Tag: slow city

  • Prinsip Alon-alon Waton Kelakon, Yogyakarta Layak Jadi Slow City

    Prinsip Alon-alon Waton Kelakon, Yogyakarta Layak Jadi Slow City

    7cloud.asia – Slow city atau kota yang bergerak perlahan merupakan satu dari fenomena yang baru muncul di negara Eropa pada tahun 1999.

    Gagasan slow city muncul guna menjawab keluhan warga di banyak kota di dunia yang merasa lelah dengan kondisi kota yang umumnya selalu sibuk dan hiruk pikuk tiada henti. Seolah tidak mengenal kata istirahat.

    Gerakan slow city menginginkan kondisi kota yang lebih nyaman untuk didiami. Agenda yang dijalankan kota slow city menitikberatkan pada menjaga dan mempertahankan kondisi budaya lokal dan memajukan kekhasan di dalam kotanya.

    Budaya perlahan menjadi tolok ukur dalam terbentuknya slow city. Waktu tak lagi dianggap sebagai sesuatu yang sekadar bernilai kuantitas melainkan kualitas. Itu sebabnya bisa dikatakan tujuan akhir dari gerakan slow city adalah mencapai kualitas hidup masyarakat kota yang lebih baik.

    Baca: Mengenal konsep slow city

     

    Seperti telah dipaparkan di tulisan sebelumnya, ide membangun slow city adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang tinggal dan bekerja di sana. 

    Ide slow city meniru prinsip slow food, konsep yang dibuat Carlo Petrini, seorang jurnalis dan mantan walikota Bra, Italia yang terkenal setelah mengambil bagian dalam protes atas pembukaan McDonald’s di Roma pada 1980-an.

    Carlo menentang makanan cepat saji dan bersikukuh mengenal budaya perlahan, di mana makanan disajikan dan dinikmati secara perlahan agar terasa nikmatnya.

    Apakah  semua kota bisa otomatis mengubah dirinya menjadi sebuah slow city. Ataukah untuk menjadi slow city sebuah kota harus menjadi modern dan maju terlebih dahulu? 

    Baca: Mengenal sumbu filosofi kota Yogyakarta

    Dalam wawancaranya dengan 7cloud.asia, Perancang Kota yang juga Dosen Jurusan Teknik Arsitektur, FT Universitas Indonesia, Dita Trisnawan mengatakan sebuah kota bisa masuk dalam slow city jika masyarakatnya sudah sejahtera. 

    Ia mencontohkan Singapura yang telah melalui proses pembangunan selama beberapa dekade untuk meletakkan dasar-dasar kecukupan dan prasyarat hidup layak hingga baik sekali.

    “Setelah hal mendasar itu terpenuhi, maka lalu selanjutnya tata kota meningkat kepada level “menikmati hidup”,” terang Dita saat berbincang dengan ruangkota melalui sambungan telepon pada Minggu (2/7/2023).

    Dita melanjutkan, ketika kebutuhan dasar warga kota telah dipenuhi kemudian dibangunlah banyak ruang kota spt amphitheater, concert hall, museum, taman kota, fasilitas olah raga dan lain sebagainya.

    “Inilah tahap ‘pleasure’ sebagai ciri lanjut Negara Maju, setelah semua kebutuhan sandang pangan papan tercukupi, ga ada homeless, jaminan sosial cukup, sehingga prosperity digambarkan dengan banyaknya fasilitas pleasure and recreational,” imbuhnya.

    Baca: Minimalisme, gaya hidup yang selaras dengan konsep slow city

    Selaras dengan pemaparan Dita, Slow city berkembang di negara Eropa. Namun demikian, slow city kini juga banyak ditemukan di beberapa negara di Asia, seperti Singapura, Cina maupun Jepang.

    Lantas, adakah kota di Indonesia yang bisa dikategorikan sebagai slow city? 

    Jika mengacu pada kriteria slow city yakni jumlah penduduk yang tidak terlalu besar, penghormatan kepada kearifan/produk lokal, penerapan ekonomi sirkular serta egaliterian, ada sejumlah kota yang layak diteliti sebagai slowcity.

    Dalam diskusi kecil yang diikuti penulis, beberapa kota di Jawa yang layak dikaji tersebut adalah Ciamis, Malang, Yogyakarta, Solo, Temanggung, Wonosobo. Namun untuk itu perlu penelitian lebih lanjut.

    Baca: Slow fashion, antitesis dari fast fashion yang merusak lingkungan

    Sementara, skripsi yang ditulis Utami Widyaningsih, mahasiswi Teknik Arsitektur Universitas Indonesia menganalisis pendekatan kota Yogyakarta sebagai salah satu kota di negara timur yang memiliki akar budaya sama dengan gerakan slow city, dengan semboyan kota Yogya ‘alon-alon asal kelakon’.

    Studi kasus pada kota Yogya selanjutnya menjawab apakah kota Yogyakarta memiliki potensi serta karakteristik untuk bisa menjadi kota slow city.

    Utami menulis, Cittaslow adalah jaringan kota internasional tempat hidup bisa berlangsung lebih mudah dan perlahan, seperti yang dilaporkan di situs web mereka. Gerakan tersebut dimulai pada tahun 1999 oleh Paolo Saturnini, mantan Walikota Greve di Chianti, Italia.

    Konsep slow city ingin mengembalikan masa lalu yang dimiliki sebuah tempat atau kota sebagai ruang tinggal bersama.

    Baca: Empat kota ini memprioritaskan warganya yang berjalan kaki

    Konsep slow city fokus pada warga kota setempat sehingga optimalisasi peran dan partisipasi warga setempat dalam membangun kota sangat menentukan kemajuan kotanya. 

    Dari penelitian yang dilakukan Utami Widyaningsih, Kota Yogyakarta sedikit banyak memenuhi konsep slow city. 

    Merujuk pada menifesto slow city yang salah satunya menyebut ‘enjoying life are central to the community, atau menikmati hidup jadi fokus komunitas. Utami menulis bahwa pernyataan itu sangat sesuai dengan komunitas warga Kota Yogyakarta yang gemar bersantai menikmati hidupnya meski hari sudah malam. 

    “Keseimbangan hidup dicapai warga kota Yogyakarta sehingga dalam satu hari sempatkan berkumpul bersama teman atau kerabat,” tulis Utami. 

    Baca: Bersepeda, cara mudah untuk menikmati kota

    Dan semua itu ditemukan Utami saat meneliti kota Yogyakarta. Kualitas hidup yang ingin dicapai dari perkumpulan slow city diturunkan ke dalam konsep 3E yakni economy, environment, equity bisa ditemukan di Yogyakarta.

    Konsep tersebut dijalankan melalui program yang berlandaskan pada good food, good environment dan good community yang semua ini bisa ditemukan dalam bentuk berbeda di Yogyakarta.

    Istilah slow city bisa menggambarkan kota-kota seperti Amsterdam, Kopenhagen, atau Wina, di mana segala sesuatunya tampak sedikit lebih lambat daripada di tempat-tempat metropolitan yang gila seperti New York, London, atau Shanghai.

    Warga slow city menjalani hidup mereka secara perlahan dan ceria sementara banyak warga kota lainnya terus bergegas dan berdesakan di jalanan ataupun kereta commuter. Dengan budaya perlahan ini, warga slow city bisa menikmati kota tempa tinggalnya dan terutama hidupnya secara lebih utuh. 

    Baca: Jalan kakilah sebanyak mungkin untuk menikmati kotamu

     

     

  • Slow City: Konsep Baru Tata Kota yang Membahagiakan Warganya dan Berkelanjutan

    Slow City: Konsep Baru Tata Kota yang Membahagiakan Warganya dan Berkelanjutan

    7cloud.asia – Pernahkan kamu coba meluangkan waktu untuk menikmati sudut di kotamu? Jika ternyata kota kamu belum menyediakan sudut yang bisa dinikmati dengan perlahan, coba simak tentang konsep slow city atau kota perlahan berikut ini

    Slow city merupakan satu dari fenomena yang baru-baru ini muncul di Eropa yang mulai jenuh. Gagasan slow city muncul sejak 1999 guna menjawab dari sebagian masyarakat yang lelah dengan kondisi kota yang umumnya penuh dengan hiruk pikuk dan sibuk tiada henti.

    Istilah slow city bukan hanya cara untuk menggambarkan kota-kota seperti Amsterdam, Kopenhagen, atau Wina di mana segala sesuatunya tampak sedikit lebih lambat daripada di tempat-tempat metropolitan yang gila seperti New York, London, atau Shanghai. 

    Slow city atau kota-kota yang lambat adalah hal yang nyata, dan telah berlangsung selama beberapa dekade. Warga slow city menjalani hidup mereka dengan perlahan dan ceria sementara kita bertumpuk di kereta komuter atau pun kereta bawah tanah. 

    Baca: Kota di dunia yang sangat mengutamakan pejalan kaki

    Gerakan slow city kemudian bergabung dalam Cittaslow, jaringan kota internasional yang menjadikan kota menjadi tempat hidup yang mudah. Seperti yang dilaporkan di situs web mereka, gerakan slow city dimulai pada tahun 1999 d Italia. 

    Gagasan slow city itu dicetuskan Paolo Saturnini, mantan Walikota Greve di Chianti, sebuah kota kecil di Tuscany. 

    Jaringan slow city kemudian tumbuh secara eksponensial sejak Saturnini menyatakan bahwa dunia perlu melambat. Saat ini telah mencakup 276 kota di seluruh dunia, termasuk di Cina, Kolombia dan Australia. 

    Ide utama membangun slow city sendiri adalah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang tinggal dan bekerja di dalamnya.

    Baca: Bersepeda, cara warga menikmati kotanya

    Konsep slow city meniru prinsip makanan lambat yang dperkenalkan oleh Carlo Petrini, seorang jurnalis dan mantan walikota Bra, Italia yang terkenal setelah mengambil bagian dalam protes terhadap pembukaan McDonald’s di Roma pada 1980-an.

    Tujuan utama slow city adalah untuk mewujudkan lingkungan yang tenteram dan tenang di mana seseorang dapat menjalani hidup sepenuhnya, jauh dari stres, kecemasan, dan berkejaran dengan beragam target. 

    Kota-kota yang terlibat dalam slow city berbagi ciri-ciri umum dan tujuan yang sama, yakni untuk menciptakan tempat tinggal yang baik. 

    Salah satu tujuan slow city adalah untuk melestarikan semangat komunitas dan berbagi pengetahuan tradisional dengan generasi berikutnya untuk melestarikan warisan budaya daerah setempat.

    Baca: Sejarah Jakarta, dari Jayakarta menjadi Batavia lalu jadi Jakarta

    Gerakan slow city ini ingin menjadi vaksin melawan gaya hidup serba cepat yang dipromosikan oleh masyarakat modern. 

    Manifesto Cittaslow yang disusun para penyuka slowcity menuliskan sebagai berikut: 

    “Kami mencari kota-kota di mana warganya masih penasaran dan ingin tahu tentang masa lalu, kota-kota yang kaya akan teater, alun-alun, kafe, bengkel, restoran, dan tempat-tempat spiritual, kota-kota dengan pemandangan yang tak tersentuh dan pengrajin yang menawan di mana orang masih dapat mengenali jalannya yang lambat. musim dan produk asli mereka yang menghormati selera, kesehatan, dan kebiasaan spontan”

    Penyuka slow city melihat sisi positif sebuah kelambatan. Bagi pencipta gerakan Cittaslow atau slow city, hidup tidak akan menjadi baik jika tidak dijalani secara perlahan. 

    Mereka mengajak kita untuk memikirkan kembali perilaku kita, tidak hanya dengan mengubah gaya hidup dan rutinitas kita, tetapi juga mengubah cara kita memproduksi dan mengonsumsi. 

    “Mari kita mulai dengan mengambil kembali waktu untuk tumbuh, bersosialisasi, menghargai budaya, alam, dan makanan lokal yang sehat, mengingat bahwa setiap makhluk hidup berhak mengikuti ritme alaminya masing-masing,” kata mereka.  

    Baca: Peran sumbu filosofi dalam tata kota Yogyakarta

    Setiap kota, kota atau desa dapat mendaftar untuk menjadi bagian dari jaringan Cittaslow, tentu saja selama mereka memenuhi aturannya.

    Sebuah slow city harus memenuhi lima pilar berikut ini:

    Ekonomi sirkular 

    Kita semua tahu sekarang, ekonomi sirkular adalah tujuan akhir untuk planet yang sehat. Mendaur ulang, menggunakan kembali, dan mengonsumsi secara sadar adalah sebuah kewajiban di kota slow city, jadi bukan lagi pilihan. 

    Ketangguhan 

    “Meningkatkan diri kita dan apa yang kita miliki, tanpa menghancurkan diri kita sendiri” adalah salah satu tujuan utama Cittaslow atau slow city.

    Keadilan sosial 

    Perpecahan dan prasangka tidak memiliki tempat dalam gerakan slow city: “Tidak ada kemakmuran jika tidak untuk semua orang, tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun.” 

    Baca: Kiat asyik wisata ramah lingkungan

    Keberlanjutan dan budaya 

    Gerakan Cittaslow percaya bahwa untuk benar-benar menghentikan perubahan iklim, kita perlu melindungi budaya dan warisan lokal, bukan hanya lingkungan alam. Kota-kota slow city bagian dari Cittaslow dibangun di atas sekelompok ekonomi mikro tangguh yang berkomitmen pada keberlanjutan.

    Jika kamu ingin mengunjungi atau bahkan pindah dan menetap ke kota, kota kecil atau desa yang menjadi bagian dari gerakan slow city – ada banyak kota lambat untuk dikunjungi di seluruh Eropa. 

    Di Inggris, kota-kota yang menjadi bagian dari gerakan tersebut adalah Aylsham (Norfolk), Berwick upon Tweed (Northumberland), Llangollen (Denbighshire), Mold (Flintshire) dan Perth (Scotlandia). 

    Lantas, adakah kota di Indonesia yang masuk dalam kategori ini? Ikuti tulisannya di 7cloud.asia edisi selanjutnya. 

    Sumber: prettyslow.life, baca artikel asli di sini

  • Dengan Konsep Slow City, Kota Solo Tawarkan Pengalaman Wisata yang Berbeda

    Dengan Konsep Slow City, Kota Solo Tawarkan Pengalaman Wisata yang Berbeda

    7cloud.asia – Kehidupan kota yang serba cepat dan instan dianggap mulai menggerus nilai budaya dan kualitas hidup warganya. Karena itu tumbuh kerinduan akan kehidupan kota yang sedikit lebih manusiawi lewat konsep slow city.

    Lahir di Italia pada 1990an, konsep slow city kini telah berkembang ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

    Jika mengacu pada kriteria slow city yakni jumlah penduduk yang tidak terlalu besar, penghormatan kepada kearifan/produk lokal, penerapan ekonomi sirkular serta egaliterian, ada sejumlah kota di Indonesia yang layak diteliti sebagai slow city.

    Beberapa kota di Jawa yang cocok dikembangkan menjadi slow city adalah Ciamis, Malang, Yogyakarta, Solo, Temanggung, Wonosobo. Namun untuk itu perlu penelitian lebih lanjut.

    Di Solo, sejumlah pegiat kota memelopori gerakan slow city sejak tahun 2016. Gerakan ini untuk mengembalikan kehidupan sesuai ritme dan keseimbangannya.

    Melansir Solopos.com, dalam diskusi mengenai slow city dalam Jagongan Solo Slow City di Galeri Pakem, Pasar Kembang lantai II, budayawan Taufik Rahzen yang menjadi pemantik diskusi menyebut Solo sangat tepat dikembangkan sebagai slow city.

    Baca: Slow City tata kota yang membahagiakan warganya

    Menurut Taufik, Solo yang berjuluk kota Bengawan telah memiliki akar nilai-nilai slow city lewat tradisi dan keseharian warganya.

    “Slow city jangan dimaknai kota yang lambat dan minim produktivitas, tapi sebuah kota yang meletakkan kehidupan pada iramanya. Dengan demikian akan muncul keseimbangan sosial dan hidup yang bermakna,” ujarnya.

    Dia melihat kota-kota di Indonesia mulai kehilangan nilai peradaban lantaran penduduknya terkungkung dalam budaya instan, konsumerisme dan pragmatisme.

    Menurut Taufik, Solo dapat melawan kecenderungan tersebut dengan potensi yang dimiliki. Selain budaya dan tradisi, Solo memiliki modal sosial dari fasilitas publik yang mulai dibangun pada masa Paku Buwono (PB) X dan Mangkunegara VII.

    “Pasar-pasar tradisional di Solo dapat menjadi awal memaknai slow city. Bagaimana kita menghargai proses merangkai bunga di Pasar Kembang, mengamati barang antik secara seksama di Pasar Triwindu, menyimak lomba burung berkicau di Pasar Burung dan lain sebagainya,” kata mantan jurnalis tersebut.

    Slow Tourism
    Di sektor kuliner, Taufik menyebut Solo juga memiliki modal dengan banyaknya angkringan atau hik.

    Baca: Yogyakarta dan konsep slow city

    Dia mengatakan aktivitas di hik yang cair memungkinkan penjual dan pembeli berinteraksi. Pembeli juga dapat melihat proses penghidangan masakan.

    “Solo sebenarnya sudah punya modal menjadi slow city. Sekarang tinggal bagaimana mengubah cara pandang warga.”

    Di dunia, ada sebanyak 140 kota yang berpredikat slow city. Dari jumlah itu belum ada satupun kota di Indonesia yang tercatat.

    Menurut Taufik, Solo dapat mengawali penerapan konsep slow city di Indonesia dan dikembangkan agar berdampak ekonomi lewat pariwisata.

    “Slow city dapat menawarkan slow tourism yang mengedepankan rekreasi dan pembelajaran. Jadi tak sekadar berwisata, tapi ada kepuasan batin. Di kota-kota slow city, slow tourism justru diincar wisatawan berduit karena cenderung berbiaya tinggi.”

    Baca: Pusat Kota Tirano Italia hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki

    Peserta diskusi dari Sanggar Seni Sekar Jagat Sukoharjo, Joko Ngadimin, sangat tertarik dengan konsep slow city.

    Menurutnya, konsep itu dapat mengembalikan pamor pasar tradisional di tengah kepungan toko modern.

    “Pasar menjadi pusat peradaban dengan didukung tradisi serta konsumsi produk-produk lokal,” ujarnya.

    Pegiat Solo Creative City Network (SCCN), Irfan Sutikno, menilai konsep slow city orisinal karena berangkat dari apa yang dimiliki Kota Solo.

    Irfan sependapat ada kecenderungan kota-kota dilanda budaya seragam dan minim karakter.

    “Karena itu branding sebuah kota perlu diisi ruh yang benar-benar kita punya.” ujarnya.

     

  • Mengenal Cittaslow yang Mendorong Gerakan Slow City di Kota-kota Dunia

    Mengenal Cittaslow yang Mendorong Gerakan Slow City di Kota-kota Dunia

    7cloud.asia – Kehidupan kota yang baik berarti warganya memiliki kesempatan untuk menikmati solusi dan layanan yang memungkinkannya untuk tinggal di kotanya dengan mudah dan menyenangkan.

    Itulah yang dituju gerakan slow city, proyek yang kini sedang dikembangkan komunitas Cittaslow.

    Proyek slow city akan menghormati realitas kecil di dunia yang semakin terhubung secara global, di mana warga kota bisa menjalani hidup yang tergesa-gesa secara perlahan.

    Orang Latin biasa menyebut kehidupan ala slow city ini dengan istilah “festina lente”, setiap hari mencari “zaman modern” Dengan kata lain, mencari pengetahuan terbaik dari masa lalu dan menikmatinya berkat kemungkinan-kemungkinan terbaik di masa kini dan masa depan.

    Penerapan konsep slow city akan menghasilkan peluang teknologi, solusi modern dalam komunikasi, transportasi, pemasukan, produksi dan penjualan.

    Saat ini menjalani dan mengelola slow city hanyalah cara tertentu untuk menjalankan gaya hidup biasa, gaya hidup yang bukan tren masa kini.

    Mengelola kota ala slow city, tentu saja dimaksudkan agar warga tidak terlalu terburu-buru dan selalu bergerak cepat. Dan, tidak ada keraguan bahwa hal ini akan lebih manusiawi, ramah lingkungan dan masuk akal bagi generasi sekarang dan masa depan.

    Baca: Slow City, konsep pengelolaan kota yang membahagiakan warganya

    Melambat untuk kehidupan yang lebih baik
    Di laman resminya, Cittaslow mencari kota, di mana manusia masih penasaran dengan masa lalu, kota-kota yang kaya akan teater, alun-alun, kafe, bengkel kerja, restoran dan tempat-tempat spiritual.

    Kota-kota dengan pemandangan alam yang belum tersentuh modernitas, kota-kota dengan pengrajin menawan di mana orang-orang masih dapat mengenali lambatnya perjalanan zaman.

    Di masa yang “cepat”, produksi dan kecepatan yang mendesak, mewujudkan tujuan seperti itu tampaknya hanya sebuah utopia; Nyatanya, gerakan ini telah berkembang ke 100 kota dan 10 negara di seluruh dunia sejak tahun 1999.

    Keunggulan
    Gerakan Slow City mempromosikan penggunaan teknologi yang berorientasi pada peningkatan kualitas lingkungan dan tatanan perkotaan, dan selain itu menjaga keamanan produksi makanan dan anggur unik yang berkontribusi terhadap karakter kawasan.

    Selain itu, Slow City berupaya untuk mendorong dialog dan komunikasi antara produsen dan konsumen lokal.

    Dengan gagasan menyeluruh tentang pelestarian lingkungan, promosi pembangunan berkelanjutan, dan peningkatan kehidupan perkotaan, Slow City memberikan insentif pada produksi pangan dengan menggunakan teknik alami dan ramah lingkungan.

    Baca: Konsep Slow City bikin Kota Solo tawarkan pengalaman unik

    Penunjukan sebuah kota menjadi slow city mensyaratkan komunitas yang lebih kecil (hanya komunitas dengan jumlah penduduk kurang dari 50.000 yang dapat mengajukan permohonan).

    Sebuah slow city bukanlah ibu kota negara bagian atau pusat pemerintahan daerah, namun merupakan komunitas kuat yang telah menentukan pilihan untuk meningkatkan kualitas hidup penduduknya.

    Pertanian
    Slow city menekankan kembali hubungannya dengan siklus alam, melindungi kesuburan tanah dan keragaman produksi, mengawasi penghindaran pestisida dan antibiotik.

    Pendidikan
    Melalui pertukaran antar sekolah di seluruh dunia, Cittaslow melatih warga masa depan melalui transmisi “pengetahuan lambat” di institusi di semua tingkatan dan di Universitas

    Pariwisata
    Slow city mengganti turisme turbo, yang menghilangkan identitas suatu tempat, dengan bentuk kegiatan hiking dan pengalaman yang bertanggung jawab dalam komunitas; kami mendidik bukan wisatawan yang lewat, namun “warga sementara” kota Cittaslow di seluruh dunia.

    Baca: Dengan prinsip alon-alon waton kelakon bikin Yogyakarta layak jadi Slow City

    Pasar
    Slow city memperbarui aliansi antara petani dan warga yang menjadi co-produsen di jalanan dan di web; kami menciptakan kembali fungsi koneksi, pertukaran pengetahuan, pendidikan kesehatan dengan proyek Pasar Cittaslow.

    Perencanaan Kota
    Slow city merancang “kota baru” untuk warga abad ke-21 berdasarkan prinsip kelambatan; kami menerapkan model yang pro-sosial, inklusif, dan berkelanjutan.

    Yang dilakukan
    Slow city mengembangkan dan berinovasi pada ketrampilan lokal, yang merupakan salah satu kunci terpenting bagi pengembangan perekonomian yang berketahanan, dengan tetap menjaga jiwa asli artefak.

    Akademi
    Seminar pelatihan bagi praktisi Cittaslow dan calon kota Cittaslow.

    Metropolis
    Slow city mendorong pengembangan model perkotaan yang berkelanjutan, aman dan berkualitas untuk lingkungan di wilayah metropolitan.

  • Menikmati Liburan Ala Penganut Slow Living di Wando

    7cloud.asia – Buat Anda pengikut konsep slow living yang sedang mencari slow city untuk berlibur, Pulau Wando di Korea Selatan bisa menjadi pilihan.

    Wando adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jeolla Selatan yang terletak di ujung selatan Semenanjung Korea.

    Wando memiliki slow city utama yaitu Pulau Cheongsando (Cheongsando Island), yang merupakan slow city pertama di Asia.

    Wando, yang terdiri dari pulau utama dan banyak pulau kecil lainnya, terkenal dengan keindahan alam dan budayanya yang kaya. Pemandangan biru laut dan langit, sawah terasering unik (gujeoljang-non), serta jalan setapak lambat yang indah (Cheongsando slow road).

    Semua ini membuat Wando menawarkan pengalaman wisata yang damai, dengan budaya lokal yang kuat, makanan laut segar seperti abalon, dan suasana pedesaan yang menenangkan.

    Sebuah tujuan wisata yang ideal untuk relaksasi dan menikmati keindahan alam secara perlahan yang menjadi pilihan pengikut slow living.

    Baca: Konsep Slow City Kota Solo, tawarkan pengalaman wisata yang berbeda

    Tak heran, jika Wando pada tahun lalu dipilih menjadi tuan rumah bagi Kongres Gerakan “Cittaslow” (Kota Lambat).

    Gerakan ini bertujuan untuk mempromosikan kualitas hidup yang lebih baik dengan menciptakan lingkungan yang manusiawi dan berkelanjutan, fokus pada efisiensi yang lambat dan alami.

    Wando terhubung ke daratan utama Korea Selatan melalui jembatan, sehingga bisa diakses dengan bus atau mobil. Untuk mengunjungi Wando bisa lewat Seoul ataupun Pulau Jeju

    Dari Seoul
    Tidak ada rute langsung dari Seoul ke Wando. Opsi termudah adalah dengan kombinasi transportasi umum. Naik kereta cepat (KTX/SRT) dari Seoul ke stasiun terdekat, seperti Stasiun Gwangju-Songjeong atau Stasiun Gunsan.

    Dari sana, lanjutkan perjalanan dengan bus antarkota atau taksi menuju Wando. rjalanan bus dari Gwangju ke Wando-eup memakan waktu sekitar 2 jam 17 menit.

    Anda juga bisa naik bus langsung dari Terminal Bus Dongseoul (Gangbyeon Station) ke Wando, meskipun waktu perjalanannya lebih lama.

    Dari Pulau Jeju
    Terdapat layanan feri reguler antara Jeju dan Wando yang dioperasikan oleh Hanil Express. Perjalanan feri ini merupakan yang tercepat ke daratan utama, dengan durasi sekitar 2 jam 40 menit. Anda bisa memesan tiket melalui situs seperti Direct Ferries atau Klook Travel.

    Baca: Konsep Slow City terbukti lebih memanusiakan warga kota

    Transportasi Lokal: Di dalam Wando, transportasi umum belum berkembang pesat, jadi menyewa mobil adalah pilihan yang disarankan untuk fleksibilitas menjelajahi berbagai objek wisata di pulau ini.

    Untuk mencapai Cheongsando, Anda perlu naik feri dari Pelabuhan Wando, dengan waktu perjalanan sekitar satu jam.

    Keunikan Cheongsando (Wando)
    Pemandangan Alam: Laut biru, pegunungan hijau, dan hamparan batu yang ikonik.
    Cheongsando Slow Road: Jalur jalan kaki sepanjang sekitar 42 kilometer yang terbagi menjadi 11 rute, mengajak pengunjung untuk menikmati alam dan desa secara perlahan.

    Sawah Terasering Gujeoljang-non: Sawah bertingkat yang khas dan menarik secara visual.
    Budaya Lokal: Dikenal dengan keramahan penduduknya, ritual pemakaman unik, dan para penyelam perempuan (Haenyeo) yang mengumpulkan abalon.

    Lokasi Syuting: Menjadi latar belakang drama Korea populer seperti Jumong dan Spring Waltz.

    Hal yang bisa dilakukan:
    Menjelajahi Slow Road dengan berjalan kaki atau sepeda.
    Mengunjungi pantai-pantai indah seperti Jiri Beach.
    Mencicipi abalon Wando yang terkenal dan hidangan laut lainnya.
    Menyaksikan matahari terbenam di laut.

    Baca: Mengenal Cittaslow yang mendorong gerakan slow city di dunia

     

  • Konsep Slow City: Memperlambat Transportasi Meningkatkan Aksesibilitas Warga Kota

    Konsep Slow City: Memperlambat Transportasi Meningkatkan Aksesibilitas Warga Kota

    7cloud.asia – Memperlambat transportasi di kota-kota memberikan manfaat yang sangat besar bagi kesehatan masyarakat, perekonomian, dan lingkungan, jadi mengapa kita masih terobsesi dengan kecepatan?

    Seperti yang dikatakan Mahatma Gandhi: “Ada lebih banyak hal yang perlu dihidupkan daripada meningkatkan kecepatan hidup”.

    Apa yang disampaikan Ghandi ini juga tentang kesejahteraan fisik dan mental kita sebagai warga kota, serta kesehatan kota dalam arti yang luas.

    Selama satu abad terakhir kita telah diberi tahu, dan sebagian besar menerima, sebuah cerita bahwa “perjalanan yang lebih cepat akan menghemat waktu dan membuat semua orang lebih sejahtera”. Ini adalah mitos, bukan kenyataan.

    Bagaimana perilaku orang ketika perjalanan yang lebih cepat menjadi mungkin di kota-kota? Kita berasumsi mereka sampai ke tujuan lebih cepat dan “menghemat” waktu.

    Tetapi perluasan wilayah yang menyertai kecepatan berarti lebih banyak waktu dihabiskan untuk perjalanan, dan orang-orang harus bekerja lebih lama untuk membayar semua biaya kecepatan.

    Baca: Slow City Konsep Penataan Kota yang Membahagiakan Warganya

    Paradoks besar zaman modern adalah semakin cepat kita bergerak, semakin sedikit waktu yang kita miliki. Intinya, ada Lebih banyak waktu dapat dihemat dengan memperlambat transportasi kota daripada dengan mempercepatnya.

    Tanpa kita sadari, kecepatan berdampak buruk pada kehidupan kita. Kecepatan kota yang lebih tinggi meningkatkan angka kematian dan cedera di jalan raya, polusi udara, kurangnya aktivitas fisik, biaya infrastruktur, permintaan energi, dan dampak darurat iklim.

    Selama model, kebijakan, investasi, sikap, dan perilaku didasarkan pada keyakinan bahwa “lebih cepat selalu lebih baik”, perencanaan kota tidak akan mampu menyelesaikan krisis iklim dan ekologi saat ini.

    Cara mengatasi kecanduan pada kecepatan
    Alternatif untuk mencoba melaju lebih cepat adalah dengan “memperlambat kota”, seperti yang kami jelaskan dalam buku kami, Slow Cities: Conquering our speed addiction for health and sustainability (Slow City: Mengatasi kecanduan kecepatan kita untuk kesehatan dan keberlanjutan).

    Alih-alih “mobilitas” yang fokus pada seberapa jauh Anda dapat pergi dalam waktu tertentu), tujuan dari slow city adalah aksesibilitas (seberapa banyak yang dapat Anda capai dalam waktu tersebut).

    Perencanaan untuk kecepatan dan mobilitas berfokus pada penghematan waktu, yang jarang terjadi dalam praktiknya. Perencanaan untuk aksesibilitas berfokus pada waktu yang dimanfaatkan dengan baik.

    Baca: Cittaslow Mendorong Gerakan Slow City di Seluruh Dunia

    Di tempat-tempat yang kaya akan aksesibilitas, Anda tidak perlu bergerak cepat. Oleh karena itu, berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum adalah cara bepergian yang lebih disukai.

    Moda transportasi yang lambat dan aktif ini juga merupakan moda yang paling sehat dan berkelanjutan, karena tidak membutuhkan kendaraan bermotor sehingga rendah emisi.

    Strategi slow city memanfaatkan banyak aspek kebijakan perencanaan, termasuk penurunan batas kecepatan sebagai bagian dari pendekatan holistik seperti Vision Zero.

    Konsep vision zero ini bertujuan untuk tidak ada kematian atau cedera serius di jalan raya.

    Slow city juga menyangkut perencanaan tata guna lahan untuk memperpendek jarak ke tujuan. Konsep slow city juga tentang penataan ulang jalan untuk mempromosikan moda perjalanan yang “lebih lambat” dan menciptakan ruang lambat.

    Bagaimana mewujudkan konsep slow city, ikuti dalam tulisan selanjutnya. Artikel ini diterjemahkan dari The Conversation, baca artikel asli di sini.

  • Manfaat yang Dirasakan Warga dari Penerapan Konsep Slow City

    Manfaat yang Dirasakan Warga dari Penerapan Konsep Slow City

    7cloud.asia – Untuk mewujudkan konsep slow city dibutuhkan visi baru untuk kota. Seperti yang ditanyakan Carlos Pardo dalam presentasinya di UN Habitat pada tahun 2017:

    “Mengapa kita tidak mulai berpikir tentang kecepatan sebagai masalah daripada sebagai solusi?” tanyanya.

    Banyak kota yang telah melakukan apa yang disoroti Carlos Pardo itu. Elemen-elemen slow city telah berhasil diimplementasikan kota-kota di seluruh dunia dalam beberapa tahun terakhir

    Contohnya termasuk Oslo dan Helsinki, Paris dan Bogotá. Kota-kota ini, dan banyak lainnya, telah menurunkan kecepatan lalu lintas kendaraan bermotor dan meningkatkan perjalanan aktif.

    Pontevedra di Spanyol menunjukkan bagaimana memperlambat transportasi di seluruh kota bermanfaat bagi semua jenis kesehatan.

    Setelah kota tersebut menurunkan batas kecepatan menjadi 30 kilometer/jam, aktivitas fisik dan koneksi sosial meningkat karena lebih banyak orang berjalan kaki.

    Dari tahun 2011 hingga 2018, tidak ada satu pun kematian akibat kecelakaan lalu lintas di kota itu.

    Emisi karbondioksida juga turun sebesar 70 persem. Sedangkan peningkatan pendapatan bisnis sebesar 30 persen di pusat kota menunjukkan bukti ekonomi yang kuat untuk kota lambat.

    Apakah ini berarti kita semua perlu tinggal di lingkungan perkotaan “Eropa” yang padat penduduk, dengan jalan-jalan sempit dan tujuan wisata yang dekat, untuk menuai manfaat dari kecepatan yang lambat? Pandangan ini tidak tepat.

    Sudah ada daerah pinggiran kota – misalnya di Jepang – yang berfungsi sebagai slow city, dengan banyak fasilitas berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum, serta kecepatan lalu lintas yang relatif rendah.

    Memperlambat kota bukan berarti harus meninggalkan daerah pinggiran kota. “Perbaikan perluasan kota”, “jalan bermain”, dan “jalan lambat” dapat menghasilkan manfaat bahkan di kota-kota yang didominasi mobil seperti di Amerika Utara dan Australasia.

    Dividen kota lambat
    Pada abad ke-21, berbagai “gerakan lambat” – “makanan lambat”, “pengasuhan anak lambat”, “pariwisata lambat” – telah mendapatkan daya tarik.

    Oleh karena itu, “memperlambat kota” mungkin merupakan konsep yang lebih layak dan menarik bagi perencana dan penduduk kota daripada “mendorong perjalanan aktif” atau “membatasi penggunaan mobil”.

    Covid-19 telah membantu kita memikirkan penggunaan alternatif untuk jalan-jalan di kota. Ruang-ruang lokal yang lambat dan “mirip taman” telah diciptakan dari jalur lalu lintas yang dialokasikan ulang, menciptakan ruang aman bagi orang-orang daripada untuk kecepatan.

    Meskipun obsesi budaya kita terhadap kecepatan mungkin mendorong sebagian orang untuk mempertanyakan atau bahkan mengejek “kelambatan”, ada baiknya mempertimbangkan manfaat konsep slow city

    Kota-kota lambat memiliki ketidaksetaraan yang lebih rendah, polusi udara yang lebih rendah, trauma jalan yang lebih sedikit, dan emisi gas rumah kaca yang lebih rendah. Kota-kota ini lebih kompetitif dalam ekonomi global, dengan hasil pajak dan PDB yang lebih tinggi.

    Manifesto baru kami untuk Kota Lambat Abad ke-21 dimaksudkan untuk membimbing para politisi, praktisi, dan warga negara progresif dalam upaya mengakhiri budaya kecepatan yang merusak di kota.

    Memperlambat kota mungkin merupakan pengobatan yang efektif untuk banyak kondisi perkotaan yang melemahkan.

    Jika Anda ingin kota Anda menjadi lebih sehat, lebih bahagia, lebih aman, lebih makmur, lebih sedikit kesenjangan, dan lebih ramah anak serta tangguh, cukup perlambatlah lajunya.

    Artikel ini diterjemahkan dari The Conversation edisi bahasa Inggris, baca artikel asli di sini.