Partisipasi Pemilih di Pilkada 2024 Tergolong Rendah, Bisa Jadi Calon yang Diajukan Tak Sesuai Harapan Rakyat

Written by

in

7cloud.asia – Tingkat partisipasi pemilih dalam Pilkada 2024 secara serentak pada 27 November lalu menurun dari beberapa penyelenggaraan Pilkada sebelumnya.

Ketua KPU (Komisi Pemilihan Umum) Mochamad Afifuddin mengatakan partisipasi pemilih dalam Pilkada 2024 rata-rata hanya sekitar 68 persen. Padahal, menurut data KPU, partisipasi pemilih dalam Pemilu 2024 mencapai 81,78 persen.

Melihat hal tersebut, Wakil Ketua Komisi II DPR Dede Yusuf Macan Effendi mengatakan setidaknya ada beberapa hal yang menjadi faktor menurunnya tingkat partisipasi pemilih di Pilkada 2024.

Pertama adalah kejenuhan yang dirasakan masyarakat ketika Pemilu dan Pilkada berlangsung pada tahun yang sama.

“Kejenuhan akan pemilihan dalam tahun yang sama itu yang paling nyata,” kata Dede kepada Parlementaria, di Surabaya, Jatim, Jumat (6/12/2024).

Baca: Kotak kosong Pilkada 2024 cermin sikap partai yang tak demokratis

Faktor kedua, menurut Dede adalah biaya Pilkada 2024 yang cukup tinggi, sehingga calon-calon yang yang dihadirkan bukanlah yang diharapkan masyarakat.

“Mungkin yang diharapkan tidak mampu, karena cost-nya yang begitu besar apalagi sekarang serentak dengan Pilkada daerah lainnya,” jelasnya.

Selain itu, yang menjadi faktor selanjutnya adalah kurangnya sosialisasi dari KPU untuk merangkul pemilih pemula yang merupakan generasi muda.

“Menggapai para pemilih pemilih pemula yang notabenenya sekarang kan banyak yang generasi-generasi muda, gen z itu juga kurang mampu merangkul, ya baik pesertanya maupun juga dari sosialisasi KPU,” lanjutnya.

Baca: Tak Hanya Presiden/Wapres, pemihakan di Pilkada 2024 dilakukan ASN dan TNI/Polri

Untuk itu, Politisi Partai Demokrat ini mengatakan Komisi II nantinya akan mengevaluasi efektivitas penyelenggaraan Pilkada serentak yang pada tahun ini dilaksanakan di tahun yang sama dengan Pemilu.

Itu sebabnya, menurut Dede, perlu adanya evaluasi ke depan. Apakah, ujarnya, perlu kita bedakan tahunnya sehingga euforia untuk memilihnya itu menjadi sangat besar.

“Karena kalau masyarakatnya terus ogah-ogahan males atau calonnya yang kurang menarik bagi mereka yang mereka tidak akan datang gitu,” kata Dede.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *