7cloud.asia – Kehidupan kota yang serba cepat dan instan dianggap mulai menggerus nilai budaya dan kualitas hidup warganya. Karena itu tumbuh kerinduan akan kehidupan kota yang sedikit lebih manusiawi lewat konsep slow city.
Lahir di Italia pada 1990an, konsep slow city kini telah berkembang ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.
Jika mengacu pada kriteria slow city yakni jumlah penduduk yang tidak terlalu besar, penghormatan kepada kearifan/produk lokal, penerapan ekonomi sirkular serta egaliterian, ada sejumlah kota di Indonesia yang layak diteliti sebagai slow city.
Beberapa kota di Jawa yang cocok dikembangkan menjadi slow city adalah Ciamis, Malang, Yogyakarta, Solo, Temanggung, Wonosobo. Namun untuk itu perlu penelitian lebih lanjut.
Di Solo, sejumlah pegiat kota memelopori gerakan slow city sejak tahun 2016. Gerakan ini untuk mengembalikan kehidupan sesuai ritme dan keseimbangannya.
Melansir Solopos.com, dalam diskusi mengenai slow city dalam Jagongan Solo Slow City di Galeri Pakem, Pasar Kembang lantai II, budayawan Taufik Rahzen yang menjadi pemantik diskusi menyebut Solo sangat tepat dikembangkan sebagai slow city.
Baca: Slow City tata kota yang membahagiakan warganya
Menurut Taufik, Solo yang berjuluk kota Bengawan telah memiliki akar nilai-nilai slow city lewat tradisi dan keseharian warganya.
“Slow city jangan dimaknai kota yang lambat dan minim produktivitas, tapi sebuah kota yang meletakkan kehidupan pada iramanya. Dengan demikian akan muncul keseimbangan sosial dan hidup yang bermakna,” ujarnya.
Dia melihat kota-kota di Indonesia mulai kehilangan nilai peradaban lantaran penduduknya terkungkung dalam budaya instan, konsumerisme dan pragmatisme.
Menurut Taufik, Solo dapat melawan kecenderungan tersebut dengan potensi yang dimiliki. Selain budaya dan tradisi, Solo memiliki modal sosial dari fasilitas publik yang mulai dibangun pada masa Paku Buwono (PB) X dan Mangkunegara VII.
“Pasar-pasar tradisional di Solo dapat menjadi awal memaknai slow city. Bagaimana kita menghargai proses merangkai bunga di Pasar Kembang, mengamati barang antik secara seksama di Pasar Triwindu, menyimak lomba burung berkicau di Pasar Burung dan lain sebagainya,” kata mantan jurnalis tersebut.
Slow Tourism
Di sektor kuliner, Taufik menyebut Solo juga memiliki modal dengan banyaknya angkringan atau hik.
Baca: Yogyakarta dan konsep slow city
Dia mengatakan aktivitas di hik yang cair memungkinkan penjual dan pembeli berinteraksi. Pembeli juga dapat melihat proses penghidangan masakan.
“Solo sebenarnya sudah punya modal menjadi slow city. Sekarang tinggal bagaimana mengubah cara pandang warga.”
Di dunia, ada sebanyak 140 kota yang berpredikat slow city. Dari jumlah itu belum ada satupun kota di Indonesia yang tercatat.
Menurut Taufik, Solo dapat mengawali penerapan konsep slow city di Indonesia dan dikembangkan agar berdampak ekonomi lewat pariwisata.
“Slow city dapat menawarkan slow tourism yang mengedepankan rekreasi dan pembelajaran. Jadi tak sekadar berwisata, tapi ada kepuasan batin. Di kota-kota slow city, slow tourism justru diincar wisatawan berduit karena cenderung berbiaya tinggi.”
Baca: Pusat Kota Tirano Italia hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki
Peserta diskusi dari Sanggar Seni Sekar Jagat Sukoharjo, Joko Ngadimin, sangat tertarik dengan konsep slow city.
Menurutnya, konsep itu dapat mengembalikan pamor pasar tradisional di tengah kepungan toko modern.
“Pasar menjadi pusat peradaban dengan didukung tradisi serta konsumsi produk-produk lokal,” ujarnya.
Pegiat Solo Creative City Network (SCCN), Irfan Sutikno, menilai konsep slow city orisinal karena berangkat dari apa yang dimiliki Kota Solo.
Irfan sependapat ada kecenderungan kota-kota dilanda budaya seragam dan minim karakter.
“Karena itu branding sebuah kota perlu diisi ruh yang benar-benar kita punya.” ujarnya.

Leave a Reply