Melawan Industrialisasi dan Konsumsi Berlebihan demi Masa Depan yang Berkelanjutan

Written by

in

7cloud.asia – Dahulu, pesawat televisi bisa berumur belasan hingga puluhan tahun. Namun, sekarang bisa menggunakan sebuah televisi yang dilengkapi fungsi canggih hingga lima tahun sudah cukup bagus.

Begitu juga produk fashion/fesyen. Mungkin banyak di antara kita yang masih mendapati pakaian-pakaian orang tua kita masih layak pakai hingga saat ini.

Tren industri yang menghasilkan barang produksi yang lebih singkat, membuat produk cepat usang dan tidak tahan lama dikenal dengan istilah planned obsolescence.

Hal tersebut beriringan dengan gaya hidup konsumtif yang didorong oleh iklan dan tren barang baru, meninggikan tumpukan sampah dan memperparah beban lingkungan.

Lebih dari itu, pola konsumsi ini menambah ketergantungan kita pada produksi yang sering kali tidak berkelanjutan.

Hingga akhirnya lahir seruan antitesis bernama degrowth yang mempertimbangkan bahwa kesejahteraan sejati tidak memerlukan peningkatan konsumsi berlebih bahkan hingga merusak lingkungan. Istilah degrowth muncul pada tahun 1972.

Pertumbuhan ekonomi diukur menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB), yang menghitung nilai produk barang dan jasa yang dihasilkan di dalam perekonomian suatu negara pada periode tertentu.

Dorongan pertumbuhan ekonomi dan konsumsi tinggi pada masyarakat modern saat ini dikenal dengan slogan more consumption, more happiness.

Baca: Manfaat mengonsumsi dengan penuh kesadaran

Hal ini kemudian menciptakan konsumsi yang berlebihan pada beberapa negara. Namun, terdapat konsumsi yang tidak tercukupi pada belahan dunia yang lain atau bahkan ketimpangan di dalam satu negara.

Karena bertujuan mencapai pertumbuhan ekonomi dan konsumsi tinggi, tren ini mengorbankan kesejahteraan alam, manusia, dan masyarakat dikarenakan konsumsi sumber daya yang berlebihan.

Oleh karena itu, degrowth berargumen bahwa pertumbuhan ekonomi harus lebih dalam penetrasinya atau inklusif dengan memasukkan kesejahteraan manusia dan lingkungan sebagai komponen penting kalkulasinya.

SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2015 sudah menyadari bahaya industrialisasi modern dengan meluncurkan Sustainable Development Goals (SDGs).

Salah satu poin utama SDG 12 adalah tentang “Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab” dengan fokus pada pengurangan jejak ekologis melalui pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan dan meminimalkan limbah.

Kami menilai SDG 12 sangat selaras dengan konsep degrowth yang mendukung pengurangan konsumsi serta restrukturisasi ekonomi untuk memprioritaskan kesejahteraan manusia dan lingkungan daripada mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa batas.

Alih-alih memaksimalkan output, pendekatan degrowth ini mendorong pola produksi dan konsumsi yang etis dan berkelanjutan guna mengurangi beban sumber daya dan menekan limbah.

Untuk menerapkan prinsip SDG 12 dan konsep degrowth, penting untuk memahami bagaimana konsumsi berlebihan yang berdampak negatif pada lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Baca: Dampak gaya hidup konsumtif pada Lingkungan

Di Indonesia, kami ingin mengangkat dua contoh nyata kasus konsumsi berlebih dan bagaimana implementasi degrowth dapat bermanfaat.

Kedua kasus ini menunjukkan perlunya kebijakan dan edukasi yang mendorong konsumen untuk memilih pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan, sejalan dengan upaya degrowth untuk mengurangi dampak negatif dari konsumsi yang berlebihan.

Kesimpulan dan Saran
Prinsip Less is more (sedikit itu lebih baik) dalam degrowth menekankan bahwa mengurangi konsumsi berlebihan berkontribusi positif bagi kesejahteraan manusia dan kesehatan lingkungan.

Dalam kasus minuman berpemanis dalam kemasan dan fast fashion, perilaku konsumsi yang tidak terkontrol menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan lingkungan.

Konsumsi gula yang tinggi, misalnya, meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes, sedangkan fast fashion menghasilkan limbah tekstil yang merusak ekosistem.

Dengan mengurangi konsumsi produk yang berlebihan dan memilih yang lebih sehat serta ramah lingkungan, kita bisa memperbaiki keseimbangan hidup.

Penjelasan konsep degrowth oleh Jason Hickel.
Bagi konsumen, adopsi konsumsi bertanggung jawab dapat dilakukan dengan memperhatikan produk yang dibeli serta mengurangi ketergantungan pada produk yang berpotensi merugikan.

Menghindari minuman manis dan beralih pada minuman sehat serta membeli pakaian yang berkualitas tinggi, tahan lama, dan diproduksi secara etis adalah beberapa langkah yang bisa kita ambil.

Baca: Fenomena psikologis FOMO picu pembelian impulsif

Pilihan ini tidak hanya meningkatkan kualitas hidup tetapi juga membantu menekan dampak negatif pada lingkungan.

Pemerintah juga dapat mendukung konsumsi berkelanjutan melalui kebijakan cukai gula untuk minuman berpemanis serta regulasi terhadap produksi fesyen cepat.

Selain itu, pelabelan dampak kesehatan dan lingkungan pada produk akan membentuk kesadaran masyarakat akan pentingnya mengurangi konsumsi yang tidak perlu.

Kebijakan-kebijakan ini tidak hanya menurunkan risiko kesehatan masyarakat dan dampak lingkungan, tetapi juga membantu membangun budaya konsumsi yang lebih bertanggung jawab untuk masa depan yang berkelanjutan.

Membangun kualitas kehidupan—mencakup aspek kesehatan, lingkungan, dan kesejahteraan sosial—menciptakan dampak jangka panjang yang lebih berarti daripada sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi.

Pembangunan berbasis kualitas memungkinkan kesejahteraan berkelanjutan, yang lebih harmonis dengan kapasitas alam untuk regenerasi di masa depan dibanding pertumbuhan berbasis kuantitas.

Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis:
Imam Salehudin (Assistant professor, Universitas Indonesia)
Kanti Pertiwi (Assistant Professor in Organisation Studies, Universitas Indonesia)
Nur Dhani Hendranastiti (Lecturer and Researcher, Universitas Indonesia)

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *