Blog

  • DaurKita: Inisiatif Mahasiswa Merespons Krisis Pengelolaan Sampah di Kota Yogyakarta

    DaurKita: Inisiatif Mahasiswa Merespons Krisis Pengelolaan Sampah di Kota Yogyakarta

    7cloud.asia – DaurKita, demikian laman yang menyimpan basis data bank sampah di Yogyakarta untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas penyetoran sampah itu dinamai.

    DaurKita adalah inisiatif yang digagas 12 mahasiswa dari kampus di Yogyakarta dalam merespons krisis pengelolaan sampah dengan menghimpun basis data bank sampah di Kota Yogyakarta.

    Tim DaurKita mengenalkan inisiatif ini dalam workshop Bijak Mengelola Sampah dengan menggandeng Lokalogi by Pramuka UGM pada Sabtu (6/6/2026) lalu.

    DaurKita sebagai salah satu tim yang telah berhasil menyabet dukungan pendanaan dari GIK Advanced Leadership Arena (GALA), mengundang Lokalogi, memperkenalkan opsi gaya hidup baru yang relevan dengan krisis pengelolaan sampah saat ini.

    Menggagas konsep dari mahasiswa untuk mahasiswa, DaurKita yang beranggotakan 12 orang merilis laman berisi daftar nama bank sampah yang berlokasi di Kota Yogyakarta dan sekitarnya.

    Dengan mengusung bendera Bank Sampah Digital, DaurKita menyediakan 18 nama mitra yang tersebar di 6 kecamatan di Yogyakarta. Terdapat empat jenis sampah yang bisa dikelola oleh mitra DaurKita, yakni sampah organik, anorganik, B3, dan residu.

    Baca: Teknologi Landfill Mining untuk TPA yang Kelebihan Kapasitas

    ”Harapan kami, semoga DaurKita dapat menjembatani teman-teman mahasiswa UGM dengan tempat pengelolaan sampah terdekat. Dengan ini, kendala akses dan informasi itu bisa diredam,” ujar Project Officer DaurKita, Jeffryta Nasya Sanjaya seperti dilansir ugm.ac.id

    Selain diperkenalkan dengan laman berisi daftar nama mitra DaurKita, peserta turut dibekali dengan kerangka berpikir dalam pengelolaan sampah oleh Lokalogi.

    Lokalogi yang telah digagas oleh Pramuka UGM sejak tahun 2024, konsisten membersamai dinamika pengelolaan sampah dalam acara-acara besar mahasiswa, seperti Pionir, Gelex, Porsenigama, Culfest, hingga berbagai konser tahunan.

    Dari berbagai acara ini Lokalogi menghimpun data sampah yang diproduksi oleh pengunjung setelah memilah dan membagi sesuai kategori.

    Salah seorang perwakilan Lokalogi, Yudhistira mengatakan, sampah residu bisa ditekan di hari pertama atau kedua karena jumlah pengunjung belum terlalu banyak.

    ”Biasanya, jumlah lonjakan sampah residu terjadi ketika penutupan acara. Hal ini terjadi karena pengunjung meningkat, sementara Lokalogi Heroes yang memantau tempat sampah jumlahnya terbatas,” terangnya.

    Baca: Status Darurat Sampah yang Diajukan Pemkot Bandung Ditolak

    Menyambut baik inisiatif Tim DaurKita, Abiyyi, salah seorang perwakilan Lokalogi yang lain juga menjelaskan betapa peran bank sampah dan inisiatif memilah individu menjadi penting.

    Bank sampah yang terdesentralisasi adalah intervensi yang diperlukan bagi wilayah dengan sistem pengangkutan yang belum terpilah.

    Kedua, masih terdapat kesenjangan rantai dari konsumen ke pabrik daur ulang, terlebih jumlah pabrik daur ulang masih sangat terbatas, sehingga eksistensi bank sampah dapat menjadi jembatan.

    Ketiga, ketika minat masyarakat untuk memilah masih rendah, maka bank sampah bisa menyediakan insentif.

    “Sampah yang terpilah masih ada harganya, sehingga harusnya bisa dijual meski nilainya turun. Tentunya, tujuan yang sirkuler ini tidak dapat berjalan apabila tidak ada proses pemilahan dari konsumen atau sumber utama,” ungkapnya.

    Baca: Pengelolaan Sampah di Desa Punya Peran Penting

  • Mengintip Pengolahan Sampah Terpadu “Dari Sampah Menjadi Gizi” yang Dikembangkan ITB

    Mengintip Pengolahan Sampah Terpadu “Dari Sampah Menjadi Gizi” yang Dikembangkan ITB

    7cloud.asia – Di atas lahan yang tak terlalu luas di RW 02, Kelurahan Pasirlayung, Kota Bandung, Jawa Barat tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan model pengolahan sampah organik terpadu berbasis maggot black soldier fly (BSF), Bank Sampah, dan ayam petelur

    Model pengolahan sampah organik terpadu berbasis maggot black soldier fly (BSF), Bank Sampah, dan ayam petelur ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Dari Sampah Menjadi Gizi”.

    Untuk mengatasi keterbatasan lahan yang ada, tim mengembangkan model instalasi vertikal menyerupai bangunan empat lantai. Pemanfaatan panel surya sebagai sumber penerangan dan daya bagi pompa air membuat fasilitas pengolahan sampah ini makin ramah lingkungan.

    Secara berselang seling lantai dimanfaatkan untuk kandang ayam dan biopond maggot. Lantai paling atas untuk kandang ayam sedangkan lantai di bawahnya dimanfaatkan untuk menampung kotoran ayam sekaligus biopond maggot.

    Dilansir itb.ac.id, melalui sistem ini, kotoran ayam dapat langsung dimanfaatkan oleh maggot sehingga tidak menimbulkan bau tidak sedap di lingkungan sekitar.

    Ketika maggot sudah besar, maggot bisa diberikan kembali sebagai pakan ayam. Hasil akhirnya berupa daging dan telur yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk untuk kegiatan di kampung, pemenuhan gizi, dan pencegahan stunting melalui posyandu-posyandu sekitar.

    Program ini menjadi bagian dari upaya ITB dalam menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan sampah dari tingkat rumah tangga. Sampah organik yang kerap menjadi beban lingkungan diolah menjadi sumber daya bernilai, mulai dari pakan alternatif hingga telur sebagai sumber protein hewani bagi masyarakat.

    Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Prof. Zulfiadi, menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari inovasi para dosen ITB yang kemudian didukung melalui pendanaan dan pengorganisasian oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB.

    Instalasi tersebut memiliki kapasitas pengolahan sampah organik hingga sekitar 300 kilogram per hari. Namun, saat ini pasokan sampah organik dari lingkungan sekitar baru mencapai 50–75 kilogram per hari.

    Dengan kapasitas yang masih tersedia, sistem ini berpotensi mengolah lebih banyak sampah organik dari sumber lain di sekitar kawasan.

    Program yang mulai berjalan pada April–Mei 2026 ini turut melibatkan warga secara aktif. Zulfiadi menyebut adanya gotong royong warga, karang taruna, serta kelompok yang secara informal disebut ABK atau Anak Buah Kandang, yang membantu pemberian pakan dan pengelolaan harian instalasi.

    Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa wilayah tersebut sudah bergerak menuju zero waste karena sampah organik yang tersedia dapat terserap dengan baik oleh sistem pengolahan.

    “Inovasi berasal dari dosen-dosen itu sendiri. Kami dari DPMK mendanai dan mengorganisasikan pengabdian masyarakat di ITB. Salah satu fokus tahun ini adalah sampah,” ujarnya.

    Program yang merupakan bagian dari skema Bottom Up 1 DPMK ITB ini dijalankan Dr. Linus Ampang Pasasa. Dia menyampaikan bahwa sampah menjadi masalah serius yang harus segera diselesaikan.

    DPMK ITB juga tengah mengelola pengembangan program serupa di sejumlah wilayah lain, termasuk Kelurahan Tamansari di Kecamatan Bandung Wetan, kawasan sekitar Sabuga, Cihapit, dan Citarum.

    Linus menjelaskan, gagasan kegiatan ini berangkat dari keprihatinan terhadap persoalan sampah di Kota Bandung. Menurutnya, penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari hulu, terutama pada tingkat rumah tangga.

    “Kita melihat masalah sampah di Bandung dan merasa prihatin. Karena itu, kami mencoba mengatasi masalah ini dari hulu, yaitu dari tingkat rumah tangga,” ujarnya.

    Salah satu inti dari program ini adalah pemanfaatan maggot BSF. Maggot dinilai efektif karena mampu mengurai sampah organik secara cepat. Selain itu, maggot yang telah tumbuh dapat dimanfaatkan kembali sebagai pakan ayam dan ikan.

    Kolaborasi lintas keilmuan tersebut menjadi salah satu keunggulan dalam mengembangkan model pengelolaan sampah yang tidak hanya teknis, tetapi juga memiliki nilai sosial dan ekonomi.

    Linus berharap, ke depan produksi maggot yang sudah cukup besar dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi pelet pakan ikan atau ayam.

    Dengan demikian, maggot tidak hanya dimanfaatkan langsung sebagai pakan, tetapi juga dapat diolah menjadi produk pakan yang lebih praktis dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

    “Kalau sumber daya maggot sudah cukup banyak, kita bisa mengembangkannya menjadi pelet seperti pelet pabrikan. Bank Sampah dapat fokus mengelola sampah anorganik, sementara sampah organik dapat disuplai ke sini untuk diolah menjadi barang bernilai lebih,” ujarnya.

    Ketua RW 02 Pasirlayung, Rahayu Wijayanti, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah organik di wilayahnya telah dirintis melalui penyediaan drum komposter di setiap RT.

    Pada tahun 2026, Pemerintah Kota Bandung menghadirkan program GASLAH atau Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah.

    Melalui program tersebut, setiap RT memiliki satu orang petugas yang disiapkan untuk membantu mengolah sampah organik. Kompos yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk memupuk sayuran di kawasan urban farming warga.

    Rahayu mengatakan, kolaborasi dengan Dr. Linus kembali dilakukan karena sebelumnya ia telah membantu penyediaan drum komposter. Dari kolaborasi tersebut, pengolahan sampah organik kemudian berkembang melalui budidaya maggot dan ayam petelur, hingga akhirnya dipusatkan di Bersemi Farm.

    “Pada akhir April, tempat ini diresmikan sebagai Buruan Sae atau urban farming. Saya sangat berterima kasih kepada Pak Linus sebagai pegiat lingkungan yang begitu banyak membantu pengolahan sampah organik di lingkungan kami,” ujarnya.

    Ia berharap program ini dapat terus berjalan dan menjadi solusi berkelanjutan bagi warga RW 02 Pasirlayung. Menurutnya, keberadaan Bersemi Farm tidak hanya membantu mengurangi sampah organik, tetapi juga memperkuat kebersamaan warga dalam menjaga lingkungan.

    Melalui kegiatan “Dari Sampah Menjadi Gizi”, ITB terus berupaya turut terlibat dalam penyelesaian persoalan sampah dan berkolaborasi dengan warga.

    Dengan memadukan teknologi sederhana, kolaborasi warga, pendekatan multidisiplin, dan prinsip ekonomi sirkular, sampah organik dapat diubah menjadi sumber daya yang mendukung lingkungan bersih, ketahanan pangan lokal, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.

  • Unjuk Rasa Mahasiswa Memprotes Kebijakan Prabowo-Gibran Berlangsung di Sejumlah Daerah

    Unjuk Rasa Mahasiswa Memprotes Kebijakan Prabowo-Gibran Berlangsung di Sejumlah Daerah

    7cloud.asia – Elemen mahasiswa di berbagai daerah menggelar unjuk rasa memprotes kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran yang dinilai bermasalah dan mengancam masa depan bangsa.

    Di Yogyakarta, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi kembali turun ke jalan hanya berselang sehari setelah gerakan Rakyat Memanggil yang digelar pada Sabtu 13 Juni 2026 di simpang Gejayan.

    Pada unjuk rasa kali ini, mahasiswa mendesak Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka segera mengevaluasi sejumlah kebijakan negara yang dinilai tidak menyelesaikan masalah bangsa.

    Elemen mahasiswa yang berunjuk rasa di antaranya dari Keluarga Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (KM Fisipol UGM). Ada juga Poros Keluarga Mahasiswa dan Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

    Dilansir Tempo.co, KM Fisipol UGM mengambil Taman Pintar Fisipol UGM sebagai lokasi unjuk rasa dengan mengenakan pakaian warna hitam. Mimbar bebas dihadirkan sebagai wadah bagi masyarakat untuk bersuara dan mengekspresikan keresahan dan perlawanan terhadap pembungkaman.

    “Saatnya menyatukan suara, menyampaikan tuntutan, dan menunjukkan ketidakberdayaan untuk tinggal diam atas penderitaan rakyat, karena jika ketidakadilan terus dibiarkan maka diam adalah bentuk pengkhianatan,” ujar Koordinator Majelis Mahasiswa Fisipol UGM, Noor Hanifah Arrasyid dikutip Tempo.co.

    Unjuk rasa yang dilakukan Fisipol UGM ini juga membawa semangat hidup rakyat Indonesia, tagar darurat demokrasi, tagar revolusi atau tidak sama sekali, serta tagar matinya nurani Prabowo Gibran.

    Unjukrasa ini mengusung enam poin tuntutan pada rezim Prabowo-Gibran, yakni mendesak pemerintah membatalkan UU TNI dan Polri dan menegakkan supremasi sipil sepenuhnya.

    Kedua, menuntut pemerintah untuk segera menurunkan harga bahan pokok dan bahan bakar minyak. Ketiga, menuntut pemerintah untuk menghentikan program Makan Bergizi Gratis atau MBG dan Koperasi Desa Merah Putih atau KDMP.

    Keempat, mendesak pemerintah untuk segera menguatkan nilai rupiah. Kelima, mendesak pemerintah untuk memperbaiki pola komunikasi antara negara dan warga negara guna mengembalikan kepercayaan masyarakat

    Keenam, KM Fisipol UGM mendesak Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk segera mengambil sikap resmi yang berpihak pada nestapa rakyat.

    Adapun elemen mahasiswa UII Yogyakarta memusatkan demonstrasi di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DPRD DIY).

    Perwakilan dari Poros Keluarga Mahasiswa UII Yogyakarta, Alamsyah menyatakan aksi ini dilatarbelakangi kegelisahan mendalam mahasiswa terhadap situasi kepemimpinan nasional saat ini.

    “Hari ini rakyat dipaksa hidup dalam ketidakpastian. Harga kebutuhan pokok terus menghimpit, lapangan pekerjaan semakin sempit, ruang demokrasi kian tercekik, sementara penguasa sibuk mempertontonkan kebijakan yang jauh dari kebutuhan masyarakat,” kata dia.

    Sivitas UII turun ke jalan guna menolak menjadi generasi yang hanya menonton ketika konstitusi dikesampingkan dan suara rakyat diperlakukan sebagai gangguan.

    “Negara dibentuk untuk melayani rakyat, bukan menjadikan rakyat sebagai objek percobaan kebijakan yang gagal menjawab persoalan nyata,” tutur Alamsyah.

    Alamsyah mengimbuhkan bahwa ketika instrumen kritik dan hukum sudah tidak lagi berpihak pada kepentingan publik, maka mahasiswa memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk memimpin gerakan perubahan di masyarakat.

    “Ketika kritik dibungkam, ketika hukum kehilangan keberpihakannya, dan ketika kepentingan segelintir orang lebih didengar daripada jeritan rakyat, maka mahasiswa memiliki kewajiban moral untuk bersuara,” kata dia.

    “Sebab sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang memilih diam. Karena demokrasi tidak akan mati dalam satu malam. Demokrasi mati ketika rakyat takut bersuara dan mahasiswa kehilangan keberanian untuk melawan,” ujarnya.

    Di Sumatera Selatan, ratusan mahasiswa yang tergabung dalam berbagai organisasi kemahasiswaan mendatangi Gedung DPRD Sumsel Senin, (15/6/2026).

    Dalam aksi tersebut, mereka mengusunng kartu merah sebagai simbol protes terhadap sejumlah kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.

    Aksi diwarnai orasi bergantian dari perwakilan mahasiswa. Mereka menyoroti persoalan kenaikan dan kelangkaan BBM di Sumatera Selatan, berkurangnya transfer keuangan daerah (TKD) Sumsel, program makan bergizi gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih, hingga tuntutan pengesahan RUU Perampasan Aset.

    Unjuk rasa juga dilakukan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kalimantan Selatan (Kalsel).

    Dilansir Kalimantanpost.com, mahasiswa mengecam keras kebijakan di masa rezim Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden, Gibran Rakabuming Raka yang dinilai bobrok dan merugikan rakyat.

    Contohnya seperti program Makan Gratis Bergizi (MBG) yang hingga saat ini tetap dipaksa berjalan. Meski Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) beserta beberapa jajarannya tertangkap karena kasus korupsi.

    Plt Ketua Umum BEM ULM, Satria Bima yang sedang beorasi menyebutkan sebelum adanya kasus korupsi tersebut, banyak kasus siswa keracunan MBG hingga kualitas menu MBG yang dinilai tidak sesuai dengan anggaran yang dikeluarkan.

    Sejumlah elemen mahasiswa kembali turun menggelar aksi unjuk rasa hari ini di depan gedung DPR/MPR RI, Jakarta. Mereka membawa dua karangan bunga saat long march menuju lokasi aksi.

    Dilansir detik.com, mahasiswa dengan almamater yang berbeda melakukan long march dari arah Semanggi menuju gedung DPR. Mereka terdiri dari mahasiswa Universitas Paramadina dan Institut STIAMI.

    Massa mahasiswa membawa dua karangan bunga. Dua karangan bunga itu bertulisan ‘Selamat Atas Kegagalan Rezim Prabowo dan Gibran’ dan ‘Selamat Atas Gagalnya Kinerja DPR RI’.

    “Setiap hari ada aja berita buruk dari pemerintah kita. Kita sebagai mahasiswa, rakyat kita sudah cukup marah terhadap pemerintah,” ujar orator berorasi di depan gedung DPR.

  • Cuaca Hari Ini: Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan, Termasuk Banten dan Aceh

    Cuaca Hari Ini: Sejumlah Wilayah Berpotensi Hujan, Termasuk Banten dan Aceh

    7cloud.asia – Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur sejumlah wilayah di Indonesia termasuk Banten dan Aceh, pada Rabu (17/06/2026).

    Dalam laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas sedang hingga lebat juga berpotensi mengguyur wilayah Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Jawa Barat, Jawa Tengah.

    Selain itu wilayah Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, juga berpeluang hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

    Kondisi cuaca serupa berpeluang pula terjadi di wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua.

    Selanjutnya hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi pula mengguyur wilayah Sumatra Utara, Sulawesi Barat dan Maluku Utara.

    Tak hanya hujan, sejumlah wilayah seperti Kepulauan Bangka Belitung, dan Nusa Tenggara Timur berpeluang pula terjadi angin kencang. Karena itu, BMKG mengimbau warga sekitar untuk mewaspadai dampak yang akan terjadi.

  • Jangan Anggap Sepele Gusi Berdarah, Bisa Jadi Pintu Masuk Penyakit Serius

    Jangan Anggap Sepele Gusi Berdarah, Bisa Jadi Pintu Masuk Penyakit Serius

    7cloud.asia – Masalah gusi kerap dianggap gangguan ringan. Padahal, gusi yang tidak terawat dapat menjadi sumber peradangan kronis yang berisiko memengaruhi organ tubuh lainnya.

    Disela-sela acara Pepsodent Gum Expert Lab di Jakarta beberapa waktu lalu, drg. Ines Augustina Sumbayak, Sp.Perio menjelaskan, infeksi pada gusi yang dibiarkan terus menerus dapat memicu peningkatan sel inflamasi dalam tubuh.

    “Gusi yang tidak terawat secara terus menerus itu, bakteri dan produk-produk peradangan akan terus berada di dalam aliran darah. Dengan kondisi itu, inflamasi akan semakin tinggi dan bisa berdampak menjadi fokus infeksi,” jelas Ines.

    Baca: Mahasiswa UGM Temukan Gel Pencegahan Karies Gigi

    Menurutnya, kondisi tersebut membuat kesehatan gusi memiliki keterkaitan dengan sejumlah penyakit lain, termasuk gangguan jantung. Jalur penyebarannya dapat terjadi melalui pembuluh darah yang membawa bakteri maupun zat peradangan ke organ lain.

    “Makanya kesehatan gusi sering dikaitkan dengan penyakit jantung. Dari pembuluh darahnya bisa terhubung ke jantung,” katanya.

    Tak hanya jantung, masalah gusi juga memiliki hubungan dua arah dengan diabetes. Kondisi gusi yang mengalami peradangan dapat memperburuk kondisi tubuh, sementara penderita diabetes juga lebih rentan mengalami gangguan pada jaringan gusi.

    “Untuk diabetes ada hubungan dua arah. Gusi yang tidak terawat bisa berpengaruh terhadap diabetes, begitu juga diabetes membuat seseorang lebih mudah mengalami masalah gusi,” terangnya.

    Baca: Penyakit Gaya Hidup Kini Juga Mengincar Anak

    Salah satu tanda paling umum penyakit gusi adalah gusi berdarah. Jika dibiarkan, lanjut Ines, peradangan dapat terus berlangsung dan menjadi ancaman bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan.

    “Kalau gusi berdarah dibiarkan terus menerus, peradangan itu akan terus menempel pada pembuluh darah kita. Ini berbahaya karena bisa menjadi fokus infeksi ke depannya,” kata Ines.

    Fokus infeksi juga dapat munculnya gangguan lain, seperti pada kulit. “Infeksi meningkat, otomatis sel inflamasi meningkat, lalu bisa termanifestasi pada kulit atau sistem imun,” ujarnya.

    Sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan gusi masih rendah. Banyak yang baru datang ke dokter gigi ketika sudah mengalami nyeri atau kerusakan gigi, sementara tanda awal seperti gusi berdarah sering diabaikan.

    Baca: Pekerjaan Rumah Kesehatan Anak Indonesia Belum Usai

    Padahal, lanjut Ines, gusi yang sehat menunjukkan tubuh dalam kondisi lebih baik karena jumlah sel inflamasi lebih rendah.

    “Semakin sehat gusi seseorang, itu pertanda sel inflamasinya tidak banyak. Artinya kondisi kesehatannya lebih baik,” katanya.

    Selain itu, Ines mengingatkan, penyakit gusi bukan hanya masalah orang dewasa. Anak-anak pun juga dapat mengalaminya, bahkan sejak usia dini.

    “Jangan heran kalau anak usia tiga atau empat tahun terkena penyakit gusi. Bisa karena cara perawatan gigi yang kurang tepat atau daya tahan tubuh yang rendah,” jelasnya.

    Untuk mencegahnya, masyarakat perlu memperbaiki kebiasaan sederhana, mulai dari cara menyikat gigi yang benar, menjaga asupan nutrisi, hingga menerapkan pola hidup sehat.

  • Upaya Kota-kota di Dunia Mengatasi Panas Ekstrem yang Kian Menyengat

    Upaya Kota-kota di Dunia Mengatasi Panas Ekstrem yang Kian Menyengat

    7cloud.asia – Alam telah mengirim sinyal yang tak dapat diabaikan, bahwa panas ekstrem semakin sering terjadi dan semakin tinggi intensitasnya. Panas ekstrem akibat perubahan iklim bukan hanya isu iklim, tetapi juga tentang ketidakadilan.

    Dampak panas ekstrem tidak dirasakan sama oleh kelompok masyarakat. Kelompok lansia, anak-anak, masyarakat berpendapatan rendah dan pekerja lapangan merasakan dampak yang lebih besar.

    Data Program Lingkungan PBB (UNEP) menyebut, 2,4 miliar pekerja (lebih dari 70 persen angkatan kerja, harus berjibaku menghadapi panas ekstrem hampir sepanjang tahun.

    Sebaliknya, selapis tipis warga dunia yang memicu panas ekstrem ini justru lebih terlindungi karena uang dan previlege yang mereka miliki.

    Karena itu, mengatasi panas ekstrem ini dibutuhkan kebijakan yang berpihak. UNEP mengatasi panas ekstrem dengan mempromosikan solusi pendinginan berkelanjutan.

    UNEP memimpin upaya global seperti Cool Coalition dan Global Cooling Pledge, yang bertujuan untuk mengurangi emisi terkait pendinginan dan memperluas akses ke pendinginan yang berkelanjutan dan terjangkau.

    UNEP mendukung negara dan kota melalui inisiatif seperti “Beat the Heat”, membantu mereka menilai risiko panas, mengadopsi pendinginan pasif dan berbasis alam, dll.

    Kabar baiknya, sejumlah kota di dunia mulai menata diri dan merumuskan kebijakan untuk menahan laju pemanasan ini. Berikut upaya sejumlah kota dalam menangani panas ekstrem, seperti dilansir di laman resmi uneo.org:

    Baca: Kematian Terkait Cuaca Panas Ekstrem di Negara Miskin Jauh Lebih Tinggi

    Paris, Prancis: Mendesain Ulang Kota untuk Panas Ekstrem
    Paris menunjukkan bagaimana kota dapat mempersiapkan diri menghadapi panas ekstrem dengan menggabungkan kesiapan dan transformasi perkotaan jangka panjang.

    Melalui simulasi Paris pada 50°C, kota ini memobilisasi lembaga, mitra, dan penduduk untuk mensimulasikan skenario panas ekstrem, menguji sistem respons krisis, dan memperkuat kesiapan kolektif.

    Pada saat yang sama, Paris menyesuaikan lingkungan perkotaannya dengan masa depan yang lebih panas melalui berbagai langkah pendinginan: memperluas hutan kota dan jalan-jalan yang teduh, menghijaukan sekolah dan perumahan.

    Pemerintah Kota paris juga memperkenalkan fitur air, menggunakan bahan reflektif, meningkatkan aliran udara, dan memetakan lingkungan yang rentan untuk menargetkan intervensi.

    India: Kesiapan dan Perlindungan Publik
    Chennai dan kota-kota lain di seluruh India menerapkan Rencana Aksi Panas — strategi terkoordinasi untuk mempersiapkan dan menanggapi panas ekstrem.

    Hal ini mencakup peringatan dini, kampanye kesadaran publik, tempat perlindungan pendingin, akses air, dukungan darurat untuk kelompok rentan, dan koordinasi antara rumah sakit, sekolah, dan otoritas lokal.

    Chennai melangkah lebih jauh dari tindakan darurat dan mengarah pada tindakan jangka panjang terkait panas ekstrem

    Kota ini berupaya mengintegrasikan ketahanan terhadap panas ke dalam rencana induk barunya — termasuk peningkatan cakupan alam dan mendorong pendinginan pasif di bangunan baru.

    Baca: Kota Hijau Jadi Alternatif Atasi Suhu Panas Ekstrem

    Kota ini juga menangani proyek-proyek prioritas tinggi seperti perumahan terjangkau dan sekolah untuk direnovasi dengan langkah-langkah pendinginan pasif guna memberikan bantuan bagi populasi yang rentan.

    Pengalaman India juga menyoroti bahwa panas yang berbahaya bukan hanya tentang suhu puncak, tetapi juga tentang kelembapan, panas malam hari, kondisi perumahan, dan kemampuan tubuh untuk pulih.

    Brasil: Alam sebagai infrastruktur pendingin
    Kota-kota di Brasil seperti Teresina menggunakan hutan kota, taman, lahan basah, sungai, dan koridor hijau untuk mendinginkan lingkungan, mengurangi risiko banjir, meningkatkan kualitas udara, dan mendukung kesejahteraan.

    Kebun komunitas, ruang publik yang teduh, dan sistem pendinginan berbasis air juga merupakan bagian dari pendekatan ini.

    Brasil menyoroti bagaimana Solusi Berbasis Alam dapat menciptakan kota yang lebih sehat dan lebih layak huni.

    Yangzhou, China: Mengintegrasikan adaptasi panas dalam skala besar
    Yangzhou menanamkan adaptasi panas ke dalam perencanaan kota jangka panjang melalui restorasi ekologis, pengembangan kota spons, dan manajemen perkotaan yang tahan terhadap iklim.

    Bekas lokasi TPA diubah menjadi taman ekologi dengan vegetasi asli, sementara proyek restorasi lahan basah dan tepi sungai skala besar di sepanjang Sungai Yangtze dan Grand Canal memperkuat penyangga ekologi dan mengurangi efek pulau panas perkotaan.

    Baca: Menanam Pohon Terbukti Efektif Menurunkan Efek Pulau Panas Perkotaan

    Sebagai kota percontohan nasional untuk pembangunan perkotaan yang tahan iklim, Yangzhou beralih dari pengelolaan limbah suhu tinggi dan mengembangkan pengelolaan limbah rendah karbon yang terintegrasi.

    Kota ini juga memperluas langkah-langkah kota spons, termasuk taman hujan, permukaan permeabel, dan ruang publik hijau, untuk mengatasi panas ekstrem. Yangzhou menunjukkan bagaimana adaptasi dapat diintegrasikan di seluruh sistem perkotaan dalam skala besar.

    Nigeria: Mengatasi efek pulau panas perkotaan
    Di Nigeria, Lagos menjadi semakin panas karena suhu tinggi, kelembapan, dan pertumbuhan perkotaan yang pesat.

    Untuk menanggapi hal ini, Badan Taman dan Kebun Negara Bagian Lagos menanam lebih dari 6,2 juta pohon dan mendirikan 327 taman dan kebun sejak tahun 2008.

    Ini adalah program pohon perkotaan berkelanjutan terbesar yang dipimpin oleh pemerintah sub-nasional di benua ini. Program ini menciptakan sekitar 96.484 lapangan kerja.

    Di bawah Rencana Adaptasi dan Ketahanan Iklim Lagos, salah satu tujuan utama adalah menanam 50.000 pohon tahan iklim setiap tahun dan memulihkan 300 taman kota untuk mengurangi suhu di seluruh kota.

    Sistem peringatan dini juga akan dikembangkan untuk mempersiapkan warga dengan lebih baik menghadapi panas ekstrem

    Rencana ini bertujuan untuk mengumpulkan dana antara 700 juta dolar dan 1,3 miliar dolar setiap tahun, dengan total pembiayaan yang diharapkan sekitar 9–16 miliar dolar pada tahun 2035.

     

  • Ratusan Kepala Sekolah di Sulawesi Selatan Mundur Karena Pengelolaan Dana BOS, DPR Minta Segera Dilakukan Evaluasi

    Ratusan Kepala Sekolah di Sulawesi Selatan Mundur Karena Pengelolaan Dana BOS, DPR Minta Segera Dilakukan Evaluasi

    7cloud.asia – Ratusan kepala sekolah di Sulawesi Selatan beramai-ramai mengundurkan diri karena dikaitkan dengan temuan pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah.

    Menyikapi kondisi ini, Wakil Ketua Komisi X DPR Lalu Hadrian Irfani mengatakan peristiwa tersebut harus menjadi momentum perbaikan sistem pengawasan, pembinaan, dan manajemen dana pendidikan di seluruh Indonesia.

    Lalu mendorong dilakukannya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

    Politisi dari PKB ini mengatakan pihaknya langsung berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta meminta pemerintah daerah melakukan evaluasi terhadap pengelolaan dana BOS di daerah.

    “Begitu mendengar kejadian tersebut, kami langsung konsultasi dan berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Kami juga meminta pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi, karena sesungguhnya dana BOS itu dikelola oleh sekolah sehingga tata kelola menjadi hal yang utama yang harus dilakukan,” kata Lalu dilansir Parlementaria Senin (15/6/2026).

    Perhatian Lalu tertuju setelah mencuatnya laporan pengunduran diri 326 kepala sekolah di Sulawesi Selatan yang dikaitkan dengan temuan pemeriksaan pengelolaan Dana BOS.

    Dana BOS menyangkut tata kelola salah satu program pendidikan terbesar pemerintah yang pada 2026 memiliki alokasi sekitar Rp59 triliun dan disalurkan kepada lebih dari 200 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia.

    Menurut Lalu, persoalan tersebut tidak boleh dipandang hanya sebagai masalah di satu daerah. Ia menilai kasus yang mencuat di Sulawesi Selatan bisa menjadi cermin perlunya penguatan sistem pembinaan dan pendampingan pengelolaan keuangan sekolah secara nasional.

    “Ini mungkin hanya Sulawesi Selatan yang mencuat. Daerah-daerah lain juga bisa saja terjadi. Karena itu yang kami tekankan adalah pembinaan, tata kelola, serta manajemen dana BOS yang perlu terus ditingkatkan,” ujarnya.

    Anggota Dewan dari Dapil NTB II ini menilai salah satu persoalan yang perlu dibenahi adalah komunikasi dan koordinasi antara dinas pendidikan dengan pihak sekolah.

    Menurutnya, tata kelola yang baik harus didukung oleh sistem pendampingan yang kuat sehingga kepala sekolah memiliki kepastian dalam menjalankan pengelolaan anggaran pendidikan.

    “Artinya ada komunikasi yang tidak baik antara dinas dan sekolah. Ini yang harus dievaluasi agar tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari,” jelasnya.

    Terkait kemungkinan adanya pelanggaran hukum, dia menyerahkan proses tersebut kepada aparat penegak hukum sesuai kewenangannya. Lalu menegaskan bahwa pembenahan sistem harus menjadi fokus utama agar kasus serupa tidak terulang.

  • Pekerja Platform Dunia Sahkan Draf Konvensi ILO 193 di ILC ke-114

    Pekerja Platform Dunia Sahkan Draf Konvensi ILO 193 di ILC ke-114

    7cloud.asia – Konferensi Perburuhan Internasional (ILC) ke-114 di Jenewa, Swiss, resmi menutup sidang pembahasan Konvensi Pekerjaan Layak di Ekonomi Platform Digital.

    Setelah dua minggu negosiasi intensif, draf konvensi ILO 193 disepakati untuk dibawa ke tahap selanjutnya.

    Serikat Pengemudi Transportasi Indonesia (SEPETA) menyambut positif hasil ini dan menilai kehadiran langsung pekerja platform dalam proses perundingan sebagai langkah bersejarah.

    Untuk pertama kalinya, pemimpin pekerja platform dari puluhan negara termasuk Indonesia duduk sebagai peserta aktif dalam kaukus pekerja ILO.

    “Ini bukti bahwa perjuangan pengemudi dan kurir online Indonesia sudah menjadi bagian dari gerakan buruh global. Kami tidak lagi hanya jadi objek, tapi penentu arah kebijakan,” ujar Bangun Nugroho, Delegasi SEPETA.

    Dalam berbagai forum, delegasi SEPETA menyampaikan kondisi nyata di lapangan: ketidakjelasan status hubungan kerja, potongan aplikasi yang tinggi, pemutusan akses sepihak, serta absennya jaminan sosial dan perlindungan K3.

    Fokus Konvensi: Lindungi Pekerja, Bukan Kepentingan Bisnis
    Isu paling alot dalam negosiasi adalah status hubungan kerja dan transparansi algoritma. Konvensi ILO 193 menegaskan bahwa yang diatur adalah pekerjaan dan hubungan kerja, bukan teknologi.

    “Platform tidak bisa lagi berlindung di balik algoritma untuk menghindari tanggung jawab. Ini persoalan kekuasaan dan keadilan sosial,” tegas Bangun Nugroho.

    Mewakili SEPETA, Bangun mendesak Pemerintah Indonesia segera menindaklanjuti hasil ILC ke-114 dengan membawa Konvensi ILO 193 ke proses ratifikasi menjadi UU.

    “Kami minta Indonesia menjadi 5 negara pertama yang meratifikasi. Jangan biarkan jutaan pekerja platform terus bekerja tanpa kepastian hukum dan perlindungan,” tambah Bangun.

    SEPETA menegaskan bahwa perjuangan ini bukan untuk menyesuaikan hak pekerja dengan kebutuhan bisnis, melainkan memastikan jutaan pekerja platform memiliki pekerjaan yang layak, aman, dan bermartabat.

  • Taman Nasional Kutai Jaga Kelestarian Enam Flora Penting

    Taman Nasional Kutai Jaga Kelestarian Enam Flora Penting

    7cloud.asia – Balai Taman Nasional Kutai (TNK) di Provinsi Kalimantan Timur terus menjaga pelestarian terhadap enam jenis flora penting.

    Keenam flora penting yang dijaga kelestarian di kawasan seluas 193.753,42 hektare tersebut meliputi pasak bumi (Eurycoma longifolia) yang dikenal luas sebagai tanaman herbal berkhasiat.

    Kedua pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) atau kayu besi yang terkenal akan kekuatan dan ketahanannya, serta pohon bendang (Borassodendron borneense) yang merupakan palma endemik berdaun kipas khas Kalimantan.

    Selain itu, kawasan ini juga melindungi ekosistem mangrove di area pesisir yang berfungsi menahan abrasi.

    Kelompok pohon meranti (Shorea spp) yang mendominasi tajuk hutan dataran rendah, dan anggrek hitam (Coelogyne pandurata) sebagai ikon keanekaragaman hayati hutan hujan tropis Kalimantan.

    Baca: Masyarakat Adat Tolak Penetapan Cagar Alam Mutis Timau Menjadi Taman Nasional

    Keenam flora ini memiliki nilai ekologis, kesehatan, dan budaya tak ternilai untuk menjaga keberlanjutan ekosistem hutan hujan tropis.

    “Perlindungan habitat alami, pengendalian penebangan liar, serta program rehabilitasi hutan menjadi prioritas utama kami agar keberadaan tanaman khas ini tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ujar Kepala Balai Taman Nasional Kutai Syaiful Bahri di Kutai Timur, Sabtu (14/6/2026)

    Taman Nasional Kutai saat ini mencatatkan kekayaan hayati sebagai wadah bagi 1.302 jenis flora dari 118 famili, yang mencakup delapan genus Dipterocarp serta 15 spesies endemik.

    Perhatian khusus diberikan kepada pohon ulin atau kayu besi mengingat eksploitasi masa lalu untuk kebutuhan konstruksi berat telah membuat flora identitas Kalimantan ini mengalami penurunan populasi.

    “Langkah serupa diterapkan untuk memproteksi kelompok pohon meranti, yang kayunya sangat diminati pasar, namun kini terancam alih fungsi lahan meski peranannya krusial sebagai tempat berlindung satwa endemik seperti orangutan,” jelas Syaiful.

    Baca: Masyarakat Adat Terdampak Penataan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

    Untuk menghentikan kerusakan habitat akibat perburuan akar yang tidak terkendali, pengelola kawasan kini mendorong upaya budidaya pasak bumi.

    “Patroli pengawasan turut kami kerahkan untuk memantau kelestarian anggrek hitam, tanaman epifit ikonik berbibir bunga gelap yang hidup menempel pada pohon besar dan sangat rentan mati jika terjadi perubahan kelembapan mikroklimat hutan,” ungkap Syaiful.

    Pada area hutan dengan curah hujan tinggi, petugas memastikan keamanan pohon bendang, palma endemik Borneo berdaun kipas besar yang memegang peranan penting dalam rantai makanan alami melalui buahnya yang menjadi pakan satwa liar.

    Sementara itu pada garis terluar pesisir Selat Makassar, pihak balai berupaya melindungi vegetasi mangrove dari ancaman pencemaran karena fungsinya yang vital sebagai tameng abrasi pantai sekaligus area pemijahan ragam biota laut.

    Balai Taman Nasional Kutai (TNK) di Provinsi Kalimantan Timur mengoptimalkan fungsinya sebagai kawasan pelestarian alam untuk menjaga kelangsungan hidup 324 spesies fauna, termasuk sejumlah satwa yang masuk kategori terancam punah.

  • Stres Diam-Diam Mengancam Rambut, Kerontokan di Usia Muda Makin Banyak Terjadi

    Stres Diam-Diam Mengancam Rambut, Kerontokan di Usia Muda Makin Banyak Terjadi

    7cloud.asia – Rambut rontok kerap dianggap persoalan sepele. Namun ketika terjadi terus-menerus, terutama pada usia muda, kondisi ini bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius.

    Dokter spesialis dermatologi dan venereologi dr. Elisabeth Ryan, Sp.DVE, mengungkapkan kerontokan rambut pada usia dua puluhan kini semakin banyak ditemukan dengan berbagai penyebab. Salah satu pemicu yang sering luput diperhatikan adalah stres.

    “Genetik dan hormon menjadi faktor terbesar dengan kontribusi sekitar 35 persen dari seluruh kasus. Setelah itu stres 24 persen, kekurangan nutrisi 15 persen, infeksi kulit kepala 14 persen, efek samping obat atau penyakit 7 persen, serta kondisi pascamelahirkan dan PCOS sekitar 5 persen,” ungkap Elisabeth di Jakarta beberapa waktu lalu.

    Baca: Cara Keramas Agar Lebih Ramah Lingkungan

    Menurutnya, banyak orang baru mencari pertolongan ketika rambut sudah mengalami penipisan cukup parah. Padahal, keterlambatan diagnosis dapat memperkecil peluang pemulihan.

    “Folikel yang masih aktif jauh lebih mudah dirangsang untuk tumbuh kembali. Menunda penanganan berarti kehilangan kesempatan itu,” katanya.

    Meski demikian, Elisabeth mengingatkan tidak semua rambut rontok berarti gangguan kesehatan. Rambut rontok dalam jumlah tertentu masih merupakan kondisi normal. Umumnya, rambut yang rontok berada di kisaran 50 hingga 100 helai per hari.

    Baca: Jangan Anggap Sepele Masalah Gusi, Jadi Pintu Masuk Penyakit Serius

    Bagi masyarakat yang sulit menghitung jumlah rambut yang rontok, ia menyarankan memperhatikan jumlah rambut yang terkumpul.

    “Kalau bingung, lihat saja dari genggaman tangan. Kalau sudah terlihat lebih banyak atau lebih rimbun terkumpul, itu bisa menjadi tanda tidak normal,” katanya.

    Lebih jauh, Elisabeth menjelaskan pola kerontokan rambut memiliki perbedaan antara pria dan perempuan. Pada pria, kerontokan biasanya dimulai dari garis rambut yang semakin mundur dan penipisan di area ubun-ubun.

    Kondisi ini dapat muncul sejak usia 20-an akibat pengaruh hormon DHT (dihidrotestosteron) serta faktor genetik.

    Baca: Penyakit Gaya Hidup Kini Mengincar Anak Indonesia

    Sementara pada perempuan, kerontokan lebih sering terlihat dari bagian tengah kepala yang semakin menipis dan melebar. Pemicu dapat berkaitan dengan perubahan hormon, PCOS, menopause, stres, hingga kekurangan nutrisi.

    Jika kerontokkan terjadi, Elisabeth menegaskan masyarakat sebaiknya tidak langsung mencoba berbagai terapi tanpa mengetahui penyebabnya.

    “Kerontokan rambut itu tidak semuanya sama. Terapi yang salah bisa memperburuk kondisi dan hanya menghabiskan waktu serta uang,” tegasnya.

    Menurut dia, pemeriksaan dan diagnosis menjadi langkah penting agar penanganan sesuai dengan penyebab. Sebab, rambut yang sehat bukan hanya persoalan penampilan, tetapi juga dapat menjadi gambaran kondisi tubuh secara keseluruhan.