Tag: sampah plastik

  • Jika Tak Dibatasi, Emisi Sampah Plastik Bakal Lampaui Emisi Batu Bara

    Jika Tak Dibatasi, Emisi Sampah Plastik Bakal Lampaui Emisi Batu Bara

    7cloud.asia – Sampah merupakan sektor sumber emisi terbesar keempat, dan plastik sendiri akan menghasilkan emisi karbon lebih banyak daripada batu bara pada tahun 2030.

    PBB memperkirakan lebih dari 51 triliun partikel mikroplastik telah mengotori lautan dunia. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi lingkungan.

    Kondisi ini menjadikan polusi plastik sebagai salah satu masalah lingkungan terbesar dalam kehidupan manusia.

    Untuk mengatasi masalah yang ditimbulkan sampah plastik ini, PBB pada tahun 2022 memulai proses untuk membuat perjanjian internasional yang mengikat secara hukum yang bertujuan untuk mengekang polusi plastik.

    Upaya PBB ini berpuncak pada pertemuan bulan Desembar 2024 lalu di Busan, Korea Selatan. Namun, pertemuan ini tidak menghasilkan kesepakatan nyata sehingga negosiasi ditangguhkan hingga tahun 2025.

    Putaran negosiasi kelima dimaksudkan untuk menyelesaikan kerangka perjanjian yang membahas tidak hanya pengelolaan limbah tetapi juga produksi dan desain plastik. Namun, pembicaraan berakhir tanpa kesepakatan.

    Baca: Thailand mulai terapkan larangan impor sampah plastik

    “Jelas bahwa terdapat perbedaan yang terus-menerus dalam beberapa area kritis dan diperlukan lebih banyak waktu untuk menangani area-area ini,” kata Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen pada hari terakhir pertemuan.

    Perjanjian untuk membatasi sampah plastik sudah sangat mendesak, mengingat dampak lingkungan yang ditimbulkannya.

    Negara-negara berkembang, terutama di Asia Tenggara termasuk Indonesia, telah menjadi tempat pembuangan sampah negara-negara asing selama beberapa dekade.

    Hingga tahun 2017, China merupakan importir sampah plastik terbesar di dunia, yang mengimpor rata-rata 8 juta ton plastik per tahun dari lebih dari 90 negara di seluruh dunia.

    Untuk mengatasi krisis polusi plastik, pemerintah China pada tahun 2018 memberlakukan larangan impor limbah padat, termasuk beberapa jenis sampah plastik dan limbah daur ulang lainnya.

    Baca: Perjalanan panjang menuju lahirnya perjanjian plastik global

    Sejak saat itu, eksportir besar seperti AS, yang mengirimkan sekitar 4.000 kontainer sampah ke China setiap hari sebelum larangan berlaku, mengalihkan sebagian besar sampah mereka ke negara-negara Asia Tenggara seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand.

    Negara yang terakhir menerima lebih dari 552 juta metrik ton sampah plastik, pasangan, dan skrap pada sat China memberlakukan larangan tersebut – sepuluh kali lebih tinggi dari jumlah rata-rata sampah plastik yang diimpor sebelum tahun 2015.

    Pada tahun 2023, negara tersebut menerima lebih dari 200 juta metrik ton, sebagian besar berasal dari Jepang.

    Sama seperti larangan impor sampah plastik di China dan Thailand yang akan berdampak di mana-mana, memaksa negara pengekspor untuk mencari cara baru dalam menangani sampah mereka sendiri.

    Negara-negara yang selama ini mengekspor sampah plastik juga didorong menerapkan kebijakan baru yang bertujuan mengurangi sirkulasi plastik secara keseluruhan.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, Penulis: Martina Igini, Editor in Chief di Earth.org

  • Sampah Plastik yang Kotori Pantai di Bali Berasal Dari Enam Sungai di Jawa dan Bali

    Sampah Plastik yang Kotori Pantai di Bali Berasal Dari Enam Sungai di Jawa dan Bali

    7cloud.asia – Menteri Lingkungan Hidup (LH) Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, pemerintah akan menangani sampah plastik yang mengotori sejumlah pantai di Pulau Bali.

    Hanif memperkirakan sampah plastik ini terbawa aliran empat sungai di Jawa dan dua sungai di Bali sebelum akhirnya terdampar di pesisir Pulau Bali.

    “Yang terutama itu Sungai Ciliwung menyumbang 20-30 persen sampah di laut,” kata Hanif Faisol Nurofiq di sela aksi bersih sampah laut di Pantai Kedonganan, Kabupaten Badung, Bali, Minggu (19/1/2025).

    Ia menjelaskan sampah yang terbawa melalui aliran Sungai Ciliwung menjadi kontributor utama karena membelah kota-kota besar di antaranya Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta.

    Selain Sungai Ciliwung, sungai lain yang juga membawa sampah termasuk sampah plastik adalah Sungai Citarum, Sungai Bengawan Solo, dan Sungai Brantas.

    Sedangkan dua sungai di Bali yang menjadi sumber sampah atau sampah plastik, yakni Tukad (Sungai) Badung dan Tukad Mati.

    “Kedua sungai itu tidak terlalu panjang sekitar 20 kilometer dan 22 kilometer,” katanya.

    Baca: Thailand resmi melarang impor sampah plastik

    Ada pun upaya penanganannya, kata dia, pihaknya akan memasang jaring-jaring yang menangkap sampah dan kemudian akan dipungut agar tidak bermuara hingga ke laut.

    Sebelumnya, Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan sampah kiriman yang terdampar di beberapa pesisir pantai di Bali sebagian besar berasal dari aliran sungai di Pulau Jawa yang bermuara di Laut Jawa.

    “Sampah ini akan mengikuti arus terus bergerak ke arah timur, kemudian selatan dan sebagian terdampar di pantai Bali,” kata Hanif Faisol Nurofiq di sela aksi bersih sampah laut di Pantai Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu.

    Dia menjelaskan sampah laut itu terjadi saat angin musim barat yang terjadi pada Oktober-Maret tiap tahun.

    Dalam sambutannya, Menteri LH memperkirakan jumlah sampah kiriman yang ditemukan di pesisir Bali pada 2024-2025 lebih tinggi dibandingkan pada 2020-2021 yang mencapai sekitar 6.000 ton dan pada 2023 sekitar 2.900 ton.

    Sampah kiriman itu terdampar, salah satunya di pesisir Pantai Kuta, Pantai Kedonganan dan pantai lainnya yang selama ini menjadi daya tarik wisata.

    Baca: KLH kaji kebijakan impor sampah plastik

    Peningkatan timbunan sampah itu, dipicu peningkatan jumlah penduduk dan aktivitas yang tidak ramah lingkungan.

    Tak hanya dari aliran sungai di Pulau Jawa, lanjut dia, sampah laut kiriman di Pantai Kuta tersebut juga berasal dari negara lain, meski ia tidak menyebutkan detail asal negara tersebut.

    “Bahkan, berdasarkan data timbunan sampah yang terbawa di Pantai Kuta ini sebagian dari negara lain,” ucapnya ketika memberikan sambutan.

    Selain mendarat di pesisir Bali, lanjut dia, sampah laut yang terbawa arus tersebut juga sampai di pesisir Afrika tepatnya di Madagaskar.

    “Jadi ini perjalanan sampah dari hilir Pulau Jawa sampai Madagaskar,” ucapnya.

    Menyikapi kondisi tersebut, Hanif menyebutkan bahwa pihaknya akan membangun program kali (sungai) bersih dari sampah dengan menyasar sungai-sungai utama.

    Baca: KLHK targetkan emisi nol dari sektor sampah pada 2050

    Adapun target pertama, yakni menyasar tiga hingga empat sungai yang ada di destinasi wisata unggulan Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

    “Dari 17 destinasi wisata unggulan dari Kemenpar, saya minta tiga-empat yang kami selesaikan sampahnya dulu tahun ini,” imbuhnya.

    Pemerintah menggandeng Badan PBB Bidang Program Pembangunan (UNDP) dan didukung sejumlah negara di antaranya Norwegia dan Uni Emirat Arab (UEA).

    Pemerintah UEA memberikan bantuan jaring penangkap sampah atau trach boom yang rencananya akan ditempatkan di 14 titik lokasi sungai di Bali.

    “Saya minta di Tukad Mati dan Tukad Badung tahun ini harus selesai tidak boleh ada lagi sampah, tidak ada lagi pencemaran karena kami sudah memiliki sumber daya manusia, tim dan dana yang cukup,” katanya.

    Aksi bersih sampah laut tersebut kembali diadakan para menteri Kabinet Merah Putih setelah perdana diadakan pada Sabtu (4/1/2025) lalu di Pantai Kuta, Kabupaten Badung.

    Hingga saat ini sampah plastik masih terus ditemukan di sepanjang kawasan pantai wisata di antaranya Jimbaran, Kelan, dan Kedonganan.

     

  • Mengenal Faspol 5.0, Mesin Pengolah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Petasol

    Mengenal Faspol 5.0, Mesin Pengolah Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar Petasol

    7cloud.asia – Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kota Semarang meluncurkan Fast Pyrolysis generasi kelima atau Faspol 5.0.

    Faspol 5.0 (Faspol G-5) merupakan mesin pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar dengan menggunakan teknologi pirolisis multikondensor. Mesin ini tak lagi menggunakan pipa elbow/spiral, yang mencegah potensi sumbatan dan ledakan sehingga aman digunakan.

    Bahan bakar yang dihasilkan disebut petasol. Petasol memanfaatkan limbah plastik yang mengotori sungai dan irigasi untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif.

    Peluncuran Faspol 5.0 ini bertempat di Rumah Pompa Kalibanger, Lokasi Proses Pirolisis Sampah Plastik, Dinas Pekerjaan Umum Kota Semarang, Selasa (18/2/2025).

    Dilansir di brin.go.id, metode Faspol 5.0 menawarkan solusi inovatif dalam pengelolaan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) ramah lingkungan, dengan tujuan mendukung lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan, serta menyediakan alternatif energi.

    Baca: Upaya pemerintah Kota Semarang menuju zero waste

    Kepala Pusat Riset Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup BRIN Nugroho Adi Sasongko menjelaskan, teknologi pirolisis multikondensor dikembangkan untuk memberikan solusi energi murah bagi petani, nelayan, meningkatkan efisiensi, sekaligus mengurangi limbah plastik.

    Sementara Peneliti Ahli Utama BRIN Tri Martini Patria yang juga Koordinator Kelompok Riset Valorisasi Sumber Daya dalam Ekonomi Sirkular Berkelanjutan menyampaikan, merk petasol telah memiliki hak cipta yang diusulkan Wakil Kepala BRIN, Amarulla Octavian.

    Hal ini diusulkan dalam kesempatan diskusi ilmiah antara tim peneliti, mitra Bank Sampah Banjarnegara, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Dewan Pengarah BRIN di pertengahan 2023.

    “Petasol merupakan istilah untuk bahan bakar alternatif setara solar yang dihasilkan dari sampah plastik terutama jenis polietilena (PE),” ujarnya.

    Tri menyebut, teknologi mesin pirolisis Fastpol Gen 5 bisa berproduksi setiap hari untuk sampah meski kondisi basah dan kotor (paten terdaftar nomor P00202314623).

    Sedangkan katalis (bentonite teraktivasi garam) yang digunakan juga diproduksi buatan sendiri dan telah didaftarkan paten nomor P00202405655.

    Baca: Penggunaan teknologi radiasi dalam pengolahan sampah plastik

    Penelitian tentang pirolisis untuk pengolahan sampah plastik hingga kini masih terus dilakukan untuk meningkatkan kemampuan Faspol dalam menghasilkan energi terbarukan.

    Peneliti OREM BRIN Heru Susanto yang juga mahasiwa degree by research S3 Universitas Gadjah Mada mengungkapkan, dengan teknologi fast pyrolysis yang digunakan dalam proses, telah efektif memenuhi standar bahan bakar setara minyak solar.

    Petasol dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan mesin pertanian dan kapal nelayan. Adapun, Faspol 5.0 mampu mengubah 100 kilogram sampah plastik menjadi 80 hingga 90 liter bahan bakar.

    “Mesin ini telah masuk dalam e-katalog LKPP dan siap digunakan di berbagai daerah di Indonesia,” kata Heru.

    Selain itu, mesin ini memiliki keunggulan seperti bisa memproses sampah plastik dalam kondisi kotor maupun basah. Namun, semakin kering dan bersih sampah akan meningkatkan rendemen dan mutu bahan bakar yang dihasilkan.

    “Bahan bakar yang dihasilkan dapat membantu penyediaan energi baru yang sangat mendukung upaya pemerintah dalam menciptakan ketahanan energi,” ujar Heru.

     

  • Kisah Sukses Pemkot Semarang Kembangkan Teknologi Pengolahan Sampah Plastik

    Kisah Sukses Pemkot Semarang Kembangkan Teknologi Pengolahan Sampah Plastik

    7cloud.asia – Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kota Semarang, baru-baru ini meluncurkan Fast Pyrolysis generasi kelima atau Faspol 5.0 yang mampu mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar.

     

    Proyek ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota Semarang melalui Peraturan Wali Kota (Perwali) yang memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat atau pengelola sampah plastik dalam memproduksi dan memanfaatkan petasol.

    Ini menjadikan Kota Semarang sebagai pionir dalam penerapan regulasi pengelolaan sampah plastik menggunakan metode fast pyrolysis di Indonesia.

    Regulasi ini sangat penting mengingat produk yang dihasilkan berupa bahan bakar minyak yang penggunaannya harus diatur dengan baik sehingga aman dan bermanfaat bagi masyarakat, terutama nelayan dan petani.

    Keberadaan Perwali ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain untuk mengembangkan inovasi serupa.

    Proses pengolahan sampah plastik dengan teknogil Faspol 5.0 dimulai dari pengumpulan sampah plastik residu yang tidak laku dijual.

    Baca: Mengenal Faspol 5.0 pengolah sampah plastik menjadi bahan bakar

    Residu sampah plastik ini bersumber dari rumah tangga, lingkungan sekitar nelayan, rumah tangga, dan jejaring mitra bank sampah yang ada di Kota Semarang, kemudian dilanjutkan penyortiran.

    Sampah plastik tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaktor mesin Faspol 5.0 secara bertahap, hingga diperoleh crude oil yang membutuhkan waktu delapan hingga sepuluh jam.

    Proses berikutnya berupa treatment penjernihan, esterifikasi, dan penyaringan. Proses ini juga melibatkan katalis pengganti bentonite buatan sendiri.

    Selain mengurangi sampah plastik di lingkungan, inovasi ini juga mendukung ketahanan energi lokal.

    Petasol memiliki cetane number di atas 50, melebihi standar solar (48), bahkan dapat mencapai 53 jika menggunakan sampah plastik yang berkualitas, bersih, kering tanpa campuran kotoran dan air.

    Dengan kondisi seperti ini, kualitas bahan bakar yang dihasilkan hampir setara dengan Pertamina Dex (CN 53).

    Baca: Upaya Pemerintah Kota Semarang menuju zero waste

    Tersedia untuk Skala Rumah Tangga hingga Industri
    Mesin Faspol 5.0 tersedia dalam beberapa kapasitas, yaitu 30, 50, dan 100 kilogram. Untuk skala rumah tangga atau komunitas kecil, mesin berkapasitas 30 kilogram dinilai cukup ideal.

    Sementara untuk skala industri atau usaha yang lebih besar, mesin dengan kapasitas 100 kilogram dapat memberikan hasil optimal.

    Harga mesin ini pun bervariasi, mulai dari Rp145 juta hingga Rp196 juta, tergantung kapasitasnya.

    Aplikasi teknologi pirolisis multikondensor untuk konversi sampah plastik menjadi bahan bakar telah mendapatkan penghargaan sebagai juara Pertamina Foundation / PF Sains 2024 kategori Implementation.

    Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, tim peneliti BRIN dan komunitas Bank Sampah Banjarnegara sebagai inventor, berharap teknologi ini dapat direplikasi di seluruh Indonesia.

    Baca: Pembangunan ITF mahal Jakarta berpaling ke RDF

    “Kami ingin menggerakkan pengelolaan sampah plastik dari lingkungan komunitas terkecil di kelurahan atau pedesaan, sehingga sampah tidak perlu lagi dibawa ke luar wilayah dan bertumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA/TPS/TPST),” ujar Tri.

    Saat ini, teknologi Faspol 5.0 sudah diterapkan di 53 lokasi di Indonesia. BRIN menargetkan setiap desa atau kecamatan dapat memiliki mesin Faspol sendiri, sehingga pengelolaan sampah plastik dapat dilakukan langsung di sumbernya.

    Dengan demikian, distribusi sampah plastik ke tempat pembuangan akhir bisa diminimalisir, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

    Dengan penerapan replikasi teknologi Faspol 5.0, Semarang tidak hanya menjadi kota yang lebih bersih tetapi juga turut serta dalam membangun ketahanan energi berkelanjutan untuk Indonesia yang lebih hijau dan mandiri.

    Kolaborasi riset pentaheliks antara BRIN, pemerintah daerah, swasta, BUMN, dan komunitas lokal ini membuktikan bahwa inovasi yang berorientasi pada lingkungan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dapat diwujudkan secara nyata.

  • Riset: Kontaminasi Mikroplastik Berdampak Serius pada Fungsi Kognitif Otak

    Riset: Kontaminasi Mikroplastik Berdampak Serius pada Fungsi Kognitif Otak

    7cloud.asia – Mikroplastik dan sampah plastik tak hanya jadi ancaman lingkungan, Kontaminasi mikroplastik dalam tubuh manusia juga bisa membawa dampak serius terhadap fungsi kognitif otak.

    Tidak adanya standar pengujian mikroplastik dalam pangan dan lingkungan semakin memperparah kontaminasinya di dalam tubuh manusia. Masalah sampah plastik menjadi masalah serius di Indonesia.

    Menurut Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), terdapat total 41,07 juta ton sampah di tahun 2023. Sebanyak 7,86 juta ton atau hampir 20 persen dari total sampah adalah sampah plastik.

    Meski ada sampah yang dikelola, sebagian besar sampah di Indonesia berakhir di tempat pembuangan sampah atau ditimbun, sementara sisanya mencemari lingkungan termasuk lautan.

    Produksi sampah plastik yang terus meningkat, tanpa diimbangi pengelolaan yang mumpuni telah menyebabkan pencemaran mikroplastik di berbagai aspek lingkungan –air, tanah, udara dan produk konsumsi seperti ikan, daging dan garam.

    “Kondisi ini semakin meningkatkan kekhawatiran akan resiko kontaminasi mikroplastik pada manusia,” kata Afifah Rahmi Andini, Peneliti Plastik Greenpeace Indonesia seperti dilansir di laman resminya. 

    Baca: Mikroplastik jadi tantangan serius kesehatan laut Indonesia

    Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari kontaminasi mikroplastik di dalam tubuh manusia, Greenpeace Indonesia bersama Universitas Indonesia melakukan studi kolaboratif untuk mendalami dampak mikroplastik terhadap kesehatan, terutama penurunan fungsi kognitif.

    Tahap pertama studi ini dilakukan melalui survei untuk mengidentifikasi kelompok masyarakat yang rentan terhadap paparan mikroplastik dan pola konsumsi plastik pada 562 responden di Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang melalui kuesioner.

    Di tahap kedua, penelitian dilakukan dengan analisis kadar mikroplastik dalam urin, darah, dan feses para partisipan yang terpilih untuk melihat hubungan antara kadar mikroplastik dalam tubuh dan fungsi kognitif mereka.

    Studi yang dilakukan pada Januari 2023-Desember 2024 ini menemukan mikroplastik pada 95 persen sampel dari 67 partisipan dengan kadar per sampel darah berkisar antara 0-7.35 partikel per gram (p/g).

    Mikroplastik juga ditemukan dalam sampel urin partisipan dengan jumlah sekitar 0-0,33 partikel per mililiter (p/mL), serta pada feses dengan jumlah sekitar 0-44.35 partikel per gram (p/gr).

    Penelitian ini juga menemukan bahwa PET (Polyethylene Terephthalate) adalah jenis mikroplastik yang paling banyak mengontaminasi tubuh partisipan, dengan total 204 partikel terdeteksi.

    Baca: Mikroplastik ditemukan pada sampel dari tiga pulau di Kepulauan Seribu

    PET dapat bersumber dari penggunaan kemasan plastik sekali pakai seperti botol minuman, kemasan makanan siap saji, botol produk perawatan tubuh, hingga serat pakaian dan karpet.

    Partikel mikroplastik yang berukuran tak lebih besar dari 5 milimeter dapat dengan mudah menyebar melalui rantai makanan, proses pengolahan limbah yang tidak sempurna, atau konsumsi makanan laut yang terkontaminasi.

    Hasil studi kolaborasi yang tengah dilakukan peer review ini menemukan bahwa partisipan dengan pola konsumsi plastik sekali pakai yang tinggi memiliki risiko mengalami penurunan fungsi kognitif hingga 36 kali lipat.

    “Kami menemukan hubungan yang berarti antara fungsi kognitif dengan paparan mikroplastik. Gangguan fungsi kognitif yang dialami partisipan penelitian mencakup diantaranya pengaruh pada kemampuan berpikir, mengingat, dan mengambil keputusan,” ujar Ahli Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr. Pukovisa Prawirohardjo, Sp.S(K)., Ph.D.

    Fungsi kognitif partisipan dianalisis menggunakan Montreal Cognitive Assessment Indonesia (MoCA-Ina) dan dilakukan bersama tim dokter dari Divisi Neurobehavior Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM).

    Baca: Polusi mikroplastik di Sungai Citarum sudah mengkhawatirkan

    Untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik dalam lingkungan dan mengurangi dampaknya bagi kesehatan, Juru Kampanye Plastik Greenpeace Indonesia Ibar F. Akbar mengatakan, pemerintah dan produsen perlu mengambil langkah untuk mengurangi kontaminasi mikroplastik yang memiliki dampak buruk ke kesehatan manusia.

    Pemerintah perlu memperbaiki sistem pengelolaan sampah berbasis pemilahan, mempercepat dan memperluas larangan plastik sekali pakai, melarang mikroplastik primer,

    “Serta mendorong transisi ke sistem kemasan guna ulang (reuse) untuk mengurangi pencemaran dan dampak lingkungan,” ujarnya.

    Ibar menambahkan, pemerintah juga perlu menetapkan standar pengujian mikroplastik yang ketat serta ambang batas kontaminasi dalam produk pangan dan lingkungan.

    Di sisi lain, produsen juga perlu mengurangi produksi dan distribusi plastik sekali pakai secara signifikan sebagai bentuk tanggung jawab mereka untuk mengelola sampah plastik yang telah mereka produksi.

    “Produsen harus segera beralih ke sistem kemasan guna ulang (reuse) dan isi ulang (refill). Produsen juga perlu meningkatkan transparansi komposisi plastik dalam produknya serta peta jalan pengurangan sampah oleh produsen,” kata Ibar.

  • Industri Daur Ulang Kekurangan Suplai Sampah Plastik, Bank Sampah Bisa Mengambil Peran

    Industri Daur Ulang Kekurangan Suplai Sampah Plastik, Bank Sampah Bisa Mengambil Peran

    7cloud.asiaIndonesian Plastics Recyclers (IPR) menyebutkan industri daur ulang di dalam negeri membutuhkan sebanyak dua juta ton sampah plastik per tahun, sementara pasokan baru terpenuhi satu juta ton.

    Menurut dia diperlukan kolaborasi antarsektor untuk memenuhi kebutuhan sampah plastik tersebut, namun sampah plastik yang masuk harus memenuhi kriteria tertentu agar dapat diterima oleh industri untuk dilakukan daur ulang.

    “Saat ini, industri masih kekurangan satu juta ton sampah plastik, sehingga membuka peluang besar bagi Bank Sampah untuk berperan lebih aktif,” kata, Ketua Umum IPR Ahmad Nuzuluddin dalam keterangannya Februari lalu.

    Kolaborasi itu dibutuhkan dari semua lini baik produsen-konsumen maupun pemerintah. Mulai dari produsen yang bertanggung jawab untuk mengolah kembali kemasan bekas pakainya dari konsumen.

    Masyarakat sebagai konseumen bertanggung jawab membuang dan memilah sampah, bank sampah yang mengumpulkan dan memilah sampah sesuai dengan nilai guna ulangnya.

    Baca: Sampah plastik dibahas di World Economic Forum

    Juga pendaur ulang yang bertanggung-jawab mengolah kembali kemasan-kemasan plastik agar dapat digunakan kembali dan punya nilai jual baru. Serta pemerintah sebagai pengambil kebijakan.

    “Meskipun kami tidak pernah menolak barang yang dikirimkan oleh Bank Sampah, pengelompokan dan penyortiran yang lebih teliti masih dibutuhkan agar nilai sampah yang masuk ke industri tidak berkurang,” ujarnya.

    Jika semua komponen daur ulang bergerak bersama, tambahnya, hal itu tidak hanya bisa mengurangi sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) tetapi juga menggerakkan perekonomian secara lebih efektif.

    Terkait hal itu produsen air minum dalam kemasan AQUA berkolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) beserta para mitra menggelar kegiatan Lelang Sampah

    Lelang sampah ini untuk menjadikan sampah yang telah dipilah dan dikumpulkan di Bank Sampah Unit (BSU) sebagai komoditas yang bernilai jual.

    Baca: Emisi sampah plastik bakal lampaui emisi batu bara

    Menurut Public Affairs and Sustainability Director Danone Indonesia Astri Wahyuni, kegiatan Lelang Sampah menjadi momentum untuk mempertemukan para pegiat Bank Sampah dengan para offtaker (pembeli) agar sampah yang telah dikumpulkan itu menjadi komoditas dan memiliki nilai jual.

    “Inisiatif dan inovasi lelang sampah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat,” katanya.

    Astri menambahkan atas berbagai upaya yang telah dilakukan oleh perusahaan bersama para mitra telah berhasil mengumpulkan lebih dari 22.000 ton sampah plastik per tahun.

    Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Ade Palguna Ruteka, mengapresiasi sekaligus menilai hal itu merupakan langkah dan komitmen yang baik dari produsen air minum.

    Dia berharap hal itu dapat menjadi contoh yang menginspirasi bagi perusahaan-perusahaan lain.

    “Ke depannya, kami berencana untuk melaksanakan kegiatan ini secara rutin dan mengundang lebih banyak pihak untuk bergabung, termasuk Bank Sampah, Buyer/Offtaker, dan perusahaan penghasil kemasan plastik lainnya, guna bersama-sama menciptakan solusi yang lebih besar dan lebih berkelanjutan,” katanya.

    Baca: Perjalanan panjang menuju lahirnya perjanjian plastik global

  • Pemprov Bali Larang Peredaran Air Minum Dalam Kemasan Kurang dari 1 Liter

    Pemprov Bali Larang Peredaran Air Minum Dalam Kemasan Kurang dari 1 Liter

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali melalui Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2025 melarang produsen memproduksi air minum kemasan di bawah 1 liter.

    Hal ini disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster sebagai salah satu upaya menyelesaikan persoalan sampah plastik di Bali.

    “Setiap lembaga usaha dilarang memproduksi air minum kemasan plastik sekali pakai dengan volume kurang dari 1 liter di wilayah Provinsi Bali,” kata dia di Denpasar, Minggu (6/4/2025)

    Koster menambahkan, kebijakan ini bukan untuk mematikan pengusaha, mengingat produsen air minum lokal di Bali juga tak sedikit.

    Namun, ia menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut hanya dibatasi penggunaan bahan yang merusak lingkungannya, dan diizinkan jika melahirkan inovasi pengganti yang lebih ramah lingkungan.

    Baca: Penggunaan galon berbahan PET daur ulang dalam industri air minum dalam kemasan

    “Tidak mematikan, bukan soal mematikan usaha tapi jaga lingkungan, silakan berproduksi tapi jangan merusak lingkungan,“ terang Koster

    Koster lantas menyarankan para produsen air minum untuk menerapkan sistem guna ulang dengan memproduksi air dalam kemasan botol beling.

    Untuk menjelaskan langkah yang sedang dilakukan Pemprov Bali ini, akan dilakukan pertemuan dengan para produsen air minum kemasan baik perusahaan besar maupun milik UKM lokal Bali.

    “Saya akan mengumpulkan semua, ada PDAM, perusahaan-perusahaan swasta di Bali, termasuk Danone, itu akan saya undang semua, tidak boleh lagi memproduksi minuman kemasan yang 1 liter ke bawah, kan ada yang seperti gelas itu tidak boleh lagi, kalau galon boleh,” kata dia.

    Baca: Empat jenis plastik yang dapat didaurulang

    Koster memastikan seluruh pengusaha yang mengedarkan produknya di Bali akan diajak berbicara.

    Selain produsen, Koster juga mengantisipasi peredaran yang dilakukan oleh pemasok, sehingga surat edaran juga mengatur larangan mendistribusikan produk atau minuman kemasan plastik sekali pakai di wilayah Provinsi Bali.

    Pemprov Bali mengajak masyarakat agar bersama-sama berperan aktif melaksanakan dan mengawasi pelaksanaan pengelolaan sampah berbasis sumber dan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai ini.

    Untuk implementasinya di lapangan, orang nomor satu di Pemprov Bali itu menugaskan Satpol PP bersinergi dengan perangkat daerah terkait, komunitas peduli lingkungan, dan pihak lain untuk melakukan pengawasan secara ketat.

    Baca: Industri air minum dalam kemasan dan krisis air global

  • Kurangi Sampah Plastik, TransJakarta Sediakan Layanan Isi Ulang Air Minum Gratis

    Kurangi Sampah Plastik, TransJakarta Sediakan Layanan Isi Ulang Air Minum Gratis

    7cloud.asia – PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) meluncurkan layanan isi ulang air minum secara gratis sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan lingkungan dan peningkatan kesadaran akan pentingnya pengurangan sampah plastik.

    Melalui program Dari Air Jadi Kebaikan ini, pengguna bus Transjakarta diajak memanfaatkan water refill station dengan membawa tumbler pribadi.

    Saat ini, layanan isi ulang air minum secara gratis telah tersedia di Halte CSW, Halte Bundaran Senayan, Halte Senayan Bank DKI, Halte Karet, Halte Dukuh Atas, Halte Tosari dan Halte MH Thamrin.

    Anggota DPRD DKI Jakarta, Dwi Rio Sambodo, mengapresiasi langkah Transjakarta yang menghadirkan fasilitas water refill station di sejumlah halte utama.

    Menurutnya, inisiatif ini sejalan dengan komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam mengurangi sampah plastik dan mendorong gaya hidup berkelanjutan.

    Baca: Gunakan tumbler berdampak besar pada lingkungan

    “Integrasi isu lingkungan ke dalam sistem transportasi publik merupakan langkah maju yang perlu terus diperkuat,” ujarnya, Selasa (15/4/2025).

    Rio menilai program ini memiliki potensi manfaat yang besar bagi masyarakat. Oleh karena itu, ia mendorong Transjakarta untuk memperluas layanan ke halte-halte strategis lainnya.

    “Seperti Halte Monas, Kota Tua dan Blok M yang memiliki volume penumpang tinggi. Perluasan ini akan memperkuat dampak positif program dalam membentuk budaya ramah lingkungan di ruang publik,” tuturnya.

    Ia juga mendorong PT Transjakarta untuk menjalin kolaborasi dengan sektor swasta, termasuk perusahaan air minum dalam kemasan maupun mitra CSR.

    Menurutnya, hal ini dapat mempercepat pengadaan fasilitas refill tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

    Baca: Ekosistem guna ulang harus dibangun mulai dari sekarang

    “Inisiatif seperti ini membuka ruang kontribusi bagi dunia usaha dalam mendukung agenda keberlanjutan kota,” tuturnya.

    Rio menegaskan, penyediaan fasilitas harus disertai dengan sosialisasi aktif, baik melalui media sosial, materi informasi di halte, maupun peran aktif petugas Transjakarta.

    Edukasi kepada penumpang mengenai manfaat membawa tumbler serta dampaknya terhadap pengurangan sampah plastik juga harus menjadi bagian penting dari program ini.

    “Pemprov DKI Jakarta juga perlu mendorong adanya sistem pemantauan terhadap kualitas air, kebersihan fasilitas, serta volume penggunaan di setiap stasiun refill.

    Pemanfaatan teknologi seperti sistem pelaporan atau dashboard evaluasi akan membantu memastikan program ini berjalan efektif, berkelanjutan dan terus berkembang sesuai kebutuhan warga,” tandasnya.

  • Tiga Alasan Mengapa Sampah Plastik Sangat Membahayakan Lingkungan

    Tiga Alasan Mengapa Sampah Plastik Sangat Membahayakan Lingkungan

    7cloud.asia – Dunia menghasilkan sekitar 400 juta ton sampah plastik tahun lalu. Sejak tahun 1950-an, diperkirakan telah dihasilkan 9,2 miliar ton plastik, sekitar 7 miliar ton di antaranya telah menjadi sampah plastik.

    Dilansir di laman resmi unep.org, sumber utama sampah plastik adalah produk plastik sekali pakai, yang tidak diputar dalam perekonomian, sehingga membanjiri sistem pembuangan limbah dan mencemari lingkungan.

    Beberapa produk plastik sekali pakai yang paling umum adalah botol air, wadah dispenser, tas makanan siap saji, peralatan makan sekali pakai, tas pembeku, dan busa kemasan.

    Sayangnya, produk plastik sekali pakai ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

    Selanjutnya, sampah plastik ini merupakan bagian dari krisis polusi plastik yang sangat mengancam kelestarian lingkungan, merusak ekosistem, membuat orang terpapar polutan yang berpotensi berbahaya, dan memicu perubahan iklim.

    Polusi plastik ada di danau, sungai, dan laut. Polusi plastik tersebar di jalan-jalan kota dan ladang petani. Polusi plastik meledak dari tempat pembuangan sampah.

    Baca: Menunggu lahirnya perjanjian pembatasan plastik global

    Polusi plastik menumpuk di gurun dan masuk ke dalam es laut. Para peneliti bahkan menemukan sampah plastik di Gunung Everest dan di Palung Mariana, titik terdalam di Bumi.

    “Polusi plastik merupakan salah satu ancaman lingkungan paling serius yang dihadapi Bumi, tetapi ini adalah masalah yang dapat kita atasi,” kata Elisa Tonda, Kepala Cabang Sumber Daya dan Pasar Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).

    Elisa menambahkan, mengolah sampah plastik tidak hanya dapat meningkatkan kesejahteraan manusia dan lingkungan, tetapi juga membuka sejumlah peluang ekonomi.

    Negara-negara di seluruh dunia saat ini tengah merundingkan perjanjian internasional yang mengikat secara hukum untuk mengakhiri polusi plastik.

    Dengan latar belakang tersebut, dunia saat ini berfokus pada cara-cara untuk mencegah sampah plastik masuk ke lingkungan, seperti mengekang polusi dari produk plastik sekali pakai dan mendesain ulang produk plastik agar lebih tahan lama.

    Ada tiga alasan mengapa sampah plastik menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kehidupan manusia.

    Baca: Posisi Indonesia dalam mewujudkan perjanjian pembatasan plastik global

    1. Merusak ekosistem.
    Sebuah studi menemukan bahwa partikel plastik kecil dapat memperlambat pertumbuhan alga laut mikroskopis yang dikenal sebagai fitoplankton, yang merupakan dasar dari beberapa jaring makanan akuatik.

    Selain itu, ikan sering kali keliru memakan produk plastik, mengisi perut mereka dengan pecahan yang tidak dapat dicerna yang menyebabkan mereka mati kelaparan.

    2. Ancaman mikroplastik
    Plastik sering kali terurai menjadi fragmen-fragmen kecil – yang dikenal sebagai mikroplastik dan nanoplastik – yang dapat menumpuk di tubuh manusia.

    Mikroplastik telah ditemukan di hati, testis – bahkan ASI. Satu studi menemukan bahwa rata-rata, satu liter air minum kemasan mengandung sekitar 240.000 mikroplastik.

    3. Sumbang emisi global
    Plastik sepanjang siklus hidupnya juga berkontribusi terhadap emisi global yang selanjutnya memicu perubahan iklim.

    Para peneliti memperkirakan produksi plastik – sebuah proses yang membutuhkan banyak energi – bertanggung jawab atas lebih dari 3 persen emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global pada tahun 2020.

    Baca: Jalan panjang menuju perjanjian pembatasan plastik global

  • Bumi Dibanjiri Polusi Plastik: Pengetahuan tentang Sirkularitas Sangat Dibutuhkan

    Bumi Dibanjiri Polusi Plastik: Pengetahuan tentang Sirkularitas Sangat Dibutuhkan

    7cloud.asia – Direktur dan Perwakilan Kantor Regional untuk Amerika Latin dan Karibia Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP), Juan Bello mengatakan kurikulum akademis sering kali tertinggal dengan krisis lingkungan, termasuk polusi plastik.

    Padahal, penyebarluasan pengetahuan tentang bagaimana memperpanjang umur produk plastik dan menjauhkan polusi plastik dari lingkungan memegang peran pnting dalam menahan gelombang polusi plastik.

    Karena itu, UNEP menjalin kemitraan dengan jaringan universitas regional untuk membekali siswa dengan sejumlah keterampilan hijau, termasuk yang terkait dengan sirkularitas.

    Bagaimana perubahan kurikulum dilakukan untuk membangun pengetahuan sirkularitas, berikut petikan wawancara dengan Juan Bello sebagaimana dilansir di unep.org.

    Mengapa penting untuk membangun ekonomi yang lebih sirkular untuk plastik?

    Juan Bello (JB): Jawaban singkatnya adalah Bumi sedang dibanjiri oleh polusi plastik. Menurut salah satu perkiraan terkemuka, manusia menghasilkan 400 juta ton sampah plastik pada tahun 2024.

    Baca: Butuh perubahan sistem agar ekonomi sirkular dapat diadopsi secara global

    Sebagian besar plastik itu berakhir di lingkungan – dari ladang petani hingga sungai. Plastik ini merusak ekosistem dan berada di tubuh kita, dengan dampak pada kesejahteraan kita yang belum sepenuhnya kita pahami.

    Model yang lebih sirkular akan membantu produk plastik bertahan lebih lama, dan membuatnya lebih mudah didaur ulang dan digunakan kembali, sehingga mencegahnya berakhir sebagai polusi.

    Apakah lulusan universitas dan perguruan tinggi teknik saat ini tahu banyak tentang sirkularitas?

    JB: Kaum muda lebih sadar dari sebelumnya tentang tekanan lingkungan yang dihadapi planet ini dan potensi bahaya polusi plastik.

    Namun, di Amerika Latin dan Karibia – dan saya menduga wilayah lain – banyak yang tidak mendapatkan instruksi akademis yang mereka butuhkan untuk membantu mengatasi masalah tersebut, setidaknya secara sistemik.

    Mengubah kurikulum inti universitas dan perguruan tinggi merupakan proses yang panjang – sesuatu yang dapat memakan waktu bertahun-tahun jika tidak puluhan tahun. Jadi, bagaimana Anda akan mengatasi masalah itu?

    JB: Tujuan jangka panjangnya adalah membantu universitas dan perguruan tinggi teknik mengembangkan kurikulum yang membahas keberlanjutan secara sistemik.

    Baca: Ekonomi sirkular punya peran penting atasi polusi plastik

    Namun, Anda benar – itu membutuhkan waktu yang lama. Jadi, dalam waktu dekat, kami berfokus pada kursus singkat berbasis keterampilan yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan, idealnya bekerja sama dengan sektor swasta.

    Beberapa dari mikro-kredensial ini juga dapat dilakukan setelah lulus. Tujuannya adalah untuk segera membekali siswa dengan keterampilan dunia nyata yang diinginkan oleh para pemberi kerja.

    Bidang apa saja yang akan menjadi fokus Anda?

    JB: Jawaban singkatnya: banyak. Sirkularitas memerlukan keterampilan teknis, ya, tetapi juga perubahan pola pikir – dan dalam banyak kasus, kebijakan.
    Itulah sebabnya kami mengambil pendekatan interdisipliner, bekerja dengan mahasiswa di berbagai bidang.

    Beberapa di antaranya mungkin Anda harapkan, seperti teknik dan desain produk, dan beberapa di antaranya mungkin tidak, seperti komunikasi dan hukum.

    Kami juga akan menekankan pemikiran sistem. Misalnya, bagaimana Anda merancang produk plastik agar lebih tahan lama, dapat diperbaiki, dan, di akhir masa pakainya, dapat didaur ulang?

    Baca: Bagaimana ekonomi sirkular atasi polusi plastik

    Dapatkah pelatihan semacam ini membantu mengatasi pengangguran kaum muda? Di Amerika Latin dan Karibia, pengangguran kaum muda sekitar 14 persen, tiga kali lipat dari tingkat pengangguran orang dewasa.

    JB: Ya. Ini adalah elemen penting lainnya dari persamaan tersebut. Selain menanggulangi polusi plastik, kami juga ingin membantu kaum muda menemukan pekerjaan yang stabil dan layak, yang sangat kurang di banyak bagian wilayah ini, dan di seluruh dunia.

    Pada tahun 2030, diperkirakan akan terjadi kekurangan 20 persen karyawan dengan keterampilan ramah lingkungan di seluruh dunia, menurut laporan terbaru LinkedIn.

    Jadi, mahasiswa dengan pelatihan dalam sirkularitas akan memiliki keunggulan di pasar kerja.

    Mengapa polusi plastik menjadi masalah yang perlu kita atasi sekarang?

    JB: Karena polusi plastik meroket. Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi memperkirakan bahwa pada tahun 2060, sampah plastik akan meningkat hampir tiga kali lipat

    Baca: Mengapa sampah plastik sangat membahayakan lingkungan