7cloud.asia – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengungkapkan rencana besar pemerintah dalam memanfaatkan lahan hutan cadangan sebagai sumber ketahanan pangan, energi, dan air.
Menhut Raja Juli usai rapat terbatas di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, menjelaskan bahwa konsep baru ini akan menjadi dukungan langsung bagi program Kementerian Pertanian dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Kami sudah mengidentifikasi 20 juta hektare hutan yang bisa dimanfaatkan untuk cadangan pangan, energi, dan air,” katanya, Senin (30/12/2024), seperti dikutip dari Antara.
Di sisi lain, dalam pernyataan pada 30 Desember 2024, Presiden Prabowo Subianto menyebut Indonesia dapat menambah lahan perkebunan kelapa sawit, menyebutnya sebagai komoditas strategis.
Baca: Deforestasi picu penyebaran penyakit
Menanggapi rencana pemerintah ini, Yayasan Madani Berkelanjutan mengatakan konversi wilayah hutan dan gambut menjadi perkebunan sawit baru akan memicu emisi gas rumah kaca (GRK) dan berdampak pada lingkungan.
“Penelitian yang mengatakan bahwa pembukaan lahan sawit, konversi gambut menuju sawit, konversi hutan alam menuju sawit itu malah mengakibatkan emisi dan itu sudah sangat banyak sekali jurnal ilmiah,” ujar Deputi Direktur Yayasan Madani Berkelanjutan Giorgio Budi Indrarto dikutip Antaranews.com, Kamis (2/1/2024).
Dia menjelaskan bahwa tidak semua vegetasi yang memiliki daun hijau dapat memiliki peran yang sama dalam menyimpan karbon
Kondisi ini akan semakin buruk jika ditambah pembukaan lahan yang tadinya hutan alam dan wilayah gambut alami dapat mengakibatkan pelepasan emisi.
Baca: Tanpa food estate baru, Indonesia sudah lampaui kuota deforestasi
Dia menambahkan, pergantian fungsi lahan antara penyerap karbon saat masih berupa hutan alam sangat berbeda dengan kondisi saat menjadi kebun sawit.
“Lalu nanti misalnya kalau mau pakai fairly speaking ditanam sawit yang butuh waktu untuk tumbuh sehingga baru ketika dia dewasa dia bisa menyerap emisi, offset-nya itu tidak sama. Offset yang dilepas dengan yang diserap, itu jauh berbeda,” ujarnya.
Menurut dia, ekosistem kompleks hujan yang memiliki keanekaragaman hayati, memiliki banyak peran tidak hanya untuk emisi GRK tetapi juga fungsi lain termasuk mendukung siklus air.
Karena itu, Giorgio mendorong pemerintah agar terus berkomunikasi dengan pakar untuk menghasilkan kebijakan berdasarkan sains.
Dia menyebutkan bahwa untuk mendukung sektor ekonomi, dapat didukung dengan penambahan nilai lewat adanya produk turunan sawit terutama yang dimiliki oleh masyarakat.
“Jadi memang hilirisasi harus dilihat dari skala yang paling kecil,” katanya.

Leave a Reply