7cloud.asia – Ujian Nasional (UN) kembali menjadi perbincangan hangat seiring rencana Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti untuk mengkaji ulang kebijakan pendidikan termasuk pemberlakuan kembali UN.
Viralnya video siswa yang tidak bisa melakukan pembagian sederhana dan siswa yang tidak tahu pengetahuan umum semakin memperkuat wacana pemberlakuan kembali Ujian Nasional.
Tujuan utama Ujian Nasional adalah memastikan standar pendidikan yang sama di seluruh Indonesia.
Pemerintah berharap, hasil Ujian Nasional dapat memberikan penilaian objektif terhadap pencapaian pendidikan di seluruh daerah, sekaligus menjadi masukan untuk perbaikan kualitas pendidikan.
Selain itu, Ujian Nasional juga bertujuan memotivasi siswa agar lebih giat belajar demi mencapai standar pendidikan yang ditetapkan.
Baca: Pendidikan Kontekstual untuk penguatan pendidikan di Papua
Namun, dalam pelaksanaannya, Ujian Nasional sering kali menjadi sumber tekanan bagi siswa, guru, dan sekolah. Tekanan ini memicu praktik belajar yang tidak sehat, seperti belajar hanya untuk lulus ujian.
Intensitas latihan soal yang tinggi kerap berujung pada peningkatan stres di kalangan siswa. Fenomena ini menjadi salah satu alasan penghapusan Ujian Nasional pada 2021.
Jika Ujian Nasional kembali diberlakukan, pembuat kebijakan, profesional di bidang pengujian, dan pengguna hasil Ujian Nasional harus berkolaborasi untuk meminimalisir dampak negatifnya.
Sebab, menurut American Educational Research Association (AERA), Ujian Nasional pada pendidikan dasar dan menengah memiliki risiko tinggi.
Artinya, Ujian Nasional memang memiliki potensi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga memiliki risiko negatif jika tidak diterapkan dengan hati-hati.
Baca: Menjadikan pendidikan sebagai barang publik yang bisa diakses semua orang
Mitigasi dampak negatif Ujian Nasional
Berdasarkan rekomendasi dari buku Standards for Educational and Psychological Testing tentang penggunaan ujian yang baik dan benar dalam bidang pendidikan dan psikologi, terdapat beberapa cara untuk mengurangi risiko negatif penggunaan hasil Ujian Nasional.
Salah satucara untuk mengurangi risiko negatifnya adalah tidak menggunakan hasil Ujian Nasional sebagai dasar tunggal. Keputusan penting yang memengaruhi masa depan atau kesempatan belajar siswa tidak boleh hanya bergantung pada nilai ujian.
Informasi lain—seperti partisipasi belajar, nilai rapor, penilaian sikap, prestasi akademik dan nonakademik—harus dipertimbangkan untuk memastikan keputusan tersebut adil dan valid.
Validasi penggunaan hasil Ujian Nasional sangat penting untuk memastikan bahwa hasil tersebut akurat dan berimbang. Ini mencakup pengecekan apakah hasil ujian benar-benar mencerminkan kemampuan siswa.
Selain itu, validasi juga memastikan bahwa hasil ujian digunakan dengan cara yang tepat, misalnya untuk menentukan kelulusan atau pemberian ijazah.
Baca: Komisi X DPR dorong pendidikan dasar gratis di seluruh Indonesia
Jika nilai Ujian Nasional digunakan sebagai syarat kelulusan siswa, maka bukti validitas harus jelas. Artinya, skor yang dijadikan patokan harus benar-benar mencerminkan kemampuan siswa.
Dengan adanya bukti validitas, kita bisa yakin bahwa siswa yang lulus UN memang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai.
Tapi, jika pemberlakuan UN hanya bagi sebagian siswa (sampel), maka harus ada kriteria standar dalam seleksi siswa yang akan diuji. Semua sekolah perlu mengikuti pedoman yang sama tentang siapa yang harus mengikuti ujian dan kondisi tertentu yang dapat dikecualikan.
Dengan cara ini, hasil ujian dapat dibandingkan secara adil antara sekolah dan daerah yang berbeda.
Selain itu, laporan hasil UN harus mencantumkan persentase siswa yang dikecualikan dari ujian untuk memberikan gambaran yang akurat tentang kinerja UN secara keseluruhan.
Selain cara ini masih ada empat cara lain untuk memitigasi dampak negatif Ujian Nasional yang akan diulas di tulisan selanjutnya.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Suwanda Priyadi, Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Leave a Reply