7cloud.asia – Saat ini, akses remaja di Indonesia terhadap informasi terkait seksualitas sangat mudah, termasuk pencarian pengetahuan mengenai seksualitas.
Hal ini bisa menjadi pisau bermata dua jika tidak dibarengi dengan penyediaan informasi yang benar dan tepat.
Sejumlah studi menunjukkan adanya hubungan antara perilaku seksual dengan pengetahuan remaja mengenai seksualitas dan kesehatan reproduksi.
Survei yang dilakukan pada remaja oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2019 menunjukkan masih banyak remaja Indonesia yang belum memahami kesehatan reproduksi.
Informasi mengenai masa subur perempuan, misalnya, hanya sepertiga dari total remaja usia 10-24 tahun yang pernah mendengarnya, dan hanya 13 persen di antaranya yang mengetahui secara tepat kapan masa subur terjadi.
Survei yang sama juga menginformasikan, hanya 4 dari 10 atau 40 prsen remaja yang mengetahui bahwa seorang perempuan bisa hamil meskipun hanya sekali berhubungan seksual.
Terkait infeksi menular seksual, hanya 61 persen remaja pernah mendengar mengenai HIV dan AIDS dan 34 persen pernah mendengar tentang penyakit seksual lainnya.
Permasalahan terkait isu seksualitas pada anak muda juga dipengaruhi oleh kondisi psikologis generasi muda yang impulsif. Ciri psikologis ini merupakan ciri umum yang muncul pada fase remaja.
Sebuah penelitian di India tahun 2023 menunjukkan bahwa impulsivitas remaja memiliki korelasi yang cukup erat dengan risk taking behavior atau perilaku mengambil risiko.
Hal ini menyebabkan mereka rentan mengalami cidera, perilaku seksual yang berisiko, dan perilaku lain yang berkaitan dengan penyalahgunaan obat-obatan terlarang.
Baca Juga: Ketahui Usia Reproduksi Terbaik pada Perempuan
Pernikahan anak
Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2023, sekitar 19 persen laki-laki menikah di usia 16-18 tahun, bahkan 2 persen menikah di bawah usia 16 tahun.
Data yang sama juga menunjukkan 44 persen perempuan melahirkan pada usia kurang dari 21 tahun.
Ada berbagai alasan mengapa laki-laki menikah di usia muda. Salah satunya karena kehamilan yang tidak diinginkan.
Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) tahun 2017 menemukan 8 persen remaja laki-laki dan 2 persen remaja permpuan telah melakukan hubungan seksual.
Alasan terbanyak yang disebutkan remaja untuk melakukan hubungan seksual pertama kali adalah karena “saling mencintai”.
Baca Juga: Benarkah Hamil Sebeum Usia 35 Tahun Bisa Mencegah Stunting?
Sedangkan alasan terbanyak kedua khusus remaja pria menyebutkan “penasaran/ingin tahu.”
Data SKRRI juga menemukan sekitar 12 persen remaja perempuan pernah mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.
Sedangkan 7 persen remaja laki-laki menyampaikan pasangannya mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.
Pendidikan seksualitas yang kompeherensif dapat menjadi solusi dalam mengatasi isu-isu kesehatan dan seksualitas anak muda yang disebut di atas.
Artikel ini telah terbit di The Conversation, Penulis: Andhika Ajie Baskoro (Researcher BRIN) dan Sari Kistiana (Researcher at Reseach Centre for Population BRIN)

Leave a Reply