Seperti Ini Sampah Plastik Cemari Perairan Global

Written by

in

7cloud.asia – Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Muhammad Reza Cordova mengatakan lebih dari 60 persen produksi sampah plastik global, termasuk Indonesia, adalah sampah plastik sekali pakai.

Contoh sampah plastik sekali pakai adalah plastik sachet, kantong plastik, botol minuman, dan sedotan.

Sampah plastik ini membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai sehingga menimbulkan berbagai masalah lingkungan. Sebagian besar sampah plastik ini berakhir mencemari laut, dan merusak habitat biota laut.

Di sisi lain, produksi plastik global meningkat pesat sampai 20 kali lipat secara eksponensial, sejak diproduksi secara massal pada 1950 hingga saat ini.

“Plastik menjadi masalah adalah ketika produk plastik ini sudah diproduksi, kemudian digunakan, akhirnya terbuang menjadi sampah,” ungkap Reza pada Media Lounge Discussion (MELODI), bertajuk Kebocoran Sampah Plastik ke Laut Indonesia dan Strategi Penanganannya, di Gedung B.J Habibie, Jakarta, Rabu (11/9/2024).

Baca: Kerugian lingkungan akibat sampah plastik capai ratusan triliun setahun

Di Indonesia, pengelolaan sampah plastik juga masih sangat jauh dari kata optimal. Karena sampah plastik yang dibawa ke tempat pengelolaan akhir sampah baru sekitar 50 persen.

Target pemerintah Indonesia dalam menurunkan kebocoran sampah plastik dari aktivitas masyarakat sebesar 70 persen pada 2025. Namun faktanya, jelas Reza, sampai perhitungan tahun ini baru berkurang 41,68 persen.

Mengutip data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, jumlah sampah di Indonesia mencapai 60 juta ton per tahun. Di mana, 11 sampai 38 persen di antaranya sampah plastik.

“Walaupun tidak secara keseluruhan, sekitar 10 hingga 20 persennya akan langsung menuju Afrika Selatan,” tambah Reza.

Reza mengungkapkan, sampah plastik mencemari lautan dapat melewati lintas samudera, mulai dari keluar di Samudera Hindia, sampai masuk ke Samudera Pasifik.

Baca: Penanganan sampah plastik harus dimulai dari pengurangan produksinya

Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, sampah plastik yang berasal dari kegiatan masyarakat Indonesia dapat menuju ke Afrika Selatan.

Pihaknya bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dalam melakukan penelitian pergerakan sampah di perairan.

Ditemukan bahwa sampah dari Sungai Cisadane, dengan menggunakan 11 drifter yang dilepaskan, 2 drifter di antaranya hampir mendekati Madagaskar dalam kurun waktu enam bulan.

Kendati hanya 10 persen yang sampai ke Afrika Selatan, sambung Reza, sisanya atau lebih dari 50 persen sampah plastik mengarah ke sungai-sungai di Indonesia yang mencemari wilayah sekitarnya.

“Contohnya, kalau (sampah plastik) yang dari Jakarta, ke mana? Ke pesisir utara Jakarta, Bekasi, kemudian ke arah Tangerang, ke arah Sumatera, itu bolak-balik. Perairan Indonesia itu kompleks. Tergantung dari arusnya membawa ke mana,” terangnya.

Sampah plastik di perairan Indonesia, kata Reza, sebagian besar arahnya mengalir ke Samudra Hindia. Di mana, di Samudra Hindia terdapat beberapa negara, seperti Maladewa, Mauritania, dll.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *