7cloud.asia – Peneliti Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (PREE BRIN), Joeni S. Rahajoe mengatakan kawasan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), di Kalimantan Timur sangat kaya keanekaragaman hayati khususnya tanaman.
Hal ini diungkap Joeni saat memaparkan hasil kajian timnya di kawasan penyangga IKN, khususnya di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara, dalam kegiatan Jamming Session Seri 1 Tahun 2025, bertema “Konservasi dan Pemanfaatan Tumbuhan Khas Indonesia”.
“Kami mencatat ada 95 jenis tanaman bermanfaat yang digunakan masyarakat di sekitar IKN. Sekitar 58,7 persen diantaranya merupakan spesies asli Kalimantan,” jelas Joeni dalam jamming session yang digelar April 2025 itu.
Menurutnya, pendekatan penanaman yang diterapkan masyarakat di wilayah ini memadukan spesies lokal, non-lokal bernilai ekonomi, dan spesies dari Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), seperti Durio kutejensis, Baccaurea lanceolata, dan Aquilaria microcarpa.
Sistem agroforestri tersebut tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga menyimpan karbon, dengan rata-rata cadangan karbon mencapai 33,28 Mg C/hektare.
“Pendekatan ini memberi manfaat ganda ekonomi sekaligus konservasi,” ujarnya seperti dikutip brin.go.id
Baca: Wilayah IKN miliki keanekaragaman hayati sangat tinggi
Kekayaan tumbuhan Indonesia dengan tingkat endemisitasnya yang tinggi, menjadikannya sangat penting untuk dilestarikan.
Sayangnya, banyak di antaranya terancam punah, sehingga dukungan riset yang dapat mengungkapkan manfaat dan nilai tambahnya sangat penting untuk dilakukan.
BRIN mendorong riset berbasis lapangan dan laboratorium bekerjasama dengan berbagai stakeholder dan dan keterlibatan masyarakat lokal sebagai kunci untuk memastikan konservasi dan pemanfaatan lahan di IKN berjalan secara seimbang dan berkelanjutan.
Sementara data Otorita IKN, mengidentifikasi ada tujuh wilayah di IKN dan sekitarnya yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi.
Wilayah tersebut meliputi Bentang Alam Gunung Beratus, Taman Hutan Raya Bukit Soeharto, Teluk Balikpapan, Hutan Lindung Sungai Wain, Samboja Lestari, Muara Jawa, dan Gunung Parung.
OIKN mencatat ada 3.889 spesies yang diindikasikan terdapat dalam radius 50 kilometer dari wilayah tersebut. Spesies ini meliputi mamalia, burung, reptil, amfibi, ikan, tumbuhan, serangga, dan arakhnida.
Baca: Mampukan Pusat Plasma Nutfah Nasional gantikan hutan yang hilang di IKN
Sayangnya, data International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan bahwa 440 spesies atau 11,8 persen dari total spesies yang teridentifikasi berstatus rentan, kritis, serta terancam punah dan dibutuhkan upaya konservasi.
Sementara Catatan Akhir Tahun Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) pada 2021 menyebut adanya beberapa kasus konkrit terebutnya ruang hidup masyarakat adat untuk Pembangunan IKN.
Dalam rekomendasinya, AMAN menyebut dari fakta-fakta yang ada seharusnya pemerintah mengoreksi proses pembangunan IKN yang mengabaikan kondisi lingkungan, kelangsungan wilayah masyarakat adat, dan ruang yang sehat untuk masyarakat.
Konsep “Forest City” yang digadang-gadang oleh pembuat kebijakan sebagai pembangunan ramah lingkungan terbukti tidak sepenuhnya benar.
Pembangunan IKN justru membangun banyak kecemasan akan dampak buruk yang mengancam kelangsungan hidup masyarakat dan kelestarian lingkungan di sekitar area pembangunan.
Baca: Jokowi wariskan beban ekonomi dan kerusakan ekologis di IKN

Leave a Reply