Perubahan Iklim Memicu Panas Perkotaan, Ini Dampaknya Bagi Kehidupan Kota dan Warganya

Written by

in

7cloud.asia – Ketika perubahan iklim semakin cepat dan urbanisasi meningkat, kota-kota di seluruh dunia menghadapi ancaman yang semakin besar: cuaca panas ekstrem.

Meningkatnya suhu, yang diperburuk oleh efek pulau panas perkotaan, membahayakan kesehatan masyarakat, membebani infrastruktur, dan merugikan perekonomian sehingga mengancam keberlanjutan perkotaan di seluruh dunia..

Di tengah krisis yang dipicu perubahan iklim ini, kota-kota berupaya memberikan solusi inovatif untuk mendinginkan jalanan dan melindungi penduduknya.

Panas perkotaan mengacu pada konsekuensi gabungan dari pemanasan global dan efek pulau panas perkotaan (urban heat island/UHI), yang membuat perkotaan lebih panas dibandingkan wilayah pedesaan di sekitarnya.

Panas perkotaan dapat menghancurkan kehidupan manusia, infrastruktur, ekosistem, dan perekonomian, terutama selama gelombang panas dan peristiwa cuaca panas ekstrem.

Dalam artikel ini, kita akan melihat penyebab panas perkotaan, tantangannya bagi perkotaan, serta solusi dan kisah sukses apa yang ada untuk mengatasi masalah ini.

Baca: Emisi gas rumah kaca memicu gelombang panas yang ekstrem

Apa Penyebab Panas Perkotaan? Panas perkotaan terutama disebabkan oleh dua faktor: perubahan iklim dan urbanisasi.

Perubahan iklim meningkatkan frekuensi, intensitas, dan durasi gelombang panas serta kejadian panas ekstrem, yang dapat meningkatkan suhu perkotaan beberapa derajat.

Misalnya, gelombang panas tahun 2021 yang melanda Pacific Northwest menewaskan sekitar 1.200 orang setelah suhu mencapai rekor 116F (46,6°C) di Portland, Oregon dan 108F (42,2°C) di Seattle, Washington.

Urbanisasi adalah faktor lain yang berkontribusi terhadap panas perkotaan, selain perubahan iklim.

Semakin banyak orang pindah ke kota, maka vegetasi alami dan tanah akan diubah menjadi bangunan, jalan, dan permukaan kedap air lainnya yang menyerap dan mengeluarkan kembali lebih banyak panas, sehingga menciptakan efek rumah kaca.

Efek rumah kaca dapat meningkatkan suhu perkotaan hingga 7°C pada siang hari dan 12°C pada malam hari dibandingkan di pedesaan.

Efek rumah kaca juga dapat memperburuk kualitas udara, karena suhu yang lebih tinggi meningkatkan pembentukan ozon di permukaan tanah dan polutan lainnya.

Baca: Perubahan iklim dan gelombang panas ekstrem

Panas perkotaan menimbulkan banyak tantangan bagi perkotaan, seperti di bawah ini:

Risiko kesehatan masyarakat:
Panas perkotaan dapat menyebabkan tekanan panas, kelelahan akibat panas, serangan panas, dehidrasi, serta penyakit kardiovaskular dan pernapasan.

Kondisi ini terutama terjadi di kalangan kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, masyarakat berpenghasilan rendah, dan populasi minoritas.

Panas perkotaan juga dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada, seperti diabetes, hipertensi, dan asma. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 166.000 orang meninggal karena penyebab terkait panas antara tahun 1998 dan 2017.

Kerusakan infrastruktur:
Panas perkotaan dapat merusak infrastruktur penting seperti jalan raya, jembatan, rel kereta api, jaringan listrik, dan pipa air dengan menyebabkan infrastruktur tersebut retak, tertekuk, meleleh, atau pecah.

Misalnya, pada tahun 2019, gelombang panas di Perancis menyebabkan pembangkit listrik tenaga nuklir mati karena panas berlebih pada air yang digunakan untuk pendinginan.

Panas perkotaan juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan, menghancurkan bangunan dan tumbuh-tumbuhan, serta melepaskan emisi berbahaya.

Kerugian ekonomi:
Panas perkotaan dapat menurunkan produktivitas dan kinerja pekerja, terutama mereka yang bekerja di luar ruangan, seperti pekerja konstruksi, pertanian, dan transportasi.

Hal ini juga dapat meningkatkan permintaan dan biaya energi untuk pendinginan, yang dapat membebani jaringan listrik dan menyebabkan pemadaman listrik

Panas perkotaan juga dapat mengurangi daya tarik dan kelayakan hidup kota, yang dapat mempengaruhi pariwisata, rekreasi, dan aktivitas bisnis pada tingkat global.

Sumber:earth.org

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *