Sudahkah Anda Mengelola Sampah Elektronik dengan Baik?

Written by

in

7cloud.asia – Sampah elektronik belakangan menjadi masalah serius bagi lingkungan. Pasalnya volume sampah elektronik makin bertambah, namun pemahaman masyarakat masih kurang.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), diketahui Indonesia menghasilkan dua juta ton sampah elektronik setiap tahun, namun yang bisa dikelola secara baik melalui sistem daur ulang resmi baru sekitar 17,4 persen.

Menanggapi kondisi ini, aktor yang juga aktivis lingkungan Ramon Y Tungka menekankan pentingnya membangun kesadaran mengelola sampah elektronik mulai dari level rumah tangga.

Pemahaman ini bisa dimulai dari level rumah tangga, di mana warga harus paham dulu bahayanya apabila menumpuk barang-barang elektronik yang sudah tidak terpakai

“Warga perlu diedukasi dampaknya seperti apa jika kita terpapar langsung karena menumpuk di rumah, itu yang bahaya,” katanya dalam konferensi pers Gerakan Jaga Bumi di Jakarta, Kamis (27/2/2025).

Baca: Dampak sampah elektronik pada lingkungan

Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran, memberi edukasi, serta memberikan wadah bagi masyarakat yang ingin membuang sampah elektronik.

Hal ini karena limbah tersebut memiliki bahan-bahan kimia yang berbahaya jika dibuang di tempat pembuangan akhir (TPA).

“Ketika mereka pemahamannya sudah lengkap, sudah tahu bahayanya sampah elektronik, saya rasa untuk menekan laju sampah elektronik ini bisa berkurang, karena tahu akan mendistribusikannya ke mana, dan yang penting jangan sampai berakhir di TPA,” ujar dia.

Ramon menambahkan, pemerintah dan para pemangku kepentingan perlu membangun kepekaan pada masyarakat tentang bahaya sampah elektronik

Pemerintah harus mengedukasi ke mana harus mengumpulkannya, sehingga ke depan dapat menghasilkan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

Baca: Cara sederhana kurangi jejak karbon perangkat elektronik

Pendekatan masyarakat, ujarnya, selalu nilai ekonomi, maka dari itu sebelum mendapatkan nilai ekonomi, ini juga kita harus peka, itulah mengapa persoalan awalnya mengenai pemahaman tadi.

“Masyarakat harus peka, jadi ketika mendapatkan nilai ekonomi, mereka sudah paham barang itu perjalanannya akan ke mana,” katanya.

Ia berpesan kepada masyarakat agar tidak lagi membiarkan gawai-gawai yang tidak terpakai atau sudah rusak menumpuk di rumah.

Hal yang tak kalah penting adalah dengan konsisten mengurangi sampah, termasuk sampah elektronik, dengan mengonsumsi secara bertanggung-jawab.

Dengan konsumsi yang lebih bertanggung jawab maka dengan sendirinya produksi sampah yang dibuang ke lingkunganvakan berkurang.

Baca: Menghitung jejak karbon perangkat elektronik

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *