7cloud.asia – Perdagangan online atau e-commerce global telah berkembang signifikan selama satu dekade terakhir.
Pandemi Covid-19 yang merebak pada pada 2020 semakin mendorong sektor ini, memicu perubahan perilaku konsumen dan mendorong rekor penjualan e-commerce yang mencengangkan.
Munculnya era konsumen baru ini telah menimbulkan dampak buruk yang besar terhadap lingkungan. Menyoroti musim puncak belanja online, Earth.Org melihat tren yang berkembang dalam belanja online dan dampaknya terhadap lingkungan.
Selain produksi sampah dari pengemasan, dampak lingkungan perdagangan online atau e-commerce juga dihasilkan dari emisi yang dipicu pengiriman.
Emisi dari pengiriman merupakan dampak lain belanja online terhadap lingkungan yang perlu mendapat perhatian serius.
Pengangkutan barang di seluruh dunia bertanggung jawab atas sebagian besar emisi CO2 yang dihasilkan oleh e-commerce. Pada tahun 2020, pengiriman dan pengembalian produk menyumbang 37 persen dari total emisi gas rumah kaca
Baca: Kenali 5 ciri produk ramah lingkungan
Masalah terbesarnya, sekali lagi, disebabkan oleh selera konsumen akan kenyamanan. Diperkirakan pada tahun 2030, jumlah kendaraan pengantar barang akan meningkat sebesar 36 persen, mencapai sekitar 7,2 juta kendaraan.
Hal ini tidak hanya akan mengakibatkan peningkatan sekitar 6 juta ton emisi karbondioksida (CO2), namun juga akan meningkatkan jumlah perjalanan sebesar 21 persen.
Hal ini karena kendaraan akan membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan perjalanan karena kemacetan lalu lintas yang semakin tinggi.
Namun, dampak lingkungan terbesarnya terletak pada pengiriman cepat. Ketika teknologi baru meningkatkan transportasi barang dan menjadikannya lebih cepat dari sebelumnya, semakin banyak konsumen yang meminta pengiriman pada hari yang sama dan instan.
Dua hal ini -pengiriman di hari yang sama dan pengiriman cepat- masing-masing tumbuh sebesar 36 persen dan 17 persen per tahun.
Kedua opsi ini, seperti yang dilaporkan oleh Forum Ekonomi Dunia, sangat populer di China, menyumbang lebih dari 10 persen dari total jumlah paket yang dikirim setiap hari, yang rata-rata berjumlah hampir 3 juta.
Baca: Sudahkah pohon Natal Anda ramah lingkungan?
Sebuah studi dari MIT menemukan bahwa belanja tradisional memiliki jejak karbon dua kali lipat jika dibandingkan dengan belanja online. Namun wacana ini hanya berlaku jika seseorang tidak mempertimbangkan belanja online yang terburu-buru.
Memang benar, ketika konsumen memilih pengiriman cepat, emisi yang dihasilkan jauh melebihi emisi yang dihasilkan dari belanja langsung.
Alasan utamanya adalah perusahaan pengiriman tidak bisa menunggu sampai semua produk tiba sebelum mengirimkannya.
Ketika berhadapan dengan jangka waktu pengiriman satu atau dua hari, mereka sering kali terpaksa mengirimkan truk yang terisi setengah kapasitasnya, sehingga menghasilkan lebih banyak lalu lintas dan juga menghasilkan emisi.
Namun pengiriman bukanlah satu-satunya masalah. Karena semakin banyak pengecer online, besar dan kecil, yang menawarkan opsi untuk mengirim kembali barang dengan mudah dan seringkali gratis, tingkat pengembalian, terutama barang fashion, telah meroket, melebihi 30 persen dari seluruh barang yang dibeli.
Sebuah studi tentang perilaku konsumen menunjukkan bahwa 79 persen konsumen menginginkan pengiriman pengembalian gratis dan 92 persen dari mereka cenderung membeli lagi jika barang yang mereka beli mudah untuk dikembalikan.
Baca: Memilih pohon Natal yang ramah lingkungan
Statistik seperti inilah yang memberi insentif kepada perusahaan untuk menawarkan opsi tersebut, karena pada akhirnya akan menguntungkan mereka.
Tidak ada keraguan bahwa revolusi e-commerce telah membawa manfaat yang sangat besar. Namun, belanja online dan dampaknya terhadap lingkungan tidak boleh diabaikan.
Saat ini, sebagian besar konsumen lebih memilih kenyamanan daripada prinsip berkelanjutan.
Meskipun upaya perusahaan untuk menjadi lebih berkelanjutan merupakan langkah yang baik menuju arah yang benar, perubahan ini saja tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah.
Konsumen adalah pihak yang mempunyai keputusan akhir, dan perilaku serta keputusan merekalah yang pada akhirnya menentukan dampak dari industri ini.
Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk membalikkan tren berbahaya yang terjadi pada e-commerce adalah dengan adanya perubahan pola pikir baik dari pihak produsen maupun konsumen.
Artikel ini diterjemahkan dari Earth.org, Penulis: Martina Igini, Editor-in-Chief at Earth.Org yang berpengalaman dalam isu perubahan iklim dan keberlanjutan.

Leave a Reply