Sisi Gelap Transisi Energi: Mencari Jalan Penambangan Nikel yang Berkelanjutan

Written by

in

7cloud.asia – Ekspansi produksi nikel Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ternyata berdampak buruk bagi wilayah kaya nikel seperti Sulawesi.

Sulawesi selama ini dikenal sebagai kawasan keanekaragaman hayati unik yang dikenal sebagai ‘Wallacea’. Berbekal data dari 7.721 desa, studi terbaru yang dilakukan tim penulis menyoroti keberlanjutan praktik penambangan nikel dengan mengkaji dampak lingkungan dan sosialnya di Sulawesi.

Studi kami menunjukkan bahwa selama 2011-2018, hutan di desa-dekat tambang nikel mengalami deforestasi hampir dua kali lebih cepat dibandingkan wilayah nonpertambangan.

Deforestasi tidak hanya memperburuk pemanasan global, tetapi juga menghancurkan habitat dan mengancam populasi satwa liar.

Mengatasi tantangan ini memerlukan pendekatan penambangan nikel yang adil lagi berkelanjutan.

Kerusakan yang terus berlanjut dapat merusak upaya untuk melestarikan keanekaragaman hayati yang unik di Sulawesi. Oleh karena itu, upaya melindungi ekosistem dari pertambangan menjadi sangat penting.

Baca: Ekspansi pertambangan nikel berdampak buruk pada keanekaragaman hayati

Beberapa akademisi dan aktor lainnya telah mengajukan rekomendasi. Tim penulis menyoroti tiga di antaranya:

1. Memperkuat standar lingkungan dan sosial
Pemerintah dan perusahaan tambang harus menerapkan standar lingkungan dan sosial yang ketat untuk meminimalkan dampak pada ekosistem dan masyarakat.

Ini termasuk regulasi ketat tentang deforestasi dan pengelolaan air, serta perlindungan bagi pekerja dan masyarakat terdampak.

Perusahaan tambang dapat mengacu pada kerangka kerja seperti OECD Due Diligence Guidelines untuk memastikan proses identifikasi, pencegahan, dan pertanggungjawaban dampak buruk yang timbul akibat aktivitas pertambangan mereka.

Pada saat yang sama, aktor negara harus terus memenuhi kewajiban untuk melindungi dan menghormati hak-hak pihak yang terdampak kegiatan penambangan.

Baca: Ekspansi pertambangan nikel pinggirkan masyarakat adat

2. Memastikan partisipasi masyarakat
Komunitas lokal harus menjadi pusat dalam pengambilan keputusan terkait proyek penambangan. Proses konsultasi dan persetujuan yang inklusif dapat membantu meminimalkan dampak negatif.

Ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa pertambangan tidak merugikan mereka yang bergantung pada lingkungan dalam mencari nafkah.

Pelibatan komunitas dalam pengambilan keputusan dapat membantu meningkatkan kepercayaan terhadap perusahaan tambang sekaligus pembagian manfaatnya.

Studi di Sulawesi membuktikan bahwa pelibatan masyarakat setempat dalam mengevaluasi proses produksi nikel dapat menciptakan aksi korektif (untuk memperbaiki keadaan).

Umpan balik dari masyarakat setempat tidak hanya dapat memastikan kepatuhan hukum aktivitas pertambangan, tetapi juga menyelaraskan aspirasi dan kondisi masyarakat terdampak.

Baca: Organisiasi masyarakat sipil menentang ekspansi pertambangan nikel

3. Membangun pemantauan dan akuntabilitas yang kuat
Pemantauan dan evaluasi secara rutin terhadap operasi pertambangan, dari awal hingga akhir, sangat penting—tidak hanya untuk nikel tetapi juga komoditas lainnya.

Perusahaan harus bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan dampak sosial, sementara praktik yang berhasil harus ditonjolkan untuk menjadi model bagi industri lainnya.

Pengawasan independen oleh LSM dan kelompok lokal dapat meningkatkan transparansi, memastikan akuntabilitas, dan mendorong praktik terbaik.

Kita berkejaran dengan waktu. Dengan transisi rendah karbon yang semakin cepat, kita memerlukan tindakan segera untuk mencegah kerusakan lingkungan dan sosial secara global.

Dengan mereformasi praktik penambangan nikel, Indonesia dapat memainkan peran penting dalam membangun masa depan rendah karbon yang adil dan berkelanjutan, serta menjadi model bagi negara lain.

Ini adalah kesempatan untuk menyeimbangkan kemakmuran ekonomi, perlindungan lingkungan, dan keadilan sosial—memastikan bahwa manfaat dari transisi energi hijau bisa melebihi biayanya.

Artikel ini pertama kali terbit di The Conversation dalam bahasa Inggris, Tim penulis:
Michaela Guo Ying Lo (Postdoctoral Researcher in Environment, Conservation, and Development, University of Kent)
Jatna Supriatna (Professor of Conservation Biology, Universitas Indonesia)
Matthew Struebig (Reader in Conservation Science, University of Kent)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *