7cloud.asia – Beberapa studi terbaru mengonfirmasi bahwa endorsement artis atau influencer secara signifikan memengaruhi pembelian impulsif, terutama di kalangan Generasi Z.
Ketika seseorang melihat idola atau temannya memiliki suatu produk, mereka merasa cemas akan tertinggal sehingga buru-buru untuk membeli produk yang sama.
Selain ikatan dengan influencers, pembelian impulsif sering kali dipicu oleh fenomena psikologis seperti Fear of Missing Out atau FOMO, yaitu perasaan takut ketinggalan suatu tren yang sedang populer.
Fenomena psikologis seperti FOMO (Fear of Missing Out), YOLO (You Live Only Once), dan FOPO (Fear of Other People’s Opinions) yang menjadi faktor pemicu perilaku pembelian impulsif.
Fenomena FOMO ini menjadi salah satu motivasi terbesar dalam pembelian impulsif, terutama di kalangan anak-anak muda, yang lebih rentan terhadap pengaruh tren di media sosial.
Baca: Haruskah ikut-ikutan keranjingan Labubu?
Di samping FOMO, konsep You Only Live Once atau YOLO juga sering digunakan sebagai motif untuk melakukan pembelian impulsif dengan justifikasi memanjakan diri dalam “hidup yang hanya sekali” ini.
YOLO kini banyak digunakan untuk membenarkan pembelian barang-barang yang tidak selalu diperlukan, terutama jika barang tersebut terkait dengan influencers atau selebriti idola mereka.
Selain FOMO dan YOLO, fenomena lain yang kini berperan dalam pembelian impulsif adalah Fear of Other People’s Opinions (FOPO). FOPO mengacu pada rasa takut akan penilaian atau pendapat orang lain.
Di era media sosial, banyak orang merasa perlu menyesuaikan diri dengan standar atau gaya hidup yang populer atau sesuai dengan komunitas mereka.
Akibatnya, seseorang mungkin membeli produk tertentu untuk mendapatkan pengakuan atau menunjukkan identitas mereka dalam kelompok tertentu.
Baca: Manfaat mengonsumsi dengan penuh kesadaran
Dengan menggunakan influencers yang mampu membangun hubungan parasosial dan memahami bagaimana memanfaatkan fenomena psikologis FOMO, YOLO, dan FOPO, perusahaan bisa meningkatkan pembelian dengan strategi menargetkan emosi konsumen secara langsung.
Menumbuhkan kesadaran konsumen di era media sosial
Memahami dan menyadari adanya hubungan parasosial dan konsep FOMO, YOLO, dan FOPO ini adalah langkah awal yang penting untuk menjadi konsumen yang lebih bijak.
Dengan mengenali faktor-faktor ini, kita bisa lebih kritis dan membedakan antara kebutuhan nyata dan tekanan sosial atau emosional yang datang dari media sosial.
Kesadaran ini dapat membantu kita mengurangi perilaku konsumtif berlebihan dan terhindar dari jebakan pembelian impulsif.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Arifatus Sholekhah (Research Officer, Center for Digital Society (CfDS), Universitas Gadjah Mada)
Leave a Reply