Catatan Kritis Soal Kendaraan Listrik: Jangan Hanya Memindahkan Sumber Emisi Karbon

Written by

in


7cloud.asia – Transisi ke kendaraan listrik menjadi salah satu cara menekan emisi karbon dan polusi udara.

Kendaraan listrik dianggap ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar fosil sehingga tidak menghasilkan emisi gas buang saat digunakan.

Kendaraan listrik beroperasi sepenuhnya menggunakan baterai untuk menyimpan energi dan menggerakkan kendaraan listriknya.

Sebuah penelitian menyebut, kendaraan listrik mampu memangkas hingga 50persen emisi karbon. Dengan berbagai alasan di atas kendaraan listrik dinilai berkontribusi positif terhadap pengurangan emisi karbon yang mencemari lingkungan

Baca: Benarkah mobil listrik pangkas emisi hingga 50 persen?

Keunggulan lain dari mobil listrik adalah efisiensi energi yang tinggi, biaya operasional yang lebih murah. Kendaraan listrik juga memerlukan perawatan yang lebih sedikit dibandingkan mobil konvensional.

Namun demikian, transisi ke kendaraan listrik secara masif perlu disikapi secara kritis. Kendaraan listrik tak lepas dari kekurangan.

Selain keterbatasan jangkauan per charge, kendaraan listrik juga tergantung pada infrastruktur pengisian daya, dan biaya awal yang lebih tinggi.

Selain itu, masih ada tantangan terkait daur ulang baterai dan dampak lingkungan produksi baterai kendaraan listrik.

Baca: Menilik penggunaan mobil listrik untuk angkutan massal

Dalam Media Briefing “Rekomendasi Masyarakat Sipil untuk SNDC Indonesia” yang diikuti secara daring pada Selasa (25/6/2024) Analis Sistem Ketenagalistrikan, IESR Akbar Bagaskara menyampaikan sejumlah catatan terkait kendaraan listrik.

Pertama adalah suplai energi untuk kendaraan listrik, sebagian besar masih menggunakan batubara. Sementara batubara merupakan salah satu sumber emisi karbon terbesar.

“Ini artinya hanya memindahkan sumber emisi dari knalpot kendaraan ke PLTU Batubara,“ ujarnya.

Catatan kedua, adalah rantai pasok kendaraan listrik juga harus dihitung jejak karbonnya. Apalagi dalam proses produksinya masih banyak menggunakan PLTU batubara,

Baca: Manfaat mobil listrik untuk lingkungan

Jangan sampai, ujarnya, emisi yang dihassilkan dari produksi kendaraan listrik lebih besar daripada produksi kendaraan konvensional berbahan bakar fosil.

Ketiga adalah baterai mobil listrik. Seperti diketahui baterai mobil listrik berbahan nikel yang dihasilkan dari industri ekstraktif yang berpeluang besar mengakibatkan kerusakan lingkungan.

Dalam pemaparan sebelumnya, Akbar menyebut bahwa terdapat setidaknya 500.000 hektare hutan yang berada di konsesi tambang nikel.

“Karena itu perlu koordinasi dengan sektor lain agar tidak muncul kebijakan yang saling menegasikan antara pengurangan emisi dari sektor kendaraan listrik dan pemanfaatan lahan,“ pungkasnya.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *