Tag: guna ulang

  • Koalisi Pawai Bebas Plastik Ajak Masyarakat Ramai-ramai Terapkan Guna Ulang, Apa Bedanya dengan Daur Ulang?

    Koalisi Pawai Bebas Plastik Ajak Masyarakat Ramai-ramai Terapkan Guna Ulang, Apa Bedanya dengan Daur Ulang?

    7cloud.asia – Kampanye penerapan konsep guna ulang menjadi salah satu yang digaungkan Koalisi Pawai Bebas Plastik 2023 untuk mengurangi sampah plastik dan polusi plastik.

    Di sela jumpa pers tentang Pawai Bebas Plastik 2023, Kamis (27/7/2023) di Jakarta, Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Mafira mengatakan bahwa guna ulang atau reuse merupakan hal mendasar dalam mengurangi polusi plastik.

    Hierarki pengelolaan sampah sendiri, menurut Tiza yang merupakan salah satu motor Pawai Bebas Plastik 2023 ini, terdiri dari prinsip 3R, yaitu reuse, reduce, dan recycle.

    “Jadi guna ulang atau reuse adalah hierarki mendasar dalam pengurangan sampah plastik,” ujar Tiza dalam jumpa pers Pawai Bebas Plastik 2023 tersebut. 

     

    Baca: Pawai Bebas Plastik 2023 usung tiga tuntutan

    Tiza mengatakan, saat ini masyarakat masih sering salah memahami makna guna ulang dengan daur ulang. Padahal keduanya merujuk pada dua hal yang berbeda.

    “Guna ulang tidak hanya digunakan satu-dua kali, tetapi berkali-kali; tetapi dipakai, dicuci, dipakai, dicuci. Sesimpel itu,” kata dia.

    Sementara daur ulang itu hanya sekali digunakan lalu didaur-ulang, jadi sangat berbeda dengan guna ulang.

    Dalam daur ulang, ujarnya, ada proses kimia, proses industrial, proses yang cukup intens yang sangat berbeda dengan guna ulang.

    Baca: Dunia targetkan turunkan polusi plastik hingga 80persen pada 2040

    Guna ulang lebih direkomendasikan oleh Koalisi Pawai Bebas Plastik karena proses ini yang rendah emisi dan tidak menghasilkan polusi plastik.

    Tiza menjelaskan guna ulang bisa diterapkan di beberapa jenis produk, yakni kosmetik, makanan olahan dan makanan siap saji.

    “Guna ulang itu hanya meliputi proses pencucian saja. Setelah itu, barang yang digunakan langsung disanitasi untuk kemudian digunakan kembali,” ujarnya.

    Tiza menyebut guna ulang tak bisa dibiarkan berhenti di inisiatif warga yakni dengan membawa sendiri wadah, tote bag atau tumbler. Pemassalan pelaksanaan guna ulang, tandasnya, membutuhkan sistem yang mendukung.

    “Kita bawa tumbler sendiri tapi ketemu enggak tempat isi ulang air? Kan belum tentu. Kita bawa tote bag sendiri, tapi ada enggak tempat untuk mengembalikannya ketika sudah tidak dibutuhkan atau sudah terlalu banyak di rumah? Belum ada sistemnya,” kata Tiza.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus

    Tiza melihat inisiatif warga untuk menerapkan guna ulang sudah semakin besar. Hal ini, ujarnya, harus didukung oleh pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan produsen sebagai penghasil produk.

    Ia mengapresiasi Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM yang beberapa waktu lalu merilis aturan yang memungkinkan diterapkannya sistem guna ulang untuk produk kosmetik.

    Sikap BPOM itu diwujudkan lewat  Peraturan BPOM Nomor 12 Tahun 2023 tentang Pengawasan Pembuatan dan Peredaran Kosmetik.

    “Ini merupakan langkah positif yang layak diapresiasi yang juga hasil dorongan masyarakat sipil,” kata Tiza.

    Baca: Cara asyik kurangi sampah plastik dengan konsep guna ulang

    Dari sisi produsen, Tiza juga melihat sudah mulai ada inisiatif untuk memfasilitasi sistem guna ulang dengan menyediakan layanan isi ulang. Meski hal itu  harus terus diperluas jangkauannya

    “Bahkan ada yang bisa dikembalikan botolnya ke produsen, lalu produsen mengisi ulang, kemudian menempatkan produknya kembali di toko mereka,” ujarnya.

    Tiza menambahkan, agar guna ulang ini bisa dilaksanakan dalam skala besar, harus dibangun sistem yang mendukung lewat kebijakan. Sayangnya, hingga saat ini pemerintah masih cenderung mendorong daur ulang bahan sekali pakai ketimbang mendorong guna ulang. 

    Tiza menekankan pentingnya pelarangan bahan sekali pakai. Karena semua benda sekali pakai  pasti akan menghasilkan sampah yang akan mengotori lingkungan meski bahan bahan yang digunakan adalah bahan yang bisa diurai

    “Kalau plastik diganti dengan sekali pakai lagi, tetap akan menimbulkan masalah lingkungan di kemudian hari,” pungkasnya.

    Baca: Ragam teknologi yang dikembangkan untuk atasi polusi plastik

     

  • Guna Ulang Dinilai Lebih Efektif Kurangi Sampah Plastik, Tapi Masih Diabaikan

    Guna Ulang Dinilai Lebih Efektif Kurangi Sampah Plastik, Tapi Masih Diabaikan

    7cloud.asia – Penerapan prinsip guna ulang menjadi salah satu isu yang diserukan Pawai Bebas Plastik 2023 untuk memerangi sampah plastik di Indonesia.

    Ada alasan mengapa Koalisi Pawai Bebas Plastik lebih menganjurkan guna ulang ketimbang daur ulang yang selama ini jauh lebih populer dalam menangani sampah plastik.

    Hal ini karena guna ulang nyaris tidak membutuhkan energi dan menghasilkan lebih sedikit sampah plastik.

    Berbagai kajian menunjukkan, selain efektif mengurangi sampah plastik, penerapan guna ulang bisa mengurangi emisi gas rumah kaca yang memicu terjadinya perubahan iklim.

    Penggiat persampahan, Hanifah Nurawaliah, dalam diskusi “Peran Pemuda dan Pemerintah Daerah Dalam Mendorong Gerakan Guna Ulang Dalam Pengelolaan Sampah” di  Bandung, Sabtu (27/7/2023) mengatakan, penerapan prinsip guna ulang bisa mengurangi emisi karbon hingga 54 persen.

    Baca: Pawai Bebas Plastik serukan penerapan guna ulang

    Sayangnya, pemerintah saat ini masih belum serius mendorong prinsip guna ulang ini. Prinsip guna ulang belum menjadi kewajiban bagi perusahaan FMCG yang banyak memproduksi sampah plastik.

    Guna ulang masih sebatas pilihan bagi perusahaan FMCG dalam peta jalan penghapusan sampah plastik di Indonesia.

    “Sehingga banyak perusahaan yang lebih memilih daur ulang karena dinilai lebih sesuai dengan situasi mereka,” ujar Muharram Atha Rasyadi, Pengkampanye Urban Greenpeace Indonesia dalam jumpa pers Pawai Bebas Plastik 2023 beberapa waktu lalu. 

    Perusahaan, lanjut Atta, juga cenderung memastikan bahwa kemasan mereka bisa didaur ulang. Masalahnya, untuk menghasilkan kemasan baru itu mereka masih menggunakan virgin plastik yang akan menghasilkan sampah plastik baru. 

    “Ini juga tidak memenuhi kaidah ekonomi sirkular yang sebenarnya, karena produk-produk mereka setelah diolah keluarannya adalah produk lain sementara tetap dihasilkan sampah plastik,” tandasnya.

    Baca: Seperti ini seharusnya ekonomi sirkular itu

    Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Mafira mengatakan bahwa guna ulang atau atau reuse merupakan hal mendasar dalam mengurangi sampah plastik. 

    Menurut Tiza, saat ini telah muncul berbagai inisiatif dari masyarakat untuk menerapkan prinsip guna ulang. Sayangnya hal ini belum diwadahi oleh sistem yang memadai.

    Salah satu inisiatif tersebut antara lain ditunjukkan oleh Siklus, yang menjual berbagai produk kebutuhan rumah tangga seperti cairan pencuci piring, sabun, sampo, deterjen, minyak goreng, kopi dengan sistem isi ulang.

    Saat ini Siklus masih terbatas operasinya yakni di Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia saja.

    Selain itu juga ada Komunitas Guna Ulang Aja yang berdiri di Bandung sejak bulan Maret 2023 lalu.

    Baca: Kurangi sampah plastik dengan sistem isi ulang dari Siklus

    Dilansir wartaekonomi.com, Guna Ulang Aja berfokus pada kampanye dan edukasi pengurangan sampah melalui praktik guna ulang.

    “Karena faktanya kondisi persampahan kita cukup menyedihkan. Pada tahun 2022 lalu misalnya, produksi sampah nasional mencapai 69 juta ton, hanya 74 persen saja yang terkelola. Sementara Masyarakat Kota Bandung memproduksi sekitar 1.500 ton sampah per hari,” kata koordinator Guna Ulang Aja Muhammad Farhan Rizky.

    Ada juga Izifill, perusahaan penyedia stasiun air minum isi ulang dengan menggunakan dispenser.

    Pendiri Izifill, Ichsan Mulia belakangan berkembang tren di kalangan kaum muda untuk menggunakan wadah yang bisa dipakai berulang-ulang, misalnya tumbler. Dia menuturkan, Izifill didirikan untuk merespons hal itu.

    “Mereka membawa tumbler, kalau tidak ada stasiun pengisian airnya, terus bagaimana,” kata dia.

    Beroperasi sejak Juni 2022, Izifill kini meliilki delapan unit stasiun air minum isi ulang di Bandung dan Jakarta. Ichsan mengklaim, telah mendistribudikan hampir 2000 liter air, dikonsumsi 820 orang, mengurangi lebih dari 5000 botol plastik.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik 2023

     

     

     

     

  • Sumber Sampah Plastik Sekali Pakai dan Dampaknya Bagi Lingkungan

    7cloud.asia – Sampah plastik sekali pakai hingga saat ini masih menjadi masalah lingkungan yang serius di Indonesia.

    Hal ini karena dibutuhkan waktu ratusan tahun agar sampah plastik sekali pakai bisa terurai.

    Sampah plastik sekali pakai umumnya dihasilkan dari kemasan produk makanan dan minuman, produk perawatan tubuh, serta produk kebersihan rumah tangga.

    Jenis sampah plastik sekali pakai bisa terdiri dari kemasan plastik foam, atau terdapat juga kemasan multilapis seperti sachet atau pouch.

    Baca: Dunia targetkan produkti sampah plastik turun 80 persen 

    Dampak Buruk Sampah Plastik Sekali Pakai

    Dilansir di laman resmi Gerakan Diet Kantung Plastik, sampah plastik sekali pakai tak hanya berdampak pada kualitas lingkungan saja, tapi juga mempengaruhi kesehatan manusia.

    Sampah plastik sekali pakai tidak bisa diolah menjadi kompos, tetapi terurai menjaid mikroplastik yang bisa membahayakan kesehatan manusia. 

    Mikroplastik ini bersifat layaknya transporter, memiliki kecenderungan mengikat racun yang membahayakan kesehatan manusia. 

    Baca: Baru segelintir perusahaan yang serius tangani sampah plastiknya

    Jurnal Environment International yang berjudul  “Discovery and Quantification of Plastic Particle Pollution in Human Blood” pada tahun 2022 mendeteksi adanya mikroplastik dalam darah manusia. 

    Lalu, terdapat studi terbaru yang diterbitkan pada jurnal Polymers yang menganalisis mikroplastik mengalir dalam air susu ibu. 

    Sebanyak 75 persen dari 34 ibu sehat di Roma, Italia terdeteksi menghasilkan ASI dengan kandungan mikroplastik seminggu setelah melahirkan.

    Baca: KLHK ajak warga ‘boikot’ produk yang tak peduli sampah plastiknya

    Kurangi Sampah Plastik dengan Guna Ulang

    Salah satu upaya mengurangi sampah plastik sekali pakai adalah dengan cara guna ulang.

    Dengan semakin seriusnya sampah plastik, maka tidak ada lagi alasan untuk menunda larangan plastik sekali pakai dan menggencarkan sistem guna ulang.

    Guna ulang dianggap sebagai solusi yang paling tepat untuk mengatasi timbulan sampah plastik sekali pakai.

    Baca: Pawai Bebas Plastik serukan konsep guna ulang

    Guna ulang juga sudah mulai banyak diaplikasikan di seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.

    Masyarakat Indonesia sebenarnya sudah banyak mengenal kebiasaan yang menerapkan sistem guna ulang.

    Misalnya, kebiasaan untuk membeli jamu dari mbok jamu yang keliling di depan rumah dengan menggunakan gelas yang bisa digunakan kembali, membeli mie bakso dari pedagang gerobak keliling yang menggunakan piring yang kita miliki di rumah, hingga membeli minuman yang dikemas dengan gelas atau botol kaca.

    Sudah saatnya kebiasaan baik ini mulai kita terapkan kembali untuk kurangi sampah plastik.

    Baca: Daftar perusahaan penghasil sampah plastik terbesar di dunia

     

     

  • 4 Model yang Bisa Ditempuh Untuk Membangun Ekosistem Guna Ulang

     

    7cloud.asia – Prinsip guna ulang menjadi salah satu isu yang diusung dalam Pawai Bebas Plastik 2023 yang digelar pada 30 Juli lalu.

    Konsep guna ulang dianggap sebagai solusi yang paling tepat untuk mengatasi sampah plastik sekali pakai yang sudah sangat serius. 

    Prinsip guna ulang sebenarnya telah banyak diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia.

    Kebiasaan untuk membeli jamu dari mbok jamu yang keliling di depan rumah dengan menggunakan gelas yang bisa digunakan kembali, membeli mie bakso dari pedagang gerobak keliling yang menggunakan piring sendiri adalah sedikit dari contoh prinsip guna ulang.

    Baca: Beda daur ulang dengan guna ulang

    Di era modern sekarang konsep guna ulang bisa dilakukan dengan membeli minuman yang dikemas dengan gelas atau botol kaca.

    Dilansir di laman resmi Diet Kantung Plastik dietkantongplastik.info, Ellen MacArthur Foundation Reuse Framework menyebut ada empat model guna ulang yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu

    (1) Pengisian ulang di rumah (Refill at home),

    (2) Pengisian ulang saat bepergian (Refill on the go) ,

    (3) Pengembalian dari rumah (Return from home), dan

    (4) Pengembalian saat bepergian (Return on the go).

    Baca: Prinsip guna ulang masih diabaikan

    Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) Tiza Mafira dalam jumpa pers Pawai Bebas Plastik akhir Juli mengatakan, guna ulang bukanlah hal yang baru.

    Model guna ulang ini sudah kita lakukan sejak lama, namun hingga sekarang belum ada sistem atau struktur yang memfasilitasi inisitaif masyarakat ini. 

    Menurutnya, untuk menyukseskan gerakan guna ulang ini, dibutuhkan peran berbagai pihak agar dapat berjalan dengan optimal.

    Selain konsumen, pemerintah harus membuat kebijakan yang menjadikan guna ulang sebagai mandatory atau keharusan sehingga mau tidak mau produsen melakukannya. 

    Baca: Produsen diminta transparan soal pengelolaan sampah plastik

    Manufaktur atau industri produk kebutuhan sehari-hari dapat menyediakan dan menjual produk dalam kemasan guna ulang, yang dapat disediakan secara mandiri maupun dengan jasa bisnis rintisan guna ulang.

    “Produk-produk ini dapat didistribusikan di titik penjualan, seperti pertokoan, pasar rakyat, warung, dan lainnya, sehingga konsumen dapat dengan mudah membelinya untuk digunakan,” demikian Tiza dalam pernyataannya.

    Kemasan produk yang sudah selesai digunakan, dapat dikembalikan melalui titik-titik pengumpulan atau drop off points, seperti di bank sampah, pertokoan, pasar rakyat, warung.

    Selain tempat-tempat itu, pemerintah dan/atau industri produk kebutuhan sehari-hari dapat membangun titik-titik untuk memfasilitasi gerakan guna ulang ini.

    Baca: Seperti ini seharusnya ekonomi sirkular

    Konsumen juga dapat mengembalikan kemasan produk itu sendiri atau menggunakan jasa penjemputan yang disediakan oleh pemerintah dan/atau oleh industri produk kebutuhan sehari-hari, sehingga dapat meminimalisir emisi karbon dari proses transportasi. 

    Kemasan produk yang telah dikumpulkan akan dicuci dan disterilkan kembali sebelum diisi ulang oleh industri produk kebutuhan sehari-hari dan/atau jasa dari bisnis rintisan guna ulang.

    Pengisian kembali ini dilakukan sesuai dengan standar kebersihan yang berlaku. Produk dapat didistribusikan kembali di titik penjualan, dan mengulang proses yang sebelumnya sudah dilakukan.

    “Jika infrastruktur ini dapat terwujud dan dijalankan dengan optimal, maka ekosistem guna ulang dapat dibangun sehingga kita bisa mengurangi ketergantungan konsumsi yang menghasilkan sampah bertumpuk,” imbuh Tiza

    Penerapan sistem guna ulang secara massal juga dapat membantu mengurangi efek perubahan iklim dari masalah sampah yang tercecer di lingkungan.

    Karena itu Tiza mengajak seluruh masyarakat mendukung Gerakan Guna Ulang di Indonesia, demi terwujudnya masa depan yang berkelanjutan.

    Baca: Penerapan konsep guna ulang ala Siklus

     
  • Berniat Praktikkan Konsep Guna Ulang untuk Kurangi Sampah Plastik? Simak Infonya di Sini

    7cloud.asia – Saat ini, praktik guna ulang juga sudah mulai digalakkan oleh industri penyedia produk rumah tangga di Indonesia untuk kurangi sampah plastik.

    Praktik guna ulang ini antara lain dilakukan Gerakan Guna Ulang Jakarta yang diselenggarakan oleh Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) dan Zero Waste Living Lab (ZWLL) Enviu.

    Program tersebut bertujuan untuk mengurangi plastik sekali pakai dari kemasan makanan, minuman, kemasan produk rumah tangga, dan kemasan dari layanan pesan-antar online. 

    Baca: Ekosistem guna ulang harus mulai dibangun dari sekarang

    Program Lead Zero Waste Living Lab by Enviu di Indonesia Darina mengatakan Enviu hadir untuk memasyarakatkan konsep guna ulang sekaligus mengurangi timbulan plastik sekali pakai dari kemasan sekali pakai.

    “Kemasan sekali pakai sering digunakan untuk produk-produk rumah tangga seperti sabun cuci piring, pembersih lantai, sabun pencuci baju dan lain sebagainya,” ujarnya di sela Seminar dan Peluncuran Laporan Break Free From Plastic dalam terjemahan bahasa Indonesia “Mewujudkan Sistem Guna Ulang” di Jakarta, pekan lalu.

    Konsep Guna Ulang juga mulai diterapkan produsen perawatan tubuh The Body Shop.

    Baca: Guna ulang lebih efektif kurangi sampah plastik, tapi diabaikan

    “The Body Shop mencoba menjadi bagian dari sistem guna ulang dengan cara menyediakan kosmetik yang dapat diisi ulang di beberapa store yang kami miliki saat ini,” PR Manager The Body Shop Indonesia, Gesit Pambudi di kesempatan yang sama.

    Kami yakin, ujarnya, dengan kontribusi sekecil apapun dari kami para produsen, dapat menghasilkan dampak yang cukup besar untuk menciptakan sistem guna ulang di Indonesia khususnya.

    Penerapan sistem guna ulang tidak lepas dari pengawasan dari pihak-pihak yang berwenang untuk memastikan uji kelayakan dari produk guna ulang.

    Baca: Beda guna ulang dengan daur ulang

    Saat ini, Badan Pengawasan Obat dan Kosmetik (BPOM) sudah memiliki Peraturan No 12 Tahun 2023 Tentang Pengawasan Pembuatan dan Peredaran Kosmetik yang dapat diedarkan dengan sistem isi ulang.

    “Saat ini BPOM sedang mengedukasi para pelaku usaha dengan memberikan penjelasan terkait implementasi. Peraturan ini mengatur secara keseluruhan mulai dari proses produksi hingga proses penyimpanan sampai ke distribusinya.” ujar Direktur Pengawasan Kosmetik BPOM, Irwan.

    Konsep guna ulang dengan menyediakan wadah atau kemasan yang ramah lingkungan, dapat digunakan berulang kali, bahkan dapat dikembalikan juga mulai dilakukan sejumlah restoran.  

    Baca: Produsen dinilai tak serius tangani sampah plastik dan tak transparan

    Berikut ini merupakan beberapa startup yang menyediakan kemasan yang dapat dikembalikan sebagaimana dilansir Waste4change

    ALLAS Indonesia

    Menjadi startup penyedia kemasan pesan-antar makanan secara online berkelanjutan pertama di Jakarta, Allas memiliki visi mengurangi sampah wadah makanan sekali pakai dalam sektor kuliner.

    ALLAS Menyediakan wadah yang dapat dipakai berulang kali, membuat kita merasa seperti membawa bekal yang dibuat oleh orang tua dan berharap kita tidak lagi merasa bersalah ketika memesan makanan secara online apabila akan menambah sampah.

    Kunjungi website https://www.allas.id/ untuk informasi lebih lanjut.

    Baca: Produsen sampah plastik terbesar di dunia

    KOINPACK

    Koinpack memberlakukan sistem pengemasan yang inovatif. Menyediakan kemasan guna ulang yang dapat digunakan berulang kali dan dikembalikan untuk mengganti kemasan sachet dan jenis kemasan sekali pakai lainnya dengan cara deposit dan insentif.

    Kita akan mendapatkan cashback jika mengembalikan kemasan kosong kepada Koinpack. Nantinya kemasan kosong tersebut akan dibersihkan dan diisi ulang agar dapat dipakai kembali.

    Saat ini tercatat sudah lebih dari 130.500 jumlah sachet yang digantikan dengan botol koinpack. Kunjungi website https://www.koinpack.id/ untuk informasi lebih lanjut.

    Baca: KLHK ajak warga ‘boikot’ produk yang tak olah sampah plastiknya

    CupKita

    Merupakan layanan reusable cup pertama di Indonesia untuk kedai kopi. Kelahiran CupKita dilatarbelakangi oleh fakta bahwa kedai kopi di Jakarta rata-rata menjual sekitar 125 cangkir sekali pakai setiap harinya.

    CupKita menyediakan alternatif wadah atau kemasan guna ulang berupa cangkir yang dapat digunakan kembali dan membuat kedai kopi berkelanjutan melalui biaya yang lebih ramah dijangkau. 

    Cara untuk menggunakan layanan ini pun cukup mudah. Kita hanya perlu memesan kopi dan memindai serta membayar deposit, kemudian pilih CUPKITA, setelah itu dapat menikmati kopi yang dipesan.

    Cangkir yang sudah kosong dapat dikembalikan ke toko untuk dikumpulkan, dicuci bersih, dan dikirimkan kembali ke kedai kopi. Dengan mengembalikan kemasan ke toko, kita juga bisa mendapatkan uang kita kembali.

    Kunjungi website https://cupkita.id/ untuk informasi lebih lanjut.

    Baca: Apakah bioplastik benar-benar aman untuk lingkungan?

    QYOS

    Startup berbasis digital ini didirikan pada tahun 2020 dan merupakan bagian dari Enviu, sebuah perusahaan sosial yang berfokus untuk memberikan dampak positif bagi sosial dan lingkungan.

    Qyos berpartisipasi dalam gerakan Guna Ulang Jakarta bersama Koinpack dan Allas. 

    Demi mengurangi sampah plastik dari hulu, Qyos menyediakan stasiun refill atau mesin isi ulang otomatis untuk produk rumah tangga yang berada di toko-toko terdekat area tempat tinggal masyarakat, seperti kompleks perumahan.

    Hingga saat ini, Qyos telah memiliki lebih dari 2.700 pelanggan dan bekerja sama dengan 4 FMCGs. Kunjungi website https://www.qyos.id/ untuk informasi lebih lanjut.

    Baca: Tiga tuntutan Pawai Bebas Plastik

    Clubzerø

    Sama seperti 4 startup sebelumnya, Clubzerø menyediakan layanan kemasan guna ulang yang dapat digunakan kembali ketika berada di toko, takeaway, atau pemesanan secara online.

    Kemasan yang disediakan Clubzerø menggunakan CO2 lebih sedikit 50% daripada kemasan sekali pakai.

    Hingga saat ini, Clubzerø telah melayani lebih dari 1 juta pesanan, menghemat 68 ton CO2 dan mencapai 95% tingkat pengembalian.

    Kunjungi website https://www.clubzero.co/ untuk informasi lebih lanjut.

    Berbagai usaha telah dilakukan dan semakin dikembangkan untuk mengurangi konsumsi plastik sekali pakai.

    Baca: Pawai Bebas Plastik mampu dorong kebijakan ramah lingkungan

     

  • Antisipasi Larangan Plastik Sekali Pakai, Ekosistem Guna Ulang Harus Dibangun dari Sekarang

    Antisipasi Larangan Plastik Sekali Pakai, Ekosistem Guna Ulang Harus Dibangun dari Sekarang

    Foto: cleanomics

    7cloud.asia – Bersiap menghadapi pelarangan plastik sekali pakai pada tahun 2030, Gerakan Indonesia Diet Kantung Plastik (GIDP) kian menggencarkan kampanye guna ulang sebagai solusi sampah plastik.

    Dalam menjalankan program tuk atasi sampah plastik ini, GIDP merilis Reuse Infrastructure Grid yang menggambarkan ekosistem dan peran/relasi pelaku inisiatif guna ulang dalam kerangka sirkularitas yang berkelanjutan.

    Model ini mencoba untuk menawarkan satu pandangan yang holistik tentang jaringan ekosistem guna ulang tuk kurangi sampah plastik yang diisi oleh berbagai pihak yang terkait.

    Pihak-pihak yang harus terlibat dalam sistem guna ulang ini adalah rumah tangga/konsumen, transportasi dan logistik, jasa pencucian, industri manufaktur, jasa pengelola wadah guna ulang, ritel, serta pengambil kebijakan.

    Baca: Guna ulang leboh efektif kurangi sampah plastik

    Pada saat bersamaan, organisasi Break Free From Plastic dan University of Portsmouth, Inggris meluncurkan laporan berjudul “Making Reuse A Reality”, yang memaparkan empat tahap penting untuk mewujudkan sistem guna ulang.

    Laporan yang diterjemahkan ke dalam bahasan Indoensia dengan judul “Mewujudkan Sistem Guna Ulang” itu diluncurkan pada Kamis (3/8/2023) yang diselenggarakan GIDP dengan mengundang sejumlah pemangku kepentingan.

    Langkah pertama membangun sistem guna ulang adalah dari kebijakan pemerintah yang antara lain dengan melarang plastik sekali pakai.

    Sedangkan tahap tertingginya adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan untuk membuat sistem guna ulang menjadi norma yang baru.

    Dalam laporan ini, dijabarkan mengenai definisi guna ulang sebagai sistem, dan bukan soal produk ataupun alternatif pengganti plastik sekali pakai.

    Baca: Menyoal galon sekali pakai, solusi atau masalah bangi lingkungan

    “Reuse adalah sebuah sistem. Sistem yang mendorong banyak penggunaan kemasan secara berulang, dan ini adalah sistem yang sebenarnya tidak mengalihkan kepemilikan kemasan kepada konsumen,” ujar Tiza Mafira, Direktur Eksekutif GIDP dalam diskusi tersebut.

    Tiza menegaskan, konsumen hanya membutuhkan produk, sehingga seharusnya hanya kepemilikan produk yang berpindah ke konsumen. Dalam sistem guna ulang, operatorlah yang menjadi pemilik kemasan.

    “Pemilik kemasan lah yang bertanggung jawab untuk mengambil kembali kemasan itu untuk dicuci demi menjaga higienitas, mengisi kembali produk ke dalam kemasan dan mendistribusikannya,” tandas Tiza.

    Baca: Mengapa guna ulang lebih disarankan ketimbang daur ulang

    Dalam ranah kebijakan nasional, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga telah memiliki Peraturan Menteri LHK No P75/2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen yang juga mendorong sistem guna ulang.

    Vinda Damayanti Ansjar, Direktur Pengurangan Sampah KLHK mengatakan praktik guna ulang sebenarnya sudah dilakukan sejak lama oleh produk lokal atau skala UMKM.

    Artinya masyarakat sudah bisa terima dan welcome dengan inisiatif seperti ini. Idealnya, sistem guna ulang ini juga bisa diberlakukan untuk merek-merek yang sudah established.

    Menurut Vinda, penerapan guna ulang di lapangan sangat memungkinkan. Bahkan guna ulang ini adalah bentuk tradisi yang kita miliki.

    Baca: Produsen dinilai tak serius dan tak transparan soal pengelolaan sampah plastik

    Misalnya seperti mbok jamu keliling dan tukang minyak curah yang sejak dulu sudah kita gunakan.

    “Untuk itu, kami juga mendorong para produsen untuk bersedia mengadopsi sistem guna ulang dalam bisnisnya,” ujarnya.

    Namun, sayangnya hingga kini sistem guna ulang ini belum menjadi manadatory atau kewajiban bagi perusahaan. 

    Secara global, perumusan solusi bersama atas sampah plastik telah dibicarakan  dalam perjanjian internasional polusi plastik atau dikenal dengan Global Plastic
    Treaty. Dalam treaty itu, guna ulang juga sebagai salah satu solusi. 

    Sehingga sudah selayaknya pemerintah lebih serius dalam membangun ekosistem guna ulang dari sekarang, sehingga Indonesia lebih siap menghadapai larangan plastik sekali pakai pada 2030. 

    Baca: Penerapan sistem guna ulang dari SIKLUS

     

  • Gunakan Alat Guna Ulang, Penyelenggaraan Ujian Masuk FT UGM Tahun 2024 Berlangsung Lebih Ramah Lingkungan

    Gunakan Alat Guna Ulang, Penyelenggaraan Ujian Masuk FT UGM Tahun 2024 Berlangsung Lebih Ramah Lingkungan

    7cloud.asia – Pelaksanaan ujian masuk UGM di Fakultas Teknik UGM tahun ini diselenggarakan lebih ramah lingkungan dan semininal mungkin menghasilkan sampah.

    Selama 4 hari penyelenggaraan ujian masuk UGM, dari Senin hingga Kamis (10-13/6/2024) di Fakultas Teknik UGM diupayakan nol sampah sehingga lebih ramah lingkungan.

    Penyediaan konsumsi untuk panitia, teknisi ruang, dan para pengawas sama sekali bebas plastik.

    Fasilitas makan tidak dikemas dalam wadah sekali pakai sebagaimana biasanya, melainkan dalam wadah guna ulang.

    Baca Juga: Berniat Praktikkan Konsep Guna Ulang untuk Kurangi Sampah Plastik? Simak Infonya di Sini

    Kemasan ini akan diambil kembali oleh rekanan yang telah ditunjuk oleh pihak Fakultas Teknik UGM.

    Sementara itu, makanan kecil tidak dibungkus dengan plastik melainkan dikemas dalam wadah daun pisang.

    Panitia Lokal UM di FT UGM, Hartanto mengatakan langkah ini didasarkan pada kesepakatan yang dibangun sebelumnya, antara FT UGM dan mitra penyedia konsumsi.

    “Ini kami lakukan sebagai bagian untuk mendukung kebijakan FT UGM untuk mengurangi timbulan sampah, sekaligus lebih luas bagian dari upaya turut menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya seperti dilansir ft.ugm.ac.id

    Baca Juga: Guna Ulang Dinilai Lebih Efektif Kurangi Sampah Plastik, Tapi Masih Diabaikan

    Apa yang dilakukan oleh FT UGM ini merupakan bentuk penyelarasan pada misi bersama dalam penanganan sampah dari hulu ke hilir.

    Selama periode pertama ujian masuk 2024 di FT UGM, setiap hari dipesan kurang lebih 150 boks makan siang, serta 150 bungkus snack.

    Dengan kebijakan di atas, maka ada potensi pengurangan sampah kardus dan 600 boks makanan kecil, serta ratusan bungkus plastik.

    Sungguh sebuah langkah kecil yang bermanfaat besar untuk lingkungan, apalagi saat ini Yogyakarta sedang hadapi masa darurat pengelolaan sampah.

  • Praktek Guna Ulang Lewat Challenge Jajan Bebas Plastik

    Praktek Guna Ulang Lewat Challenge Jajan Bebas Plastik

    7cloud.asia – Challenge Jajan Bebas Plastik menjadi bagian dari kampanye bebas plastik yang disuarakan Koalisi Pawai Bebas Plastik yang antaralain digawangi oleh Greenpeace Indonesia.

    Plastics Project Leader Greenpeace Indonesia, Ibar Akbar mengatakan, lewat Jajan Bebas Plastik ini, pihaknya ingin mengajak konsumen untuk mengurangi kemasan plastik sekali pakai dengan mempraktikkan konsep guna ulang.

    Selama ini, ujarnya, kulineran hampir tidak pernah terlepas dari penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Karena itu, lewat challenge jajan bebas plastik ini Greenpeace ingin mendobrak anggapan itu.

    ”Saat kulineran pasti membutuhkan wadah atau kemasan. Jika kita makan di tempat, wadah itu bisa berupa mangkok atau piring. Yang jadi masalah adalah bungkus yang kita pakai merupakan kemasan sekali pakai seperti plastik dan sebagainya,” ujar Ibar kepada 7cloud.asia di Jakarta, Minggu (28/7/2024).

    Lewat jajan bebas plastik ini, Greenpeace Indonesia menantang anak muda di Jabodetabek untuk kulineran tanpa plastik sekali pakai dan dilakukan secara rendah emisi.

    Baca: Piknik bebas plastik untuk atasi krisis sampah plastik

    Hal ini bisa dilakukan dengan membawa wadah sendiri dan menggunakan transportasi umum saat menuju ke tempat kuliner yang dituju.

    Chalenge jajan bebas plastik ini, Greenpeace ingin menghidupkan kembali praktik guna ulang yang makin memudar. Padahal, ujar Ibar, praktik guna ulang ini efektif kurang plastik sekali pakai dan sudah diterapkan di masa lalu.

    “Maka dari itu, melalui kegiatan ini, Greenpeace juga sekaligus mengenalkan alat-alat guna ulang yang praktis untuk bisa mereka pakai saat berkuliner,” ungkap Ibar.

    Sebanyak 20 peserta ikut terlibat pada acara jajan bebas plastik ini. Mereka dibagi menjadi empat kelompok dengan rute perjalanan berbeda.

    Challenge jajan tanpa plastik menjadi momentum untuk membuktikan kepada semua pihak bahwa praktik guna ulang bisa diterapkan dengan mudah. Praktik ini juga dapat menekan laju sampah plastik sekali pakai.

    Baca: Penanganan sampah plastik harus dimulai dari hulu

    Salah seorang peserta, Ghifari Alfani Royan mengakui challenge ini sangat menantang lagi menginspirasi.

    Ghifari yang tergabung dalam Tim Katirisala mengatakan, kegiatan jajan bebas plastik ini juga bisa jadi sarana edukasi bagi pedagang bahwa ada alternatif selain menggunakan plastik sekali pakai yang tak bagus untuk lingkungan

    Dari fakta yang ditemukannya di lapangan, sambutan dari pedagang cukup positif karena ini akan memangkas biaya yang harus dikeluarkan untuk kemasan.

    “Namun, ada juga pedagang yang heran karena masih jarang pembeli yang membawa wadah sendiri. Selain itu, mereka juga khawatir wadah yang dibawa tak bisa menampung makanan yang dibeli,“ ujarnya kepada 7cloud.asia.

    Pengalaman mengikuti challenge jajan bebas plastik ini, menurut Ghifari, bisa menjadi sarana edukasi, baik kepada konsumen maupun pedagang, untuk mengurangi plastik sekali pakai.

    Baca: Apa itu Pawai Bebas Plastik

    Setelah ini, Ghifari akan mencoba menerapkan praktik serupa ke pedagang lain sehingga lebih banyak pedagang yang terpapar

    “Saya juga akan mengajak orang-orang di sekitar saya, mulai dari yang terdekat untuk menerapkan praktek jajan bebas plastik ini,“ imbuhnya

    Baik Ibar maupun Ghifari sependapat, praktik guna ulang ini penting mendapatkan dukungan dari pemerintah dan produsen. Kedua pihak tersebut harus menciptakan kondisi sesuai perannya masing-masing seperti penguatan kebijakan dan penyediaan fasilitas.

    Apabila keduanya telah terbangun, tentu masyarakat akan mudah dan memiliki pilihan untuk melakukan praktik guna ulang. Sehingga, mereka akan terbiasa mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Konsumen atau masyarakat sebenarnya bisa menerapkan guna ulang. Tinggal menunggu pemerintah dan produsen saja, apakah mereka mau mendukung gerakan ini?

    “Dari sisi pemerintah bisa merancang peraturannya. Lalu, produsen bisa ikut membentuk infrastrukturnya,” pungkas Ibar.

  • Perdebatan Guna Ulang vs Daur Ulang Kemasan Plastik di Uni Eropa

    Perdebatan Guna Ulang vs Daur Ulang Kemasan Plastik di Uni Eropa

    7cloud.asia – Bulan Maret 2024 mengakhiri salah satu pertarungan kebijakan yang paling kontroversial di Uni Eropa dalam beberapa tahun terakhir, yakni antara daur ulang versus guna ulang kemasan plastik.

    Banyak yang berharap Peraturan Pengemasan dan Limbah Pengemasan (PPWR) akan menandai pertarungan sengit untuk mengakhiri era kemasan sekali pakai di Uni Eropa sekaligus beralih ke sistem guna ulang.

    Upaya mengakhiri kemasan sekali pakai ditandai dengan lobi besar-besaran para pendukung daur ulang di ruang-ruang kekuasaan, guna memastikan bahwa daur ulang tetap menjadi prioritas dalam pengelolaan limbah Uni Eropa dan bukan sistem guna ulang.

    Namun, jika dilihat lebih dalam, narasi yang ada bukan semata-mata tentang kekalahan. Seperti halnya di banyak sektor kehidupan, kesepakatan tentang guna ulang ini adalah revolusi diam-diam yang dimulai dari hal kecil dan terus tumbuh.

    Penggunaan kembali atau guna ulang –sebuah istilah yang dulunya hanya sekadar istilah pinggiran dalam dialog lingkungan hidup– kini menjadi buah bibir semua orang.

    Uni Eropa mencatat rekor 177 kilogram sampah kemasan sekali pakai per orang pada tahun 2020, sehingga tuntutan masyarakat ditambah dengan bukti ilmiah bahwa sistem penggunaan kembali dapat dikurangi.

    Baca: KTT Plastik Ottawa tak lahirkan kesepakatan pengurangan produksi plastik

    Apa yang dilakukan di Eropa untuk mencapai tujuan ini adalah dengan melakukan upaya-upaya nyata yang berbasis komunitas dan menghasilkan dampak nyata.

    Cerita selanjutnya adalah cetak biru penggunaan kembali yang dibuat oleh Reuse Vanguard Project (RSVP) yang memberikan peluang nyata bagi kota-kota di Eropa untuk melokalisasi kebijakan lingkungan hidup, meningkatkan keterlibatan masyarakat.

    Upaya penerapkan sistem guna ulang telah diterapkanvsejumlah kota di Eropa, seperti Paris (Prancis), Rotterdam dan Aarhus (Belanda). Ini akan kita ulas dalam tulisan selanjutnya.

    Kita tahu sekarang ada alasan bisnis untuk menggunakan kembali. Namun sistem guna ulang yang efektif bergantung pada desain sistem yang kuat yang dapat ditingkatkan oleh PPWR.

    Infrastruktur yang kuat termasuk jaringan pengantaran, logistik pengembalian, dan fasilitas pencucian, serta tata kelola yang ketat yang menetapkan aturan operasional yang jelas, sangat penting untuk efektivitas sistem guna ulang.

    Kepadatan populasi yang lebih besar hanya akan meningkatkan efisiensi dan kelayakan ekonomi dari sistem guna ulang ini.

    Baca: Perbedaan sistem guna ulang dengan daur ulang

    Inisiatif RSVP bertujuan untuk menetapkan target penggunaan kembali yang spesifik untuk industri dan memperkenalkan pajak atas kemasan sekali pakai, dengan tujuan menyeluruh yaitu Mencapai pengurangan sampah sebesar 15 persen pada tahun 2030.

    Ketika kita merenungkan pemilu di Eropa, pertaruhan terhadap kebijakan lingkungan hidup yang progresif masih tetap tinggi.

    Kemajuan yang mengkhawatirkan dari kelompok sayap kanan memberikan tantangan terhadap upaya yang sedang berjalan, namun dengan dukungan dari kota-kota seperti Rotterdam, Aarhus, dan Paris, masih akan ada peluang untuk mencapai tujuan tersebut.

    Komitmen untuk memperjuangkan sistem guna ulang dan kelestarian lingkungan hidup menyuntikkan energi untuk perjuangan ini.

    Mengingat pentingnya masalah ini, perlu dedikasi yang lebih kuat untuk tidak hanya melestarikan namun juga memajukan apa yang telah dicapai.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, Penulis: Nathan Dufour, kepala Zero Waste Europe’s.

     

  • Upaya Menerapkan Sistem Guna Ulang di Sejumlah Kota di Eropa

    Upaya Menerapkan Sistem Guna Ulang di Sejumlah Kota di Eropa

    7cloud.asia – Bulan Maret 2024 lalu menjadi akhir salah satu pertarungan kebijakan yang paling kontroversial soal kemasan plastik di Eropa dalam beberapa tahun terakhir, yakni antara daur ulang versus guna ulang. 

    Banyak yang berharap Peraturan Pengemasan dan Limbah Pengemasan (PPWR) akan  mengakhiri era kemasan plastik sekali pakai di Uni Eropa dan mendorong sistem guna ulang.

    Apa yang dilakukan Uni Eropa untuk mendorong sistem guna ulang adalah dengan melakukan upaya-upaya nyata yang berbasis komunitas dan menghasilkan dampak nyata.

    Cerita selanjutnya adalah cetak biru sistem guna ulang yang dibuat oleh Reuse Vanguard Project (RSVP) yang memberikan peluang nyata bagi kota-kota di Eropa untuk melokalisasi kebijakan lingkungan hidup, dan meningkatkan keterlibatan masyarakat.

    Sistem guna ulang telah coba diterapkan sejumlah kota di Eropa, seperti di Paris (Prancis), Rotterdam dan Aarhus (Belanda).

    Baca: Perdebatan guna ulang vs daur ulang di Eropa

    Di Paris, Florentin Letissier, Wakil Walikota Paris, mengatakan bahwa kota tersebut berfokus pada penerapan praktik berkelanjutan untuk acara berskala besar, termasuk Olimpiade Paris.

    Paris juga merencanakan pusat penyimpanan untuk mengelola bahan-bahan yang dapat digunakan kembali di tingkat regional.

    Paris juga untuk menargetkan untuk menggunakan kursi plastik daur ulang, namun hal ini belum mencapai standar ekonomi sirkular dibandingkan dengan masalah limbah besar lainnya.

    Olimpiade Paris menjadi ajang uji coba praktik berkelanjutan ini, dengan penggunaan sistem cangkir yang dapat digunakan kembali untuk pertama kalinya di acara olahraga terbesar di dunia.

    Meski menimbulkan pertanyaan tentang kelanggengan dan peningkatan inisiatif ini pasca-Olimpiade, dunia pantas merayakan inisiatif besar ini dan memastikan semua pembelajaran dipusatkan untuk mempersiapkan landasan bagi Olimpiade berikutnya guna meraih skor lebih tinggi lagi.

    Baca: KTT Plastik Ottawa tak hasilkan kesepakatan kurangi produksi plastik

    Guna ulang di Belanda
    Pada 2021, Belanda memajukan agenda lingkungannya dengan menerapkan sistem pengembalian deposit (DRS) baru sebesar 15 sen pada semua botol plastik di bawah satu liter.

    Langkah ini dilakukan Menteri Lingkungan Hidup Stientje van Veldhoven untuk melawan tindakan sukarela yang tidak efektif selama beberapa dekade oleh industri engemasan.

    Sistem ini telah memposisikan Belanda sebagai pemimpin dalam praktik pengelolaan sampah Eropa.

    Berdasarkan momentum ini, inisiatif “Evernew” di Rotterdam kini memelopori peralihan menuju praktik perkotaan berkelanjutan dengan uji coba inovatif yang bertujuan mengurangi sampah melalui ekosistem guna ulang yang terukur.

    Inovasi ini dilakukan inovator lingkungan Packback, didukung oleh Kementerian Infrastruktur & Waterstaat dan investor swasta seperti Invest NL, proyek ini mengembangkan ekosistem guna ulang yang mulai diuji-cobakan di Stasiun Pusat Rotterdam.

    Baca: Mengapa guna ulang lebih dianjurkan ketimbang daur ulang

    Di kota-kota lain seperti Aarhus, pejabat kota sedang mendiskusikan penyesuaian cetak biru proyek agar selaras dengan tujuan keberlanjutan kota yang lebih luas.

    Menghadapi biaya pengelolaan sampah tahunan sekitar 5 juta euro, yang 48 persen di antaranya berasal dari kemasan makanan dan minuman, pemerintah kota memandang inisiatif ini sebagai sebuah kegagalan.

    Didukung oleh investasi dari Tomra, proyek pertama dalam skala dan pendekatan ini memanfaatkan partisipasi sukarela dan insentif yang menarik secara ekonomi, termasuk sistem simpanan yang terintegrasi dengan perusahaan kartu kredit besar untuk pengembalian dana instan.

    Dalam waktu beberapa bulan, sistem yang dirancang dengan baik dan nyaman ini telah mencatat pengembalian hampir 300.000 cangkir melalui sistem dan tingkat pengembalian keseluruhan di atas 80 persen. Hasil yang cukup signifikan.

    Artikel ini diterjemahkan dari earth.org, Penulis: Nathan Dufour, kepala Zero Waste Europe’s.