7cloud.asia – Di jantung kota Hong Kong yang sibuk, di antara gedung pencakar langit dan jalanan yang dipenuhi tempat belanja gaya hidup minimalis mulai bertunas.
Gaya hidup minimalis menjadi alternatif di tengah ritme kehidupan sehari-hari di mana tren materialisme dan konsumerisme telah menjadi sebuah norma.
Hidup secara minimalis makin dilirik karena kesdaran bahwa pilihan konsumsi kita telah menimbulkan dampak yang sangat besar terhadap lingkungan dan masyarakat.
Gaya hidup konsumtif terbukti berkontribusi terhadap perubahan iklim dan masalah lingkungan terkait lainnya seperti sampah TPA dan tingkat emisi gas rumah kaca yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Menurut Greenpeace, warga Hongkong membuang 110.000 ton tekstil ke tempat pembuangan sampah pada tahun 2014, setara dengan sekitar 1.400 kaos per menit.
Baca: Ringankan hidupmu dengan gaya hidup minimalis
Tahukah kamu, ternyata dibutuhkan lebih dari 20.000 liter air untuk menghasilkan satu kilogram kapas, yang setara dengan satu kaos dan sepasang celana jeans?
Dalam artikel ini, earth.org melihat gaya hidup minimalis menjadi solusi potensial untuk meringankan beban lingkungan akibat konsumerisme.
Minimalisme juga sebagai cara untuk mendorong konsumen membuat pilihan yang lebih berkelanjutan.
Apa sih gaya minimalis itu? Filosofi sentral gaya hidup minimalis menggarisbawahi konsep “less is more.” Dengan kata lain, menjadi “minimalis” berarti memiliki lebih sedikit barang,
Baca: Mengintip isi lemari penganut gaya hidup minimalis
Gaya hidup minimalis menjalani hidup dengan lebih sederhana sehingga memiliki dampak minimal terhadap lingkungan.
Konsep asli gaya hidup minimalis berasal dari gagasan Yunani kuno tentang hidup sederhana dan menghindari kekayaan materi berlebihan yang menyebabkan pemborosan.
Namun, gaya hidup minimalis modern yang kita kenal sekarang berakar pada abad ke-20, muncul dari seniman seperti Donald Judd. dan Dan Flavin.
Lebih penting lagi, buku seperti The Life-Changing Magic of Tidying Up oleh Marie Kondo, Goodbye, Things: The New Japanese Minimalism oleh Sasaki, dan Danshari: Shin Katazukejutsu oleh Yamashita mempopulerkan filosofi ini.
Baca: Dampak buruk fast fahion pada lingkungan
Tiga karakter kanji “断捨離” dapat dibaca sebagai “Dan-sha-ri” dan masing-masing diterjemahkan menjadi penolakan, pembuangan, dan pemisahan.
Konsep ini mendorong individu untuk membuang kebiasaan lama, mengurangi keinginan terhadap barang baru, menghilangkan keterikatan, dan mengutamakan kebutuhan pribadi.
Menurut artikel yang diterbitkan di The Japan Times (2011), istilah ini mendapatkan popularitas di Jepang pada tahun 2010 dan sejak itu menyebar secara global.
Sebuah artikel yang diterbitkan dalam Journal of Human Behavior in the Social Environment (2023) berpendapat bahwa gerakan sosial di atas telah meletakkan dasar bagi minimalisme.
Minimalisme ini kemudian berkembang menjadi gaya hidup minimalis yang kita kenal sekarang.
Baca: 10 prinsip gaya hidup slow living
Saat ini, minimalis mengacu pada gaya hidup yang mengutamakan kualitas hidup dengan tetap mengedepankan kelestarian lingkungan.
Misalnya, seorang minimalis mempraktikkan pertimbangan yang cermat, menghindari konsumsi berlebihan dan pemborosan sumber daya mulai dari keputusan pembelian hingga pembuangan.
Cara hidup minimalis ini menghargai kehidupan berkelanjutan, seringkali dengan tujuan melestarikan bumi dan menghilangkan limbah yang tidak perlu di masyarakat.
Cara hidup yang disederhanakan ini dapat membantu seseorang mencapai rasa ketenangan dan mengambil inisiatif ramah lingkungan.
Sumber: earth.org, baca artikel asli di sini

Leave a Reply