Metamorfosa Jakarta lewat Penataan Transportasi Publik

Written by

in

7cloud.asia – “Dengan menggunakan angkutan umum atau transportasi publik berarti kita telah menjadi pahlawan, baik bagi lingkungan maupun keuangan negara,” demikian Wakil Menteri ESDM era Pemerintahan SBY. Widjajono Partowidagdo pernah berkata.

Saat menjabat sebagai Wamen, Pak Widja demikian ia disapa, biasa naik transportasi publik TransJakarta untuk berangkat kerja dari kediamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan ke kantornya di Jalan Thamrin Jakarta Pusat.

Apa yang disampaikan dan dicontohkan pak Widja ini memang tidak berlebihan. Dengan menggunakan transportasi publik berarti kita mengurangi konsumsi BBM, yang artinya kita membantu negara terkait subsidi BBM yang harus dikeluarkan.

Naik transportasi publik juga berarti mengurangi jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalanan, sehingga bisa membantu mengurangi kemacetan.

Menggunakan transportasi publik juga berarti mengurangi jejak karbon atau produksi gas karbondioksida yang kita hasilkan alias mengurangi pencemaran udara. Menurut catatan Komite Penghapusan Bensin Bertimbel, sebanyak 46 persen polusi udara di Jakarta berasal sari sektor transportasi yang pada 2019 didominasi oleh kendaraan pribadi.

Baca: Stasiun Manggarai diarahkan menjadi stasiun sentral

Alasan-alasan di atas yang mendorong pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan dan sejumlah pemerintah daerah intensif menggalakkan penggunaan transportasi publik di sejumlah kota besar di Indonesia.

Upaya Kemenhub untuk mengajak masyarakat menggunakan transportasi publik adalah dengan meningkatkan kinerja transportasi massal di Indonesia agar mudah digunakan, diminati, dan nyaman.

Salah satunya dilakukan di Jakarta yang sedang bergerak mengintegrasikan seluruh sistem transportasi publik di kawasan Jabodetabek baik bus, KRL, MRT dan belakangan LRT.. 

Stasiun dan halte bus telah terhubungkan dan konsep JakLingko semakin menunjukkan dampak baik dan manfaatnya bagi masyarakat.

Pada 2030 mendatang, DKI Jakarta menargetkan 75 persen masyarakat menjadi pengguna transportasi publik yang secara signifikan akan menurunkan polusi dan mengurai kemacetan.

Baca: Direnovasi, kapasitas Stasiun Tanah Abang akan meningkat tiga kali lipat

Gerakan besar ini secara bertahap diharapkan akan mengubah pola mobilitas masyarakat dari ketergantungan pada kendaraan pribadi menjadi pengguna transportasi publik.

“Kehadiran MRT Jakarta merupakan sebuah langkah maju atau titik berangkat yang baik dalam gerakan perubahan iklim mengurangi emisi dalam konteks pengembangan kota. Meskipun demikian, kalau bicara transportasi publik, itu merupakan sebuah ekosistem,” ungkap Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) William Sabandar beberapa waktu lalu seperti dikutip di laman resmi MRT

William menambahkan, banyak kota besar yang secara signifikan menurunkan tingkat kemacetan meskipun memiliki kepadatan populasi tinggi dengan penggunaan transportasi publik yang maksimal dan tata ruang yang terintegrasi.

“Sehingga kotanya menjadi nyaman. Jakarta sedang bergerak ke arah sana,” imbuhnya. 

Baca: Alasan beralih ke mobil listrik

Secara korporasi, PT MRT Jakarta (Perseroda) telah melancarkan kampanye dan komitmen korporasi terkait sustainability.

“Dalam setiap kehidupan korporasi kita ingin memasikan bahwa sustainability menjadi bagian dari proses bisnis korporasi. Misalnya pengelolaan sampah di PT MRT Jakarta (Perseroda) sudah bergerak dari 3R, sekarang menuju 7R,” jelas William.

Selain itu, tambah William, PT MRT Jakarta (Perseroda) juga meluncurkan gerakan bekerja sama dengan 10 perusahaan rintisan yang dua di antaranya bergerak di bidang lingkungan, yaitu jejak.in dan rekosistem.

Selain itu, pembangunan kawasan di setiap stasiun MRT Jakarta dengan mengintegrasikan seluruh moda transportasi publik dan pejalan kaki serta pesepeda akan mendorong semakin banyak mobilitas masyarakat menggunakan transportasi publik.

Sehingga ke depan, penggunaan transportasi publik secara masif akan secara signifikan menurunkan tingkat kemacetan sekaligus mengurangi emisi gas buang dari penggunaan transportasi pribadi yang berlebihan.

 

 

 

 

 

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *