7cloud.asia – Upaya pemerintah dalam mendorong perguruan tinggi Indonesia menjadi World Class University (WCU) seolah hanya wacana di atas kertas.
Alih-alih menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa, upaya mendorong perguruan tinggi Indonesia menjadi World Class University ini justru bisa berkontribusi menjadi penyumbang masalah.
Pasalnya, upaya-upaya menuju World Class University masih sebatas mendorong perguruan tinggi Indonesia terindeks di pemeringkatan perguruan tinggi global (semisal QS World University Rankings dan THE World University Rankings).
Tapi, upaya menuju World Class University nampaknya gagal menyertakan solusi untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang bersumber dari belum kokohnya peran perguruan tinggi kita dalam pembangunan nasional.
Salah satu contoh ketidaksiapan perguruan tinggi Indonesia dalam menyelesaikan masalah bangsa adalah minimnya dukungan mereka kepada upaya-upaya untuk keluar dari middle income trap.
Middle income trap adalah situasi ketika negara berpendapatan menengah gagal melakukan transisi ke perekonomian berpendapatan tinggi karena meningkatnya biaya dan menurunnya daya saing.
Baca Juga: Berbeda dengan Universitas di Indonesia, Seperti Ini Universitas Utrecht Sikapi Pemeringkatan Kampus
Sebagai contoh, pemanfaatan hilirisasi sumber daya alam belum maksimal terjadi karena kegagalan institusi pendidikan tinggi dalam melakukan riset dan pengembangan teknologi pendukung hilirisasi.
Alasan bahwa nilai tambah dari hilirisasi nikel itu 90 persen dinikmati oleh Cina sedangkan Indonesia hanya 10 persen saja adalah belum siapnya Indonesia dalam melakukan pengembangan riset dan teknologi di bidang hilirisasi nikel.
Hal yang sama terlihat dari sangat bergantungnya Indonesia dalam pembangunan bahkan hingga operasionalisasi kereta cepat.
Terhambatnya kemajuan teknologi tersebut menyebabkan Indonesia “kerap” mudah bergantung pada teknologi negara lain.
Akar masalah ini sejatinya disumbang dari “kegagalan” perguruan tinggi dalam menciptakan teknologi dan sumber daya manusia (SDM) yang mampu mengambil alih proses hilirisasi tersebut.
Ujung-ujungnya, Indonesia mengalami stagnasi industrialisasi yang berdampak pada menurunnya angka produktivitas selama beberapa dekade terakhir.
Data Asian Productivity Organization (2020) memperlihatkan, output ekonomi Indonesia (pertumbuhan ekonomi) pada periode 2010-2018 tumbuh lebih pelan (5,2 persen per tahun) daripada pertumbuhan modal atau input-nya (6,2 persen per tahun).
Artinya, produktivitas ekonomi Indonesia turun sekitar 1 persen per tahun.
Selain itu, dalam ukuran inovasi, data Global Innovation Index 2022 menunjukkan Indonesia berada pada peringkat ke-75 dari 111-an negara yang dinilai.
Posisi Indonesia masih jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya, sebut saja Malaysia (36), Thailand (43), hingga Filipina (59).
Dari data tersebut, terlihat bahwa ranking dari aspek pedidikan tinggi berada pada peringkat 93, lebih rendah daripada ranking inovasi secara umum.
Ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi Indonesia belum mampu menjadi pendukung dalam aktivitas inovasi di Indonesia.
Apa sebenarnya tantangan yang dihadapi perguruan tinggi di Indonesia untuk mewujudkan World Class University, akan diulas dalam tulisan selanjutnya.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Arief Anshory Yusuf, Professor in Economics, Universitas Padjadjaran

Leave a Reply