7cloud.asia – Kadang, kita merasa tidak bahagia dengan apa yang kita miliki. Apalagi kita hidup di dunia yang penuh ketidakadilan dan kekejaman di berbagai lapisan lingkungan kita.
Bukan cuma itu, beberapa orang terdekat yang penulis kenal juga merupakan sosok yang denial: teguh menolak hal yang sulit diubah.
Kita pun hidup di tengah sistem ekonomi yang mengambil keuntungan dari perasaan pribadi seperti merasa kurang (insecure), menginginkan sesuatu, dorongan membandingkan diri dengan orang lain, dan rasa iri.
Perasaan iri kerap membuat kita merasa kurang dan menginginkan sesuatu, bukan kebalikannya. Ini terjadi berkat kepiawaian iklan: memunculkan kebutuhan yang “dipersepsikan” alias kebutuhan semu.
Kita melihat seseorang yang hidupnya “ideal”—seru, seksi, kreatif, kemudian menginginkan apa yang mereka miliki: sepatu, jam tangan, liburan, atau apa pun itu.
Perasaan iri tak akan muncul tanpa adanya perbandingan. Sementara perbandingan memerlukan standar pengukuran untuk mengukur diri kita.
Baca: Hal-hal yang dapat dipelajari dari negara-negara paling bahagia di dunia
Kultur pop menawarkan beberapa standar. Mulai dari seberapa menarik kita sebagai objek seksual (jumlah match di aplikasi kencan) atau seberapa eksis kita di dunia digital (jumlah pengikut atau likes).
Semua ukuran ini memengaruhi konsep kesuksesan atau kegagalan kita yang kemudian melahirkan ‘standar palsu’
Terkadang, standar-standar tersebut menjadi ukuran kesuksesan palsu yang dapat mengakibatkan efek negatif.
Pikirkanlah salah satu contoh, misalnya seorang “pria yang punya high-value”. Di internet, sosok tersebut sama dengan pria yang banyak uang, pertemanan luas, dan berguna bagi banyak orang.
Ujung-ujungnya, definisi itu mendorong individu mengejar capaian materi dan peningkatan diri yang palsu untuk mencapai kesuksesan atau daya tarik seksual. Lagu TikTok yang viral, I’m Looking for a Man in Finance, cukup menggambarkan standar tersebut.
Asumsi tersembunyi di standar ini adalah: semakin banyak “hal keren” yang kita miliki, semakin bernilai pula kita sebagai individu.
Baca: Sederhanakan hidup agar bisa lebih bahagia
Di balik asumsi tersebut terdapat konsep terselubung: kita hanya bisa “memiliki” sesuatu yang bernilai dalam hidup—alih-alih menjadi sesuatu yang bernilai.
Asumsi ini biasanya berakar dari perasaan tak pantas (shame): perasaan bahwa diri kita saja tidaklah cukup. Kita seakan-akan tak layak untuk menentukan standar kesuksesan atau kegagalan dalam hidup kita sendiri.
Merasa malu dengan diri sendiri sebenarnya tak melulu buruk. Perasaan negatif yang sehat membuat kita sadar ketika membuat kesalahan atau melakukan tindakan yang tak sesuai dengan standar moral kita sendiri.
Perasaan rendah diri ini sering mengingatkan dan memacu kita untuk melakukan perubahan.
Rasa tak pantas yang menyakitkan
Versi yang tak sehat dari rasa malu adalah perasaan tak pantas. Perasaan ini lebih dalam dari sekadar malu atau keraguan moral.
Peneliti sifat rentan (vulnerability) Brené Brown mendefinisikannya sebagai “perasaan menyakitkan yang intens atau keyakinan bahwa diri kita penuh kekurangan sehingga tak layak mendapatkan cinta”.
Baca: Obsesi yang layak dibuang untuk hidup yang lebih bahagia
Perasaan tak pantas itu benar-benar mencengkeram sehingga bisa membuat kita melakukan apa saja agar tak menyadari kehadiran perasaan tersebut.
Sikap denial tersebut dapat terbentuk saat kita mendengar suara hati (akibat pengalaman pahit masa lalu) yang seakan-akan menjadi nyata karena kita membandingkannya dengan sekitar kita.
Suara yang begitu menghakimi itu kemudian memberi tahu bahwa kita bukan sedang mengalami suatu kegagalan, tapi kita adalah orang gagal. Konsep ini sering disebut “proyeksi”.
Di sisi lain, meski kita menyadari perasaan tak pantas itu, tak jarang kita malah bernegosiasi dengannya. Kita mengupayakan perbaikan ke lingkungan sekitar kita, sebagai penebusan akan perasaan tak berharga yang kita alami.
Di masa yang lebih kelam, perasaan tak pantas ini bisa mengambil alih kehidupan kita, membuat kita merasa tak berdaya, dan mendorong kita menjauhi setiap relasi yang ada.
Perasaan tak pantas bisa jadi sangat sulit untuk kita hadapi. Mengenali dan berefleksi terkait perasaan tersebut bisa menjadi langkah yang bermanfaat. Mengubah cara memahami diri dan hubungan kita dengan orang lain juga dapat membantu.
Sebenarnya ada banyak cara yang bisa dilakukan, Apa saja yang bisa dilakukan akan diulas dalam tulisan selanjutnya.
Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Penulis: Joshua Forstenzer (Senior Lecturer in Philosophy and Co-Director of the Centre for Engaged Philosophy, University of Sheffield)
Leave a Reply