7cloud.asia – Penggunaan sepeda listrik sebagai alat transportasi oleh anak-anak untuk pergi dan pulang sekolah saat ini semakin marak.
Namun, psikolog anak dan keluarga dari Fakultas Psikologi UI, Sani Budiantini Hermawan mengingatkan di balik kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan sepeda listrik terdapat beberapa hal yang perlu dipertimbangkan terkait kesiapan mental anak.
Salah satu hal yang sering kali diabaikan adalah kesiapan mental anak dalam menggunakan sepeda listrik di jalan umum, karena menurut Sani, usia tidak selalu menjadi indikator bahwa anak sudah matang secara mental untuk menghadapi risiko berkendara di jalan raya.
Apakah anak taat dalam bersepeda, mengingat sepeda itu sudah di dalam jalanan umum yang tadi ada faktor bahaya, risiko, kepadatan, dan kemudian pengendara transportasi lain itu juga perlu diperhitungkan
“Jangan sampai anak juga belum mahir, belum paham aturan, akhirnya membahayakan diri atau orang lain,” ungkapnya.
Baca: Kenali ciri-ciri anak menjadi korban perundungan
Sani juga mengingatkan bahwa orang tua harus bertanya kepada anak apakah mereka merasa nyaman menggunakan sepeda listrik sebagai alat transportasi ke sekolah.
Dia pun meminta agar orang tua tetap waspada terhadap stres yang mungkin dialami anak selama di jalan, karena stres bisa timbul jika anak sering terlambat dan akhirnya berkendara sembrono, atau karena mereka belum sepenuhnya mahir dan tidak paham aturan.
Hal tersebut, dapat berdampak negatif, termasuk kecelakaan atau gangguan pada kinerja anak di sekolah.
Oleh karena itu, selain keterampilan dan kesiapan mental, kenyamanan anak juga menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan penggunaan sepeda listrik untuk perjalanan ke sekolah.
Sani menekankan, bahwa kemampuan anak dalam mengendarai sepeda, khususnya sepeda listrik dan kesiapan mentalnya menjadi hal utama yang tidak bisa dianggap remeh.
Baca: Kenali perbedaan antara bercanda dan perundungan
Kita harus pantau keterampilannya supaya mahir dalam menggunakan rem, mengarahkan setang dan kemudian spontanitas, ketika ada sesuatu yang terjadi di jalanan juga dia bisa mengantisipasi dengan baik.
“Sehingga, tidak bisa instan,” kata Sani dikutip Antaranews.com Sabtu (14/9/2024).
Selain kemampuan anak, kondisi jalan juga harus diperhitungkan, menurutnya tidak semua jalur yang dilalui oleh anak-anak menuju sekolah aman untuk sepeda listrik.
Karena itu, ujarnya, orang tua perlu melakukan survei terhadap rute yang dilalui anak sehari-hari.
Faktor jarak juga menjadi bahan pertimbangan, apabila jarak dari rumah ke sekolah terlalu jauh, anak bisa merasa lelah di tengah perjalanan.
Dan, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kecelakaan karena kelelahan memengaruhi kemampuan mereka untuk tetap fokus dan responsif terhadap lingkungan sekitar.
Sumber:Antaranews.com

Leave a Reply