Blog

  • Kritik terhadap Pengelolaan Sampah yang Hanya Menyasar di Hilir

    Kritik terhadap Pengelolaan Sampah yang Hanya Menyasar di Hilir

    7cloud.asia – Sejumlah kejadian kebakaran Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di kota besar menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah saat ini tidak hanya gagal, tetapi juga membahayakan keselamatan warga.

    Pengelolaan sampah dengan membuang sampah ke TPA telah berubah menjadi sumber krisis baru, baik dari sisi kesehatan, kualitas udara, maupun risiko bencana yang terus meningkat.

    Pengkampanye Urban Berkeadilan WALHI, Wahyu Eka Styawan mengatakan, krisis ini berakar dari kegagalan pemerintah dalam menjalankan amanat pengurangan sampah dari sumber dan mendorong tanggung jawab produsen.

    Alih-alih membatasi produksi sampah, terutama plastik sekali pakai, pemerintah justru terus mempromosikan pendekatan di hilir yang tidak menyelesaikan persoalan.

    Berbagai teknologi modern seperti Waste to Energy (WtE), Refuse Derived Fuel (RDF), hingga pirolisis dipromosikan sebagai solusi cepat mengatasi krisis sampah. Namun, menurut Wahyu ini tidak menyentuh akar masalah.

    “Kami tegaskan, bahwa pendekatan ini tidak mengurangi timbulan sampah, melainkan justru mempertahankan bahkan meningkatkan produksi sampah sebagai bahan bakar,“ ujar Wahyu dalam pernyataan tertulis yang dirilis di laman resmi walhi.or.id

    Baca: Industri FMCG Diminta Serius Kurangi Sampah Plastik

    Di sisi lain, krisis air bersih juga semakin meluas. BNPB mencatat lebih dari 4,87 juta jiwa terdampak kekeringan di berbagai wilayah.

    Penurunan debit air baku di sejumlah daerah telah mengganggu layanan air minum, dan berpotensi memburuk seiring prediksi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terkait El Niño 2026 yang dapat memperparah kekeringan urban serta meningkatkan konsentrasi pencemaran di sumber-sumber air.

    Pada konteks ini pemerintah sering membiarkan alih fungsi lahan, ekstraksi air tanah berlebihan dan pencemaran sungai tanpa langkah penegakkan hukum dan pemulihan,

    Selain itu, bencana yang semakin masif di kawasan urban seperti Jakarta, Semarang, Surabaya hingga Palembang, merupakan bukti krisis.

    Apalagi ekstraksi air tanah semakin masif, pencemaran semakin tak terbendung dan krisis ke depan adalah kita akan tertumpuk sampah dan kekurangan air bersih.

    WALHI menekankan bahwa solusi sejati dari semua masalah lingkungan ini harus dimulai dari perubahan sistemik di hulu.

    Baca: Teknologi Hidrotermal untuk Mengolah Sampah Organik yang Dihasilkan Pasar Tradisional

    Yakni dengan menghentikan alih fungsi lahan, membatasi ekstraksi air tanah berlebihan, mengurangi produksi sampah sejak awal, serta memastikan tanggung jawab produsen atas seluruh siklus hidup produknya.

    Tanpa langkah ini, proyek pengolahan sampah dan penyediaan air hanya akan menjadi solusi tambal sulam yang mahal dan berisiko.

    Pencemaran sungai yang dibiarkan tanpa penegakan hukum dan pemulihan ekosistem telah merusak sumber air, melanggar hak masyarakat atas lingkungan sehat, dan memperparah krisis air bersih.

    Di tengah ancaman krisis iklim dan kekeringan, pemerintah harus memprioritaskan pengurangan sampah dari sumber, mewajibkan tanggung jawab produsen, penghentian open dumping, perlindungan wilayah resapan, pembatasan pengambilan air tanah.

    Pemerintah juga diminta menegakkan hukum lingkungan yang tegas untuk mencegah pencemaran dan bencana berulang.

  • Inggris dan Prancis Jadi Tuan Rumah Konferensi Membahas Keamanan Selat Hormuz

    Inggris dan Prancis Jadi Tuan Rumah Konferensi Membahas Keamanan Selat Hormuz

    7cloud.asia – Inggris dan Prancis menjadi tuan rumah pertemuan para menteri pertahanan dari koalisi lebih dari 40 negara terkait Selat Hormuz.

    Pertemuan yang berlangsung pada Selasa (12/5/2026) tersebut dipimpin oleh Menteri Pertahanan Inggris John Healey dan Menteri Pertahanan Prancis Catherine Vautrin.

    Lebih dari 40 negara diperkirakan akan bergabung dalam konferensi tingkat tinggi pertama yang berfokus pada upaya keamanan maritim terkoordinasi di Selat Hormuz.

    Pembicaraan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran internasional setelah konflik AS-Iran mengganggu rute pelayaran melalui jalur utama untuk pasokan energi dan pupuk global itu.

    Baca: Perundingan Damai Iran-AS Jalan di Tempat

    Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi mengatakan dirinya akan ikut berpartisipasi dalam pertemuan daring mengenai situasi di Selat Hormuz yang diselenggarakan Inggris dan Prancis pada Selasa.

    “Hari ini, pukul 23.00 (21.00 WIB), saya akan mengikuti pertemuan daring mengenai Selat Hormuz, yang diselenggarakan oleh Inggris dan Prancis,” kata Koizumi dalam pertemuan komite pertahanan majelis rendah parlemen.

    Korea Selatan juga akan berpartisipasi dalam pertemuan multinasional tingkat menteri pertahanan tentang keamanan di Selat Hormuz.

    Baca: Iran Ajukan Syarat Akhiri Perang, yakni Cabut Sanksi terhadap Iran dan Buka Selat Hormuz

    Direktur Jenderal Perencanaan Kebijakan Kementerian Pertahanan Korsel Mayjen Angkatan Darat Woo Kyung-suk akan menghadiri pertemuan virtual ini, demikian laporan Kantor Berita Yonhap.

    Ketegangan meliputi Selat Hormuz, pasca serangan sepihak yang dilancarkan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Serangan ini dibalas Iran yang kemudian menutup Selat Hormuz.

    Meski telah sepakat untuk melakukan gencatan senjata, ketegangan tetap meliputi Selat Hormuz. Apalagi, militer AS hingga kini masih memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.

    Sumber: Antaranews.com/Anadolu-Sputnik-RIA Novosti

  • Komnas Perempuan: 4 Tahun UU TPKS, Pengaduan Kasus Kekerasan Seksual Melonjak Lebih Tiga Kali Lipat

    Komnas Perempuan: 4 Tahun UU TPKS, Pengaduan Kasus Kekerasan Seksual Melonjak Lebih Tiga Kali Lipat

    7cloud.asia – Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat, 4 tahun setelah pengesahan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) terjadi lonjakan kasus kekerasan seksual

    Komnas Perempuan mencatat, pada 2025 kasus kekeraan seksual mencapai 22.848 perkara atau melonjak lebih dari tiga kali lipat dibanding tahun 2022, saat UU TPKS disahkan.

    “Berdasarkan Catatan Tahunan Komnas Perempuan, jumlah kasus kekerasan seksual pada tahun 2022 tercatat sebanyak 6.315 kasus, kemudian terus melonjak tajam lebih dari 360 persen, mencapai 22.848 kasus pada 2025,” kata Wakil Ketua Komnas Perempuan Dahlia Madanih di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

    Menurut dia, peningkatan laporan tersebut mencerminkan kesadaran yang meningkat, tetapi juga jadi alarm serius.

    Baca: Aturan Turunan UU TPKS Belum Lengkap, Korban Kekerasan Seksual Sangat Dirugikan

    Bahwa sembilan bidang pencegahan yang menjadi mandat undang-undang TPKS masih cenderung diabaikan oleh para pemangku kepentingan.

    “Kasus kekerasan seksual yang terus berulang dan viral di publik menandakan bahwa upaya pencegahan di bidang pendidikan maupun sarana publik masih sangat minim,” ujar Dahlia Madanih.

    Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komnas Perempuan Rr Sri Agustini berharap empat tahun pelaksanaan UU TPKS menjadi momentum penting untuk merefleksikan pelaksanaan tanggung jawab negara dalam mencegah kasus kekerasan seksual.

    Pun demikian dengan tanggung jawab negara dalam memberikan perlindungan, penanganan dan pemulihan bagi korban kekerasan seksual.

    Baca: Pemerintah Tak Kunjung Rilis Aturan Turunan UU TPKS

    “Kehadiran UU TPKS juga memperluas pengakuan negara terhadap berbagai bentuk kekerasan seksual sekaligus memperkuat hak korban atas perlindungan, penanganan, restitusi dan pemulihan,” kata Agustini.

    Komnas Perempuan pun mendorong percepatan harmonisasi regulasi turunan UU TPKS yang hingga kini belum lengkap.

    Seiring dengan itu harus dilakukan peningkatan kapasitas aparat penegak hukum, memperkuat dukungan anggaran dan infrastruktur layanan bagi korban, serta penguatan fungsi UPTD PPA sebagai garda terdepan layanan korban di daerah.

    UU TPKS diundangkan pada 9 Mei 2022, memandatkan agar pemerintah membuat aturan turunan dengan tenggat waktu 2 tahun sejak UU TPKS tersebut diundangkan.

  • Penertiban Parkir Ilegal di Blok M Square, Jakarta Selatan

    Penertiban Parkir Ilegal di Blok M Square, Jakarta Selatan

    7cloud.asia – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mendukung penuh upaya penertiban lahan parkir yang diduga beroperasi secara ilegal di kawasan Blok M Square, Jakarta Selatan.

    Wakil Koordinator Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Yustinus Prastowo menyampaikan, saat ini koordinasi lintas internal tengah dilakukan untuk mendalami status perizinan dan pemungutan pajak lahan parkir tersebut.

    “Maka apa yang kami lakukan, kemarin kami langsung berkoordinasi di internal. Sekarang Dishub dan Bapenda sedang melakukan pendalaman,” ujar Prastowo, di Balai Kota DKI Jakarta, Selasa (12/5/2026).

    Prastowo juga menyebut sejumlah instansi lain seperti Dinas Perhubungan dan Satpol PP juga turun ke lapangan untuk menertibkan parkir liar ini.

    Dilansir beritajakarta.id, Prastowo menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta tidak akan menoleransi aktivitas parkir ilegal di wilayahnya.

    Baca: Pemprov DKI Jakarta Diminta Menggali Potensi Parkir

    Karena itu, Pemprov DKI akan melakukan penertiban, menyediakan lahan parkir yang layak, dan memperbaiki sistem digitalisasi.

    “Di sisi lain juga memberikan jalan keluar bagaimana kantong-kantong parkir bisa disediakan dengan baik, dengan proper, perbaikan sistem, digitalisasi dan sebagainya, itu yang menjadi concern dan arahan dari pimpinan,” jelasnya.

    Prastowo juga memastikan hasil dari pendalaman dugaan lahan parkir ilegal tersebut akan disampaikan secara transparan kepada masyarakat.

    “Jadi ini yang sedang kita dalami, apakah dipastikan tidak ada izin atau sedang berproses, itu yang sedang kita dalami bersama-sama. Nanti akan kita berikan update dan kita pastikan semua transparan,” tandas Prastowo.

    Sebelumnya, Panitia Khusus (Pansus) Tata Kelola Perparkiran DPRD DKI Jakarta terkait dugaan potensi kebocoran pendapatan parkir di kawasan Blok M Square, Jakarta Selatan.

    Saat ini Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola kemitraan yang berjalan, baik dengan pengelola kawasan maupun operator parkir yang bertugas di lokasi tersebut.

    Baca: Sudinhub Jaksel Tindak Tegas Parkir Liar di Kawasan Blok M

    Evaluasi dilakukan sebagai bagian dari upaya peningkatan pelayanan sekaligus optimalisasi pendapatan daerah dari sektor parkir.

    Hasil evaluasi tersebut nantinya dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), khususnya dari sektor retribusi dan pajak parkir.

    UP Perparkiran juga memperketat persyaratan dalam proses seleksi operator parkir. Salah satu syarat utama yakni kemampuan operator dalam menerapkan sistem teknologi informasi perparkiran yang terintegrasi secara digital.

    Menurut Kepala UP Perparkiran Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Massdes Arouffy, sistem tersebut memungkinkan pelaporan pendapatan retribusi parkir maupun pajak parkir dilakukan secara real time.

    Laporan ini melalui program Digitalisasi Perparkiran menggunakan Aplikasi Monitoring Pendapatan Parkir Online dan sistem digitalisasi pajak parkir e-Trapt.

    “Penerapan sistem digital menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan transparansi pengelolaan parkir sekaligus meminimalkan potensi kebocoran pendapatan daerah,” tandasnya.

  • Mengenal Jamur Lebih Dekat: Tumbuhan yang Bermanfaat Tetapi Terabaikan

    Mengenal Jamur Lebih Dekat: Tumbuhan yang Bermanfaat Tetapi Terabaikan

    7cloud.asia – Ketika berbicara tentang alam, kita cenderung fokus pada flora dan fauna, yakni tumbuhan dan hewan. Tetapi ada kerajaan kehidupan ketiga yang sering dilupakan banyak orang: jamur atau fungi.

    Jamur sangat penting bagi kesehatan ekosistem kita, memiliki makna budaya bagi banyak komunitas, dan menawarkan potensi untuk mengatasi krisis lingkungan seperti perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi.

    Namun, dalam tulisannya di Earth.org, Jaida Faith pengamat jamur dari Colorado University, menyebutkan bahwa jamur hanya mewakili 2 persen dari prioritas konservasi global.

    Jamur, tulisnya, hampir tidak termasuk dalam percakapan tentang perlindungan lingkungan.

    Yayasan Jamur, yang didirikan oleh ahli mikologi Giuliana Furci, berupaya mengumpulkan dukungan agar jamur diakui sebagai kerajaan kehidupan independen dalam legislasi, kebijakan, dan perjanjian internasional.

    Baca: Perubahan Iklim Bikin Jamur Semakin Ganas

    Agenda ini akan dibawa ke Konferensi Para Pihak Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) – COP17 – yang akan datang pada musim gugur ini.

    Mengapa Kita Harus Peduli dengan Jamur?
    Jamur – yang hanya 10 persen di antaranya telah ditemukan – hidup dalam ketergantungan dengan flora dan fauna. Hampir 90 persen dari semua spesies tumbuhan yang dikenal membentuk hubungan simbiosis dengan jamur.

    Melalui jaringan mikoriza bawah tanah, pohon-pohon bertukar nutrisi seperti karbon, air, dan gula – dan mentransfer sekitar 13 miliar metrik ton CO2 ke jamur setiap tahunnya

    Angka ini setara dengan sekitar 36 persen dari seluruh emisi bahan bakar fosil global tahunan.

    Bioremediasi jamur, penggunaan jamur seperti Pleurotus ostreatus untuk mendekontaminasi ekosistem, menawarkan solusi untuk membersihkan tumpahan minyak dan polusi plastik.

    Baca: Ilmuwan AS Gunakan Tanaman dan Jamur untuk Membersihkan Polusi Tanah

    Jadi Jaida menekankan, memastikan konservasi jamur dapat mendukung perlindungan alam secara keseluruhan.

    Jamur juga memainkan peran mendasar dalam budaya dan pengetahuan banyak komunitas adat, mencerminkan hubungan ekologis dan spiritual yang mendalam yang telah bertahan selama berabad-abad.

    Digunakan sebagai makanan, penyedap rasa, dan obat-obatan di seluruh dunia, jamur telah mendukung perkembangan peradaban manusia. Di hutan hujan Amazon, wanita Yanomami menggunakan rizomorf dari Marasmius yanomami untuk membuat keranjang.

    Genus Fomitopsis dari jamur conk telah digunakan dalam berbagai budaya untuk mengasah alat, sebagai tekstil pakaian, dan untuk menghentikan pendarahan.

    Di Hawaii, Auricularia cornea, yang secara lokal dikenal sebagai Pepeiao, dikumpulkan, dikeringkan, dan dikonsumsi sebagai makanan. Bagi banyak komunitas adat, jamur selalu memainkan peran penting.

    Baca: Peneliti BRIN Temukan Spesies Baru Jamur Morel dari Gunung Rinjani

    Tanpa jamur, manusia tidak akan pernah mengenal roti, keju, atau cokelat. Fermentasi dari jamur bersel tunggal, ragi, merupakan kunci untuk minuman seperti bir, anggur, dan kombucha.

    Jamur obat telah menunjukkan potensi dalam mendukung kondisi kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma.

    Hericium erinaceus mendukung neuroplastisitas dan pembentukan jalur saraf baru, meningkatkan memori dan kognisi.

    Budidaya jamur saja bernilai miliaran dolar setiap tahunnya, dan secara lebih luas, jamur menyumbang 55 triliun dolar bagi perekonomian global.

    Sama seperti spesies flora dan fauna, jamur juga terancam oleh hilangnya habitat dan deforestasi, yang dipercepat oleh dampak perubahan iklim yang sedang berlangsung.

    Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, baca artikel asli di sini.

     

  • Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    Jangan Salah! Ini Perbedaan Pes, Leptospirosis dan Hantavirus yang Sama-Sama Ditularkan Tikus

    7cloud.asia – Penyakit yang ditularkan tikus kini menjadi perhatian publik seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap hantavirus. Selain hantavirus, ada dua penyakit lain yang juga berbahaya dan kerap menyerang manusia melalui paparan tikus, yaitu pes dan leptospirosis.

    Ketiga penyakit ini sama-sama berasal dari hewan pengerat, tetapi memiliki penyebab, gejala, hingga tingkat fatalitas yang berbeda. Berikut perbedaan ketiganya.

    1. Penyakit pes

    Pes atau plague merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang hidup pada hewan pengerat, termasuk tikus.

    Dalam sejarah dunia, pes pernah menjadi wabah besar yang menewaskan jutaan orang di Eropa pada pertengahan abad pertengahan.

    Kasus pes lebih banyak ditemukan di daerah pedesaan, kawasan perkebunan, atau wilayah dekat hutan yang menjadi habitat tikus liar.

    Baca: Hantavirus Mengancam, Gejala Mirip Flu Biasa

    Gejala penyakit ini biasanya muncul dalam waktu 2 hingga 6 hari setelah terinfeksi. Penderitanya mengalami demam tinggi, sakit kepala, menggigil, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

    Meski dapat diobati dengan antibiotik, keterlambatan penanganan bisa memicu komplikasi serius seperti sepsis atau keracunan darah.

    Kondisi tersebut dapat menyebabkan perdarahan hebat pada organ vital hingga berujung kematian.

    1. Leptospirosis

    Selain pes, penyakit lain yang juga sering ditularkan tikus adalah leptospirosis. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang bersarang di tubuh tikus.

    Penularan terjadi melalui makanan, minuman, tanah, atau air yang telah terkontaminasi urine tikus. Risiko penularan meningkat saat banjir atau lingkungan yang sanitasi buruk.

    Baca: Angka Kematian Akibat Leptospirosis Meningkat

    Gejala leptospirosis kerap menyerupai flu berat, seperti demam, sakit kepala, muntah, diare, dan nyeri tubuh. Karena gejalanya mirip penyakit ringan, banyak penderita terlambat menyadari infeksi tersebut.

    Padahal, jika tidak segera ditangani, leptospirosis dapat menyebabkan komplikasi serius pada ginjal, hati, hingga gangguan pernapasan. Antibiotik dapat membantu penyembuhan, terutama bila diberikan pada fase awal infeksi.

    1. Hantavirus

    Hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui tikus dan mencit yang membawa virus dalam air liur, urine, atau kotorannya.

    Di Indonesia, infeksi hantavirus diketahui dapat menyebabkan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yakni sindrom demam berdarah yang disertai gangguan fungsi ginjal.

    Reservoir utama hantavirus di Indonesia antara lain tikus got (Rattus norvegicus), mencit rumah, dan tikus ladang. Virus hidup secara persisten di tubuh hewan tersebut tanpa menimbulkan gejala.

    Penularan ke manusia terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus dari urine, air liur, atau kotoran tikus yang telah mengering dan bercampur dengan debu di udara. Virus juga dapat masuk melalui luka terbuka atau kontak langsung dengan ekskresi tikus.

    Baca: Hantavirus Masuk Indonesia, Tiga Orang Meninggal

    Infeksi hantavirus terbagi dalam dua sindrom utama:

    1. HFRS (Ginjal & Demam Berdarah)
    • Inkubasi: 1–2 minggu (dapat sampai 8 minggu).
    • Gejala awal: demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan kulit kuning (jaundice) .
    • Gejala lanjut: gangguan fungsi ginjal seperti penurunan produksi urin dan tekanan darah rendah.
    1. HPS (Paru-paru/Cariopulmonal)
    • Lebih umum di Amerika, namun gejala mirip flu: demam, nyeri otot, mual, muntah, diare.
    • Pada 4–10 hari berikutnya, muncul batuk, sesak napas, dan cairan di paru hingga gagal napas.

    Tingkat kematian

    • HPS: sekitar 38 persen.
    • HFRS (Hantaan virus): tingkat fatalitas sampai 6 persen.

     

     

  • Cuaca Hari Ini: Waspada! Hujan Sangat Lebat Bepotensi Guyur Beberapa Wilayah

    Cuaca Hari Ini: Waspada! Hujan Sangat Lebat Bepotensi Guyur Beberapa Wilayah

    7cloud.asia – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur beberapa wilayah pada Kamis (14/05/2026).

    Dalam laman resmi BMKG, hujan berintensitas lebat hingga sangat lebat berpotensi mengguyur wilayah Sumatera Utara, Kepulauan Bangka Belitung, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Maluku.

    Sementara hujan berintensitas sedang hingga lebat berpotensi mengguyur wilayah Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat.

    Kondisi cuaca seperti ini berpotensi pula mengguyur wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara.

    Wilayah Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan juga berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.

    Untuk wilayah Jakarta, cuaca umumnya cerah berawan dari pagi hingga malam hari. Namun, masih ada peluang hujan dengan intensitas ringan pada siang dan malam hari.

  • Ketika Oposisi Melemah Ruang Sipil Menyempit: Kualitas Demokrasi Ikut Terancam

    Ketika Oposisi Melemah Ruang Sipil Menyempit: Kualitas Demokrasi Ikut Terancam

     

    7cloud.asia – Perkembangan politik Indonesia kembali memunculkan kekhawatiran tentang kualitas demokrasi. Sejumlah peristiwa—mulai dari intimidasi terhadap aktivis pro-demokrasi hingga pelaporan hukum terhadap pihak yang menyampaikan kritik—menandai gejala menyempitnya ruang sipil.

    Namun, penyempitan ruang sipil ini tidak berdiri sendiri. Ia berjalan beriringan dengan melemahnya oposisi politik. Padahal, dalam sistem demokrasi, oposisi berfungsi sebagai penyeimbang kekuasaan, pengawas kebijakan pemerintah, sekaligus saluran alternatif aspirasi publik.

    Ketika oposisi melemah, mekanisme checks and balances ikut tergerus. Artinya, kemunduran demokrasi menjadi keniscayaan.

    Oposisi penting bagi demokrasi

    Dalam demokrasi, opisisi bukan sekadar “lawan politik” pemerintah. Keberadaan oposisi diperlukan agar kebijakan publik tetap diawasi dan kekuasaan tidak terkonsentrasi pada satu kelompok saja.

    Karena itu, kualitas demokrasi biasanya berkaitan erat dengan kuat lemahnya oposisi dan terbukanya ruang sipil. Ketika kedua elemen ini melemah secara bersamaan, kualitas demokrasi cenderung menurun.

    Gejala tersebut terlihat dalam politik Indonesia beberapa tahun terakhir. Pasca-Pemilu 2019, sebagian besar partai politik bergabung ke dalam pemerintahan. Koalisi besar membuat garis pembeda antara pemerintah dan oposisi semakin kabur.

    Di parlemen, kritik terhadap kebijakan pemerintah menjadi relatif terbatas karena mayoritas kekuatan politik berada dalam kubu yang sama. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat sipil sering kali menjadi salah satu kekuatan utama yang menjalankan fungsi kontrol terhadap kekuasaan.

    Namun secara bersamaan, ruang ekspresi kritis di masyarakat sipil juga menghadapi tekanan. Kritik publik kerap dibalas dengan serangan personal, delegitimasi media sosial, hingga ancaman pelaporan hukum.

    Sejumlah akademisi, aktivis, jurnalis, maupun pengamat juga menghadapi tekanan ketika menyampaikan pandangan yang dianggap berseberangan dengan kepentingan politik tertentu. 

    Sejarah menunjukkan polanya

    Sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa melemahnya oposisi dan penyempitan ruang sipil kerap berjalan beriringan.

    Pada era Demokrasi Parlementer 1950-an, hubungan antara pemerintah dan oposisi berlangsung relatif cair, dan oposisi memainkan peran yang relatif kuat. Dua partai utama, Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Masyumi, berada pada kubu politik yang berbeda dan saling mengawasi.

    Memang, kabinet pada masa itu sering jatuh bangun sehingga pemerintahan kurang stabil. Namun, ruang perdebatan politik tetap terbuka dan mekanisme kontrol terhadap kekuasaan masih berjalan.

    Situasi berubah setelah Dekrit Presiden 1959 yang melahirkan Demokrasi Terpimpin. Pada periode tersebut, oposisi politik secara bertahap disingkirkan dan ruang kritik semakin dibatasi.

    Kondisi serupa kembali terjadi pada era Orde Baru. Rezim Suharto membangun sistem politik yang sangat terkonsentrasi melalui pengendalian partai politik, rekayasa pemilu, serta pembatasan kebebasan sipil.

    Sejumlah surat kabar yang kritis terhadap pemerintah diberedel pada tahun 1994 dan puluhan tokoh, termasuk Sutan Sjahrir, Mochtar Lubis, dan Hamka, dipenjarakan tanpa alasan jelas. Ini menjadi contoh nyata bagaimana negara menekan kekuatan oposisi dan suara kritis masyarakat.

    Meski demikian, sejarah mencatat bahwa oposisi dan masyarakat sipil tidak pernah sepenuhnya hilang.

    Gerakan mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, media independen, hingga kelompok prodemokrasi terus muncul dan menjadi bagian penting dalam mendorong Reformasi 1998. 

    Tantangan demokrasi hari ini

    Era Reformasi membuka ruang demokrasi yang jauh lebih luas melalui pemilu yang lebih kompetitif, kebebasan pers dan menguatnya masyarakat sipil.

    Namun, sejak pertengahan 2000-an, demokrasi Indonesia menghadapi tantangan baru berupa pragmatisme politik dan menguatnya politik kartel.

    Partai-partai cenderung merapat ke pemerintah demi akses terhadap kekuasaan dan sumber daya politik. Akibatnya, oposisi menjadi semakin kecil dan kurang efektif menjalankan fungsi pemerintahan.

    Dalam situasi seperti ini, penyempitan ruang sipil jadi makin serius. Sebab, ketika oposisi melemah dan masyarakat sipil menghadapi tekanan secara bersamaan, demokrasi berisiko berubah menjadi sekadar prosedur elektoral tanpa pengawasan yang kuat.

    Pengalaman sejarah Indonesia menunjukkan bahwa kemunduran demokrasi tidak selalu dimulai dari penghapusan pemilu atau pembubaran lembaga politik secara drastis. Situasi ini bisa juga terjadi karena adanya penyempitan ruang publik dan melemahnya oposisi.

    Karena itu, menjaga demokrasi tidak cukup hanya dengan memastikan pemilu tetap berlangsung. Demokrasi juga membutuhkan oposisi yang sehat, ruang sipil yang aman, serta kebebasan warga untuk menyampaikan kritik tanpa rasa takut.

     


    Israr, Dosen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, Universitas Andalas

    Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

  • Jakarta Mendorong Pembuatan Biopori: Mengolah Sampah Organik Sembari Menjaring Air Hujan

    Jakarta Mendorong Pembuatan Biopori: Mengolah Sampah Organik Sembari Menjaring Air Hujan

    7cloud.asia – Beberapa waktu belakangan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggalakkan pembuatan biopori dan memilah sampah di lima wilayah administrasinya.

    Gerakan ini menandai perubahan paradigma Jakarta: dari sekadar membuang sampah, menjadi mengelola sampah sebagai sumber daya bernilai

    Digalakkannya pembuatan biopori dan memilah sampah ini dilakukan menyusul rencana pembatasan jenis sampah yang diterima di TPST Bantargebang mulai Agustus mendatang.

    Pembuatan biopori diharapkan tidak hanya menampung sampah organik dan mengubahnya menjadi kompos, tetapi sekaligus menjadi media konservasi air di Jakarta.

    Baca: Pengelolaan Sampah Jangan Hanya Menyasar di Hilir, Sumber Sampah Harus Dibatasi

    Mungkin Anda bertanya, apa itu biopori? Biopori adalah lubang silindris vertikal ke dalam tanah berdiameter 10-30 centimeter (cm) dan kedalaman 50 hingga 150 cm yang menjadi tempat pengolahan sampah organik.

    Teknologi tepat guna ini diperkenalkan oleh peneliti dan dosen dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Kamir Raziudin Brata.

    Kamri menciptakan metode biopori ini sebagai solusi ekologis untuk mengatasi banjir, kekeringan, dan masalah yang ditimbulkan sampah organik di kota-kota besar.

    Biopori cocok diterapkan di kawasan padat bangunan. Ukurannya yang tidak terlalu besar, yakni hanya diameter 30 centimeter membuatnya tidak terlalu makan tempat.

    Namun demikian biopori sangat efektif untuk mengatasi masalah sampah. Biopori dengan diameter 30 centimeter dan kedalaman 1-1,5 meter dapat menampung 7,8 liter sampah organik.

    Baca: Pemkot Jakarta Selatan Andalkan Biopori Jumbo dan Teba Modern untuk Pengelolaan Sampah Organik

    Sampah organik dapat menjadi kompos di dalam biopori setelah 15-30 hari kemudian. Kompos yang sudah jadi dapat diambil dengan alat bor atau bantuan sendok semen.

    Untuk pengomposan secara kelompok atau komunal, dapat dilakukan dengan mencampurkan daun kering, daun segar, dan pupuk kandang atau kompos atau tanah subur dengan perbandingan 1:1:1 secara merata kemudian dibasahi dengan air.

    Setelah tercampur, campuran tersebut dapat dimasukkan ke dalam bak kompos. Setelah 2-3 bulan, kompos dapat dipanen.

    Selain sebagai komposter, biopori berfungsi meningkatkan daya resap air untuk mencegah banjir dan mengatasi genangan air sehingga secara tidak langsung mendukung konservasi air.

    Biopori membantu menyeimbangkan kandungan air dalam tanah dan mencegah kekeringan. Biopori dapat dibuat di lahan fasos fasum dan juga areal rumah warga.

  • Dari Tragedi Mei 1998 ke Kampus Hari Ini, Kekerasan Seksual Masih Berulang.

    Dari Tragedi Mei 1998 ke Kampus Hari Ini, Kekerasan Seksual Masih Berulang.

    7cloud.asia – Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan disebut semakin mengkhawatirkan. Dalam kurun dua tahun terakhir, angka kekerasan di sekolah hingga perguruan tinggi terus meningkat dan mayoritas didominasi kekerasan seksual.

    Sorotan itu mengemuka dalam rangkaian kegiatan “MeiLawan Merawat Ingatan” yang digelar Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya bersama KBUI (Keluarga Besar Universitas Indonesia) dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia di Kampus UI Depok, 11–13 Mei 2026.

    Anggota Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka, mengungkapkan pada 2024 tercatat 573 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan.

    Baca: PTUN Tolak Gugata Soal Penyangkalan Perkosaan Massal Mei 98, Koalisi Sebut Alarm Hilangnya Kepercayaan Publik

    Angka itu meningkat menjadi 641 kasus pada 2025, dengan 370 kasus atau 57,65 persen di antaranya merupakan kekerasan seksual.

    Bahkan pada awal 2026, kata Rieke, sebanyak 91 persen kasus kekerasan di institusi pendidikan didominasi kekerasan seksual, termasuk di perguruan tinggi.

    “Berdasarkan anatomi dan spektrum bentuk kekerasannya ada seksual, fisik, psikis, verbal, perundungan, ekonomi, diskriminasi, eksploitasi berbasis relasi kuasa, berbasis elektronik atau digital. Kekerasan artinya sudah menembus seluruh jenjang dan wujud pendidikan, mengindikasikan kegagalan perlindungan bersifat universal,” jelas Rieke.

    Menurut mantan aktivis mahasiswa UI ini, maraknya kekerasan di dunia pendidikan dipicu penyalahgunaan relasi kuasa lintas jenjang.

    Penanganan yang selama ini dilakukan dinilai masih sektoral, tanpa standar nasional dan belum memiliki tata kelola perlindungan yang terintegrasi.

    Baca: Aktivis Perempuan, Ita F. Nadia Diteror

    Karena itu, Rieke mendesak Prabowo Subianto segera menerbitkan Peraturan Presiden tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lembaga Pendidikan.

    “Perpres ini bukan sekadar regulasi administratif, ini adalah pelindung strategis nasional bagi keselamatan dan masa depan generasi bangsa dan dunia pendidikan Indonesia,” tegasnya.

    Sementara itu, Ketua Iluni UI Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Visna Vulovik, mengatakan kekerasan seksual terhadap perempuan yang terjadi pada Tragedi Mei 1998 hingga kini masih terus berulang, termasuk di lingkungan pendidikan.

    “Kekerasan seksual yang menimpa perempuan sayangnya masih terus berulang sejak peristiwa Tragedi Mei 1998. Hal ini terjadi bahkan di lingkungan terdekat kita, seperti institusi pendidikan,” kata Visna.

    Baca: Fadli Zon Sebut Perkosaan Massal Mei 98 Hanya Rumor

    Ia menilai mahasiswa dan generasi muda memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kritis terhadap kekerasan berbasis gender, diskriminasi, dan marginalisasi yang masih terjadi hingga saat ini.

    Melalui kegiatan MeiLawan, ILUNI UI FIB dan KBUI mengajak mahasiswa, alumni, dan masyarakat untuk berani bersuara melawan kekerasan seksual dan mendorong penegakan hukum terhadap pelaku.

    Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Untung Yuwono, mengatakan kampus memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan ruang aman dan menjaga kesadaran kolektif terhadap berbagai bentuk ketidakadilan.

    “Perjuangan menghadirkan keadilan gender, perlindungan terhadap korban, dan penghormatan terhadap martabat manusia adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

    Baca: Fadli Zon Dituntut Tarik Pernyataan dan Minta Maaf Soal Pernyataannya Sebut Rumor Perkosaan Massal Mei 98

    Kegiatan MeiLawan sendiri digelar untuk merawat ingatan atas Tragedi Mei 1998, termasuk kasus kekerasan seksual terhadap perempuan yang tercatat dalam laporan resmi Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).

    Selain kuliah umum, Iluni FIB UI dan KBUI juga menggelar pemutaran film dokumenter, live mural, pameran instalasi, hingga aksi menyalakan lilin dan tabur bunga.

    Kuliah umum bertajuk “Belajar dari Luka Bangsa: Kekerasan Seksual di Era Reformasi dan Kebangkitan Generasi Muda” turut menghadirkan sejumlah narasumber.

    Di antaranya Ketua Komnas Perempuan Maria Ulfah Anshor, Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Amiruddin al Rahab, serta Direktur PPA-PPO Bareskrim Polri Nurul Azizah.