7cloud.asia – Balai Taman Nasional Kutai (TNK) di Provinsi Kalimantan Timur terus menjaga pelestarian terhadap enam jenis flora penting.
Keenam flora penting yang dijaga kelestarian di kawasan seluas 193.753,42 hektare tersebut meliputi pasak bumi (Eurycoma longifolia) yang dikenal luas sebagai tanaman herbal berkhasiat.
Kedua pohon ulin (Eusideroxylon zwageri) atau kayu besi yang terkenal akan kekuatan dan ketahanannya, serta pohon bendang (Borassodendron borneense) yang merupakan palma endemik berdaun kipas khas Kalimantan.
Selain itu, kawasan ini juga melindungi ekosistem mangrove di area pesisir yang berfungsi menahan abrasi.
Kelompok pohon meranti (Shorea spp) yang mendominasi tajuk hutan dataran rendah, dan anggrek hitam (Coelogyne pandurata) sebagai ikon keanekaragaman hayati hutan hujan tropis Kalimantan.
Baca: Masyarakat Adat Tolak Penetapan Cagar Alam Mutis Timau Menjadi Taman Nasional
Keenam flora ini memiliki nilai ekologis, kesehatan, dan budaya tak ternilai untuk menjaga keberlanjutan ekosistem hutan hujan tropis.
“Perlindungan habitat alami, pengendalian penebangan liar, serta program rehabilitasi hutan menjadi prioritas utama kami agar keberadaan tanaman khas ini tetap terjaga dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ujar Kepala Balai Taman Nasional Kutai Syaiful Bahri di Kutai Timur, Sabtu (14/6/2026)
Taman Nasional Kutai saat ini mencatatkan kekayaan hayati sebagai wadah bagi 1.302 jenis flora dari 118 famili, yang mencakup delapan genus Dipterocarp serta 15 spesies endemik.
Perhatian khusus diberikan kepada pohon ulin atau kayu besi mengingat eksploitasi masa lalu untuk kebutuhan konstruksi berat telah membuat flora identitas Kalimantan ini mengalami penurunan populasi.
“Langkah serupa diterapkan untuk memproteksi kelompok pohon meranti, yang kayunya sangat diminati pasar, namun kini terancam alih fungsi lahan meski peranannya krusial sebagai tempat berlindung satwa endemik seperti orangutan,” jelas Syaiful.
Baca: Masyarakat Adat Terdampak Penataan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Untuk menghentikan kerusakan habitat akibat perburuan akar yang tidak terkendali, pengelola kawasan kini mendorong upaya budidaya pasak bumi.
“Patroli pengawasan turut kami kerahkan untuk memantau kelestarian anggrek hitam, tanaman epifit ikonik berbibir bunga gelap yang hidup menempel pada pohon besar dan sangat rentan mati jika terjadi perubahan kelembapan mikroklimat hutan,” ungkap Syaiful.
Pada area hutan dengan curah hujan tinggi, petugas memastikan keamanan pohon bendang, palma endemik Borneo berdaun kipas besar yang memegang peranan penting dalam rantai makanan alami melalui buahnya yang menjadi pakan satwa liar.
Sementara itu pada garis terluar pesisir Selat Makassar, pihak balai berupaya melindungi vegetasi mangrove dari ancaman pencemaran karena fungsinya yang vital sebagai tameng abrasi pantai sekaligus area pemijahan ragam biota laut.
Balai Taman Nasional Kutai (TNK) di Provinsi Kalimantan Timur mengoptimalkan fungsinya sebagai kawasan pelestarian alam untuk menjaga kelangsungan hidup 324 spesies fauna, termasuk sejumlah satwa yang masuk kategori terancam punah.

Leave a Reply