Perubahan Iklim dan Alih Fungsi Lahan Mempercepat Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Written by

in

7cloud.asia – Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna mengatakan, kehilangan keanekaragaman hayati, termasuk satwa liar, menjadi salah satu bagian dari triple planetary crisis (tiga krisis planet) yang dapat mengancam keberhasilan pencapaian pembangunan berkelanjutan.

Secara global, yang menjadi faktor penyebab hilangnya keanekaragaman hayati antara lain alih fungsi lahan, eksploitasi yang berlebihan (overexploitation).

Hilangnya keanekaragaman hayati juga bisa dipicu perubahan iklim, polusi, hama dan penyakit, jenis asing invasif, serta konflik satwa liar dengan manusia di habitatnya.

Konflik manusia dengan satwa liar yang intensitasnya cenderung meningkat dari waktu ke waktu dipicu oleh banyak faktor, yang antara lain alih fungsi lahan yang berdampak pada hilangnya habitat, fragmentasi habitat, serta penurunan kualitas habitat.

“Meningkatnya aktivitas manusia di areal-areal yang merupakan habitat satwa liar juga dapat memicu terjadinya konflik,“ ujar Dolly saat berbicara dalam diskusi bertajuk “Mewujudkan Harmonisasi Manusia – Satwa Liar di Habitatnya” Sabtu (5/10/2024) di Jakarta

Baca: Pameran Muda Mudi Konservasi kenalkan keanekaragaman hayati

Kegiatan ini merupakan sesi pertama dari dua sesi diskusi yang mengangkat tema besar “Kolaborasi Multipihak dalam Pelestarian Satwa Liar di Indonesia” yang dihelat Belantara Foundation.

Dolly menambahkan, konflik manusia-satwa liar juga sering terjadi di areal konsesi kehutanan, di HGU Perkebunan sawit, atau bahkan di ladang masyarakat.

Oleh karenanya dibutuhkan strategi, upaya, serta aksi konkrit bersama dari para pihak untuk mewujudkan harmonisasi manusia dan satwa liar di habitatnya.

“Harmonisasi manusia dan satwa liar di habitatnya merupakan sebuah win win solution bagi pembangunan berkelanjutan dan upaya konservasi”, tegas Dolly yang juga​ anggota Commission on Ecosystem Management IUCN.

Karena itu lewat acara Pameran Muda Mudi Konservasi merupakan sebuah gerakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadartahuan (awareness) publik, khususnya generasi muda, akan pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati di Indonesia.

Baca: Dampak hilangnya keanekaragaman hayati pada lingkungan

Senada dengan Dolly, pada waktu dan tempat yang sama, Co-Chair IUCN-IdSSG, Sunarto mengatakan bahwa diskusi dan edukasi tentang pentingnya berbagi ruang dan hidup berdampingan antara satwa dan manusia perlu terus menerus dilakukan.

Selain berbagai manfaat yang didapat, memang ada risiko konflik yang perlu diminimalisir atau dimitigasi dan dikelola dengan baik secara terus menerus.

Sunarto menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya konflik manusia dan satwa liar di habitatnya yaitu masalah dari rusaknya tempat hidup yang semakin tergerus.

Selain itu, terdapat juga faktor habitat yang bersinggungan dengan daerah aktivitas manusia seperti pemukiman atau perkebunan.

Terlebih, seiring dengan pertambahan penduduk dan peningkatan kebutuhannya, tekanan terhadap habitat alami satwa liar juga semakin kuat.

“Pemahaman yang baik oleh semua pihak menjadi kunci utama untuk berbagi ruang dan hidup berdampingan secara harmonis”, ujar Sunarto.

Baca: Lebih dari 44.000 spesies terancam punah

Faktor dari kondisi satwa juga berpengaruh. Dia mencontohkan, satwa liar yang sakit cenderung mengalami kesulitan berburu seperti biasa.

“Dan individu jantan muda yang mencari wilayah jelajah baru juga cenderung mengalami konflik dengan manusia,“ imbuh Sunarto.

Di tempat terpisah, Ketua Dewan Pengurus Belantara Foundation, Dr. Irsyal Yasman mengatakan bahwa gerakan Muda Mudi Konservasi ini sangat relevan dengan salah satu pilar program Belantara yaitu pelestarian satwa liar beserta habitatnya.

“Kami akan terus mengajak dan terus menggalakkan upaya kolaborasi multipihak untuk mendukung gerakan penyadartahuan serta edukasi kepada masyarakat khususnya generasi muda akan pentingnya berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikan biodiversitas di Indonesia”, ujar Irsyal.

Turut hadir narasumber dari penggiat konservasi satwa liar yang berasal dari organisasi lingkungan yang berpengalaman dalam mewujudkan harmonisasi manusia-satwa liar di habitatnya.

Selain Sunarto, juga hadir Donny Gunaryadi (Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia), Jasmine N.P. Doloksaribu (Head of Landscape Conservation&Environment APP Group).

 

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *