Tag: fomo

  • Kiat Mengendalikan FoMO Saat Olahraga Lari

    Kiat Mengendalikan FoMO Saat Olahraga Lari

    7cloud.asia – Tren olahraga lari yang berkembang saat ini membuat banyak orang tergoda untuk ikut serta, sehingga menciptakan suatu kondisi yang disebut dengan Fear of Missing Out (FoMO).

    Ada perasaan khawatir yang dirasakan sebagian orang, jika mereka tidak mengikuti tren yang ada maka akan disebut ketinggalan.

    Pasalnya, di dalam tren tersebut diyakini terdapat pengalaman yang menarik untuk dialami secara personal.

    Ketika melihat teman atau tokoh inspiratif di media sosial mengikuti ajang maraton untuk mencapai jarak lari tertentu, kita sering kali merasa terdorong untuk ikut serta dengan berbagai motivasi.

    Motivasi tersebut dapat berupa keinginan untuk pamer konten di media sosial, menambah teman yang memiliki hobi serupa, ataupun sungguh-sungguh ingin melihat kemampuan diri dalam berlari.

    Baca: Ini risikonya ketika olahraga lari dilakukan karena FoMO

    Untuk mengatasi FoMO, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan, seperti yang dianjurkan oleh Yogie Pranowo, Adjunct Associate Lecturer Universitas Multimedia Nusantara dalam tulisannya di The Conversation:

    1. Pendekatan mindfulness
    Teknik mindfulness dalam berolahraga yang juga dapat berarti sebagai kondisi sadar untuk memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam diri kita dan lingkungan sekitar –tanpa menghakimi atau menilai dengan penuh kasih.

    Mindfulness ini dapat membantu pelari fokus pada pengalaman pribadi mereka saat berlari dan menikmati setiap langkah tanpa terbebani oleh ekspektasi sosial.

    Dengan mindfulness, pelari bisa lebih menikmati proses berlari itu sendiri tanpa harus terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain.

    Baca: Olahraga lari bisa jadi terapi untuk usir depresi

    2. Mengatur waktu penggunaan media sosial
    Membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial dan memilih konten yang inspiratif serta positif dapat menjaga keseimbangan mental dan emosional.

    Dengan membatasi paparan terhadap konten yang memicu FoMO, kita dapat menghindari tekanan yang tidak perlu.

    Misalkan saja, menurut klikdokter.com cukup dua jam sehari untuk menggunakan media sosial, agar tidak terjebak pada jebakan impulsif psikologis yang berlebihan.

    3. Membangun komunitas lari offline
    Bergabung dengan klub lari lokal atau mengadakan acara lari bersama tanpa harus membagikannya di media sosial bisa membantu kita merasakan dukungan sosial yang nyata.

    Dalam lingkungan ini, kita bisa menikmati olahraga dengan cara yang lebih alami dan merasa lebih terhubung dengan orang lain.

    Baca: Jalan kaki bagus untuk kesehatan mental

    Contohnya adalah komunitas lari CEO Runners, yang telah berdiri sejak 2014, yang bukan hanya aktif di kegiatan lari, tetapi aktif juga pada kegiatan donor darah sebagai bagian dari aktivitas kebersamaan antar anggotanya.

    Dengan memahami dan mengelola pengaruh media sosial dalam fenomena FoMO, kita dapat menjadikan olahraga lari sebagai aktivitas yang lebih menyenangkan.

    Olahraga lari yang kita lakukan juga akan lebih bermanfaat tanpa terjebak dalam tekanan sosial yang berlebihan.

    Selain itu, kita dapat lebih menikmati proses dan prestasi diri sendiri tanpa harus selalu membandingkannya dengan pencapaian orang lain di media sosial.

  • Survei: Sering Berlibur dan Makan di Restoran Karena Ikut Tren Berdampak Buruk pada Kondisi Finansial

    Survei: Sering Berlibur dan Makan di Restoran Karena Ikut Tren Berdampak Buruk pada Kondisi Finansial

    7cloud.asia – Sering berlibur dan makan di restoran karena takut ketinggalan tren (FOMO) berdampak buruk pada kondisi finansial generasi muda.

    Dan nyatanya sebagian besar beban finansial pada konsumen muda ini pada akhirnya ditanggung oleh orang tua mereka.

    Demikian menurut hasil survei terbaru Axios Vibes yang dilakukan oleh The Harris Poll secara daring pada tanggal 13-15 Juni 2024.

    Survei Axios Vibes yang mengungkap dampak belanja karena dorongan FOMO ini didasarkan pada sampel yang mewakili secara nasional sebanyak 2.122 orang dewasa AS.

    Survei itu mengungkap, 60 persen atau 6 dari 10 orang Amerika mengatakan mereka merasa tertekan secara finansial setiap bulannya.

    Para responden mengatakan inflasi bukanlah satu-satunya alasan masalah finansial yang mereka hadapi.

    Baca: Kunci sukses finansial adalah tidak bertindak impulsif 

    Sebaliknya, efek gabungan dari terapi ritel dan rasa takut ketinggalan tren atau FOMO mendorong beberapa orang untuk menghabiskan anggaran mereka untuk pengeluaran yang tidak perlu.

    Survei itu juga mengungkap, sepertiga generasi milenial dan lebih dari 60 persen konsumen Gen Z mengatakan bahwa mereka bergantung pada orang tua untuk setidaknya mendapatkan dukungan finansial.

    Secara keseluruhan, sebagian besar konsumen milenial dan Gen Z mengatakan bahwa mereka merasa bisa mengendalikan anggaran dan biaya-biaya yang tidak diperlukan.

    Ketergantungan pada orang tua paling banyak terjadi di antara mereka yang mengatakan bahwa mereka menghabiskan anggaran bulanannya karena pengeluaran yang berlebihan untuk hal-hal yang tidak penting.

    Sekitar 65 persen mengatakan hal tersebut adalah penyebab masalah finansial yang mereka hadapi.

    Baca: Dampak gaya hidup konsumtif

    Sementara konsumen muda menyalahkan pilihan mereka sendiri atas masalah finansial yang dihadapi, Baby Boomers dan Generasi X merasa himpitan finansial karena kenaikan harga barang kebutuhan pokok.

    Sekitar 40 persen dari kelompok milenial dan Gen Z yang mengatakan bahwa mereka terjepit secara finansial terutama menghubungkannya dengan “pengeluaran berlebihan untuk hal-hal yang tidak penting.”

    Hanya 17 persen generasi Baby Boomer dan Generasi X yang mengalami kesulitan finansial mengatakan hal yang sama.

    Pertanyaan besarnya adalah apakah pola-pola tersebut hanya mencerminkan kecenderungan generasi muda yang kurang aman secara finansial?

    Atau apakah ada perubahan budaya yang menunjukkan bahwa pengeluaran berlebihan saat ini, dengan harapan untuk menabung di kemudian hari, menjadi lebih umum?

    Baca: Gaya hidup minimalis bikin kita merdeka secara finansial

    Mayoritas generasi millenial dan Gen Z yang disurvei sepakat, akan lebih baik memperlakukan diri mereka sendiri sekarang, daripada menunggu masa depan “yang bisa berubah kapan saja.”

    Mayoritas Gen Z setuju bahwa mereka berhak mendapatkan pembelian yang lebih mahal “setelah bertahan dalam beberapa tahun terakhir.”

    Mereka mengatakan, “Semakin banyak meme seperti ‘terapi ritel’ atau ‘budaya suguhan kecil’ yang menyamakan kesehatan mental dengan belanja impulsif,” kata John Gerzema, CEO The Harris Poll.

    Hampir separuh (46 persen) yang mengatakan pembelanjaan mereka “di luar kendali” mengetahui bahwa mereka membelanjakan terlalu banyak karena “FOMO,” atau takut ketinggalan.

    Sisanya, 43 persen mengatakan mereka berusaha mengimbangi teman-teman yang lebih kaya.

    Baca: Hindari boros gegara iming-iming potongan harga

    Selain itu, penggunaan kartu kredit menjadi lebih umum. Ketika sebagian besar generasi Baby Boomer memasuki usia dewasa, kartu kredit baru mulai memasuki arus utama.

    Data dari biro kartu kredit TransUnion menunjukkan lebih dari 80 persen konsumen Gen Z memiliki setidaknya satu kartu kredit aktif pada tahun 2023.

    Sementara itu, 60 persen generasi milenial memiliki kartu kredit pada usia yang sama, menurut data satu dekade sebelumnya.

     

  • Kamu Suka Merasa Khawatir Ketinggalan Tren, Waspadai Sindrom FOMO

    Kamu Suka Merasa Khawatir Ketinggalan Tren, Waspadai Sindrom FOMO

    7cloud.asia – Pernahkah atau seberapa sering Anda merasa takut tertinggal, baik itu mengenai informasi terbaru ataupun tren terkini?

    Jika Anda sering mengalami hal tersebut, bisa jadi Anda telah mengalami sindrom FOMO atau fear of missing out.

    FOMO adalah sebuah istilah sekaligus sindrom yang kini banyak terjadi di masyarakat seiring dengan berkembangnya media sosial dan teknologi digital.

    Sesuai dengan namanya, FOMO adalah perasaan takut tertinggal dan umumnya ketakutan ini mengacu pada tren yang sedang marak atau booming.

    Istilah FOMO ini pertama kali dipopulerkan pada tahun 2013 oleh seorang ilmuan bernama Dr. Andrew K. Przybylski.

    Dari pemaparannya dapat disimpulkan jika FOMO adalah sebuah sindrom maupun fenomena di mana seseorang percaya jika segala momen berharga yang terjadi pada tidak boleh dilewatkan.

    Baca: Memaksa terusvikut tren berdampak negatif pada kondisi keuangan

    Hal ini tentunya membuat mereka yang merasakannya tidak tenang dan terus-menerus merasa gelisah bilamana gagal mengikuti apa yang mereka lihat atau mereka dengar.

    FOMO bisa menyerang siapa saja, lelaki atau perempuan, muda ataupun yang sudah tua.
    FOMO muncul akibat adanya penggunaan sosial media secara berlebihan.

    Berbagai faktor penyebab sindrom FOMO antara lain adalah.

    1. Penggunaan gadget yang berlebihan

    2. Terlalu aktif di media sosial

    3. Self esteem rendah dan kurang bersyukur atas apa yang dimiliki

    4. Suka membandingkan diri sendiri dengan orang Lain

    6. Kurang kuat pendirian dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitar

    Baca: Kiat mengendalikan sindrom FOMO dalam berolahraga

    Kita tentu tidak ingin merasa tertinggal dan selalu berusaha meng-upgrade diri lebih baik lagi dan lagi.

    Namun, jika perasaan tidak ingin tertinggal ini justru muncul bukan karena kebutuhan atau demi kebaikan, sebaiknya Anda harus curiga karena bisa jadi itu merupakan pertanda FOMO. Berikut ini merupakan ciri-ciri orang yang terkena FOMO.

    1. Menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bermain gadget

    2. Lebih mengutamakan sosial media ketimbang kehidupan nyata dan bersosialisasi

    3. Haus akan gosip dan/atau informasi mengenai kehidupan orang oali.

    4. Selalu ingin tahu berita terkini

    5. Sering langsung mengiyakan saat diajak mengikuti appaun kegiatan yang sedang ngetren atau populer

    6. Tak mengeluarkan uang banyak demi mengikuti tren terbaru

  • Langkah Sederhana agar Tidak Terlalu Lama Terjebak dalam Sindrom FOMO

    Langkah Sederhana agar Tidak Terlalu Lama Terjebak dalam Sindrom FOMO

    7cloud.asia – Sindrom FOMO atau fear of missing out kini banyak terjadi di tengah masyarakat seiring dengan berkembangnya media sosial dan teknologi digital.

    Sesuai dengan namanya, FOMO adalah perasaan takut tertinggal dan umumnya ketakutan ini mengacu pada tren yang sedang marak atau booming.

    Ada beragam penyebab terjadinya FOMO, salah satunya terlalu sering menggunakan gadget dan berlebihan konsumsi media sosial 

    FOMO bisa berbahaya dan bisa mengganggu berbagai aspek dalam kehidupan. FOMO antara lain dapat mempengaruhi kondisi finansial, mengancam kesehatan jiwa, serta mempengaruhi hubungan sosial seseorang.

    Berikut beberapa cara agar tidak terlalu lama terjebak dalam sindrom FOMO yang kami himpun dari situs Calm, simak yuk!

    1. Detoks media sosial
    Kamu perlu keluar dari akun media sosial secara perlahan. Kamu bisa memulainya dengan tidak membuka selama beberapa jam, beberapa hari, dan bahkan beberapa bulan.

    Nggak dipungkiri, media sosial adalah salah satu faktor terkuat dalam menciptakan perasaan FOMO. Maka dari itu, melakukan detoks media sosial sementara adalah sebuah ide yang bisa kamu pertimbangkan.

    Kamu bisa memanfaatkan waktu dengan kegiatan lain. Beberapa di antaranya, bertemu dengan sahabat, melakukan hobi, bonding dengan keluarga, dan kegiatan positif lainnya.

    2. Belajar meditasi dan mindfulness
    Melakukan meditasi dan mepraktikan mindfulness dapat membantumu untuk fokus dengan keadaan saat ini.

    Dengan konsisten menerapkan keduanya, kamu dapat melatih pikiranmu untuk tidak memikirkan apa yang orang lain lakukan dan hal-hal yang viral di media sosial. Sehingga, perasaan FOMO tidak akan muncul di benakmu.

    3. Terapkan ekspektasi realistis
    Jangan pernah lupa, baik kepada diri sendiri lebih menguatkan. Kehidupan orang lain di media sosial memang terlihat sempurna, tetapi ingatlah tidak ada orang yang sempurna di dunia ini.

    Maka dari itu, terapkan ekspektasi realistis bahwa tidak apa-apa untuk tidak memiliki segalanya. Melewatkan tren dan tidak memiliki pengalaman yang sama dengan orang lain bukan berarti kamu adalah sosok manusia yang gagal.

    4. Selalu bersyukur
    Kamu bisa melakukannya dengan berbagai cara, salah satunya dengan menulis jurnal yang isinya tentang apa saja yang kamu syukuri hari ini.

    Dengan cara itu, kamu mampu berhenti memikirkan apa yang tidak kamu punya. Lalu, kamu akan sadar dengan banyaknya hal yang kamu miliki.

    5. Rayakan pencapaian diri
    Masih berkaitan dengan poin sebelumnya, kamu juga dapat merefleksikan pencapaian-pencapaian diri yang bisa membuatmu bahagia. Rayakan perasaan tersebut, Beauties.

    6. Bersosialisasi
    Jika kamu sudah cukup lama tidak bertemu dengan keluarga atau kawan-kawan Anda, maka ini adalah saat yang tepat untuk menemui mereka.

    Sebab, berinteraksi secara daring dan langsung adalah dua hal yang sangat berbeda.

    Buatlah janji dengan orang terdekatmu dan keluarlah ke tempat yang kalian inginkan. Interaksi yang tulus akan membuatmu tidak terlalu khawatir akan kehilangan hal lain.

     

  • Hindari Jebakan FOMO Atau Bakal Rasakan Berbagai Efeknya

    Hindari Jebakan FOMO Atau Bakal Rasakan Berbagai Efeknya

    7cloud.asia – Sindrom FOMO atau fear of missing out kini banyak terjadi di tengah masyarakat seiring dengan berkembangnya media sosial dan teknologi digital.

    Sesuai dengan namanya, FOMO adalah perasaan takut tertinggal dan umumnya ketakutan ini mengacu pada tren yang sedang marak atau booming.

    Ada beragam penyebab terjadinya FOMO, salah satunya penggunaan gadget dan konsumsi media yang berlebihan.

    FOMO bisa berbahaya dan bisa mengganggu berbagai aspek dalam kehidupan. FOMO antara lain dapat mempengaruhi kondisi finansial, mengancam kesehatan jiwa, serta mempengaruhi hubungan sosial seseorang.

    Baca: Mengapa banyak orang terjebak sindrom FOMO

    Berikut dampak negatif yang bisa dialami seseorang jika terlalu lama terjebak dalam sindrom FOMO:

    1. Mempengaruhi Kondisi Finansial
    FOMO bisa mendorong siapa saja untuk melakukan hal-hal di luar nalar hanya demi memuaskan ego dan melepaskan perasaan tertinggal.

    Hal inilah yang membuat orang dengan sindrom FOMO akan mengalami kesulitan secara finansial. Sebab, mereka akan rela melakukan apa saja hanya untuk mengikuti tren, tanpa terkecuali merogoh kocek yang cukup banya.

    Dari kebiasaan buruk inilah muncul beragam kendala dalam keuangan. Antara lain yaitu sulit menabung, sifat konsumtif, boros, nekat berhutang atau mengandalkan pinjol bahkan yang ilegal sekalipun.

    2. Mengancam Kesehatan Jiwa
    FOMO adalah kecenderungan masyarakat untuk memposting pengalaman positif daripada negatif karena ketakutan akan kehilangan momen tertentu.

    Adanya perasaan takut ini dapat mengganggu kesehatan jiwa seseorang seperti stress, kecemasan, sulit tidur, kurang percaya diri atau perasaan rendah diri.

    Baca: Terlalu memaksa ikut tren buruk buat kondisi finansial

    3. Mempengaruhi Hubungan Sosial Seseorang
    Saat FOMO mulai menjangkit seseorang dan orang tersebut belum mampu mewujudkan keinginannya untuk mengikuti apa yang dianggap baik, orang tersebut cenderung mengasingkan diri dari orang lain.

    Di lain sisi, orang-orang dengan sindrom FOMO juga punya kecenderungan untuk meremehkan selera orang yang berbeda dengan pandangan orang banyak.

    Lebih buruk, mereka yang memiliki FOMO akan merasakan sulit berkomunikasi secara nyata karena terlalu fokus dengan dunia maya.

    Jika dibiarkan, FOMO dapat memberikan efek negatif yang lebih parah seperti halnya gangguan kejiwaan. Memiliki perasaan cemas tidak baik untuk diri sendiri karena akan merasa selalu kurang dari orang lain.

    Karena itu segera lakukan langkah agar Anda tidak terus menerus terjangkit FOMO. Berikut cara mencegah sindrom FOMO seperti dikutip dari situs Calm:

    1. Batasi Konsumsi Media Sosial dan Penggunaan Gadget
    2. Menghargai Diri Sendiri
    3. Fokus Pada Diri Sendiri dan Tujuan yang Ingin Diraih
    4. Mengembangkan Hobi dan Menggali Potensi dalam Diri
    5. Banyak Bersyukur dan Selalu Berpikir Positif
    6. Ubah Konten atau Topik yang Biasa Dilihat

  • Fenomena Psikologis FOMO Memicu Pembelian Impulsif, Ini Cara Mengatasinya

    7cloud.asia – Beberapa studi terbaru mengonfirmasi bahwa endorsement artis atau influencer secara signifikan memengaruhi pembelian impulsif, terutama di kalangan Generasi Z.

    Ketika seseorang melihat idola atau temannya memiliki suatu produk, mereka merasa cemas akan tertinggal sehingga buru-buru untuk membeli produk yang sama.

    Selain ikatan dengan influencers, pembelian impulsif sering kali dipicu oleh fenomena psikologis seperti Fear of Missing Out atau FOMO, yaitu perasaan takut ketinggalan suatu tren yang sedang populer.

    Fenomena psikologis seperti FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Live Only Once), dan FOPO (Fear of Other People’s Opinions) yang menjadi faktor pemicu perilaku pembelian impulsif.

    Fenomena FOMO ini menjadi salah satu motivasi terbesar dalam pembelian impulsif, terutama di kalangan anak-anak muda, yang lebih rentan terhadap pengaruh tren di media sosial.

    Baca: Haruskah ikut-ikutan keranjingan Labubu?

    Di samping FOMO, konsep You Only Live Once atau YOLO juga sering digunakan sebagai motif untuk melakukan pembelian impulsif dengan justifikasi memanjakan diri dalam “hidup yang hanya sekali” ini.

    YOLO kini banyak digunakan untuk membenarkan pembelian barang-barang yang tidak selalu diperlukan, terutama jika barang tersebut terkait dengan influencers atau selebriti idola mereka.

    Selain FOMO dan YOLO, fenomena lain yang kini berperan dalam pembelian impulsif adalah Fear of Other People’s Opinions (FOPO). FOPO mengacu pada rasa takut akan penilaian atau pendapat orang lain.

    Di era media sosial, banyak orang merasa perlu menyesuaikan diri dengan standar atau gaya hidup yang populer atau sesuai dengan komunitas mereka.

    Akibatnya, seseorang mungkin membeli produk tertentu untuk mendapatkan pengakuan atau menunjukkan identitas mereka dalam kelompok tertentu.

    Baca: Manfaat mengonsumsi dengan penuh kesadaran

    Dengan menggunakan influencers yang mampu membangun hubungan parasosial dan memahami bagaimana memanfaatkan fenomena psikologis FOMO, YOLO, dan FOPO, perusahaan bisa meningkatkan pembelian dengan strategi menargetkan emosi konsumen secara langsung.

    Menumbuhkan kesadaran konsumen di era media sosial
    Memahami dan menyadari adanya hubungan parasosial dan konsep FOMO, YOLO, dan FOPO ini adalah langkah awal yang penting untuk menjadi konsumen yang lebih bijak.

    Dengan mengenali faktor-faktor ini, kita bisa lebih kritis dan membedakan antara kebutuhan nyata dan tekanan sosial atau emosional yang datang dari media sosial.

    Kesadaran ini dapat membantu kita mengurangi perilaku konsumtif berlebihan dan terhindar dari jebakan pembelian impulsif.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Arifatus Sholekhah (Research Officer, Center for Digital Society (CfDS), Universitas Gadjah Mada)

  • Fenomena Psikologis FOMO Sudah Terjadi Sejak Dulu, Tetapi Mengapa Sekarang Dikritisi?

    Fenomena Psikologis FOMO Sudah Terjadi Sejak Dulu, Tetapi Mengapa Sekarang Dikritisi?

    7cloud.asia – Mari kita kembali menyoroti fenomena Fear of Missing Out FOMO yang mendorong orang berperilaku konsumtif. Banyak orang rela mengantre lama di gerai pusat perbelanjaan hanya untuk membeli boneka seharga jutaan bernama Labubu.

    Publik juga menyayangkan aksi blokir produk terbaru Iphone 16 oleh pemerintah karena permasalahan investasi. Bahkan, beberapa sudah melakukan importasi mandiri dan jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 12 ribu unit.

    Ini menunjukkan tingginya minat masyarakat untuk berbelanja barang konsumsi non-primer.

    Padahal, situasi ekonomi di tanah air sedang tidak baik-baik saja. Buktinya, populasi kelas menengah di Indonesia mengalami penyusutan.

    Data BPS mencatat pada 2019, kelompok kategori ini masih 21,45 persen dari total penduduk Indonesia. Sementara tahun ini, jumlahnya tinggal 17,44 persen atau sekitar 47,85 juta jiwa.

    Ini tak lepas dari maraknya ajang pamer di media sosial (medsos) yang tanpa disadari telah menjadi standar hidup di masyarakat.

    Meski apa yang dipertontonkan di media sosial kerap tidak aktual dan sarat rekayasa, fenomena Fear of Missing Out (FOMO)—kondisi takut ketinggalan tren—telah mendorong perilaku belanja berlebihan.

    Akibatnya, masyarakat kelas menengah di Indonesia rawan jatuh ke kategori rentan miskin akibat perilaku belanja karena FOMO tersebut.

    Baca: Cara sederhana agar tidak terjebak dalam sindrom FOMO

    FOMO dalam konsumsi
    Hasil riset Pusat Riset Kependudukan BRIN pada tahun 2024 menunjukkan bahwa FOMO adalah satu dari banyak faktor yang menyebabkan anjloknya jumlah kelas menengah Tanah Air.

    Mereka turun kelas ke kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class. Kelompok ini berada di antara kelas menengah dan kelas rentan miskin.

    Tak seperti kelas menengah dan menuju kelas menengah yang cenderung menurun, kelompok rentan miskin justru terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

    Pada 2019, persentase kelompok calon kelas menengah masih 128,85 juta dan pada tahun ini naik jadi 137,5 juta.

    Pada saat yang bersamaan, kelompok rentan miskin juga terus bertambah, dari 54,97 juta pada 2019 menjadi 67,69 juta pada 2024.

    Karena FOMO, pengeluaran masyarakat kelas menengah lebih diprioritaskan pada konsumsi pemenuhan gaya hidup ketimbang kebutuhan primer seperti pendidikan dan perumahan.

    Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya peningkatan belanja kelompok kelas menengah untuk kebutuhan hiburan dan pesta dalam 10 tahun terakhir.

    Pengeluaran untuk hiburan, contohnya, meningkat dari 0,22 persen pada 2014 menjadi 0,38 persen pada 2024. Kemudian, pengeluaran untuk pakaian juga meningkat.

    Baca: Mengapa banyak orang terjebak dalam sindrom FOMO

    Tercatat pada 2014 pengeluaran kelas menengah untuk pakaian hanya mencapai 2,16 persen, sementara pada 2024 mencapai 2,44 persen.

    Ini berbanding terbalik dengan pengeluaran untuk makanan, minuman, dan kebutuhan perumahan. Bahkan, pengeluaran pendidikan dan kesehatan di kalangan kelas menengah juga turun—menunjukkan pergeseran prioritas pada alokasi pengeluaran mereka.

    Sebenarnya, FOMO dalam hal konsumsi bukanlah fenomena baru di Indonesia. Pada tahun 2011, saat Blackberry melansir gawai terjangkaunya Blackberry Bold 9790, antrean pembeli produk ini mengular hingga perlu dikawal polisi.

    Namun, setidaknya FOMO yang terjadi pada kala itu masih boleh dimaklumi. Sebab pada saat itu, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sedang moncer dengan realisasi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2011 mencapai 6,5 persen yang disokong berkah comodity boom dan pertumbuhan ekonomi Cina yang masih stabil tumbuh 2 digit berturut-turut.

    Perbedaan FOMO di era sebelumnya dengan zaman sekarang ini juga ada pada media yang dipakai sebagai pemicu munculnya FOMO.

    Zaman dahulu orang-orang yang dapat terpicu mengalami kondisi FOMO adalah orang-orang yang gemar membaca koran artikel di majalah, iklan di radio, bahkan kebaruan dari apa yang dimiliki oleh tetangga sebelah rumah.

    Saat ini, masyarakat yang mengalami kehadiran FOMO kemungkinan besar karena kecanduan bermain sosial media.

    Lantas adakah cara yang dilakukan untuk tidak terjebak dalam fenomena FOMO? Jawabannya akan kami ulas di tulisan selanjutnya.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Sonyaruri Satiti (Peneliti Bidang Kependudukan di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada , Universitas Gadjah Mada)

  • Riset: FOMO Menjadi Salah Satu Pemicu Anjloknya Jumlah Kelompok Menengah

    Riset: FOMO Menjadi Salah Satu Pemicu Anjloknya Jumlah Kelompok Menengah

    7cloud.asia – Hasil riset Pusat Riset Kependudukan BRIN pada tahun 2024 menunjukkan bahwa FOMO adalah satu dari banyak faktor yang menyebabkan anjloknya jumlah kelas menengah Tanah Air.

    Gara-gara FOMO banyak kelompok menengah turun kelas ke kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class. Kelompok ini berada di antara kelas menengah dan kelas rentan miskin.

    Tak seperti kelas menengah dan menuju kelas menengah yang cenderung menurun, kelompok rentan miskin justru terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

    Pada 2019, persentase kelompok calon kelas menengah masih 128,85 juta dan pada tahun ini naik jadi 137,5 juta.

    Pada saat yang bersamaan, kelompok rentan miskin juga terus bertambah, dari 54,97 juta pada 2019 menjadi 67,69 juta pada 2024.

    Karena FOMO, pengeluaran masyarakat kelas menengah lebih diprioritaskan pada konsumsi pemenuhan gaya hidup ketimbang kebutuhan primer seperti pendidikan dan perumahan.

    Baca: Berapa idealnya biaya hidup di Jakarta?

    Salah satu dampak paling merugikan dari FOMO adalah budaya belanja berlebihan, yang dapat mengarah pada masalah keuangan serius, bahkan kemiskinan. Lalu apa obatnya?

    Melalui bukunya, Patrick McGinnis, pencipta istilah FOMO mengajak pembacanya untuk membatasi penggunaan media sosial, menerima kenyataan bahwa tidak semua peluang perlu diambil.

    Berani berkata “tidak” pada hal-hal yang tidak sejalan dengan tujuan hidup yang telah ditetapkan juga menjadi cara jitu agar tidak terjebak dalam fenomena FOMO.

    Patrick juga memberikan panduan tentang bagaimana membuat keputusan yang efektif dengan cara yang lebih percaya diri, tanpa dihantui oleh rasa ragu-ragu atau takut kehilangan peluang.

    Bijak merespons fenomena di media sosial
    Media sosial memainkan peran besar dalam meningkatkan prevalensi FOMO. Platform seperti Instagram, Facebook, dan Twitter sering menampilkan postingan tentang liburan mewah, gadget terbaru, fashion, kuliner terkini, dan gaya hidup yang tampaknya sempurna.

    Baca: Jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia terus menurun

    Secara reguler, kita terpapar oleh gambar kehidupan glamor serta tren terbaru yang dipamerkan oleh teman-teman, selebriti, dan influencer.

    Penggunaan media sosial yang berlebihan menjadi pangkal permasalahan munculnya FOMO. Tidak sedikit anak muda yang terpapar FOMO merasa depresi jika tidak bisa mengikuti standar gaya hidup di media sosial.

    Beberapa penelitian telah berusaha mengukur seberapa umum FOMO di berbagai kelompok demografis.

    Sebuah studi tahun 2013 menemukan bahwa hampir tiga perempat responden dewasa muda melaporkan mengalami FOMO sampai tingkat tertentu.

    Penelitian ini juga menemukan bahwa FOMO lebih umum di kalangan anak muda dan laki-laki dibandingkan perempuan.

    Baca: Pemerintah diminta serius menyikapi turunnya jumlah penduduk kelas menengah

    Sejumlah fakta menarik juga ditemukan dari hasil eksperimen sosial yang dilakukan oleh ‘Blibli’ pada tahun 2023.

    Riset tersebut mengungkap warga Jakarta menjadi jawara korban FOMO dan perempuan menjadi yang paling FOMO kala belanja online.

    Dari segi demografi usia, warga usia 25-34 tahun menjadi yang paling mudah terpancing mengunjungi situs, disusul warga usia 18-24 tahun.

    Ini menegaskan pentingnya edukasi dan literasi tentang media sosial, termasuk dalam hal keuangan. Sebab, selain membuat depresi, FOMO juga bisa menyeretmu ke dalam lubang kemiskinan.

    Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Sonyaruri Satiti (Peneliti Bidang Kependudukan di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada , Universitas Gadjah Mada)