7cloud.asia – Bayangkan kamu memesan makanan melalui layanan daring atau on-demand food delivery (ODFD). Sang pengantar hanya membawakan satu pesanan dari restoran ke rumahmu.
Ternyata, lima menit kemudian, tetanggamu memesan dari restoran yang sama. Pengemudi yang sama ternyata harus kembali lagi ke restoran untuk mengambil pesanan kedua.
Setiap perjalanan tunggal ini meningkatkan jumlah pergerakan kendaraan di jalan, memperburuk polusi udara dan kemacetan lalu lintas di lingkunganmu. Hal ini diperparah jika lebih banyak tetanggamu melakukan hal yang sama dalam waktu yang berbeda.
Minat konsumen terhadap kenyamanan dan layanan cepat mendorong perkembangan layanan pesan antar makanan daring seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood, dalam beberapa tahun terakhir.
Di Indonesia, platform pesan-antar daring kini melayani jutaan pelanggan setiap tahunnya, dengan nilai transaksi mencapai 4,6 miliar dolar AS (Rp71,6 triliun) pada 2023.
Naiknya layanan pesan-antar daring turut meningkatkan lalu lintas kendaraan pengantaran sehingga menambah kemacetan perkotaan dan emisi gas rumah kaca yang memicu polusi udara.
Baca: Pengiriman barang di belanja online dorong produksi sampah
Sebuah penelitian di Jakarta menunjukkan bahwa penggunaan layanan pesan-antar daring dapat meningkatkan emisi hingga dua kali lipat dan meningkatkan kemacetan hingga 40 persen.
Riset yang yang dilakukan Budhi Sholeh Wibowo, Dosen dan Peneliti dari Universitas Gadjah Mada berupaya memberikan dua langkah solusi agar layanan ini bisa meredam perburukan polusi dan kemacetan.
Solusi ini membutuhkan itikad dari pengelola platform dan juga kesadaran lingkungan konsumen. Solusi pertama adalah pengantaran gabungan.
Riset mendapati bahwa konsolidasi pengantaran, atau pengantaran gabungan, adalah strategi yang efektif untuk mengurangi dampak lingkungan dari layanan pesan-antar daring.
Dengan menggabungkan pesanan, platform dapat mengurangi jumlah perjalanan, menurunkan konsumsi bahan bakar, dan mengurangi emisi secara keseluruhan.
Sebagai ilustrasi, bayangkan ada lima orang di kompleks perumahan yang sama yang memesan makanan dari restoran berbeda dalam periode satu jam.
Baca: Dampak maraknya belanja online pada lingkungan
Dengan menggunakan pengantaran gabungan, pengemudi dapat menunggu hingga tiga atau lebih pesanan masuk sebelum mengambilnya dan mengantarkan semuanya dalam satu perjalanan.
Metode pengantaran tersebut tentu mengurangi jumlah total perjalanan. Walhasil, pengemudi bisa menghemat bahan bakar dan juga mengurangi emisi karbon. Pengemudi juga tidak perlu kelelahan karena harus bolak-balik.
Studi yang saya lakukan bersama tim di Yogyakarta menemukan bahwa konsolidasi pengantaran mengurangi emisi karbon hingga 16 persen.
Pengemudi juga diuntungkan dengan pengurangan biaya antar sebesar 9 persen. Namun, hal ini disertai dengan kompromi—waktu tunggu pelanggan meningkat rata-rata sebesar 26 persen.
Lantas, apakah konsumen bersedia? Jawabannya akan diulas di tulisan selanjutnya.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Budhi Sholeh Wibowo, Dosen dan Peneliti dari Universitas Gadjah Mada

Leave a Reply