7cloud.asia – Di atas lahan yang tak terlalu luas di RW 02, Kelurahan Pasirlayung, Kota Bandung, Jawa Barat tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan model pengolahan sampah organik terpadu berbasis maggot black soldier fly (BSF), Bank Sampah, dan ayam petelur
Model pengolahan sampah organik terpadu berbasis maggot black soldier fly (BSF), Bank Sampah, dan ayam petelur ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Dari Sampah Menjadi Gizi”.
Untuk mengatasi keterbatasan lahan yang ada, tim mengembangkan model instalasi vertikal menyerupai bangunan empat lantai. Pemanfaatan panel surya sebagai sumber penerangan dan daya bagi pompa air membuat fasilitas pengolahan sampah ini makin ramah lingkungan.
Secara berselang seling lantai dimanfaatkan untuk kandang ayam dan biopond maggot. Lantai paling atas untuk kandang ayam sedangkan lantai di bawahnya dimanfaatkan untuk menampung kotoran ayam sekaligus biopond maggot.
Dilansir itb.ac.id, melalui sistem ini, kotoran ayam dapat langsung dimanfaatkan oleh maggot sehingga tidak menimbulkan bau tidak sedap di lingkungan sekitar.
Ketika maggot sudah besar, maggot bisa diberikan kembali sebagai pakan ayam. Hasil akhirnya berupa daging dan telur yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk untuk kegiatan di kampung, pemenuhan gizi, dan pencegahan stunting melalui posyandu-posyandu sekitar.
Program ini menjadi bagian dari upaya ITB dalam menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan sampah dari tingkat rumah tangga. Sampah organik yang kerap menjadi beban lingkungan diolah menjadi sumber daya bernilai, mulai dari pakan alternatif hingga telur sebagai sumber protein hewani bagi masyarakat.
Direktur Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran ITB, Prof. Zulfiadi, menjelaskan bahwa program tersebut lahir dari inovasi para dosen ITB yang kemudian didukung melalui pendanaan dan pengorganisasian oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Layanan Kepakaran (DPMK) ITB.
Instalasi tersebut memiliki kapasitas pengolahan sampah organik hingga sekitar 300 kilogram per hari. Namun, saat ini pasokan sampah organik dari lingkungan sekitar baru mencapai 50–75 kilogram per hari.
Dengan kapasitas yang masih tersedia, sistem ini berpotensi mengolah lebih banyak sampah organik dari sumber lain di sekitar kawasan.
Program yang mulai berjalan pada April–Mei 2026 ini turut melibatkan warga secara aktif. Zulfiadi menyebut adanya gotong royong warga, karang taruna, serta kelompok yang secara informal disebut ABK atau Anak Buah Kandang, yang membantu pemberian pakan dan pengelolaan harian instalasi.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa wilayah tersebut sudah bergerak menuju zero waste karena sampah organik yang tersedia dapat terserap dengan baik oleh sistem pengolahan.
“Inovasi berasal dari dosen-dosen itu sendiri. Kami dari DPMK mendanai dan mengorganisasikan pengabdian masyarakat di ITB. Salah satu fokus tahun ini adalah sampah,” ujarnya.
Program yang merupakan bagian dari skema Bottom Up 1 DPMK ITB ini dijalankan Dr. Linus Ampang Pasasa. Dia menyampaikan bahwa sampah menjadi masalah serius yang harus segera diselesaikan.
DPMK ITB juga tengah mengelola pengembangan program serupa di sejumlah wilayah lain, termasuk Kelurahan Tamansari di Kecamatan Bandung Wetan, kawasan sekitar Sabuga, Cihapit, dan Citarum.
Linus menjelaskan, gagasan kegiatan ini berangkat dari keprihatinan terhadap persoalan sampah di Kota Bandung. Menurutnya, penyelesaian persoalan sampah harus dimulai dari hulu, terutama pada tingkat rumah tangga.
“Kita melihat masalah sampah di Bandung dan merasa prihatin. Karena itu, kami mencoba mengatasi masalah ini dari hulu, yaitu dari tingkat rumah tangga,” ujarnya.
Salah satu inti dari program ini adalah pemanfaatan maggot BSF. Maggot dinilai efektif karena mampu mengurai sampah organik secara cepat. Selain itu, maggot yang telah tumbuh dapat dimanfaatkan kembali sebagai pakan ayam dan ikan.
Kolaborasi lintas keilmuan tersebut menjadi salah satu keunggulan dalam mengembangkan model pengelolaan sampah yang tidak hanya teknis, tetapi juga memiliki nilai sosial dan ekonomi.
Linus berharap, ke depan produksi maggot yang sudah cukup besar dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi pelet pakan ikan atau ayam.
Dengan demikian, maggot tidak hanya dimanfaatkan langsung sebagai pakan, tetapi juga dapat diolah menjadi produk pakan yang lebih praktis dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
“Kalau sumber daya maggot sudah cukup banyak, kita bisa mengembangkannya menjadi pelet seperti pelet pabrikan. Bank Sampah dapat fokus mengelola sampah anorganik, sementara sampah organik dapat disuplai ke sini untuk diolah menjadi barang bernilai lebih,” ujarnya.
Ketua RW 02 Pasirlayung, Rahayu Wijayanti, menyampaikan bahwa pengelolaan sampah organik di wilayahnya telah dirintis melalui penyediaan drum komposter di setiap RT.
Pada tahun 2026, Pemerintah Kota Bandung menghadirkan program GASLAH atau Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah.
Melalui program tersebut, setiap RT memiliki satu orang petugas yang disiapkan untuk membantu mengolah sampah organik. Kompos yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan untuk memupuk sayuran di kawasan urban farming warga.
Rahayu mengatakan, kolaborasi dengan Dr. Linus kembali dilakukan karena sebelumnya ia telah membantu penyediaan drum komposter. Dari kolaborasi tersebut, pengolahan sampah organik kemudian berkembang melalui budidaya maggot dan ayam petelur, hingga akhirnya dipusatkan di Bersemi Farm.
“Pada akhir April, tempat ini diresmikan sebagai Buruan Sae atau urban farming. Saya sangat berterima kasih kepada Pak Linus sebagai pegiat lingkungan yang begitu banyak membantu pengolahan sampah organik di lingkungan kami,” ujarnya.
Ia berharap program ini dapat terus berjalan dan menjadi solusi berkelanjutan bagi warga RW 02 Pasirlayung. Menurutnya, keberadaan Bersemi Farm tidak hanya membantu mengurangi sampah organik, tetapi juga memperkuat kebersamaan warga dalam menjaga lingkungan.
Melalui kegiatan “Dari Sampah Menjadi Gizi”, ITB terus berupaya turut terlibat dalam penyelesaian persoalan sampah dan berkolaborasi dengan warga.
Dengan memadukan teknologi sederhana, kolaborasi warga, pendekatan multidisiplin, dan prinsip ekonomi sirkular, sampah organik dapat diubah menjadi sumber daya yang mendukung lingkungan bersih, ketahanan pangan lokal, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat.

Leave a Reply