7cloud.asia – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengajak masyarakat dan produsen untuk menjadikan sistem guna ulang untuk mengurangi sampah plastik.
Pemahaman dan partisipasi masyarakat untuk menjalankan gaya hidup guna ulang juga dibutuhkan agar permasalahan sampah plastik dapat diatasi secara lebih komprehensif.
Ditemui di sela kegiatan World Cleanup Day beberapa waktu lalu, Kepala Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup dan Kehutanan (PPGLHK)Luckmi Purwandari, menambahkan pentingnya kesadaran untuk menerapkan sistem guna ulang.
Lebih lanjut, Luckmi mengajak masyarakat mulai beralih ke sistem guna ulang dengan menerapkan sistem refill, yakni dengan membawa tempat sendiri saat membeli makanan ataupun barang kebutuhan lainnya.
“Lebih bijak gunakan sampah plastik sekali pakai untuk mencegah timbulan sampah plastik. Jadi mulailah gunakan tumbler atau lunchbox untuk mendorong sistem guna ulang,” ujarnya.
Baca: Kebocoran sampah plastik masih terus terjadi
Hal serupa juga dikatakan Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan, Direktorat Pengurangan Sampah Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK Ujang Solihin Sidik dalam diskusi “Refill Station: Berdayakan UMKM, Dorong Gaya Hidup Belanja Ramah Lingkungan” di Jakarta, Juni lalu.
Ujang mengatakan, sistem isi ulang juga penting bagi masyarakat untuk dijadikan sebagai gaya hidup karena menguntungkan dari sisi ekonomi.
“Gaya hidup belanja dengan model ‘refill’ dari sisi ekonomi pasti lebih murah. Ketika wadah dihilangkan pasti hemat. Yang kedua, dari sisi lingkungan, ‘refill’ ini enggak menghasilkan sampah karena bawa wadah dari rumah,” ujar dia dikutip Antaranews.com.
Dia mengatakan, pemahaman dan partisipasi masyarakat untuk menjalankan gaya hidup guna ulang dibutuhkan agar permasalahan sampah dapat diatasi secara lebih komprehensif.
Adapun terkait harga, Ketua Bank Sampah Melati di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Reza yang menjual tiga produk isi ulang, yakni cairan pembersih cuci piring, pembersih lantai dan pakaian, menyebut satu botol produk berukuran 450 ml dibanderol Rp13 ribu.
Baca: Penanganan sampah plastik harus dimulai dari produksi plastik
Sedangkan untuk ukuran 4,5 liter Rp65 ribu. “Kalau ada promo Rp10 ribu (untuk ukuran 450 ml),” kata dia.
Sementara itu, bila merujuk salah satu lokapasar (marketplace), harga jual produk semisal pembersih lantai ukuran 450 ml sekitar Rp17 ribuan. Sedangkan untuk ukuran 4,5 liter sekitar Rp90 ribuan.
Produk dengan kemasan guna ulang tersebut didapatkan melalui sebuah proyek “TRANSFORM-Alner” yang antara lain digagas “start-up” penyedia sistem guna ulang kemasan produk konsumsi (FMCG) bersama perusahaan swasta.
Proyek ini melibatkan pegiat Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) berbasis komunitas dan konvensional seperti toko atau warung dan bank sampah, sebagai pengecer dan pengumpul sistem kemasan guna ulang.
Terkait pengurangan kemasan plastik sekali pakai, distribusi produk isi ulang melalui proyek yang diadakan selama satu tahun, bisa mengurangi sekitar 4.412 kilogram (kg) kemasan plastik baru.
Baca: Saset produk FMCG penyumbang terbesar sampah plastik
Karena itu para produsen didorong untuk menjadikan sistem isi ulang (refill) sebagai model bisnis untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai dan saset (sachet).
Pemerintah mengajak bahkan mewajibkan produsen untuk mengurangi sampah.
“Banyak cara, salah satunya dengan model bisnis baru yakni jualannya dengan cara refill,” kata dia.
Ujang mengatakan, sejumlah produk pembersih seperti untuk mencuci piring dan membersihkan lantai masih menggunakan kemasan saset yang sebenarnya sulit didaur ulang sehingga menjadi sampah.
“Karena yang jadi kemasan sabun pembersih seperti cuci piring, pembersih lantai itu ‘multilayer plastic’ atau plastik yang lentur. Itu salah satu jenis plastik yang sulit didaur ulang. Kalau sulit didaur ulang pilihannya menjadi sampah,” katanya.
Karena itu, dia merujuk pada Peraturan Menteri LHK Nomor 75 tahun 2019 yang menyebutkan bahwa sistem isi ulang sebagai inovasi yang dapat digunakan untuk mengurangi dan mencegah sampah plastik dari hulu.
Sistem ini memiliki potensi untuk berkembang dan patut menjadi model bisnis yang diterapkan lebih banyak produsen guna mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.

Leave a Reply