7cloud.asia – Industri fast fashion telah lama dituding sebagai salah satu sumber utama emisi karbon yang mencemari lingkungan.
Laporan Wawasan 2021 oleh Forum Ekonomi Dunia menyebut, fast fashion menduduki peringkat ketiga sebagai sumber emisi terbesar di dunia .
Industri fast fashion memicu sederet dampak buruk terhadap lingkungan, mulai dari polusi air hingga limbah tekstil dan emisi gas rumah kaca yang memicu pemanasan global.
Beberapa tahun terakhir, industri fast fashion menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengadopsi praktik yang lebih berkelanjutan.
Pada Konferensi Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-28 (COP28) Desember lalu, untuk pertama kalinya secara resmi menegaskan perlunya industri fesyen dunia menjauh dari bahan bakar fosil.
Meski masih jauh dari mampu menyembuhkan luka yang ditimbulkan industri fast fashion pada lingkungan, tetap ada solusi yang bisa didapatkan.
Baca: Industri fast fashion didorong lebih ramah lingkungan
Penggunaan energi terbarukan, sangat membantu industri ini menjadi lebih ramah lingkungan. Sejumlah merek global di sektor ini makin menyadari betapa pentingnya transisi menuju energi bersih.
Jadi seperti apa energi terbarukan dalam bidang mode cepat? Berikut ulasanya, sebagaimana dikutip di earth.org:
Mesin hemat energi
Penggunaan mesin hemat energi mengoptimalkan penggunaan energi dalam produksi tekstil melalui teknologi canggih seperti motor efisiensi tinggi dan kontrol cerdas.
Langkah ini mengurangi konsumsi energi, menurunkan emisi, dan mendukung keberlanjutan sekaligus meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil.
Tenaga surya
Penggunaan pembangkit listrik tenaga surya dapat dimasukkan ke dalam pabrik, gudang, dan toko eceran untuk menghasilkan listrik di lokasi. Peralihan ke tenaga surya di industri tekstil berdampak signifikan terhadap emisi gas rumah kaca.
Proyek Photon MAS Holdings tahun 2017 di Sri Lanka membuktikan bahwa pemasangan 67.000 panel surya di seluruh fasilitas MAS kini menghemat 18.000 ton karbon dioksida setiap tahunnya.
Baca: Merek global di industri fast fashion berupaya kurangi emisi
Ladang angin
Baik di darat maupun di lepas pantai, pembangkit listrik tenaga angin menyediakan solusi berskala untuk memberi daya pada fasilitas produksi dan jaringan distribusi.
Menurut Laboratorium Energi Terbarukan Nasional (NREL), penggunaan energi angin dapat menghemat hingga 7,88 miliar galon air setiap tahun untuk setiap 3.000 megawatt (MW) kapasitas angin.
Mengingat betapa intensifnya penggunaan air dalam produksi tekstil dan pakaian, energi angin merupakan solusi yang sangat tepat.
Tak perlu dikatakan lagi, menggabungkan solusi-solusi ini secara efisien ke dalam operasi sebuah merek lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.
Penting untuk mengakui keterbatasan yang ada pada solusi-solusi ini, seperti kendala infrastruktur dan biaya, khususnya di negara-negara berkembang tempat sebagian besar produksi dilakukan.
Selain itu, sifat sumber daya terbarukan seperti matahari dan angin yang bersifat tidak tetap memerlukan solusi penyimpanan yang canggih untuk memastikan pasokan energi yang konsisten.
Kendala seperti ini menyulitkan perusahaan untuk mengintegrasikan energi terbarukan dalam jangka pendek.
Ini adalah proses yang panjang dan sulit tetapi pada akhirnya merupakan proses yang perlu dilakukan. Dan beberapa merek global tampaknya telah mengambil langkah ke arah yang benar.
Baca: Fast fashion dan limbah tekstil picu masalah serius pada lingkungan

Leave a Reply