalam peringkat 10 kota paling berpolusi secara global.

    Baca: Warga Marunda desak pemerintah membuka data perusahaan menjadi sumber polusi udara

    Tingkat polusi udara di kota metropolitan ini telah meningkat hingga mencapai tingkat tertinggi di dunia dalam beberapa bulan terakhir.

    Pemerintah Indonesia menyalahkan pola cuaca dan emisi kendaraan sebagai penyebab lonjakan tersebut.

    Namun beberapa menteri baru-baru ini mengakui bahwa pembangkit listrik tenaga batu bara dan pabrik di sekitar Jakarta juga bertanggung jawab atas tingkat polusi terburuk itu.

    “Kami telah menjatuhkan sanksi administratif terhadap 11 entitas,” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia Siti Nurbaya Bakar pada konferensi pers Senin (28/8/2023), tanpa menyebutkan nama-nama perusahaannya.

    Baca: Greenpeace minta pemerintah tak beri solusi palsu terkait polusi udara

    Di Asia Selatan, kadar PM2,5 telah meningkat hampir 10% sejak tahun 2013, kata laporan EPIC tentang kualitas udara. Polusi udara telah menurunkan rata-rata harapan hidup di wilayah tersebut sekitar lima tahun.

    Meningkatnya konsumsi energi di wilayah Afrika tengah dan Barat juga membuat polusi udara menjadi ancaman kesehatan yang setara dengan HIV/AIDS dan malaria di Afrika.

    Kondisi pencemaran udara di Asia Tenggara parah
    Hampir seluruh wilayah Asia Tenggara kini juga dianggap memiliki “tingkat polusi yang tidak aman”, dengan rata-rata harapan hidup berkurang 2-3 tahun.

    Secara statistik, rata-rata tingkat polusi dunia telah sedikit menurun dalam satu dekade terakhir.

    Tetapi penurunan angka statistik itu terutama didorong oleh perbaikan kualitas udara di Cina.

    Baca: Negara miskin paling merasakan dampak perubahan iklim

    Beijing sejak 10 tahun lalu mendeklarasikan “perang melawan polusi” dan berhasil menurunkan PM2,5 sampai lebih dari 40% sejak tahun 2013.

    “Meskipun Cina telah mencapai keberhasilan luar biasa dalam perang melawan polusi udara, tren di belahan dunia lain justru menunjukkan arah yang berlawanan,” kata Christa Hasenkopf, direktur studi AQLI.

    Rata-rata konsentrasi PM2.5 di Cina pada tahun 2022 berhasil ditekan sampai 29 mikrogram per meter kubik, tapi angka itu tetap masih jauh lebih tinggi daripada rekomendasi WHO, yaitu 5 mikrogram per meter kubik.

    “Kita belum (berhasil) mengatasi polusi udara, meskipun contoh yang dilakukan Cina menunjukkan kepada kita bahwa masalah ini adalah masalah yang bisa diatasi,” kata Christa Hasenkopf.

    Sumber: dw.com baca artikel asli di sini

  • KLHK: Hujan Buatan Efektif Turunkan Polusi Udara idealnya Dilakukan Setiap Hari

    KLHK: Hujan Buatan Efektif Turunkan Polusi Udara idealnya Dilakukan Setiap Hari

    7cloud.asia – Modifikasi cuaca telah menyebabkan hujan buatan turun pada Minggu (27/8/2023) di sejumlah kawasan di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek). 

    Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar mengatakan, hujan buatan ini mampu menurunkan kadar polusi udara di sejumlah kawasan.

    Dalam catatan KLHK, setelah hujan buatan itu dari angka indeks standar pencemaran udara (ISPU) 97 di PM 2,5 pada pukul 15.30 WIB, itu pada jam 18.30 WIB angkanya drop menjadi 29.

    “Artinya kualitas udara jadi baik,”  jelas Siti dalam keterangan pers yang disiarkan langsung kanal Sekretariat Presiden, Jakarta, Senin (28/8/2023).

    Baca: Setelah hujan buatan, polusi udara di Jakarta masih tinggi

    Selain itu, menurut dia, hujan terjadi di Tanah Sereal, Bogor yang mampu menurunkan ISPU dari 87 ke 13. Dengan adanya penurunan kadar polusi ini, menurut dia, hujan buatan terbukti mampu membantu membersihkan udara.

    Namun, kata Siti, teknologi modifikasi cuaca berupa hujan buatan harus menunggu adanya bibit awan.

    Oleh karena itu, pemerintah juga sedang giat melakukan uji coba teknik modifikasi cuaca mikro untuk memperbanyak pembentukan awan. Caranya, dengan mengembuskan uap air dari gedung-gedung tinggi di Jakarta.

    Kemarin, ujar Siti, dilakukan uji coba di Gedung Pertamina yang di depan Istiqlal dan di gedung-gedung di kawasan GBK. Uji coba ini dilakukan BRIN dan BMKG.

    Baca: Atasi polusi udara, gedung tinggi di Jakarta diminta lakukan water mist

    “Jadi dari gedung-gedung tinggi itu dihembuskan uap air sehingga dia juga akan bisa mempengaruhi partikel-partikel (pembentukan awan) itu,” ujar Siti.

    Selain itu, modifikasi cuaca secara mikro bisa dilakukan dengan menggunakan tirai air yang dipasang di teras gedung-gedung besar yang menghadap ke ruang publik.

    “Jadi kalau sirkulasi airnya terus kayak air mancur tapi terus-terusan begitu namanya pakai tirai begitu itu juga akan memberikan uap air sebetulnya sehingga itu juga bisa mempengaruhi (pembentukan awan),” ucap Siti.

    Modifikasi cuaca ini idealnya dilakukan setiap hari di Jakarta dan sekitarnya sampai kondisi udara di Jakarta kembali normal. 

    Baca: Penyemprotan air dinilai bisa bahayakan kesehatan

    “Nanti perkiraan saya sebetulnya harusnya tanggal 2-4 (september) itu harus
    dilakukan lagi, harusnya sih setiap hari ya sampai idealnya,” ujar Siti usai
    penganugerahan Green Leadership Nirwasita Tantra di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta Selasa (29/08/2023).

    Di kawasan Tanah Sareal, KLHK menyebut hujan berhasil menurunkan polusi
    udara. Dari pukul 16.00 WIB, angka Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU)
    adalah 87. Kemudian setelah hujan, angka ISPU menjadi 13.

    Pihak KLHK juga sudah bertemu dengan instansi terkait yaitu BRIN, BPPT, BNPB dan pemprov DKI Jakarta untuk melakukan modifikasi cuaca.

    Lebih jauh, Siti menjelaskan, modifikasi cuaca dapat dilakukan tergantung dari
    kondisi awan dan uap air yang harus berada diatas 70 persen.

    “Jadi kalau masih tipis, nggak akan turun hujan. Kayak kemarin kan mendungnya banyak ya, tapi di Jakarta nggak hujan kemarin, tapi di daerah lain ada hujannya,” jelasnya.

    Baca: Berbagai opsi jangka pendek atasi polusi udara di Jakarta

    Selain memodifikasi cuaca, KLHK juga mengajak masyarakat untuk menanam
    pohon sesuai dengan instruksi presiden.

    Upaya lainnya, lanjut Siti, pihaknya menindak sebanyak 161 industri PLTU, PLTD yang terindikasi mencemari udara di enam lokasi.

    “Jadi misalnya, yang selalu konsisten tidak sehat di Sumur Batu (Kemayoran,
    Jakarta Pusat) dan Bantargebang (Bekasi). Kira-kira ada 120 unit usaha,”
    ungkapnya.

    Siti juga menyebut sebanyak 10 entitas pencemar di Lubang Buaya, Jakarta Timur, 7 entitas di Tangerang, 15 entitas di Tangerang Selatan, dan 10 entitas di Bogor.

    Hingga 24 Agustus, pihaknya hanya memberikan sanksi administrasi kepada 11
    entitas. Sampai lima pekan kedepan pihaknya akan terus melakukan identifikasi.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Atasi Polusi Udara, Pabrik yang Tak Gunakan Alat Pengendali Polusi Akan Ditindak

    Atasi Polusi Udara, Pabrik yang Tak Gunakan Alat Pengendali Polusi Akan Ditindak

    7cloud.asia – Untuk mengatasi polusi udara, pemerintah akan menindak tegas pelaku industri yang tidak memasang scrubber (alat pengendali polusi) serta tidak menaati aturan pengendalian emisi gas ruang kaca.

    Penegasan ini disampaikan oleh Presiden Joko Widodo setelah meninjau sekolah
    menengah kejuruan negeri di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/08/2023).

    Jokowi mengatakan tindakan tegas tersebut bisa berupa sanksi, denda atau bahkan bisa ditutup. Hal ini dilakukan karena dampak polusi udara sudah sangat mengkhawatirkan.

    Baca: Pemerintah diminta tak berikan solusi palsu terkait polusi udara

    “Di rapat kemarin sudah saya sampaikan, kalau (industri) tidak mau memperbaiki, tidak pasang scrubber (alat kendali polusi), (maka ada tindakan) tegas untuk ini…, karena harga kesehatan yang harus kita bayar itu mahal sekali” papar Jokowi seperti yang dikutip Antaranews.

    Dalam upaya mengurangi polusi udara, pemerintah juga mengkaji pemberlakuan
    aturan bekerja dari rumah bagi aparatur sipil negara, meningkatkan pengawasan
    terhadap pengoperasian pembangkit listrik tenaga uap.

    Pemerintah juga melaksanakan uji emisi pada kendaraan bermotor dan industri yang dinilai mengeluarkan emis dalam proses produksinya.

    Baca: Berbagai opsi jangka pendek untuk atasi polusi udara

    Sebelumnya, pemerintah telah mengenakan sanksi administratif kepada 11 industri yang menjadi sumber polusi udara. Sanksi tersebut dikenakan kepada perusahaan batubara, peleburan logam, kertas, dan arang.

    Pada kesempatan itu, Jokowi juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama
    mengatasi polusi udara di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

    “Ini memang perlu kerja total, kerja bersama-sama, tetapi memerlukan waktu, tidak bisa langsung. Banyak yang akan kita kerjakan untuk menyelesaikan (masalah) ini, tetapi memang bertahap ya (prosesnya),” jelas Jokowi.

    Baca: KLHK segel empat perusahaan yang diduga biang polusi udara

    Salah satu yang dapat masyarakat lakukan, lanjut Jokowi, dengan beralih ke
    transportasi massal serta menanam pohon. Hal ini sebagai upaya yang dapat
    dilakukan secara mandiri untuk membantu mengurangi polusi udara.

    Di samping itu, pemerintah melakukan langkah-langkah untuk mencegah dampak
    peningkatan polusi udara di perkotaan terhadap kesehatan warga.

    Pemerintah mengampanyekan penerapan ​​​​​​​protokol 6M+1S untuk mencegah dampak buruk polusi udara terhadap kesehatan. 

    Baca: Warga desak razia emisi juga dilakukan di kawasan industri

    Protokol 6M+1S meliputi memeriksa kualitas udara, mengurangi aktivitas luar
    ruangan, menggunakan penjernih udara, menghindari sumber polusi udara.

    Selain itu masyarakat juga diimbau untuk menggunakan masker, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, dan segera berkonsultasi dengan petugas kesehatan jika mengalami gangguan kesehatan.

    Reporter: Nurakhmayani

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor sudah sangat mendesak dilakukan

  • Hujan Buatan Belum Optimal Atasi Polusi Udara di Jakarta, Ini Penyebabnya

    Hujan Buatan Belum Optimal Atasi Polusi Udara di Jakarta, Ini Penyebabnya

    7cloud.asia – Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilakukan oleh BMKG selama beberapa hari yang lalu dianggap belum optimal dalam mengatasi polusi udara di Jakarta.

    Hal ini karena kondisi awan saat ini belum matang dan durasi hujan buatan yang dihasilkan singkat sehingga usaha yang dilakukan BMKG belum optimal mengatasi polusi udara di Jakarta. 

    Baca: KLHK sebut hujan buatan idealnya dilakukan setiap hari

    Penjelasan soal hujan buatan  ini diungkapkan oleh periset Iklim dan Atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eddy Hermawan dalam bincang sains pada Rabu (30/08/2023).

    “Belum tepat untuk penyemaian baik dari segi awan maupun arah dan kecepatan
    angin juga tidak mendukung,” kata Eddy seperti yang dikutip Antaranews.

    Selain itu ia menjelaskan hujan buatan yang mengguyur Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi selama beberapa hari terakhir dipicu oleh Siklon Tropis Saola yang berada di Filipina.

    Baca: Atasi polusi udara, gedung tinggi di Jakarta diminta lakukan water mist

    Siklon Tropis Saola memiliki kecepatan angin maksimum sebesar 85 knot atau
    setara 155 kilometer per jam dengan tekanan udara minimum sebesar 955 milibar.

    “Badai itu menarik awan dan uap air dari berbagai tempat dengan cepat, salah
    satunya dari perairan selatan Pulau Jawa,” urai peneliti ahli utama BRIN ini.

    Awan dan uap air yang tertarik siklon tropis tersebut, lanjut Eddy, melewati wilayah Jabodetabek. Pemusatan tekanan rendah yang ada pada daerah-daerah tersebut turut memicu hujan turun.

    Baca: Berbagai opsi jangka pendek atasi polusi udara di Jakarta

    Selain melakukan modifikais cuaca, pemerintah juga melakukan penyemprotan air dari gedung-gedung tinggi untuk mencuci udara agar kadar polusi turun.

    Cara ini menurutnya baik sebagai solusi instan untuk mengatasi polusi udara di Jakarta.

    “Kalau menunggu Jakarta diguyur hujan, maka kita tunggu monsun Asia mulai
    masuk atau kapan Indian Ocean Dipole (IDO) itu mulai mendekati fase netral,”  jelas Eddy.

    Baca: El Nino memuncak, warga diminta hemat air

    Fenomena osilasi suhu air permukaan laut atau Dipol Samudra Hindia bergerak ke posisi netral pada akhir Desember, Januari, dan Februari 2024.

    Edy meyakini dampak El Nino masih cukup kuat terasa di Indonesia bahkan hingga Maret, April, dan Mei 2024.

    “Ini yang perlu kita waspadai. Memang sifatnya (El Nino 2023) tidak strong dari segi kekuatan, tetapi durasinya cukup lama sekitar 9-12 bulan,” katanya.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Pengamat: Ada Bias Kota dalam Kebijakan Transisi Mobil Listrik untuk Atasi Polusi Udara

    Pengamat: Ada Bias Kota dalam Kebijakan Transisi Mobil Listrik untuk Atasi Polusi Udara

    7cloud.asia – Belakangan ini para pejabat sedang gemar menekankan penggunaan mobil listrik sebagai salah satu solusi mengurangi polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.

    Mereka mengimbau aparat, mulai dari pejabat kementerian maupun pemerintah daerah, pegawai DPRD DKI Jakarta, hingga kepala sekolah, untuk beralih ke mobil listrik untuk atasi polusi udara.

    Dalam perbincangan publik, penggunaan mobil listrik pun masih dianggap salah satu solusi efektif untuk atasi polusi udara selain penutupan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan kebijakan bekerja dari rumah (work from home).

    Mobil listrik yang diklaim minim emisi dianggap dapat menguntungkan perkotaan karena mobilitas warga Jabodetabek menjadi lebih ‘bersih’.

    Benarkah transisi ke mobil listrik solusi efektif bagi polusi udara di jakarta dan Indonesia? Berikut tulisan  Senior lecturer, Universitas Gadjah Mada yang sudah terbit di The Conversation.

    Baca: Transisi ke mobil listrik dinilai tak selesaikan akar masalah polusi udara

    Terlepas pro-kontra sebagai solusi, persepsi pemerintah dan publik tentang mobil listrik turut menandakan masih kuatnya bias kota dalam kebijakan.

    Bias ini terbentuk karena para pembuat kebijakan acap berada di kota dan proses pembuatan kebijakan yang belum berpihak pada wilayah pedesaan.

    Bias juga mungkin terjadi karena mayoritas percakapan publik menyoroti kawasan perkotaan.

    Bias kota merupakan masalah serius. Jika tidak segera diredam, gembar-gembor kebijakan oleh pemerintah–termasuk mobil listrik–hanya menjadi solusi bagi orang kota tapi petaka bagi warga desa.

    Bagaimana bias kota terjadi? Ahli kajian pembangunan dari University of Sussex di Inggris, Michael Lipton, mengidentifikasi bias kota sebagai salah satu masalah utama ketidakmerataan pembangunan di kelompok Selatan atau Global South.

    Baca: Solusi palsu atasi polusi udara

    Bias kota dibangun di atas dua argumen, proses pembangunan di Global South cenderung tidak berpihak pada wilayah pedesaan

    Serta kecenderungan ini terlembaga dalam struktur politik yang ada yang didominasi oleh kelompok-kelompok perkotaan.

    Bias kota mengakibatkan komunitas di pedesaan menanggung dampak sosial, ekonomi dan lingkungan dari sebuah kebijakan yang menopang kepentingan dan menguntungkan kelompok perkotaan serta lebih berkuasa.

    Dengan kata lain, kota-desa bukan semata-mata kategori fisik kewilayahan tapi juga kapasitas politik. “Kota” dimaknai ulang sebagai pusat (center) dan desa sebagai pinggiran (periphery).

    Kita dapat mengenali bias kota dari fokus pembicaraan yang lebih melihat mobil listrik sebagai produk akhir seperti efisiensi mobil listrik, biaya perolehan, dan lain-lain.

    Baca: Opsi jangka pendek atasi polusi udara di Jakarta

    Percakapan ini juga diramaikan oleh masyarakat perkotaan sebagai pengguna produk akhir.

    Padahal, sebagai sebuah produk, mobil listrik memiliki rantai pasok panjang yang melibatkan berbagai masyarakat lokal di pedesaan.

    Walhasil, kebijakan apapun terkait mobil listrik akan berdampak baik langsung maupun tak langsung kepada masyarakat setempat.

    Transisi ke mobil listrik justru memicu dampak berlipat bagi warga desa. Rantai pasok mobil listrik berawal dari proses penambangan bahan mineral kritis, khususnya nikel, grafit, dan tembaga–komponen utama baterai mobil listrik.

    Dalam proses ini, Indonesia merupakan negara kunci karena menguasai 48% produksi nikel dunia.

    Baca: Mobil listrik idklaim baik untuk lingkungan dan keuangan negara

    Kendati demikian, masyarakat yang hidup di sekitar tambang nikel justru menanggung dampak negatif secara sosial, ekonomi dan lingkungan.

    Laporan Kompas dan katadata.co.id menyatakan ada peningkatan persentase kemiskinan di daerah kaya nikel seperti Sulawesi Tengah (0,11%), Sulawesi Tenggara (0.16%), dan Maluku Utara (0,09%).

    Sementara itu, hasil riset La Husen Zuada dari Universitas Tadulako menemukan hanya elit, termasuk elit lokal, yang meraup keuntungan dari geliat penambangan nikel.

    Data tersebut bertolak belakang dengan klaim Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, yang menyatakan industri nikel dapat mengurangi angka kemiskinan dan menaikkan pertumbuhan ekonomi di daerah.

    Kondisi ini diperparah dengan kerusakan lingkungan dan ancaman penghidupan masyarakat di sekitar tambang.

    Baca: Polusi udara dunia terkonsentrasi di enam negara, termasuk Indonesia

    Di Halmahera Tengah, misalnya, masyarakat desa yang kesulitan bertani atau berkebun tidak bisa begitu saja beralih ke sektor ekonomi terkait pertambangan karena keterbatasan modal dan keterampilan.

    Lebih jauh, laporan organisasi lingkungan Yayasan Auriga juga menunjukkan upaya pertambangan nikel sejak 2012 sudah menyebabkan deforestrasi sebesar 25 ribu hektare di berbagai wilayah Indonesia.

    Smelter di kawasan industri nikel pun beroperasi dengan menggunakan PLTU sehingga memperparah pencemaran.

    Berbagai masalah di atas menunjukkan adanya fenomena tiga ketimpangan atau triple inequalities (adaptasi, kerentanan dan tanggung jawab) dalam kebijakan mobil listrik.

    Triple inequalities terjadi ketika suatu masyarakat di sekitar tambang harus menanggung efek negatif paling besar dari perubahan iklim itu sendiri. Padahal, mereka memiliki kapasitas adaptasi yang rendah sehingga menjadi sangat rentan.

    Baca: PBB sebut polusi udara picu 7 juta kematian dini setiap tahun

    Pada saat yang sama, warga desa juga harus menanggung dampak masifnya produksi mobil listrik sebagai solusi emisi dan pencemaran yang sebenarnya sebagian besar dihasilkan masyarakat di wilayah perkotaan.

    Diskusi publik tentang mobil listrik harus ditempatkan tidak semata-semata soal inovasi teknologi bersih tapi juga dalam konteks keadilan baik dari sosial maupun kewilayahan.

    Hal ini selaras dengan argumentasi pakar sosiologi Sulfikar Amir dalam bukunya Technological State in Indonesia: the Co-constritution of High Technology and Authoritarian Politics.

    Sulfikar menyatakan suatu teknologi tidak lahir dari ruang hampa. Teknologi menggaungkan dan mewakili bagaimana sebuah masyarakat ditata dan bagaimana sistem politik dikelola.

    Singkat kata, mobil listrik di Indonesia menggambarkan bukan hanya ketimpangan sosial antara elit dan masyarakat di akar rumput. Mobil listrik juga menggambarkan ketimpangan spasial antara kota sebagai pusat dan desa sebagai pinggiran.

    Baca: Warga Marunda minta data perusahaan pemicu polusi udara dibuka

    Pemerintah seharusnya membenahi kebijakan mobil listrik dengan memasukkan aspek keadilan sosial. Aspek ini terkait dengan keterhubungan suatu kebijakan dengan isu spasial, kelas sosial, dan gender..

    Ada dua langkah pembenahan yang bisa dilakukan. Pertama, pembahasan untung-rugi kebijakan mobil listrik yang melihat seluruh rantai pasok mobil listrik dari hulu ke hilir.

    Dengan kata lain, proses perumusan kebijakan tidak boleh hanya berdasarkan pertimbangan warga di perkotaan (sebagai pusat) tapi juga warga desa (sebagai pinggiran).

    Pemerintah pusat dapat memfasilitasi forum perencanaan pembangunan dan kebijakan yang bersifat lintas daerah.

    Kedua, mendorong proses kebijakan mobil listrik yang inklusif. Kebijakan mobil listrik memang banyak menyangkut aspek teknis.

    Baca: Sumber utama polusi udara di Jakarta adalah batubara

    Namun, hal itu tak bisa menjadi pembenaran untuk membiarkan suara dan kepentingan komunitas-komunitas sosial yang rentan dan berisiko terpinggirkan.

    Perumusan kebijakan mobil listrik tidak hanya ditujukan untuk warga negara (sebagai objek kebijakan) tapi juga harus melibatkan warga negara (sebagai subjek kebijakan).

    Hal ini untuk memastikan tidak ada lagi komunitas yang paling sedikit berkontribusi pada emisi karbon, tapi menanggung dampak terbesar kerusakan lingkungan.

    Sumber: The Conversation

  • 4 Unit Pembangkit PLTU Suralaya Dimatikan Tak Signifikan Kurangi Polusi Udara

    4 Unit Pembangkit PLTU Suralaya Dimatikan Tak Signifikan Kurangi Polusi Udara

    7cloud.asia – Pemerintah akhirnya memutuskan untuk mematikan empat unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbahan batubara atau PLTU Suralaya

    Shutdown PLTU batubara Suralaya unit 1, 2, 3 dan 4 dilakukan sejak 29 Agustus 2023 sebagai upaya pemerintah menekan polusi udara yang terjadi di DKI Jakarta dan sekitarnya.

    Saat ini PLTU Suralaya sudah memiliki sebanyak 10 unit. Dengan dimatikannya 4 unit maka saat ini ada 6 unit pembangkit yang masih beroperasi.

    PLTU Suralaya dituding sebagai salah satu biang tingginya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.

    Baca: KTT ASEAN berlangsung di tengah udara Jakarta yang tidak sehat

    Mengacu data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pembangkit berbahan bakar batubara menjadi salah satu penyumbang terbesar terjadinya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya, tepatnya mencapai 31% setelah sektor transportasi yang berkontribusi sebesar 44%.

    Namun demikian, hingga hari ini atau lebih sepekan setelah shutdown PLTU Suralaya dilakukan kualitas udara di Jakarta hanya sedikit mengalami perbaikan.

    Dipantau dari laman IQAir pada Rabu (6/9/2023) siang indeks kualitas udara Jakarta tercatta berada di angka 158 atau masuk kategori tidak sehat.

    Meski demikian, peringkat Jakarta sebagai kota terpolusi turun, dan hari ini berada di posisi 10 (Indonesia) dan berada di poisi ke 4 dunia. 

    Baca: PLTU Batubara dituding sebagai biang polusi udara

    Tidak optimalnya penurunan polusi udara pasca penutupan PLTU Suralaya juga diungkapkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir seperti dilansir CNBC Indonesia

    “Okelah, ini (PLTU Suralaya) disalahkan. Kita matikan Suralaya 1, 2, 3, 4, tetapi apa? data terakhir tidak mengurangi polusi ternyata, tapi tetap kita matikan, karena ini komitmen sama-sama kita menjaga polusi, polusi ini musuh kita bersama, karena ini kesehatan kita sehari-hari yang tinggal di Jakarta,” terang Menteri Erick Thohir di usai Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, dikutip Sabtu (2/9/2023)

    Terpisah, General Manager PLN Indonesia Power Suralaya PGU (Power Generation Unit) Irwan Edi Syahputra Lubis mengatakan kondisi ini disebabkan PLTU Suralaya telah menerapkan sejumlah teknologi untuk mengendalikan emisi di setiap produksinya.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta tutup dua perusahaan yang disebut biang polusi udara

    Sehingga, meski PLTU Suralaya sebagian unitnya ditutup polusi udara di Jakarta tetap masih tinggi.

    Bahkan angka penurunan polusi terlihat menurun ketika masyarakat menerapkan sistem kerja work from home (WFH). Meskipun begitu pihaknya tetap terus mendukung upaya pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan.

    “Kita dapati polusi di Jakarta saat ini itu bukan berasal dari PLTU. Jadi tidak ada kontribusi dari PLTU Suralaya,” kata Irwan epada wartawan di PLTU Suralaya, Cilegon, Banten, Selasa (5/9/2023).

    PLTU Suralaya 1, 2, 3 dan 4 memiliki kapasitas sebesar 4 x 400 Mega Watt (MW) atau 1600 MW yang berlokasi di Merak, Cilegon, Banten milik anak usaha PT PLN (Persero) yakni PT Indonesia Power (IP).

    Baca: Rekomendasi IESR untuk percepat transisi ke energi terbarukan

    PLTU Suralaya pertama kali dibangun pada tahun 1984 dengan 2 (dua) Unit Pembangkit. Saat ini PLTU Suralaya sudah memiliki sebanyak 10 unit. Dengan dimatikannya 4 unit maka saat ini ada 6 unit pembangkit yang masih beroperasi.

  • Luhut: China Butuh 20 Tahun untuk Atasi Polusi Udara

    Luhut: China Butuh 20 Tahun untuk Atasi Polusi Udara

    7cloud.asia – Masalah polusi udara hingga kini masih menjadi PR bersama pemerintah, industri dan masyarakat. 

    Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan, mengatasi polusi udara merupakan pekerjaan maraton yang panjang dan tidak semudah orang membalikkan telapak tangan.

    Perlu komitmen pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan kerjasama semua pihak agar polusi udara dapat segera diatasi.

    Pemerintah mengakui mengatasi masalah polusi udara tak mudah. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk bersabar dan mendukung semua upaya pemerintah.

    Baca: Pemerintah diminta tak beri solusi palsu soal polusi udara

    Luhut mencontohkan China yang mengalami masalah yang sama, butuh waktu 20 tahun untuk mengatasinya.

    “Lihat China itu, 20 tahun baru bisa selesaikan. Terakhir itu 2013 sampai 2017, empat tahun itu mereka intensif sekali. Kita juga akan nanti begitu juga,” kata Luhut seperti yang dikutip Detik.com pada Rabu (6/9/2023).

    Pemerintah, lanjut Luhut, kini tengah melakukan melangsungkan kajian terhadap
    penyebab polusi udara lewat program kemitraan Indonesia-Australia untuk
    perekonomian (Prospera). 

    “Sekarang lagi dihitung mereka (Prospera). Ini kan bukan seperti balik tangan.
    Kadang banyak teman-teman itu pikir kok nggak begini ya Kan begitu harus
    dihitung,” jelas Luhut.

    Baca: Berbagai opsi jangka pendek untuk atasi polusi udara

    Pada kesempatan itu, Luhut juga menyinggung tentang rencana untuk menutup 
    pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara. Karena itu pihaknya kini tengah
    menyiapkan insentif untuk para operatornya.

    Tetapi ia tak merinci bagaimana skema insentif tersebut akan diterapkan. Luhut memaparkan saat ini sektor transportasi yang paling banyak menyumbang polusi udara melalui emisi karbon yang tinggi.

    Bahan bakar dengan angka oktan rendah pun berpotensi menghasilkan emisi lebih besar. 

    “Hasil pengetesan di lapangan sekarang 37% sepeda motor tidak lulus uji emisi. Nah jadi sekarang kita mau perbaikin dulu bahan bakarnya,” katanya.

    Baca: 4 unit pembangkit PLTU Suralaya ditutup

    Pertimbangan tersebut yang menjadi dasar rencana pemerintah untuk menghapus Pertalite. Sebagai gantinya pengguna pertalite dapat beralih ke Pertamax Green 92.

    Luhut mengatakan, penghapusan Pertalite ini sejalan dengan rencana pengalihan BBM fosil menuju ke BBM campur etanol demi menurunkan angka emisi di Tanah
    Air.

    “Nanti kita lakukan semua itu nanti. Sekarang lagi dihitung ini kan apa namanya
    supaya ini kan masalah polusi juga. Jadi kita mau etanol berapa persen supaya
    oktannya turun,” tutupnya.

    Sebelumnya pemerintah pusat bekerjasama dengan pemprov DKI telah melakukan berbagai upaya dalam mengatasi masalah polusi udara. Diantaranya melakukan uji emisi kendaraan dan menindak pengendara yang kendaraannya tak lulus uji emisi.

    Baca: Pembatasan kendaraan bermotor mendesakk dilakukan untuk atasi polusi udara

    Upaya lainnya adalah dengan teknologi modifikasi cuaca (TMC) Konvensional. TMC Konvensional itu bisa dilakukan tidak hanya di atas wilayah DKI Jakarta.

    Metode ini juga memungkinkan dilakukan di atas wilayah lain seperti di atas Bekasi, Kepulauan Seribu atau Tangerang untuk mengurangi polusi udara di Jakarta.

    Tak hanya itu, beberapa waktu yang lalu Polda Metro Jaya mengerahkan 4 unit kendaraan water cannon Brimob untuk menyemprot kedua sisi jalan protokol Jenderal Sudirman hingga ke Bundaran Senayan, Jakarta Pusat.

    Hal ini dilakukan untuk mengurangi polusi udara di Jakarta. 

    Selain itu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) membentuk tim mengawasi dan menindak sumber-sumber pencemaran tak bergerak seperti PLTU maupun Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), industri, pembakaran sampah terbuka, limbah elektronik, dan lain sebagainya di wilayah Jabodetabek.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Pemprov DKI Jakarta: Pemasangan Water Mist Paling Lambat 11 September

    Pemprov DKI Jakarta: Pemasangan Water Mist Paling Lambat 11 September

    7cloud.asia – Pemprov DKI Jakarta memberi waktu hingga 11 September bagi pengelola bangunan bertingkat di Jakarta untuk memasang water mist.

    Pemasangan water mist di gedung tinggi ini guna mengatasi polusi udara di Jakarta.

    Juru bicara Satgas Pengendalian Pencemaran Udara Pemprov DKI Jakarta Ani Ruspitawati menjelaskan pihaknya akan memberikan teguran kepada pengelola gedung yang tidak memasang alat water mist.

    “Ya, kami berharap seperti itu (sebelum 11 September terpasang),” ujar Ani seperti yang dilansir Detik.com.

    Baca: Ini penjelasan pemasangan water mist

    Hingga Jumat (8/9/2023) baru tiga gedung tinggi milik perusahaan swasta yang telah memasang water mist generator.

    “Ya (baru tiga yang pasang water mist, red). Sebenarnya karena alat, produksi alatnya juga agak sulit karena penyedianya baru satu. Kedua bahan baku,” ungkapnya.

    Ketiga gedung yang telah memasang water mist tersebut adalah gedung milik PT United Tractors, PT Pamapersada dan PT Soho Global Health.

    Ani menjelaskan imbauan memasang water mist merupakan tindak lanjut perintah Presiden Joko Widodo untuk menangani polusi udara.

    Baca: Berbagai opsi jangka pendek untuk atasi polusi udara di Jakarta

    “Ini bukan perintah yang main-main, Pak Presiden langsung memerintahkan Pak Pj. Pak Pj langsung memerintahkan kepada kami untuk segera mengimbau pemasangan water mist di gedung-gedung Pemprov DKI maupun swasta dengan persyaratan tertentu,” jelasnya.

    Persyaratan yang dimaksud adalah gedung harus lebih dari 8 lantai atau memiliki ketinggian 20 meter dan kurang dari 200 meter.

    Dengan persyaratan tersebut, lanjut Ani sebenarnya para pemilik gedung swasta bersedia memasang water mist generator di atas gedungnya untuk membantu penanganan polusi udara.

    Namun, saat ini pemsangan water mist terkendala ketersediaan alat masih terbatas karena terkendala proses produksi.

    Baca: Greenpeace minta pemerintah tak berikan solusi palsu atasi polusi udara di Jakarta

    “Gedung-gedung swasta sudah siap untuk menyelenggarakan water mist sendiri, hanya kendalanya adalah ketersediaan dari generatornya,” ungkapnya. 

    Sementara itu, kepala Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH DKI Jakarta, Fitri, menjelaskan hingga kini baru ada satu perusahaan yang memproduksi water mist generator.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Dinas LHK DKI Jakarta Tindak Tegas Industri Peleburan Logam Pemicu Polusi Udara

    Dinas LHK DKI Jakarta Tindak Tegas Industri Peleburan Logam Pemicu Polusi Udara

    7cloud.asia – Pemprov DKI Jakarta terus melakukan pengawasan terhadap industri yang diduga memicu polusi udara, termasuk perusahaan peleburan logam.

    Untuk mengurangi polusi udara perusahaan itu diminta mengaktifkan pemantauan emisi berkelanjutan atau Continuous Emission Monitoring (CEM) pada cerobong tungku pemanasan ulang (reheating).

    Hal ini dilakukan untuk memonitor zat emisi yang keluar dari cerobong asap secara akurat sehingga bisa mencegah polusi udara.

    Dikutip dari Antaranews, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto pada sabtu (09/09/2023) menjelaskan sanksi administratif berupa paksaan.

    Baca: KLHK segel 4 perusahaan yang diduga biang polusi udara

    Sanksi ini diberikan kepada perusahaan  peleburan logam di Jakarta Timur, yaitu PT. Jakarta Asia Steel.

    Namun, jika sanksi administratif paksaan pemerintah ini tidak dihiraukan, maka dapat ditingkatkan menjadi penghentian sementara sebagian atau seluruh kegiatan.

    Sementara itu, ketua sub kelompok Penegakkan hukum DLH DKI Jakarta, Hugo Efraim menjelaskan penggunaan cerobong reheating harus mendapatkan sertifikat layak operasi.

    Pemantauan emisi berkelanjutan dari CEM ini dapat terhubung langsung dengan Sistem Informasi Pemantauan Emisi Industri Kontinyu (SISPEK) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    Baca: Razia emisi juga dilakukan di kawasan industri

    Selain itu, pemprov DKI berharap usaha peleburan logam dapat meminimalisir kadar polutan yang dihasilkan dari hasil pemanasan dengan cara mengaktifkan alat penyaring partikel elektrostatis (Electrostatic Precipirator/ ESP).

    Sebelumnya pemprov DKI beberapa kali melakukan razia ke pabrik-pabrik yang diduga menjadi biang polusi udara.

    Asep mengatakan pihaknya memiliki wewenang untuk mencabut izin sebuah perusahaan jika terbukti melakukan pelanggaran.

    “Pasal 495 Peraturan Pemerintah RI Nomor 22 Tahun 2021 bahwa kami berhak
    menghentikan sementara sebagian atau seluruh usaha dan/atau kegiatan
    jika ditemukan pelanggaran terhadap pengelolaan lingkungan hidup,”
    jelasnya.

    Baca: 4 Unit PLTU Suralaya Dishutdown Tak Mampu turunkan polusi udara

    Dinas LHK Jakarta juga tak akan main-main kepada perusahaan dan/atau industri
    yang berkontribusi kepada pencemaran udara di Jakarta. 

    “Kami akan tindak semua perusahaan yang tak mau perbaiki pengelolaan  lingkungannya. DLH tak segan-segan untuk mencabut izin perusahaan itu,” ucapnya.

    Dalam menangani masalah polusi udara, pemprov DKI Jakarta tengah gencar melakukan pemantauan kepada seluruh perusahaan yang berpotensi melanggar dan mengakibatkan pencemaran lingkungan, khususnya pencemaran udara di Jakarta.

    “Saat ini, kami gencarkan sidak-sidak kepada seluruh industri di Jakarta. Kami kerahkan semua tim penegak hukum DLH untuk memantau industri,” ujar
    Asep.

    Reporter: Nurakhmayani

  • Rokok dan Polusi Udara, Mana yang Lebih Mematikan?

    Rokok dan Polusi Udara, Mana yang Lebih Mematikan?

    7cloud.asia – Sejumlah gangguan kesehatan atau penyakit seperti gangguan pernapasan, kanker, masalah jantung, stroke dan berbagai hal lain dihubungkan dengan polusi udara.

    Itu sebabnya polusi udara sering disebut sebagai “merokok gaya baru”. Seberapa besar bahaya polusi udara terhadap kesehatan dan bahkan umur kita?

    Sejumlah ilmuwan menyatakan, polusi udara merampok rata-rata usia hidup kita hampir tiga tahun (2,9 tahun), dua kali lipat dari yang diduga sebelumnya dan lebih besar daripada merokok.

    Dalam sebuah kajian yang diterbitkan di jurnal Cardiovascular Research, tim peneliti menyatakan dampak polusi udara pada kesehatan ini 10 kali lebih besar dalam menurunkan harapan hidup yang disebabkan oleh segala bentuk kekerasan digabungkan – termasuk perang.

    Baca: Warga Marunda desak pemerintah membuka data perusahaan pemicu polusi udara

    Para peneliti menemukan bahwa jumlah kematian karena polusi udara bisa melebihi kematian akibat merokok.

    Mereka menggunakan metode statistika untuk menghitung tingkat kematian dan pengurangan usia harapan hidup di tahun 2015 dan menemukan bahwa polusi udara terhubung ke 8,8 juta kematian.

    Sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, merokok tembakau bertanggungjawab terhadap lebih dari 8,2 juta kematian setiap tahun.  

    Dari angka itu, lebih dari tujuh juta disebabkan penggunaan langsung rokok dan produk turunannya.

    Baca: LSM desak pemerintah razia emisi di kawasan industri

    Paparan polusi udara terbukti meningkatkan risiko serangan kardiovaskuler dan penyakit pernapasan. Selain itu ada efek buruk lainnya terhadap kehidupan kita.

    “Kami percaya hasil ini memperlihatkan adanya ‘pandemi polusi udara’” kata Thomas Münzel, profesor di Mainz University Medical Center dan salah seorang penulis pada kajian tersebut, dalam pernyataannya.

    “Para pembuat kebijakan dan komunitas medis harus memberi perhatian lebih terhadap hal ini,” katanya.

    “Selama beberapa dekade terakhir, sedikit perhatian yang diberikan kepada polusi udara ketimbang pada rokok,” kata Münzel.

    Baca: Perlu langkah ekstrem atasi polusi udara di Jakarta yang sudah ekstrem

    Münzel dan rekan-rekannya berpendapat bahwa usia harapan hidup bisa meningkat dengan signifikan dengan pengurangan emisi bahan bakar fosil.

    Jika emisi ini bisa dipangkas ke angka nol, menurut mereka, usia harapan hidup secara global bisa meningkat setidaknya satu tahun. 

    Kehilangan regional dan nasional
    Tim ahli juga memperkirakan dampak jangka panjang paparan polusi udara terhadap usia harapan hidup secara regional dan nasional.

    Di Asia Timur, usia harapan hidup terpotong nyaris empat tahun, sementara yang terendah adalah di Oceania (0,8 tahun). Dampak juga berbeda tajam dari satu negara ke negara lain.

    Baca: Dampak polusi udara bagi kesehatan, dari ISPA hingga serangan jantung

    Di Chad, lebih dari tujuh tahun usia harapan hidup terpangkas karena polusi, sementara di Kolombia angkanya empat bulan (0,37 tahun).

    Kajian ini menganalisis emisi yang dihasilkan manusia maupun polusi alami, yaitu polusi yang tak terhindarkan seperti debu gurun dan kebakaran alami.

    Disimpulkan sekitar dua pertiga kematian prematur global yang disebabkan oleh polusi terhubung dengan tindakan manusia.

    “Ini bisa 80% di negara dengan pendapatan tinggi,” kata Thomas Münzel.

    Polusi udara kota ternyata tidak cuma berdampak pada pernapasan
    “Sekitar 5,5 juta kematian di seluruh dunia secara potensial bisa dihindari.”

    Baca: Polusi udara bisa memicu hipertensi

    Para peneliti juga menganalisis hubungan antara polusi udara dengan enam jenis penyakit mulai dari darah tinggi hingga kanker paru.

    Mereka menemukan bahwa penyakit jantung menjadi penyumbang terbedar dalam memangkas usia manusia, diikuti oleh infeksi pernapasan.

    “Ketika kita lihat bagaimana polusi memainkan peran dalam beberapa jenis penyakit, dampak terhadap penyakit kardiovaskuler merupakan yang terbesar. Sangat mirip dengan dmapak merokok,” kata Jos Lelieveld, anggota tim peneliti lain.

    “Polusi udara menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah seiring peningkatan stres oksidatif, yang lantas meningkatkan tekanan darah, diabetes, stroke, serangan jantung dan gagal jantung”.

    Sumber: BBC News Indonesia