7cloud.asia – Adik kandung aktivis sekaligus penyair, Wiji Thukul, Wahyu Susilo menagih janji Presiden Jokowi untuk menyelesaikan kasus penculikan kakaknya dan aktivis pro demokrasi lainnya.
Hal ini diungkapkan oleh Wahyu Susilo dalam peringatan “61 Tahun Wiji Thukul dan Hari Anti Penghilangan Paksa Intermasional” di kantor pusat
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) pada Senin (26/08/2024).
“ Kami keluarga dari aktivis yang hilang sampai kini terus konsisten menuntut negara, termasuk untuk meminta adanya pertanggungjawaban Prabowo dalam kasus orang,” kata Wahyu.
Sementara Prabowo sendiri melalui Ketua DPP Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad melakukan pertemuan dengan para korban penculikan ataupun keluarganya yang difasilitasi salah seorang dari Kantor Staf Presiden (KSP), Mugiyanto.
Baca: Ibu-ibu berdoa depan istana tolak capres agar pelanggar HAM
Pertemuan yang berlangsung di Hotel Fairmont Jakarta pada 1 – 3 Agustus tersebut juga disertai pemberian uang tali kasih senilai Rp 1 miliar dari Dasco.
Tentu saja pemberian uang tali kasih yang salah satunya diterima oleh putri Wiji Thukul, Fitri Nganthi Wani tersebut dikecam oleh sejumlah pihak.
“Sungguh ironis, beberapa orang yang pernah diculik bersama kawan-kawannya yang belum kembali sampai sekarang, justru berdamai dengan pihak yang bertanggung jawab atas penghilangan paksa agar proses penculikan diakhiri dengan cara barter politik,” ungkap Koordinator Kompera, Petrus Hariyanto,
Acara perigatan 61 Tahun Wiji Thukul ini mengangkat tema ‘Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa’ ini menampilkan pembacaan puisi-puisi karya Wiji Thukul, kesaksian perjuangan para aktivis serta pemutaran film ‘Istirahatlah Kata-kata’.
Dalam acara tersebut tampak sejumlah tokoh HAM seperti anggota dewan penasehat Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) yang juga Direktur Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid.
Baca: Partai Gerindra tiru cara Orba beri uang Rp 1 miliar kepada korban pelanggaran HAM
Wiji Widodo atau dikenal sebagai Wiji Thukul adalah penyair dan pejuang demokrasi yang lahir pada 26 Agustus 1963 di Kampung Sorogenen, Solo, Jawa Tengah.
Wiji Thukul tumbuh dalam lingkungan yang mayoritas penduduknya merupakan rakyat jelata yang kebanyakan berprofesi sebagai buruh dan tukang becak.
Sejak SD, Wiji sudah menulis puisi. Puisi-puisinya sebagai simbol perlawanan gerakan mahasiswa dan rakyat terhadap pemerintahan Orde Baru Soeharto.
Baca: Aktivis HAM kecam Prabowo yang anggap enteng kasus pelanggaran HAM
Puisinya kerap bergema dalam berbagai aksi massa. Bahkan, puisinya yang berjudul “Peringatan” dikutip menjadi slogan gerakan dengan kalimat yang penuh gelora: Hanya ada satu kata, lawan!
Wiji Thukul bersama para seniman dan intelektual kerakyatan kemudian mendirikan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jaker).
Terakhir Wiji Thukul membaca puisi di depan publik adalah ketika deklarasi Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang digelar di kantor pusat YLBHI Jakarta pada 22 Juli 1996.
Sejak saat itulah Wiji Thukul beserta para aktivis PRD lainnya ikut menjadi target aparat untuk ditangkap.
Pada Januari 1998, sang istri, Sipon mengatakan bahwa ia terakhir bertemu Wiji Thukul di Stasiun Solo Balapan, Solo.
Usai pertemuan itu, Wiji Thukul harus kembali sembunyi ke berbagai kota, sampai akhirnya hilang tanpa jejak.
Pada 1999, pengurus PRD membuat tim investigasi untuk memastikan keberadaan Wiji Thukul. Kesimpulan tim, sang penyair dinyatakan sebagai korban penghilangan paksa. Pada 20 Maret 2000, Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS).

Leave a Reply