7cloud.asia – Di Hari Kebebasan Pers Sedunia, UNESCO melontarkan pernyataan mengejutkan terkait keselamatan jurnalis yang meliput isu lingkungan.
Menurutnya, serangan terhadap wartawan dan media di isu lingkungan terus meningkat dalam lima tahun terakhir, sehingga menjadi ancaman nyata bagi kebebasan pers.
“Pada Hari Kebebasan Pers Sedunia, kita harus menegaskan kembali komitmen kita untuk membela kebebasan berekspresi dan melindungi jurnalis di seluruh dunia,” kata Direktur Jenderal UNESCO Audrey Azoulay dalam pernyataan resmi UNESCO.
Dilansir earth.org, saat dunia yang memanas dengan cepat, di mana informasi iklim yang akurat menjadi sangat penting dan di tengah lonjakan disinformasi di dunia maya yang “dramatis”.
Baca Juga: Restorasi Gambut di Kalimantan Barat untuk Menjaga Sumber Plasma Nutfah
Namun, jurnalis yang meliput isu lingkungan justru menghadapi risiko yang belum pernah terjadi sebelumnya, demikian temuan sebuah laporan baru.
Dalam laporan bertajuk “Pers dan Planet dalam Bahaya“ yang dirilis UNESCO pada Hari Kebebasan Pers Sedunia, disebutkan bahwa setidaknya 749 jurnalis atau media berita yang melaporkan isu-isu lingkungan hidup menjadi sasaran kekerasan.
Kekerasan itu berupa kekerasan fisik, penahanan dan penangkapan, pelecehan online, serangan hukum dan bahkan pembunuhan dalam 15 tahun terakhir di seluruh dunia.
Sebanyak 305 dari serangan ini terjadi antara tahun 2019 dan 2023, yang artinya menunjukkan peningkatan sebesar 42 persen dibandingkan periode lima tahun sebelumnya.
Baca Juga: Greenpeace Sesalkan KTT Plastik Ottawa Tak Hasilkan Perjanjian Pengurangan Produksi Plastik
Antara tahun 2009 dan 2023, setidaknya 24 produser selamat dari upaya pembunuhan sementara 44 jurnalis dibunuh di 15 negara berbeda, terutama di kawasan Asia Pasifik (30) dan di Amerika Latin dan Karibia (11).
Laporan UNESCO tersebut mencatat, setengah dari serangan-serangan ini dilakukan oleh pemerintah atau alat negara.
Mereka mengajukan total 93 tuntutan pidana, yang mengakibatkan pemenjaraan terhadap 39 jurnalis yang meliput isu lingkungan.
Baca Juga: Jurnalis Gugur Lagi Akibat Serangan Israel, Kini Menjadi 141 Orang
Sebagian besar kasus, terjadi di kawasan Asia Pasifik yakni seperempat dari total tuntutan tersebut serangan yang terjadi antara tahun 2009 dan 2023.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa setidaknya 194 serangan terjadi pada protes lingkungan hidup, dengan polisi dan pasukan militer berada di balik 89 serangan tersebut.
Pekerjaan jurnalis dan media yang fokus pada isu lingkungan sering kali bersinggungan dan mengusik kegiatan ekonomi yang sangat menguntungkan, kelompok kriminal, dan aktor negara dan perusahaan yang berpengaruh.
Baca Juga: UNESCO Anugerahkan Guillermo Cano 2024 untuk Para Jurnalis Palestina Peliput Perang di Gaza
Mulai dari penambang dan pemburu liar hingga perusahaan multinasional berpengaruh yang berkontribusi terhadap polusi dan emisi secara fisik merugikan.
Dalam upaya untuk menekan atau membungkam kebenaran, para pemangku kepentingan ini sering kali menjadi ancaman langsung terhadap operasi produser dan angka-angka membuktikan hal ini.
UNESCO menemukan bahwa di antara 749 jurnalis yang menghadapi serangan dalam 15 tahun terakhir, sebagian besar dari mereka meliput protes lingkungan hidup (196), pertambangan (142), konflik pertanahan (115) serta pembalakan dan penggundulan hutan (83).
Sumber: earth.org

Leave a Reply