7cloud.asia – Tren olahraga lari yang berkembang saat ini membuat banyak orang tergoda untuk ikut serta, sehingga menciptakan suatu kondisi yang disebut dengan Fear of Missing Out (FoMO).
Ada perasaan khawatir yang dirasakan sebagian orang, jika mereka tidak mengikuti tren yang ada maka akan disebut ketinggalan.
Pasalnya, di dalam tren tersebut diyakini terdapat pengalaman yang menarik untuk dialami secara personal.
Ketika melihat teman atau tokoh inspiratif di media sosial mengikuti ajang maraton untuk mencapai jarak lari tertentu, kita sering kali merasa terdorong untuk ikut serta dengan berbagai motivasi.
Motivasi tersebut dapat berupa keinginan untuk pamer konten di media sosial, menambah teman yang memiliki hobi serupa, ataupun sungguh-sungguh ingin melihat kemampuan diri dalam berlari.
Baca: Ini risikonya ketika olahraga lari dilakukan karena FoMO
Untuk mengatasi FoMO, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan, seperti yang dianjurkan oleh Yogie Pranowo, Adjunct Associate Lecturer Universitas Multimedia Nusantara dalam tulisannya di The Conversation:
1. Pendekatan mindfulness
Teknik mindfulness dalam berolahraga yang juga dapat berarti sebagai kondisi sadar untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam diri kita dan lingkungan sekitar –tanpa menghakimi atau menilai dengan penuh kasih.
Mindfulness ini dapat membantu pelari fokus pada pengalaman pribadi mereka saat berlari dan menikmati setiap langkah tanpa terbebani oleh ekspektasi sosial.
Dengan mindfulness, pelari bisa lebih menikmati proses berlari itu sendiri tanpa harus terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.
Baca: Olahraga lari bisa jadi terapi untuk usir depresi
2. Mengatur waktu penggunaan media sosial
Membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial dan memilih konten yang inspiratif serta positif dapat menjaga keseimbangan mental dan emosional.
Dengan membatasi paparan terhadap konten yang memicu FoMO, kita dapat menghindari tekanan yang tidak perlu.
Misalkan saja, menurut klikdokter.com cukup dua jam sehari untuk menggunakan media sosial, agar tidak terjebak pada jebakan impulsif psikologis yang berlebihan.
3. Membangun komunitas lari offline
Bergabung dengan klub lari lokal atau mengadakan acara lari bersama tanpa harus membagikannya di media sosial bisa membantu kita merasakan dukungan sosial yang nyata.
Dalam lingkungan ini, kita bisa menikmati olahraga dengan cara yang lebih alami dan merasa lebih terhubung dengan orang lain.
Baca: Jalan kaki bagus untuk kesehatan mental
Contohnya adalah komunitas lari CEO Runners, yang telah berdiri sejak 2014, yang bukan hanya aktif di kegiatan lari, tetapi aktif juga pada kegiatan donor darah sebagai bagian dari aktivitas kebersamaan antar anggotanya.
Dengan memahami dan mengelola pengaruh media sosial dalam fenomena FoMO, kita dapat menjadikan olahraga lari sebagai aktivitas yang lebih menyenangkan.
Olahraga lari yang kita lakukan juga akan lebih bermanfaat tanpa terjebak dalam tekanan sosial yang berlebihan.
Selain itu, kita dapat lebih menikmati proses dan prestasi diri sendiri tanpa harus selalu membandingkannya dengan pencapaian orang lain di media sosial.






