7cloud.asia – Pemerintah akhirnya memutuskan untuk mematikan empat unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap berbahan batubara atau PLTU Suralaya
Shutdown PLTU batubara Suralaya unit 1, 2, 3 dan 4 dilakukan sejak 29 Agustus 2023 sebagai upaya pemerintah menekan polusi udara yang terjadi di DKI Jakarta dan sekitarnya.
Saat ini PLTU Suralaya sudah memiliki sebanyak 10 unit. Dengan dimatikannya 4 unit maka saat ini ada 6 unit pembangkit yang masih beroperasi.
PLTU Suralaya dituding sebagai salah satu biang tingginya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya.
Baca: KTT ASEAN berlangsung di tengah udara Jakarta yang tidak sehat
Mengacu data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pembangkit berbahan bakar batubara menjadi salah satu penyumbang terbesar terjadinya polusi udara di Jakarta dan sekitarnya, tepatnya mencapai 31% setelah sektor transportasi yang berkontribusi sebesar 44%.
Namun demikian, hingga hari ini atau lebih sepekan setelah shutdown PLTU Suralaya dilakukan kualitas udara di Jakarta hanya sedikit mengalami perbaikan.
Dipantau dari laman IQAir pada Rabu (6/9/2023) siang indeks kualitas udara Jakarta tercatta berada di angka 158 atau masuk kategori tidak sehat.
Meski demikian, peringkat Jakarta sebagai kota terpolusi turun, dan hari ini berada di posisi 10 (Indonesia) dan berada di poisi ke 4 dunia.
Baca: PLTU Batubara dituding sebagai biang polusi udara
Tidak optimalnya penurunan polusi udara pasca penutupan PLTU Suralaya juga diungkapkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir seperti dilansir CNBC Indonesia
“Okelah, ini (PLTU Suralaya) disalahkan. Kita matikan Suralaya 1, 2, 3, 4, tetapi apa? data terakhir tidak mengurangi polusi ternyata, tapi tetap kita matikan, karena ini komitmen sama-sama kita menjaga polusi, polusi ini musuh kita bersama, karena ini kesehatan kita sehari-hari yang tinggal di Jakarta,” terang Menteri Erick Thohir di usai Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR RI, dikutip Sabtu (2/9/2023)
Terpisah, General Manager PLN Indonesia Power Suralaya PGU (Power Generation Unit) Irwan Edi Syahputra Lubis mengatakan kondisi ini disebabkan PLTU Suralaya telah menerapkan sejumlah teknologi untuk mengendalikan emisi di setiap produksinya.
Baca: Pemprov DKI Jakarta tutup dua perusahaan yang disebut biang polusi udara
Sehingga, meski PLTU Suralaya sebagian unitnya ditutup polusi udara di Jakarta tetap masih tinggi.
Bahkan angka penurunan polusi terlihat menurun ketika masyarakat menerapkan sistem kerja work from home (WFH). Meskipun begitu pihaknya tetap terus mendukung upaya pemerintah dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Kita dapati polusi di Jakarta saat ini itu bukan berasal dari PLTU. Jadi tidak ada kontribusi dari PLTU Suralaya,” kata Irwan epada wartawan di PLTU Suralaya, Cilegon, Banten, Selasa (5/9/2023).
PLTU Suralaya 1, 2, 3 dan 4 memiliki kapasitas sebesar 4 x 400 Mega Watt (MW) atau 1600 MW yang berlokasi di Merak, Cilegon, Banten milik anak usaha PT PLN (Persero) yakni PT Indonesia Power (IP).
Baca: Rekomendasi IESR untuk percepat transisi ke energi terbarukan
PLTU Suralaya pertama kali dibangun pada tahun 1984 dengan 2 (dua) Unit Pembangkit. Saat ini PLTU Suralaya sudah memiliki sebanyak 10 unit. Dengan dimatikannya 4 unit maka saat ini ada 6 unit pembangkit yang masih beroperasi.

Leave a Reply