Jelang Hari Keanekaragaman Hayati: Upaya Menjaga Keanekaragaman Hayati di Indonesia dari Kepunahan

Written by

in


7cloud.asia – Belantara Foundation bekerja sama dengan Prodi dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pakuan menyelenggarakan seminar dan pelatihan dengan tema “Peran Multipihak dalam Pelestarian Biodiversitas Indonesia” pada Selasa, 14 Mei 2024.

Seminar ini digelar untuk menyemarakkan World Species Congress yang diselenggarakan oleh IUCN program Reverse The Red pada 15 Mei 2024 dan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional yang diperingati setiap 22 Mei 2024.

Ketua I-SER (Institute of Sustainable Earth and Resources) FMIPA Universitas Indonesia, Prof. Jatna Supriatna, sebagai pembicara kunci mengatakan, Indonesia adalah negara yang sangat besar dan memiliki perputaran energi yang tidak terputus sejak ratusan juta tahun,

Karena itu, Indonesia telah melewati fenomena-fenomena geologi yang sangat berhubungan dengan keanekaragaman hayati.

Baca Juga: Jelang Hari Keanekaragaman Hayati: Lebih dari 44.000 Spesies Terancam Punah dari Muka Bumi.

Indonesia juga kaya akan keanekaragaman hayati dan memiliki banyak akademisi di kampus-kampus dan pusat-pusat penelitian.

Karena dia mendorong untuk memperbanyak riset yang lebih mendalam tentang pemanfaatan keanekaragaman hayati Indonesia yang diperkirakan mencapai lebih dari 30,000 spesies.

Penelitian biodiversitas atau keanekaragaman hayati itu, menurut Jatna, perlu lebih menekankan pada tahap pemanfaatan.

”Misalnya, tentang pemanfaatan biodiversitas untuk pangan yang seharusnya berasal dari biodiversitas Indonesia,” ujarnya.

 

Baca Juga: Masalah Lingkungan Terbesar 2023: Hilangnya Keanekaragaman Hayati

Jatna juga menambahkan upaya-upaya dari akademisi yang bisa dilakukan adalah terkait valuasi biodiversitas dan ekosistem, degradasi lahan yang menyebabkan defaunasi, serta dampak perubahan iklim pada biodiversitas.

Pelestarian keanekaragaman hayati, ujarnya, perlu menekankan kolaborasi tri-sektor dari akademisi, pemerintah, dan sektor privat.

Salah satunya bisa melalui pengembangan ekowisata, seperti pengamatan burung atau wisata-wisata yang terkait spesies kharismatik.

Dosen Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University dan Co-Chair IUCN IdSSG, Prof. Mirza D. Kusrini menjelaskan IdSSG adalah kelompok ahli dan praktisi hidupan liar yang bergabung di bawah naungan Species Survival Commission IUCN.

Baca Juga: Wilayah IKN Miliki Keanekaragaman Hayati Sangat Tinggi, Akankah Terusik oleh Pembangunan?

Berdiri sejak awal tahun 2023, IdSSG memiliki visi untuk mengkoordinasi para ahli di seluruh Indonesia dari berbagai kelompok taksonomi dan keilmuan terkait untuk mendukung upaya menjaga keanekaragaman hayati.

IdSSG, ujarnya, lebih fokus pada pengembangan pengambilan keputusan dan kebijakan berbasiskan bukti ilmiah.

Peran multipihak, seperti pemerintah sebagai pengambil kebijakan, ilmuwan, masyarakat dan pengusaha sangat dibutuhkan untuk mencegah laju kepunahan yang saat ini terjadi.

Pemerintah Indonesia dikoordinasikan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Bappenas, tengah menyusun dokumen Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia atau Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) pasca COP15 CBD.

Baca Juga: Salah Satu Keanekaragaman Hayati Indonesia: Punya Lebih dari 300 Jenis Pisang Lokal

Proses penyusunan dokumen ini merupakan upaya untuk menyelaraskan target pengelolaan keanekaragaman hayati nasional dengan target global.

Dokumen IBSAP ini disusun selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 dan Rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 serta ke depan diharapkan memiliki dasar payung hukum untuk akselerasi implementasi.

Dokumen ini diharapkan menjadi acuan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengelola keanekaragaman hayati secara berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *