7cloud.asia – Studi terbaru mengungkapkan anak yang lahir dari ibu yang menggunakan asetaminofen atau pereda nyeri selama kehamilan berisiko terkena attention deficit hyperactivity disorder atau ADHD.
Hindustan Times mengutip jurnal Nature Mental Health pada Sabtu (1/3/2025) menyebut ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi suasana hati, fokus, rentang perhatian, dan pola perilaku.
ADHD ini gangguan umum yang sebagian besar menyerang anak-anak. Namun, gejala yang muncul pada masa kanak-kanak dapat berlanjut hingga dewasa jika tidak ditangani dengan cermat.
Sementara, asetaminofen adalah obat pereda nyeri yang dijual bebas dan umum yang membantu meredakan kram otot, sakit kepala, sakit gigi, sakit punggung, dan kram menstruasi.
Namun bila dikonsumsi oleh ibu hamil, obat ini dapat meningkatkan risiko ADHD pada anak.
Baca: Terapi pijat taktil dapat membantu kelola gejala ADHD
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis sampel darah dari 307 ibu hamil antara tahun 2006 hingga 2011.
Penelitian itu menemukan anak-anak yang lahir dari ibu yang menggunakan obat bebas umum ini untuk menghilangkan rasa sakit memiliki risiko ADHD sebesar 18 persen.
Kemungkinan diagnosis ADHD tiga kali lebih besar pada anak-anak yang ibunya memiliki kadar asetaminofen yang terdeteksi dalam darah mereka.
Studi tersebut juga mengamati bahwa anak perempuan yang lahir dari ibu yang menggunakan asetaminofen memiliki risiko lebih besar untuk mengalami ADHD daripada anak laki-laki.
Hal ini lantaran efek pada obat itu menimbulkan enam kali lebih menonjol pada anak perempuan daripada anak laki-laki.
Baca: Penyintas ADHD berpotensi melakukan perilaku berisiko
Tylenol adalah salah satu bahan asetaminofen yang biasanya diresepkan dokter untuk ibu hamil guna meredakan rasa tidak nyaman.
Penulis laporan Dr. Sheela Sathyanarayana, seorang dokter anak di SCRI mengatakan kepada New York Post bahwa obat ini juga telah disetujui beberapa dekade lalu dan mungkin perlu dievaluasi ulang oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA).
“Asetaminofen tidak pernah dievaluasi untuk paparan janin terkait dampak jangka panjang pada perkembangan saraf,” katanya.
FDA mengatakan, penelitian tentang keamanan penggunaan Tylenol saat hamil “terlalu terbatas untuk memberikan rekomendasi apa pun”.
Namun, badan tersebut menyarankan agar ibu hamil berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi Tylenol.
“Karena ketidakpastian ini, penggunaan obat pereda nyeri selama kehamilan harus dipertimbangkan dengan saksama. Kami mengimbau ibu hamil untuk selalu mendiskusikan semua obat dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakannya,” demikian pernyataan FDA.

Leave a Reply