Solusi Kota untuk Mengatasi Perubahan Iklim: Dari Desain Biophilic hingga Gedung Bertenaga Alga

Written by

in

7cloud.asia – Deretan fakta mengingatkan, saat ini kita hidup dalam krisis karena perubahan iklim yang sangat nyata. Di seluruh dunia, suhu di kota-kota di Eropa, Asia, dan Amerika telah mencapai rekor tertinggi Kota-kota yang dahulu dianggap tidak mungkin.

Selain suhu panas, kota-kota di dunia juga mengalami banjir bandang, naiknya permukaan air laut, dan kegagalan infrastruktur sebagai akibat dari kondisi ekstrem yang tidak mampu mereka hadapi.

Mengingat 56 persen populasi bumi tinggal di wilayah kota dan perkotaan, sudah saatnya kita memikirkan kembali kota-kota kita dan mengubah cara kota dirancang, dibangun, dan dikelola.

Berikut adalah beberapa solusi inovatif yang dilakukan sejumlah kota di dunia dalam mengatasi perubahan iklim.

1. Gedung bertenaga alga di Hamburg, Jerman
Sebuah bangunan yang ditenagai oleh tanaman? Ini bukan lagi fiksi ilmiah, seperti yang ditunjukkan oleh gedung apartemen Bio Intelligent Quotient (B.I.Q.) yang berlokasi di Hamburg, Jerman.

Fasad biomassa alga yang mencolok menghasilkan energi terbarukan dari biomassa dan panas matahari terintegrasi sepenuhnya dengan layanan bangunan, kelebihan panas dari fotobioreaktor dapat digunakan untuk membantu memasok air panas dan memanaskan bangunan.

Alternatifnya, panas tersebut dapat disimpan untuk digunakan nanti. Sembilan tahun setelah B.I.Q dibangun, integrasi biomassa ke dalam arsitektur terus dikembangkan.

Meskipun masih dalam tahap awal, proyek ini telah membuktikan bahwa mikro-alga mampu mengungguli sumber daya terbarukan lainnya dalam hal potensinya dalam menyerap karbon dioksida, mendaur ulang air limbah, dan melepaskan oksigen.

Bangunan alga yang hidup ini memberikan prospek menarik bagi kota-kota hijau di masa depan.

Baca: Seharusnya atap hijau menjadi norma di kota-kota dunia

2. Jalur Trem Hijau
Sebuah lokasi umum di banyak kota di Eropa seperti Bordeaux, Frankfurt, dan Barcelona, ​​​​jalur trem hijau memberikan banyak manfaat.

Vegetasi mengurangi potensi banjir bandang dengan menyerap air hujan, selain juga mendinginkan daerah sekitarnya saat vegetasi terjadi.

Jika frekuensi dan intensitas banjir semakin meningkat akibat perubahan iklim, jalur trem hijau merupakan langkah kecil penting yang dapat diambil oleh kota-kota untuk melindungi diri mereka sendiri.

Lebih dari sekadar mengurangi risiko banjir: jalur trem hijau juga menyediakan zona layak huni bagi banyak serangga dan invertebrata, dan permukaannya yang lembut juga mengurangi getaran dan kebisingan roda trem.

3. Pohon di Paris
Setelah mencatat suhu 43°C pada tahun 2019, Prancis berusaha keras mencari cara untuk mendinginkan ibu kota mereka yang terik, Paris. Solusi yang dilakukan adalah penanaman 160.000 pohon pada musim panas ini.

Suhu 56°C tercatat memantul dari permukaan salah satu jalan tanpa pohon; angka ini dua kali lipat dari suhu 28°C yang ditemukan di bawah naungan jalan raya yang dikelilingi pepohonan.

Kenaikan suhu seperti ini dikenal sebagai efek pulau panas perkotaan (urban heat island effect), yang mengacu pada situasi di mana kurangnya tutupan pepohonan dan penghijauan membuat wilayah perkotaan jauh lebih panas dibandingkan wilayah pedesaan.

Pepohonan merupakan solusi terbaik bagi kota dalam mengurangi suhu di dalam kota, serta melawan perubahan iklim.

Baca: Mengenal konsep desain biophilic

4. Bangunan putih Yunani
Di antara solusi perkotaan paling inovatif di seluruh dunia, kita tidak bisa mengabaikan bangunan berwarna putih yang mendominasi lanskap pulau seperti Santorini di Yunani.

Ternyata rumah berwarna putih ini tidak hanya memiliki tujuan estetika.Sebuah penelitian baru-baru ini terhadap bangunan yang menggunakan cat barium sulfat menunjukkan bahwa cat ini mampu menjaga suhu internal sekitar 4,5°C lebih rendah daripada suhu udara luar.

Cara ini berpotensi menurunkan biaya pendinginan gedung secara signifikan dengan mengurangi ketergantungan pada AC.

5. Menghadirkan alam dalam bangunan
Kunci untuk menegosiasikan perubahan iklim di kota-kota adalah dengan memasukkan alam ke dalam infrastruktur.

Solusi ini diterapkan di The Valley, gedung pencakar langit serba guna di distrik keuangan Amsterdam. Bisa dikatakan, The Valley merupakan proyek inovatif yang merupakan contoh cemerlang bagaimana biofilia dapat berperan.

Sebanyak 13.000 tanaman, pohon, dan semak yang dimasukkan ke dalam fasad bangunan memberikan peningkatan kualitas udara, peningkatan kesejahteraan, dan manfaat pendinginan lokal.

Integrasi alam ke dalam kota seperti seharusnya harus menjadi prinsip desain standar perkotaan terus berkembang dalam perubahan iklim.

Artikel ini pertama kali diterbitkan di earth.org

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *