7cloud.asia – Sampah baterai mengandung logam berat yang dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan. Karena itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan metode daur ulang baterai bekas.
Dalam rilisnya, Peneliti Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN, Octia Flowerin mengatakan daur ulang baterai bekas biasanya dilakukan dengan tiga cara.
Yaitu dengan menggunakan metode pirometalurgi, hidrometalurgi, dan daur ulang langsung agar baterai bekas itu tak mencemari lingkungan.
Metode Pirometalurgi adalah metode daur ulang baterai bekas dengan cara memanaskan baterai bekas pada suhu tinggi. Metode ini menghasilkan logam murni, tetapi membutuhkan energi yang besar.
Baca: Daur ulang limbah tekstil
Metode hidrometalurgi yang dilakukan dengan cara melarutkan logam dari baterai bekas menggunakan larutan kimia.
Cara ini bisa menghasilkan logam murni dengan energi yang lebih rendah dibandingkan dengan pirometalurgi.
Sedangkan metode daur ulang secara langsung dilakukan dengan cara mengubah baterai bekas menjadi katoda baterai baru.
Metode ini kebutuhan energinya paling rendah, tetapi hanya dapat dilakukan pada baterai jenis tertentu.
Baca: Daur ulang sampah plastik
Cara yang dikembangkan oleh Octia dan timnya adalah mengembangkan metode daur ulang baterai bekas menggunakan hidrometalurgi dan penelitian asam askorbat.
“Metode ini menghasilkan logam murni dengan efisiensi yang tinggi dan energi yang rendah,” ujar Octia yang juga anggota peneliti dalam Kelompok Riset Material Fungsional Dimensi Rendah.
Untuk mengembangkan metode ini, lanjut Octia, pihaknya bekerja sama dengan Osaka University, Kumamoto University, Ming Chi University of Technology di Taiwan, Institut Teknologi Bandung, hingga UPSI Malaysia.
Dia berharap penelitian ini nantinya dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan lingkungan dan mengurangi ketergantungan pada industri pertambangan.
Reporter: Nurakhmayani

Leave a Reply