7cloud.asia – Memperingati Hari Tanpa Limbah Internasional pada akhir Maret lalu, 20 kota di seluruh dunia dinobatkan menjadi Kota Menuju Tanpa Limbah.
Inisiatif ini dipimpin oleh Dewan Penasihat Sekretaris Jenderal PBB tentang Tanpa Limbah, dengan dukungan dari UN-Habitat dan Program Lingkungan PBB (United Nation Environment Programme/UNEP)).
Inisiatif ini menyoroti kota-kota yang menunjukkan pendekatan ambisius dan inovatif untuk mengurangi limbah, memajukan solusi ekonomi sirkular, dan membangun sistem perkotaan yang lebih berkelanjutan, tangguh, dan inklusif.
Kota-kota yang terpilih adalah Accra (Ghana), Bologna (Italia), Chefchaouen (Maroko), Dar es Salaam (Tanzania), Kota Dehiwala (Sri Lanka), Florianópolis (Brasil), Gaziantep (Turki), George Town (Malaysia), Kota Hangzhou (China), Kota Iloilo (Filipina).
Kisumu (Kenya), Kuala Lumpur (Malaysia), Lilongwe (Malawi), San Fernando (Filipina), San Francisco (Amerika Serikat), Kota Sanya (China), Suzhou (China), Varkala (India), Kota Yokohama (Jepang) dan Zapopan (Meksiko).
Dilansir di laman resmi UNEP, pemerintah dan warga kota menjadi bagian penting dari upaya global untuk mengatasi krisis sampah dan dampaknya terhadap lingkungan, iklim, keanekaragaman hayati, kesehatan dan kehidupan manusia.
Baca: Lebih Separuh Warga Bali Telah Memilah Sampah
Disebutkan, umat manusia menghasilkan lebih dari 2,1 miliar ton sampah padat perkotaan setiap tahunnya.
Iisiatif 20 Kota Menuju Nol Limbah ini bertujuan untuk mengakui kepemimpinan dan inovasi kota, mendorong pertukaran praktik terbaik dan pelajaran yang dipetik.
Kota-kota ini juga diharapkan menginspirasi kota-kota lain untuk mempercepat upaya menuju nol limbah dan mendukung implementasi pendekatan ekonomi sirkular di tingkat lokal
Meskipun masih menghadapi tantangan limbah, kota-kota terpilih menerapkan berbagai solusi, termasuk pencegahan limbah makanan, pengelolaan limbah organik, sistem penggunaan kembali dan pengisian ulang.
Kota-kota ini juga akan menerapkan model daur ulang inklusif yang mendukung pekerja informal, kebijakan untuk mengurangi produk sekali pakai, dan inisiatif keterlibatan masyarakat untuk mendorong perubahan perilaku.
José Manuel Moller, Wakil Ketua Dewan Penasihat Sekretaris Jenderal PBB tentang Nol Limbah, mengatakan penunjukan 20 kota ini penting, bukan karena mereka memiliki peta jalan terbaik di atas kertas, tetapi karena mereka mengubah ambisi menjadi tindakan.
Baca: Kota Ini Benar-benar Tanpa Sampah dan Jadikan Tempat Daur Ulang Sebagai Pusat Komunitas
”Yang membedakan mereka adalah kemauan mereka untuk menerapkan solusi nyata, mulai dari pemilahan sampah di sumbernya dan pengomposan hingga sistem penggunaan kembali, inklusi sektor informal, dan keterlibatan warga,” ujarnya.
Kota-kota ini, lanjutnya, menunjukkan bahwa nol limbah bukanlah visi yang jauh atau latihan komunikasi. Ini praktis, lokal, dan dapat dicapai ketika kota-kota memimpin dengan tindakan nyata.
Pada saat banyak kota masih dalam tahap perencanaan, kota-kota ini membuktikan bahwa implementasi adalah ujian kepemimpinan yang sesungguhnya.
Inisiatif ini berkontribusi langsung pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Aksi Iklim).
Kota-kota yang terpilih akan secara resmi diakui sehubungan dengan Hari Internasional Tanpa Limbah dan dipamerkan di platform global untuk berbagi pengalaman dan menginspirasi tindakan lebih lanjut.
Seiring pertumbuhan populasi perkotaan, kepemimpinan kota-kota ini menggarisbawahi peran penting pemerintah daerah dalam mendorong transisi menuju masa depan tanpa limbah dan sirkular.
Baca: Mengintip Bagaimana Kota-kota di Jepang Mengelola Sampah

Leave a Reply