Tag: IKN

  • Jokowi Sebut IKN Proyek Rakyat, Mahfud Md: Nasibnya Juga Ditentukan oleh Rakyat

    Jokowi Sebut IKN Proyek Rakyat, Mahfud Md: Nasibnya Juga Ditentukan oleh Rakyat

    7cloud.asia – Guru Besar Hukum Tata Negara yang juga mantan Menko Polhukam, Mahfud Md., menyoroti klaim Presiden Joko Widodo soal proyek Ibu Kota Nusantara atau IKN di Kalimantan Timur.

    Jokowi mengklaim proyek Ibu Kota Nusantara atau IKN di Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur bukan proyek atau ambisi pribadinya, tapi proyek nasional.

    Menurut Jokowi pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke IKN sudah disetujui seluruh rakyat melalui DPR.

    “(IKN bukan keinginan Jokowi?) Ya betul kehendak rakyat, karena keinginan Pak Jokowi itu ditawarkan kepada rakyat dan rakyat setuju lalu dijadikan undang-undang, jadi betul secara resmi kehendak rakyat,” kata Mahfud saat menghadiri Kongres Pancasila XII di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kamis (26/9/2024).

    Baca: Anggaran pembangunan IKN dipangkas hingga separuhnya

    Namun, Mahfud menambahkan, jika IKN itu disebut kehendak rakyat, maka rakyat juga yang bisa memutuskan nasibnya. Apakah akan dilanjutkan atau tidak.

    “Oleh sebab itu, nasibnya IKN juga bisa ditentukan oleh rakyat, karena kan disebut kehendak rakyat,” kata dia.

    Diberitakan sebelumnya saat memberikan sambutan di Rakornas Baznas Tahun 2024, Istana Negara IKN, pada Rabu, (25/9/2024) Jokowi membantah bahwa IKN itu merupakan ambisi atau proyek pribadinya.

    “Jadi (IKN) ini bukan keputusan presiden saja, tetapi juga keputusan seluruh rakyat Indonesia yang diwakili oleh seluruh anggota DPR yang ada di Jakarta. Supaya jangan ada sebuah kekeliruan persepsi bahwa ini adalah proyeknya Presiden Jokowi, bukan,” kata Jokowi

    Baca: Rebutan akses air bersih di IKN

    Jokowi lantas memaparkan ulang ide pemindahan Ibu Kota Negara sudah muncul di era Presiden Soekarno. Namun setelah dilantik pada 2014, ia secara khusus meminta Bappenas untuk melihat lagi gagasan ini.

    Setelah melalui beberapa kajian, kata Jokowi, ada tiga kandidat calon ibu kota baru, salah satunya di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

    Setelah keputusan memilih di Kalimantan Timur, eks gubernur Jakarta ini mengaku menyampaikan izin kepada DPR.

    “Saya menyampaikan lisan di dalam rapat paripurna tanggal 16 Agustus, kemudian diikuti dengan pengajuan undang-undang mengenai ibukota Nusantara, dan itu disetujui 93 persen dari fraksi yang ada di DPR,” kata Jokowi.

    Sumber:Tempo.co

  • Pengamat Tata Kota Sebut Pembangunan di IKN Tidak Terencana dengan Baik

    Pengamat Tata Kota Sebut Pembangunan di IKN Tidak Terencana dengan Baik

    7cloud.asia – Pengamat tata kota Nirwono Yoga menilai pembangunan sebuah kota seharusnya melalui tahapan yang terencana baik, bukan seperti yang sedang berlangsung di IKN saat ini.

    Namun, Nirwono Yoga tetap mengapresiasi keberhasilan pemerintah yang akhirnya bisa menarik investor asing untuk menanamkan modalnya di IKN, calon ibu kota baru Republik Indonesia tersebut.

    Nirwono Yoga antara lain menyayangkan pembangunan sejumlah fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah dan pusat perbelanjaan pada tahapan awal pembangunan IKN. Ia, mempertanyakan untuk siapa bangunan dan fasilitas tersebut dibangun.

    “Maksud saya, pembangunan kota itu harusnya ada tahapan, kenapa misalnya bangunan A dibangun, untuk siapa? Sehingga jangan sampai bangunan itu, ternyata tidak termanfaatkan dengan baik,“ ujarnya dikutip dari VOA Indonesia.

    Nirwono menegaskan, tahapan pembangunan kota harusnya pakai strategi. Dia menyoroti groundbreaking rumah sakit Abdi Waluyo, RS Hermina, dan masih ada dua rumah sakit lagi.

    ”Masalahnya dengan adanya empat rumah sakit yang dibangun dengan jarak yang sangat dekat dalam kawasan KIPP (kawasan inti pusat pemerintahan) itu buat siapa? Ini jadi pertanyaan. angan asal main groundbreaking,” imbuh Nirwono.

    Baca: Biaya pembangunan IKN dipangkas hingga separuhnya

    Nirwono juga mempertanyakan investor asing yang berencana membangun sebuah apartemen yang lagi-lagi dibangun untuk siapa. Menurutnya, masyarakat sekitar IKN yang mayoritas berprofesi sebagai pemilik toko kelontong dan petani kelapa sawit, bukanlah target pasaryang tepat.

    Sementara itu, katanya, untuk ASN (aparatur sipil negara) sendiri, hampir dipastikan akan tinggal di rumah susun yang sudah disediakan pemerintah.

    Nirwono mengatakan, berdasarkan pengamatannya di lapangan, pembangunan di IKN tidak terkendali.

    “Dalam dua tahun terakhir saya mengamati dari nol sampai hari ini, pertumbuhannya sangat masif, akan sangat sulit kalau itu tidak segera ditata, diatur, investor masuk di tata lebih rapi, arsitektur bangunannya di tata mirip dengan KIPP, supaya pihak atau masyarakat IKN bisa merasakan perubahannya.

    Jadi, lanjutnya, investor harus diarahkan ke sana. Nirwono melihat yang terjadi sekarang adalah warga kawasannya sekitarnya malah dapat dampaknya saja.

    Ia menyebut debu yang tinggi, perkembangan kawasan sekitar yang masif, tapi ya semaunya yang punya tanah, bangun ya bangun sendiri, tidak ada integrasi, tidak ada yang memandu.

    Baca: Menjawab dugaan perampasan tanah rakyat di IKN

    Nirwono Yoga menyarankan, persoalan tersebut harus diselesaikan pemerintah dari sekarang, sebelum menjadi makin tak terkendali.

    Dia mengingatkan, dua tahun ini adalah waktu terbuang, karena pembangunannya hanya di KIPP sementara daerah sekitar tidak ikut ditata, dikendalikan senafas dengan IKN begitu nanti IKN nya jadi, tahun kelima misalnya, ya daerah sekitar sudah penuh.

    ”Akan lebih susah mengendalikan, mengaturnya. Karena yang saya lihat pembangunannya tidak hanya bangunan semi, tapi bangunan permanen, yang dibangun dengan caranya sendiri,” katanya.

    Nirwono Yoga melihat, tidak ada yang memandu dalam pembangunan IKN ini. istilahnya hanya mikirin duit, bagaimana itu menguntungkan. Kalau enggak nanti akan membuat menara gading baru disitu yang KIPP dengan bangganya bilang akan ada investor asing yang akan bangun mall dan lain-lain.

    ”Itu di menara gading maksudnya hanya di kawasan KIPP, bagus saja sendirian tapi kawasan sekitarnya justru tidak terdampak akibat pembangunan IKN. Kan harusnya kawasan sekitar ikut berkembang dengan standar baru yang dibuat di KIPP. Pemukimannya jadi bagus,” tambahnya.

    Sumber:VOAIndonesia

  • Investor Asing Belum Tentu Segera Berdatangan Pascagroundbreaking ke-8 di IKN

    Investor Asing Belum Tentu Segera Berdatangan Pascagroundbreaking ke-8 di IKN

    7cloud.asia – Ekonom Indef Nailul Huda menilai kebutuhan investasi di dalam pembangunan Ibu Kota Nusantara atau IKN masih jauh dari apa yang ditargetkan.

    Kebutuhan anggaran membangun IKN sekitar Rp450 triliunan, di mana Rp90-an triliun dari APBN, sisanya diharapkan dari swasta baik lokal maupun asing.

    “Asing ini memang diharapkan bisa cukup banyak, kalau bisa 40 persen kebutuhan anggaran itu berasal dari swasta asing, tetapi kalau lihat kemarin yang groundbreaking hanya sekitar Rp1,5 triliunan, ini sangat jauh dari apa yang dibutuhkan,” ungkap Nailul dikutip VOA Indonesia.

    Meski begitu, ia melihat sektor-sektor investasi asing yang masuk sejauh ini memang dibutuhkan di IKN dalam jangka panjang. Seharusnya, kata Nailul, jika semua berjalan dengan baik, sektor-sektor lainnya bisa ikut tertarik untuk menanamkan modalnya dalam beberapa tahun mendatang.

    Tetapi, ia tidak yakin bahwa kehadiran para investor asing tersebut bisa memicu investor-investor asing lainnya untuk ikut berinvestasi di IKN. Menurutnya, dengan adanya peralihan kekuasaan, para investor pada umumnya bersikap wait and see.

    Nailul melihat setelah ini tidak serta merta nantinya investor asing akan banyak, karena dari awal Jokowi sudah menyampaikan antri loh investor asing yang mau masuk, tetapi sekarang sampai groundbreaking ke-8 kemarin baru tiga saja, dan itu cuma berapa persen saja dari kebutuhan investor asing yang dibutuhkan.

    “Saya masih mempertanyakan apakah nanti investor asingnya akan berminat untuk investasi di IKN,” jelasnya.

    Sebelumnya, Presiden Joko Widodo melakukan groundbreaking ke-8 di IKN pada Rabu (25/9/2024) yang melibatkan sejumlah investor asing dari China, Australia dan Rusia.

    Baca: Pengamat tatakota menilai pembangunan IKN tidak terencana dengan baik

    Dalam sambutannya, Jokowi menegaskan, makin banyaknya investasi mancanegara yang mulai berdatangan ke IKN, menandakan adanya kepercayaan investor global terhadap potensi besar yang dimiliki oleh IKN.

    “Mulai berdatangan investasi-investasi dari mancanegara yang memberikan kepercayaan dan rasa confident kita bahwa Nusantara adalah lokasi yang sangat menarik bagi sebuah investasi,” ungkap Jokowi.

    Investor asing pertama yang melakukan groundbreaking adalah Delonix Group dari China yang membangun Delonix Nusantara dengan investasi senilai Rp500 miliar. Investor China ini rencananya membangun proyek kawasan properti mixed used di atas lahan seluas 24 ribu meter persegi.

    “Akan dikembangkan menjadi model J hotel, serviced apartment, pusat perbelanjaan, perkantoran dan pusat olahraga dan kebugaran di kawasan Ibu Kota Nusantara ini,” jelas Jokowi.

    Selain itu, Jokowi juga melakukan groundbreaking Campus Australian Independent School (AIS) Nusantara dengan nilai investasi Rp150 miliar. Sesuai namanya, investornya berasal dari Australia.

    Ia menekankan pentingnya kehadiran lembaga pendidikan internasional di IKN sebagai bagian dari upaya menyediakan fasilitas pendukung berstandar global.

    “Kehadiran AIS Nusantara di IKN ini menunjukkan keseriusan komitmen kita untuk menyediakan berbagai fasilitas pendukung berkelas internasional di IKN, termasuk lembaga pendidikan internasional yang berkualitas dunia,” ujarnya.

    Presiden menyebut bahwa AIS Nusantara akan dibangun di atas lahan seluas 7.900 meter persegi dan dirancang untuk menampung sekitar 750 siswa dari jenjang pendidikan prasekolah hingga sekolah menengah atas.

    Baca: Biaya pembangunan IKN dipangkas hingga separuhnya

    Fasilitas yang ditawarkan oleh kampus ini juga berstandar internasional, mencakup ruang belajar modern serta berbagai fasilitas olahraga dan rekreasi.

    Investor dari Rusia pun ikut melakukan groundbreaking dengan membangun hunian mewah ekslusif yang bernama Magnum Resort Nusantara dengan investasi senilai Rp300 miliar.

    Jokowi optimis bahwa pembangunan hunian seperti Magnum Resort Nusantara akan menarik lebih banyak investor dan membantu memperkuat ekosistem properti di IKN.

    “Kehadiran Magnum Resort di IKN ini akan memberikan lebih banyak pilihan-pilihan properti yang berkualitas, memberikan keleluasaan pilihan-pilihan masyarakat yang ingin tinggal di IKN,” kata Jokowi.

    Resort yang akan dibangun di atas lahan seluas 1,3 hektar tersebut diharapkan dapat memberikan lebih banyak opsi hunian berkualitas bagi masyarakat.

    Mantan Gubernur DKI Jakarta ini juga menekankan pentingnya infrastruktur dan investasi sebagai bagian integral dari pengembangan IKN sebagai kota internasional.

    Jokowi menjelaskan bahwa dengan rampungnya pembangunan jalan tol dan Bandara Nusantara pada akhir tahun mendatang akan semakin mempermudah akses menuju IKN.

    “Kita harapkan investasi ini akan menunjukkan bahwa peluang investasi yang ada di Ibu Kota Nusantara ini terbuka untuk siapapun karena ini akan menjadi kota global, karena Nusantara akan menjadi kota internasional dengan seluruh fasilitas yang dimiliki,” pungkasnya.

    Sumber:VOAINdonesia

  • Jokowi Sebut Keppres Pemindahan Ibu Kota ke IKN Seyogyanya Ditanda-tangani Prabowo

    Jokowi Sebut Keppres Pemindahan Ibu Kota ke IKN Seyogyanya Ditanda-tangani Prabowo

    7cloud.asia – Meski sebelumnya terkesan begitu optimis memindahkan ibu kota negara, hingga hari ini Presiden Joko Widodo tak kunjung meneken Keputusan Presiden atau Keppres pemindahan ibu kota ke Ibu Kota Nusantara.

    Bahkan dua pekan menjelang lengser, Jokowi malah melempar tanggung jawab itu ke penggantinya dengan mengatakan sepatutnya Keppres pemindahan ibu kota itu diteken oleh Presiden Terpilih Prabowo Subianto.

    Keppres pemindahan ibu kota, ujar Jokowi, baru bisa diteken ketika segala hal terkait kesiapan di ibu kota baru sudah terpenuhi.

    “Ya mestinya gitu, Presiden baru Pak Prabowo (yang menandatangani),” kata Presiden Joko Widodo usai membuka Nusantara TNI Fun Run di IKN, Kalimantan Timur, Minggu (6/10/2024) dikutip Antaranews.com

    Jokowi yang akan lengser pada 20 Oktober, sebelumnya menyampaikan tidak dapat memutuskan keputusan-keputusan strategis di penghujung masa jabatan yang tersisa tiga pekan lagi.

    Baca: IKN belum siap dihuni, ini solusi yang ditawarkan pakar

    Namun terkait Keppres pemindahan ibu kota, kata dia, hal ini juga menyangkut kesiapan segala sesuatu di IKN.

    “Sekali lagi saya sampaikan, memindahkan ibu kota itu tidak hanya urusan fisiknya saja, tapi membangun ekosistemnya itu yang perlu dan ekosistem itu harus jadi,” ujarnya.

    Dia mengatakan kepindahan ibu kota harus memastikan kesiapan segala infrastruktur pendukung seperti rumah sakit, sarana pendidikan mulai TK, SD, SMP/SMK hingga universitas, serta perlu ada pusat keramaian seperti restoran dan warung-warung.

    “Kemudian masalah yang berkaitan dengan logistik, di mana kita mencari sesuatu barang, di mana kita mencari sesuatu, ingin beli barang, semuanya itu harus siap. Kalau sekarang apartemennya siap, tapi kantornya belum, mau apa,” kata dia.

    Oleh karena itu dia menyampaikan bahwa Keppres selayaknya ditandatangani saat semua hal itu sudah siap yakni pada era kepemimpinan Prabowo Subianto nanti.

    Baca: Pengamat tata kota sebut pembangunan di IKN tidak terencana dengan baik

    Sebelumnya, Jokowi telah merencanakan memindahkan kantor pemerintah pusat ke IKN mulai Juli 2024. Namun rencana itu batal dilaksanakan.

    “Airnya sudah siap belum? Listriknya sudah siap belum? Tempatnya sudah siap belum? Kalau siap, pindah kantor pemerintahan,” ungkap Jokowi di Jakarta, Senin (8/7/2024).

    Menurut Jokowi, kepastian penundaan dirinya untuk berkantor di IKN pada Juli ini diperoleh setelah Kementerian PUPR menyatakan bahwa segala macam infrastruktur dasar belum juga rampung.

    Pengamat tata kota Nirwono Yoga mengungkapkan dengan berbagai kendala yang ada, langkah realistis yang bisa dilakukan oleh pemerintah saat ini adalah melaksanakan upacara HUT RI ke 79 di IKN yang mana mayoritas pesertanya adalah warga Kalimantan dan bukan dari Jakarta.

    “Kalau dilihat dari kondisi di lapangan fokus hanya untuk upacara saja, bukan untuk kehidupan kota. Artinya kita bisa berhitung secara realistis tidak usah semua (peserta upacara) dari Jakarta, tetapi teman-teman dari Kaltim, Balikpapan, Samarinda itulah nanti sebagai peserta utama kegiatan upacara,“ ujar Nirwono saat itu.

     

  • Jokowi Melempar Tanggung Jawab Kelanjutan Pembangunan IKN ke Prabowo

    Jokowi Melempar Tanggung Jawab Kelanjutan Pembangunan IKN ke Prabowo

    7cloud.asia – Presiden Joko Widodo atau Jokowi dinilai melempar bola panas ke presiden terpilih Pilpres 2024 Prabowo Subianto ihwal keberlanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

    Hal ini dikatakan ekonom dan pengamat kebijakan publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menanggapi pernyataan Jokowi yang mengatakan bahwa Keppres Pemindahan Ibu Kota semestinya diteken Prabowo.

    “Dengan menyerahkan keputusan akhir kepada Prabowo, Jokowi secara efektif melepaskan tanggung jawab penuh atas kelanjutan proyek tersebut,” kata Achmad melalui keterangannya, seperti dikutip Tempo.co, Selasa (8/10/2024).

    Sebab ketika proyek IKN nantinya menemukan hambatan atau bahkan gagal, Achmad berujar, Jokowi bisa menyatakan keberlanjutan proyek ini berada di tangan pemerintah baru.

    “Presiden Jokowi memang mengambil langkah politik yang sangat iicin,” kata dia.

    Baca Juga: Pengamat Tata Kota Sebut Pembangunan di IKN Tidak Terencana dengan Baik

    Sementara itu, Achmad menilai, Prabowo akan mengemban beban besar dari pembangunan IKN yang hingga saat ini baru rampung sekitar 21 persen.

    Mantan Danjen Kopassus itu bakal dihadapkan pada tantangan pendanaan, pembangunan infrastruktur, hingga kepastian ekosistem yang memadai di ibu kota baru yang terletak di Kalimantan Timur itu.

    Bila proyek IKN tidak berjalan sesuai rencana, Prabowo juga yang menanggung kritik dari semua pihak.

    “Presiden Jokowi melempar bola panas, mengalihkan risiko kegagalan yang mungkin timbul di masa depan,” ujarnya.

    Baca Juga: Menyorot Tudingan Perampasan Lahan Milik Rakyat dalam Pembangunan IKN

    Sebelumnya, Jokowi mengatakan Keppres tentang pemindahan ibu kota dari Jakarta ke IKN belum diteken karena menunggu kesiapan ibu kota baru.

    “Ya, mestinya gitu, (diteken) presiden yang baru, Pak Prabowo,” kata Jokowi di IKN, dikutip dari keterangan persnya, Minggu (6/10/2024).

    Jokowi juga menyebut pemindahan ibu kota negara bukan urusan fisik semata. Lebih dari itu, perlu membangun ekosistem di wilayah tersebut. Caranya, bisa dilakukan dengan membangun sejumlah infrastruktur pendukung di ibu kota.

    Di antaranya pembangunan seperti rumah sakit, sarana pendidikan di seluruh tingkatan, pusat keramaian seperti warung ataupun kafe, hingga urusan logistik.

    “Semuanya butuh waktu. Pindah rumah saja ruwetnya kayak gitu, ini pindah ibu kota,” ujar Jokowi.

  • IKN Tak Jadi Prioritas Pemerintahan Prabowo Subianto

    IKN Tak Jadi Prioritas Pemerintahan Prabowo Subianto

    7cloud.asia – Presiden Prabowo Subianto meminta pembangunan proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) dilanjutkan. Namun, Prabowo lebih mendorong penguatan infrastruktur untuk program swasembada pangan.

    Hal tersebut dikatakan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo saat ditanyai soal kelanjutan proyek IKN, usai mengikuti rapat kerja bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Senayan, Jakarta, Oktober lalu.

    “Kewajiban PU support pak Presiden swasembada pangan. Berarti support Kementan. Itu dulu yang utama,” kata Dody.

    Dody menyatakan, dirinya mendapat arahan dari Prabowo untuk membantu program swasembada pangan. Khususnya dalam pengadaan komoditas pangan utama semisal beras.

    “Arahannya itu swasembada pangan. Kita ini kekurangan beras loh, yang utama tuh itu. Takutnya nanti Ukraina meledak, Iran meledak, itu kan nanti kita jadi enggak bisa makan. Semua orang kan kalau enggak makan beras seolah-olah enggak makan, jangan lah. Beras itu utama,” bebernya.

    Baca: Pengamat tata kota sebut pembangunan di IKN tidak terencana dengan baik

    Untuk itu, Kementerian PU akan mendompleng produksi beras lewat infrastruktur di bidang sumber daya air, semisal pembangunan bendungan hingga irigasi.

    “Termasuk swasembada air, otomatis. Kalau support Kementan kan itu irigasi dan seterusnya. Air itu wajib karena kan penyediaan air baku. Jakarta contohnya penurunan muka tanah gara-gara air tanah sering disedot,” imbuhnya.

    Kendati begitu, Kabinet Merah Putih Prabowo tidak akan serta merta meninggalkan proyek IKN. Meskipun Dody menekankan swasembada pangan jadi program utama yang bakal pihaknya geluti.

    “Insya Allah langsung. Secepat-cepatnya lah pasti. Tapi pasti yang utama itu (swasembada pangan),” pungkas Dody.

    Sebelumnya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan, Prabowo sempat memberikan pengarahan soal kelanjutan proyek IKN kepada Kabinet Merah Putih saat retreat hari kedua di Akademi Militer (Akmil) Magelang Jawa Tengah, Sabtu (26/10/2024).

    Baca: Anggaran pembangunan IKN dipangkas hingga separuh

    Prabowo menargetkan pembangunan IKN rampung dalam waktu empat tahun.

    “Sesi terakhir sore ini, Pak Presiden Prabowo memberikan pengarahan. Satu dari empat point pengarahan beliau adalah soal IKN,” kata Raja Juli melalui akun Instagramnya @rajaantoni, dikutip dari kanal News Liputan6.com.

    Menurut dia, Prabowo menegaskan bahwa proyek IKN yang dimulai Presiden ketujuh RI Joko Widodo atau Jokowi itu akan dilanjutkan. Prabowo juga menyampaikan komitmen merampungkan pembangunan IKN dalam kurun waktu 4 tahun.

    “Soal IKN sebenarnya sudah sangat jelas. Sudah menjadi keputusan akan dilanjutkan dan diselesaikan. Tidak perlu ada pertanyaan lagi soal itu sebenarnya,” ujarnya.

    “Bahkan beliau sudah punya rencana akan merampungkan pembangunan IKN dalam 4 tahun,” sambung Raja Juli. (Sumber: Liputan6.com)

  • DPR: Pembangunan IKN Tak Perlu Tergesa-gesa Agar Tak Membebani Keuangan Negara

    DPR: Pembangunan IKN Tak Perlu Tergesa-gesa Agar Tak Membebani Keuangan Negara

    7cloud.asia – Publik bertanya-tanya tentang kelanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di tengah efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintahan Prabowo Soebianto.

    Dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi II DPR dengan Otoritas IKN, Rabu, (12/2/2025), Otoritas IKN menerima pemotongan anggaran dari Pagu semula Rp 6,3 triliun menjadi Rp 1,1 triliun.

    Namun, anggaran untuk Otoritas IKN kemudian ditambah kembali menjadi Rp 5,2 triliun.

    Anggaran tersebut belum termasuk untuk pembangunan gedung legislatif, yudikatif dan ekosistem pendukungnya yang telah disetujui senilai Rp 8,1 triliun pada tahun 2025.

    “Bila sebelumnya saya nyatakan tidak ada salahnya menunda IKN karena pemblokiran anggaran, maka saatnya kembali melaksanakan pembangunan sesuai tahapan, tidak usah tergesa-gesa” ujar anggota Komisi II DPR, Indrajaya dalam RDP tersebut.

    Baca: Menyorot efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintahan Prabowo

    Indrajaya lantas menjelaskan, bahwa anggaran IKN juga ada di Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU).

    Karena Kementerian PU mengalami pemblokiran anggaran sebesar 80 persen dari DIPA 2025 sebesar Rp 110,95 triliun menjadi Rp 29,57 triliun.

    Maka, oleh Kementerian PU, anggaran IKN yang semula Rp 60,6 triliun menjadi Rp 14,87 triliun.

    “Tentu saya berharap pada pembahasan anggaran selanjutnya, anggaran IKN akan ditambah, apalagi ini sifatnya pemblokiran yang dimungkinkan dibuka kembali,” terang Indra.

    Indrajaya menegaskan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) tidak perlu tergesa-gesa, serta harus sesuai tahapan yang terukur.

     

    Baca: Jokowi wariskan utang pemerintah sebesar Rp 8.461,93 triliun

    Hal ini disampaikannya menyusul Otoritas Ibu Kota Nusantara (OIKN) yang memperoleh tambahan anggaran pasca keluarnya Inpres No. 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD TA 2025.

    “Jangan sampai karena kondisi keuangan negara yang sedang dalam penataan, menghapus jiwa pengorbanan kita untuk tanah air” ujar Indrajaya dalam keterangan tertulis yang dikutip Parlementaria, di Jakarta, Minggu (16/2/2025).

    Indra mengingatkan, pembangunan IKN merupakan amanat UU No. 3 Tahun 2022.

    Sepanjang UU masih berlaku, maka pembangunan terus dijalankan. Terkait keluarnya Inpres efisiensi anggaran negara, jangan sampai melunturkan tanggung jawab pejabat-pejabat OIKN.

    “Yang terpenting ada milestone (target) yang terukur, karena ada yang namanya force majure, dan ada pula kebutuhan mendesak seperti pengentasan kemiskinan atau peningkatan kesejahteraan masyarakat,” terang politisi PKB ini.

  • Upaya Konservasi Tumbuhan di Daerah Penyangga IKN

    Upaya Konservasi Tumbuhan di Daerah Penyangga IKN

    7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (PREE BRIN), Joeni S. Rahajoe mengatakan kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), di Kalimantan Timur sangat kaya keanekaragaman hayati khususnya tanaman.

    Hal ini diungkap Joeni saat memaparkan hasil kajian timnya di kawasan penyangga IKN, khususnya di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, dalam kegiatan Jamming Session Seri 1 Tahun 2025, bertema “Konservasi dan Pemanfaatan Tumbuhan Khas Indonesia”.

    “Kami mencatat ada 95 jenis tanaman bermanfaat yang digunakan masyarakat di sekitar IKN. Sekitar 58,7 persen diantaranya merupakan spesies asli Kalimantan,” jelas Joeni dalam jamming session yang digelar April 2025 itu.

    Menurutnya, pendekatan penanaman yang diterapkan masyarakat di wilayah ini memadukan spesies lokal, non-lokal bernilai ekonomi, dan spesies dari Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), seperti Durio kutejensis, Baccaurea lanceolata, dan Aquilaria microcarpa.

    Sistem agroforestri tersebut tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan karbon, dengan rata-rata cadangan karbon mencapai 33,28 Mg C/hektare.

    “Pendekatan ini memberi manfaat ganda ekonomi sekaligus konservasi,” ujarnya seperti dikutip brin.go.id

    Baca: Wilayah IKN miliki keanekaragaman hayati sangat tinggi

    Kekayaan tumbuhan Indonesia dengan tingkat endemisitasnya yang tinggi, menjadikannya sangat penting untuk dilestarikan.

    Sayangnya, banyak di antaranya terancam punah, sehingga dukungan riset yang dapat mengungkapkan manfaat dan nilai tambahnya sangat penting untuk dilakukan.

    BRIN mendorong riset berbasis lapangan dan laboratorium bekerjasama dengan berbagai stakeholder dan dan keterlibatan masyarakat lokal sebagai kunci untuk memastikan konservasi dan pemanfaatan lahan di IKN berjalan secara seimbang dan berkelanjutan.

    Sementara data Otorita IKN, mengidentifikasi ada tujuh wilayah di IKN dan sekitarnya yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi.

    Wilayah tersebut meliputi Bentang Alam Gunung Beratus, Taman Hutan Raya Bukit Soeharto, Teluk Balikpapan, Hutan Lindung Sungai Wain, Samboja Lestari, Muara Jawa, dan Gunung Parung.

    OIKN mencatat ada 3.889 spesies yang diindikasikan terdapat dalam radius 50 kilometer dari wilayah tersebut. Spesies ini meliputi mamalia, burung, reptil, amfibi, ikan, tumbuhan, serangga, dan arakhnida.

    Baca: Mampukan Pusat Plasma Nutfah Nasional gantikan hutan yang hilang di IKN

    Sayangnya, data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan bahwa 440 spesies atau 11,8 persen dari total spesies yang teridentifikasi berstatus rentan, kritis, serta terancam punah dan dibutuhkan upaya konservasi.

    Sementara Catatan Akhir Tahun Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada 2021 menyebut adanya beberapa kasus konkrit terebutnya ruang hidup masyarakat adat untuk Pembangunan IKN.

    Dalam rekomendasinya, AMAN menyebut dari fakta-fakta yang ada seharusnya pemerintah mengoreksi proses pembangunan IKN yang mengabaikan kondisi lingkungan, kelangsungan wilayah masyarakat adat, dan ruang yang sehat untuk masyarakat.

    Konsep “Forest City” yang digadang-gadang oleh pembuat kebijakan sebagai pembangunan ramah lingkungan terbukti tidak sepenuhnya benar.

    Pembangunan IKN justru membangun banyak kecemasan akan dampak buruk yang mengancam kelangsungan hidup masyarakat dan kelestarian lingkungan di sekitar area pembangunan.

    Baca: Jokowi wariskan beban ekonomi dan kerusakan ekologis di IKN

  • Riset: Proyek IKN Membuat Nelayan dan Masyarakat Pesisir Semakin Sengsara

    Riset: Proyek IKN Membuat Nelayan dan Masyarakat Pesisir Semakin Sengsara

    7cloud.asia – Nelayan-nelayan di sekitar Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur mengeluhkan hasil tangkapan dan pendapatan mereka yang semakin menurun akibat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).

    Pembangunan IKN membawa lonjakan lalu lintas kargo besar yang hilir-mudik mengangkut bahan bangunan ibu kota baru dari Pelabuhan Semayang dan Terminal Kariangau, Teluk Balikpapan.

    Hiruk-pikuk aktivitas pembangunan IKN ini merusak ekosistem pesisir, termasuk kawasan mangrove yang menjadi rumah bagi berbagai spesies laut seperti ikan, udang, dan kepiting.

    Tak hanya hasil laut yang semakin berkurang, wilayah tangkap nelayan juga kian menyempit. Para nelayan harus melaut lebih jauh atau pindah ke perairan lain dan berujung konflik dengan komunitas nelayan lain.

    Alhasil, ongkos melaut naik sementara penghasilan turun, dan konflik sosial pun tak terhindarkan.

    Riset BRIN pada tahun 2025 di tiga desa pesisir Teluk Balikpapan—Jenebora, Pantai Lango, dan Mentawir—menegaskan adanya fenomena terrestrial-to-marine exclusion dalam pembangunan IKN

    Kondisi ini di mana pembangunan di darat tidak hanya memicu kerusakan ekosistem laut, tetapi juga meminggirkan masyarakat pesisir dan komunitas nelayan tradisional.

    Baca: Menyoal usulan moratorium pembangunan IKN

    Tekanan lama yang kini meningkat
    Marjinalisasi nelayan Teluk Balikpapan sesungguhnya bukanlah hal baru. Jauh sebelum proyek IKN dimulai, kawasan ini sudah padat oleh aktivitas industri.

    Pemerintah membangun Kawasan Industri Kariangau dan menetapkan Kalimantan Timur sebagai Wilayah Pengembangan Industri Nasional sejak 2012 silam.

    Sebagian wilayah laut yang sebelumnya menjadi area pemasangan belat—alat tangkap ikan tradisional, dialihkan menjadi kawasan industri.

    Meskipun ada perusahaan yang memberikan kompensasi atas pengambilalihan area belat, nilainya tidak sebanding dengan potensi pendapatan jangka panjang yang hilang.

    Nelayan juga dilarang memasuki zona 500 meter di sekitar jetty (dermaga) milik perusahaan industri yang beroperasi di kawasan pelabuhan Kariangau. Akibatnya, wilayah tangkap nelayan menyempit, dan hasil tangkapan menurun drastis.

    “Dulu kami bisa bawa pulang 20-30 kilogram ikan per hari, bahkan sampai cukup buat naik haji. Sekarang paling-paling cuma cukup buat makan”. (nelayan Teluk Balikpapan, 52 tahun)

    Selain memicu konflik nelayan-perusahaan, riset BRIN juga menemukan bahwa semakin terbatasnya area penangkapan ikan juga memicu ketegangan antarnelayan.

    Wilayah hulu Teluk Balikpapan jadi rebutan, karena dianggap masih kaya ikan. Ketika nelayan dari wilayah lain masuk ke area ini, konflik sosial terjadi. Bila tidak segera diatasi, gesekan ini berpotensi menjadi konflik yang lebih besar.

    Adapun sebagian nelayan memilih berlayar lebih jauh hingga ke arah Selat Makassar untuk mendapatkan ikan. Namun, opsi ini jauh lebih berbahaya untuk kapal kecil dan tentunya membutuhkan ongkos yang lebih besar karena bahan bakar kapal yang dibutuhkan lebih banyak.

    Baca: Pembangunan IKN tak boleh membebani negara

    Kehadiran proyek IKN membuat situasi memburuk. Hutan mangrove dibabat dan berdampak pada kehidupan nelayan tradisional yang sangat bergantung pada ekosistem tersebut. Belat-belat pun semakin tidak efektif, ikan jadi jarang mampir.

    “Dulu saya punya 10 belat, sekarang tinggal 4 belat saja dan hasilnya juga tidak menentu.” (Nelayan Pantai Lango, 55 tahun)

    Kebijakan yang tidak berpihak
    Alih-alih melindungi masyarakat pesisir, peraturan daerah tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (RZWP3K) Kalimantan Timur malah berpihak pada kepentingan bisnis dan investasi.

    Kebijakan yang dibuat dengan minim konsultasi publik ini hanya mengalokasikan 31,8 hektare untuk pemukiman 10.000 nelayan.

    Angka ini sangat jauh dari kebutuhan masyarakat. Berdasarkan standar nasional perencanaan lingkungan perumahan perkotaan, satu hektare tanah idealnya dihuni oleh 100 jiwa, yang berarti mestinya alokasi lahan 100 hektare per 100 nelayan.

    Eksklusi terhadap nelayan makin terasa di laut. Kebijakan ini tidak memberikan pengakuan terhadap zona tangkap nelayan tradisional, justru mempersempit ruang tangkap, karena Teluk Balikpapan ditetapkan sebagai zona jalur utama distribusi material pembangunan IKN.

    Akibatnya, nelayan yang sudah hidup turun-temurun di wilayah tersebut, dibatasi mengakses ruang hidup mereka.

    Baca: Pembangunan IKN tak jadi prioritas Prabowo

    Konflik terus terjadi di Teluk Balikpapan. Pada Maret 2025, nelayan Balikpapan didampingi Pokja Pesisir dan WALHI Kalimantan Timur, berhasil memenangkan gugatan terhadap Keputusan Menteri Perhubungan No 54 Tahun 2023 yang mengubah sebagian zona tangkap menjadi pelabuhan alih muat.

    Meski kemenangan ini memberi angin segar, tapi belum menjamin perlindungan jangka panjang. Skema pembangunan dalam Perda RZWP3K yang berpihak pada kepentingan industri tetap menjadi ancaman.

    Riset kami membuktikan masyarakat pesisir terdesak di darat maupun laut. Apalagi ditambah dengan kehadiran proyek IKN yang skalanya lebih besar, pola eksklusi negara terhadap masyarakat pesisir semakin menguat.

    Proyek bandara VVIP IKN misalnya, mengambil alih sebagian tanah milik nelayan dan masyarakat pesisir, memicu konflik akibat ketidakpastian kompensasi.

    Pemerintah juga berencana merelokasi mereka ke pedalaman. Ini tentunya semakin menyulitkan masyarakat mempertahankan mata pencaharian mereka yang bergantung pada laut.

    Pada akhirnya, minimnya keadilan tata ruang membuat kepemilikan lahan menjadi tidak pasti, nelayan semakin cemas akan masa depan mereka. Situasi ini mencerminkan ketimpangan sosial-ekologis yang kian dalam serta kegagalan tata kelola pesisir dalam proyek IKN.

    Baca: Pembangunan IKN disebut tidak terencana dengan baik

    Bias darat dalam pembangunan
    Di balik pembangunan IKN yang kerap dibungkus narasi ‘demi kepentingan nasional’, terdapat masyarakat pesisir yang kian terancam ruang hidupnya.

    Pembangunan IKN seolah menempatkan masyarakat pesisir di luar peta. Dalam berbagai dokumen perencanaan, nyaris tak ada penyebutan tentang nelayan atau pun perlindungan ekosistem pesisir.

    Ini mencerminkan bias daratan, yakni kecenderungan melihat pembangunan hanya soal daratan, sementara pesisir dan laut dianggap ruang kosong yang bisa dialihfungsikan sewenang-wenang.

    Padahal bagi nelayan, laut bukan hanya sumber ekonomi, tapi juga bagian dari identitas sosial-budaya, dan sumber pengetahuan lokal.

    Jika pola eksklusi ini terus berlanjut, maka proyek IKN hanya akan memperparah kerusakan ekosistem pesisir dan semakin meminggirkan masyarakat nelayan dari ruang hidup dan budaya mereka.

    Pemerintah seharusnya memasukkan perlindungan kawasan laut dalam rencana pembangunan, mengakui hak komunitas pesisir, serta memastikan keterlibatan penuh mereka dalam proses perencanaan, bukan sekadar formalitas. Hanya dengan begitu, IKN bisa diterima di masa depan.

    Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation, Penulis:
    Imam Syafi’i (Peneliti Muda pada Kajian Politik Lokal, Masyarakat dan Budaya Pesisir, Badan Riset dan Inovasi Nasional/BRIN)
    Dian Aulia (Researcher BRIN)
    Dini Suryani dan Septi Satriani (Peneliti di Pusat Riset Politik, BRIN)

    Ahmad Dhiaulhaq Peneliti World Resources Institute Indonesia dan Pandu Yuhsina Adaba selaku peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkontribusi sebagai penulis dalam artikel ini

  • Ketersediaan AIr Bersih di IKN Tergolong Rendah: Harus Diantisipasi Mulai Sekarang

    Ketersediaan AIr Bersih di IKN Tergolong Rendah: Harus Diantisipasi Mulai Sekarang

    7cloud.asia – Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan kajian prediksi ketersediaan air di Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara dan sekitarnya dengan pendekatan artificial neural network (ANN).

    Model yang dibangun menghasilkan akurasi sangat tinggi, mencapai 97,7 persen dengan kappa index 0,96.

    Hasil prediksi menunjukkan bahwa presentase ketersediaan air di wilayah IKN dan sekitarnya mayoritas masuk kategori non air, dengan perincian air tinggi/HW (0,51 persen), air vegetasi/VW (20,41 persen) dan non air/NW (79,08 persen).

    Saat memaparkan hasil penelitian terbaru terkait pemanfaatan data satelit dalam menganalisis perubahan iklim perkotaan di Indonesia, di Bandung, Jawa Barat, peneliti BRIN, Laras Toersilowati mengatakan bahwa ketersediaan air di IKN menjadi isu penting.

    ”Jika tidak diantisipasi sejak awal, pembangunan besar-besaran di wilayah IKN dapat berhadapan dengan risiko krisis air,” terang Laras Toersilowati dikutip brin.go.id.

    Baca: Sepaku kembali dilanda banjir, diduga dampak pembangunan IKN

    Laras menambahkan bahwa hasil penelitian ini tidak hanya memiliki nilai akademis, tetapi juga bermanfaat secara praktis bagi perumusan kebijakan.

    “Data satelit bukan hanya soal angka atau peta, tetapi juga dasar bagi pemerintah dalam membuat keputusan strategis agar pembangunan kota di Indonesia tetap berkelanjutan,” pungkasnya.

    IKN dibangun dengan konsep kota pintar, kota hutan dan kota spons. Kota hutan dipilih karena IKN berlokasi di wilayah yang di dalamnya terdapat kawasan hutan dan memiliki keanekaragaman hayati tinggi.

    Dalam konsep Bappenas, IKN dibangun dan dikembangkan hanya menggunakan 20 persen kawasan lahan yang ada, sisanya dipertahankan sebagai kawasan hijau berupa kawasan hutan.

    Sementara itu, kota spons memiliki sistem perairan sirkuler yang menggabungkan arsitektur, desain tata kota, infrastruktur dan prinsip keberlanjutan.

    Baca: Konsep kota hutan, tak menjamin IKN ramah lingkungan

    Dalam perspektif lingkungan, kota hutan dan kota spons adalah kondisi lingkungan ideal yang diharapkan, agar beban ekologis yang ditanggung IKN tidak melebihi batas toleransi daya dukung dan daya tampung lingkungannya.

    Bagaimana beban ekologis dan lingkungan IKN nantinya, khususnya ketersediaan air bersih? Pemerintah sejak 2022 telah membangun bendungan Sepaku Semoi dengan luas 378 hektare di Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, sebagai sumber air bersih ke IKN Nusantara.

    Rencananya, 2000 liter per detik akan dialirkan ke IKN dan 500 liter per detik lainnya untuk Kota Balikpapan. Namun, debit sebesar itu dirasa belum cukup untuk memenuhi kebutuhan air bagi kota sekelas IKN dengan jumlah penduduk awal mencapai 1,5 juta jiwa.

    Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR) membagi lagi standar kebutuhan air minum tersebut berdasarkan lokasi wilayah.

    Untuk kota metropolitan sekelas IKN kebutuhan air bersihnya sebesar 150 liter/per kapita/hari. Dengan demikian, kebutuhan air bersih untuk IKN dengan penduduk 1,5 juta jiwa membutuhkan air bersih minimal 225 juta liter/per kapita/hari.

    Baca: UU tak mengatur moratorium pembangunan IKN

    Sementara bendungan Sepaku Semoi hanya mampu menyediakan air sebesar 172,8 juta liter/per kapita/hari. Itupun dalam kondisi bendungan mampu menampung air hujan secara penuh (maksimal) pada musim hujan.

    Namun, pada musim kemarau bendungan itu belum tentu dapat menghasilkan debit sebesar 2000 liter/detik, karena daya tampung akan menyusut drastis sepanjang tutupan hutannya (forest coverage) tidak/belum berfungsi dengan baik.

    Sayangnya juga, kawasan IKN tidak bisa berharap dari DAS Mahakam dan dua sub DAS kecil yang berada di wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara, yakni DAS Riko dengan luas 588 KM persegi dan DAS Tunan dengan luas 751 KM persegi.

    Daya tampung air dua sub DAS ini sangat kecil jika dibandingkan dengan DAS Mahakam. Ketersediaan air bersih bagi kawasan IKN akan lebih banyak tergantung pada konsep kota hutan yang mempunyai tutupan hutan 70 persen dapat berfungsi secara sempurna.

    Hutan ini diharapkan mampu menyerapkan air hujan kedalam tanah sebanyak-banyaknya (secara maksimal) sebagai cadangan air tanah untuk melengkapi sumber air dari bendungan Sepaku Semoi yang debit airnya dianggap tidak mencukupi untuk kebutuhan air bersih.

    Baca: Proyek IKN membuat nelayan dan masyarakat pesisir makin sengsara

    Membuat waduk-waduk dan embung-embung air merupakan upaya untuk tabungan air di saat menghadapi musim kemarau.

    Kedudukan kawasan IKN yang mempunyai ketinggian 60-80 meter di atas permukaan laut (dpl), membuat kawasan IKN aman dari banjir rob (air pasang dari lautan), tidak seperti yang terjadi di Jakarta.

    Karena pembangunan IKN Nusantara dimulai dari nol, maka pengaturan drainase air kota akan lebih mudah merancangnya. Konsep kota spons yang memiliki sistem perairan sirkuler yang menggabungkan arsitektur, desain tata kota, infrastruktur dan prinsip keberlanjutan bukanlah suatu angan-angan.

    Dalam konsep kota spons, IKN memiliki perairan sirkualar, yang berarti ketersediaan air bersih disiapkan berdasarkan cadangan air dari pembuatan danau besar dan embung-embung penampung air yang diproses secara recycling (daur ulang) dengan bantuan teknologi.

    Merujuk data Kementerian PUPR, saat ini ada 30 embung di IKN. Ke depan direncanakan total ada 60 embung.

    Baca: Pembangunan IKN dinilai melanggar hak masyarakat adat

    Jumlah penduduk yang tinggal dan bermukim di IKN, juga harus mampu dikendalikan laju pertumbuhannya, dengan membuat regulasi khusus siapa saja yang boleh dan tidak boleh tinggal dan bermukim di IKN.

    Ketersediaan dan cadangan air tanah yang cukup bagi IKN -yang tidak mempunyai sumber air dari daerah hulu karena tidak adanya sungai utama yang menjadi tempat tangkapan air hujan (catchment area)- menjadi satu-satunya cara yang dapat dilakukan.

    Untuk mempertahankan cadangan air tanah yang cukup pada saat musim kemarau, tidak ada kata lain selain mempertahankan dan meningkatkan kawasan hutan melalui penanaman pohon.

    Kebijakan mempertahankan 75 persen area hijau di IKN sangat tepat untuk mengurangi dan memperkecil beban ekologis, khususnya ketersediaan air tawar.